TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 127. Berlibur ke Jogja


__ADS_3

"Sudahlah sayang..jangan menangis lagi. Bukankah sudah Tante ingatkan kamu tadi. Jangan gegabah mengambil keputusan. Akan fatal akibatnya," ucap tante Deni lembut.


"Habis gimana lagi Tan..Riana kesal dengan perbuatan Aa'. Riana ingin ngasi dia pelajaran agar dia kapok dan tidak akan menemui perempuan itu lagi," keluh Riana.


"Iya..benar sayang. Kamu berhak marah. Tapi orang seperti suamimu itu tidak bisa kamu hadapi dengan cara seperti itu. Kamu nggak akan menemukan apa yang kamu cari. Dan bahkan, mungkin suamimu akan semakin kesal melihat perbutanmu tadi, dan akhirnya memutuskan untuk meninggalkanmu" nasehat tante Deni membuat Riana termangu.


"Coba saja dia lakukan itu Tan..Riana nggak akan ngebiarin dia bahagia dengan perempuan pelakor itu. Kalau dia mau dipecat dan kehilangan pekerjaannya, silahkan aja. Riana juga nggak akan ngebrin dia ngambil Kiara dari Riana Tan..nggak akan,' ucap Riana marah.


Sudahlah, tenangkan hatimu Ri. Jangan sampai Kiara ngelihat kamu nangis. Hapus air matamu," suruh tante Deni.


"Iya Tan..Riana dan Kiara kerumah orang tua Riana dulu Tante. Riana nggak ingin bertemu Aa' saat ini. Riana ingin nenangin diri dulu sambil memikirkan langkah Riana selanjutnya,"


"Ya udah, tapi pamit dulu ke Suamimu. Kasi tau dia,"


"Nggak Tan..nggak usah kasi tau dia!!" seru Riana kesal.


"Hmm...Tante cuman mau bilang, jangan gegabah. Jangan sampai kamu kalah dengan perempuan pelakor itu,"


"Nggak akan Tan..itu nggak akan pernah terjadi," ucap Riana yakin.


"Titip Kiara sebentar Tan..Riana ngambil tas dulu. Nanti kalau Aa' nanyak bilang aja Riana dan Kiara pulang ke rumah orang tua Riana," pinta Riana yang diiyakan tante Deni.


Setelah mengambil tasnya dan beberapa barang keperluan Kiara, Riana kemudian menjemput Kiara, memesan mobil di aplikasi online dan pergi meninggalkan asrama.


#


#


Sementara itu Guntur yang kesal dengan perbuatan istrinya kemudian memutuskan untuk tidak langsung pulang kerumahnya di asrama Batalion.


Laki-laki itu memutuskan untuk pergi ke salah satu bar langganannya di luar asrama.


Menghadapi situasi yang rumit seperti itu membuat Guntur mulai melakukan kebiasaan lamanya, minum minuman keras ditemani beberapa perempuan penghibur yang selalu menunggu kedatangan Guntur di bar itu.


Berkali-kali Guntur mencoba menghubungi Diana, namun percuma saja. Ponsel Diana masih belum aktif juga. Seperti sengaja dimatikan Diana agar Guntur tidak bisa menghubunginya.


Laki-laki itu frustasi dan kembali menenggak minuman keras yang dituangkan berulang kali kedalam cawan miliknya oleh perempuan malam yang mengelilinginya.


"Ayo Mas, jangan sedih..yuk, kita turun ke lantai dansa," ajak salah seorang perempuan malam itu sambil bergelayut manja dilengan Guntur dan menarik Guntur ke lantai dansa di bar itu.


Dengan enggan Guntur mengikuti langkah perempuan itu. Sebuah lagu melow mengiringi gerakan Guntur dan perempuan tadi dilantai dansa yang remang-remang.


Guntur membiarkan perempuan itu berlaku sesuka hatinya. Namun Guntur seolah tak merasakan perubahan apapun. Perasaanya tetap saja kacau.


Akhirnya dalam keadaan mabuk, Guntur memutuskan untuk meninggalkan bar dan pulang ke asrama.


Sesampainya di asrama, tidak didapatinya Riana dan putrinya Kiara di rumah mereka.

__ADS_1


"Pasti Riana ngambek dan pulang ke rumah orang tuanya..akh..biarkan saja. Itu lebih baik daripada dia tetap disini dan membuatku semakin marah," dengus Guntur kesal.


Guntur akhirnya memilih berbaring di ruang tamu dan tertidur karena kelelahan.


#


#


Pagi yang cerah..Diana membuka jendela kamar hotel tempatnya nginap sejak tiba di kota itu.


Diana menarik napasnya dan menghirup udara pagi yang dingin dan segar kemudian menghebuskannya sambil memejamkan matanya seolah ingin membuang penat dan segala permasalahan yang sedang dihadapinya saat itu.


Angin pantai yang berhembus lembut disertai aroma air laut yang khas dan wangi bunga menyentuh hidung Diana.


Saat melihat ponselnya yang diletakkan Diana diatas meja di kamar itu, seulas senyuman tersungging di sudut bibir Diana. Ada perasaan puas bisa membuat Guntur kelabakan karena telah mengabaikannya.


"Mas Gun pasti kesal dan marah karena tidak bisa menghubungiku. Biarkan saja..sedikit pelajaran berharga harus aku berikan agar Suamiku bisa berlaku adil juga kepadaku," ucap Diana puas.


Karena penasaran dengan apa yang dilakukan suaminya, Diana kemudian membuka ponselnya dan melihat panggilan serta pesan masuk dari Guntur.


Tak terhitung berapa banyak pesan masuk dan panggilan telepon Guntur di ponsel Diana.


Diana tersenyum, kemudian mengambil foto dirinya dengan latar belakang pantai yang indah dibelakangnya, kemudian mengirimkannya ke ponsel Guntur.


"Aku disini Mas. Jangan khawatirkan aku. Kamu boleh nyusul aku kalau kamu mau," bunyi pesan Diana untuk Guntur.


Diana yang ingin menikmati sarapan pagi sambil menikmati panorama pantai yg indah di balkon kamar itu sengaja memesan menu khas daerah setempat plus segelas teh rempah khas yang wangi dan menyehatkan.


Diana membuka pintu kamar dan mempersilahkan pelayan hotel yang membawa sarapannya untuk masuk.


Setelah meletakkan sarapan pagi yang dipesan Diana diatas meja, pelayan itupun pamit keluar setelah menerima beberapa lembar uang tips dari Diana.


Diana menatap layar ponselnya. Belum ada balasan dari Guntur. Mungkin dia masih tidur , pikir Riana menebak. Akhirnya Diana memutuskan untuk memeriksa pesan WA yang masuk.


Tiba-tiba mata Diana tertumpu pada sebuah pesan masuk yang seluruh kalimatnya menggunakan huruf kapital.


WA dari Riana...


Diana penasaran dan buru-buru membuka pesan dari Riana.


KAMU BISA LOLOS KALI INI PELAKOR BRENGSEK..TAPI TIDAK ESOK-ESOK. AKAN AKU KEJAR KAMU SAMPAI KEUJUNG DUNIA SEKALIPUN..!!!


Riana tersenyum, tak bermaksud membalas pesan dari Riana.


"Lolos??" guman Diana bingung. keningnya berkeruy. "Maksudnya!?" .


Karena penasaran, Diana hendak membalas pesan Riana untuk menanyakan maksud pesan WA Riana namun urung ketika Diana mengingat peringatan Guntur untuk tidak membalas pesan WA Riana.

__ADS_1


Tiba-tiba...Tuut...tuuut...tuuut..


Telepon masuk dari Guntur. "Assalaamualaikum Mas," sapa Diana ketika teleponnya tersambung dengan ponsel Guntur suaminya.


"Waalaikum An..kenapa ponselmu kamu matiin?" tanya Guntur tak sabar.


"Sengaja aku matiin Mas. Mas pasti tau alasanku tidak menghidupkan ponselku," jawab Diana datar.


"Kemarin kamar kamu di penginapan digerebek Riana dan orang kantor An," ujar Guntur memberitahukan peristiwa kemarin kepada Diana.


"Apa Mas..digerebek?" tanya Diana terkejut.


"Iya. Mas disana juga saat penggerebekan itu. Untung kamu udah pergi An. Kalo nggak, Mas nggak tau apa yang bakal terjadi saat itu,"


"Emang kenapa Mas?" tanya Diana ingin tahu.


"Riana membawa serta ibu-ibu anggota Persit saat penggerebekan itu. Mas tau betul gimana cara mereka memperlakukan perempuan-perempuan yang ketahuan selingkuh dengan suami-suami mereka," jawab Guntur.


"Hmm..berarti emang takdir saya nggak bertemu Riana Mas. Syukur dech kalau begitu. Pantes aja Riana SMS aku dan ngancam aku Mas. Tapi nggak aku ladenin,"


"Riana SMS kamu!?"


"Iya..."


"Apa katanya?"


"Ntar..aku teruskan SMS nya ke Mas ya..biar Mas baca sendiri," ucap Diana sambil mengirim pesan WA yang dikirim Riana untuknya.


"Oke..," jawab Guntur.


Tak lama kemudian, sebuah pesan masuk dikirim Diana ke ponsel Guntur.


Guntur membaca pesan yang dikirim Riana kepada Diana. Sekarang Guntur yakin, harus benar-benar menjaga agar Riana tidak bertemu Diana.


"Hmm.. An, rencananya kamu di Jogja berapa lama?" tanya Guntur.


"Nggak tau juga Mas. Aku belum ada rencana balik ke Bd. Kan liburan semester masih lama Mas,"


"Kalau begitu, setelah dari jogja, kamu ke rumah Bapak dan Mak aja. Mas lebih tenang kalau kamu disana," ucap Guntur meminta Riana untuk menyelesaikan liburannya di rumah orangtuanya di Bks.


"Iya Mas..lihat gimana nanti ya. Soalnya setelah ini aku pengen ngunjungin mantan kepala kantorku dulu Mas. Beliau dan Istrinya adalah orangtua angkatku saat dines di Mo dulu.


"Baiklah An. Gimana bagusnya aja. Pokoknya kamu jangan ke Bo dulu. Terlalu berbahaya,"


"Iya Mas. aku ngerti," ucap Diana mengakhiri pembicaraannya dengan Guntur, suaminya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2