TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 25. Menyusun Rencana bersama Imah


__ADS_3

Guntur Pramudya memacu mogenya dengan kecepatan tinggi membelah jalanan kota. Walaupun jarak tempuh menuju kantor Diana tidak terlampau jauh, tapi laki-laki itu tidak sabar, ingin segera mengetahui keberadaan Diana.


Selang beberapa menit kemudian, sampailah Guntur di kantor Diana. Diparkirnya moge miliknya di area parkir dan langsung menuju lobi kantor.


Bergegas laki-laki itu melangkah menuju meja costumer service dan disambut salah satu petugasnya.


"Selamat pagi pak, ada yang bisa kami bantu?"


"Pagi juga mbak, saya mau menemui ibu Imah Larasati. Orangnya ada nggak mbak?"


"Sebentar pak, saya hubungi dulu ibu Imahnya, maaf siapa nama bapak?"


"Guntur Pramudya,"


"Oke, terima kasih. ditunggu sebentar pak,"


Guntur mengangguk mengiyakan. Selanjutnya petugas tersebut menekan nomor khusus ruangan Imah di intercom kantor dan mempersilahkan Guntur untuk menunggu.


Laki-laki itu melangkah menuju ruang tunggu setelah memperoleh kepastian Imah ada dan mau menemuinya.

__ADS_1


Selang beberapa menit kemudian, terlihat Imah keluar dari ruangan kerjanya dan melangkah ke ruang lobi mendekati Guntur.


Melihat kehadiran Imah, Guntur lantas berdiri. Kedua orang itu saling melempar senyum dan berjabat tangan.


"Mas Gun...apa kabar? tumben pagi-pagi udah nemuin saya. Ada apa nich, apa yang bisa saya bantu?" tanya Imah sambil mempersilahkan Guntur untuk duduk.


"Iya..maaf mbak Imah, saya mengganggu mbak pagi-pagi. Ini tentang Diana. Apakah mbak tau dimana Diana sekarang?"


"Waah..maaf mas, saya nggak tau. terakhir tadi Diana nelpon ke saya dan ngabarin kalau hari ini dia ijin nggak masuk kantor. Katanya ada keperluan mendadak yang harus diselesaikan Diana,"


"Ooh...begitu ya, tapi mbak tau nggak, kira-kira Diana kemana?"


"Saya nggak tau mas. Tapi tunggu sebentar, saya coba hubungi Diana ya," jawab Imah sambil mengambil gadget miliknya dan menekan nomor hp Diana.


Terdengar nada dering di hp Imah. Tidak ada respon.


"Hpnya nggak aktif mas,"


"Gitu ya. Hmm, oh iya..mbak tau nggak alamat atau no hp si kembar Nani Nina?" tanya Guntur tiba-tiba teringat dua sahabat Diana itu.

__ADS_1


"Ya taulah mas, kan kami berempat sahabatan, mas lupa ya? .ha..ha..ha", sahut Imah sambil tertawa mencoba mencairkan suasana.


"Iya juga ya..ha..ha..ha, lupa saya," Guntur tertawa menyadari perkataan Imah.


"Rumah Nani Nina nggak jauh mas dari rumah Diana. Masih sekompleks. Mas nanyak aja. Orang disitu tau semua kok,"


"Ya udah, makasih ya mbak infonya,"


"Saran saya sich mas, mas bareng saya aja ke rumah Nani Nina. Saya anterin. Ntar kalo Diananya ada baru mas masuk biar dia tidak bisa menghindari mas," jawab Imah memberi ide disambut anggukan Guntur.


Sekilas tadi pagi saat teleponan dengan Anton kekasihnya, Imah sempat mendengar dari Anton tetang masalah yang dihadapi Diana dan Guntur dan meminta dirinya untuk membantu Guntur tanpa banyak bertanya.


"Bentar ya mas, saya ijin dulu bentaran ke bos," pamit Imah disambut anggukan Guntur.


Selang beberapa menit kemudian, Imah keluar dengan menenten tas kantornya. Entah apa alasan Imah ke bosnya, tapi Guntur sangat menghargai bantuan pacar sahabatnya itu.


Keduanya lantas melangkah ke parkiran kantor menuju kendaraan masing-masing.


"Kita naik motor masing-masing ya mas biar nggak kentara sama Diana kalau kita barengan. Ntar sampai di lorong masuk rumah si kembar, mas parkir dan tunggu sms dari saya, baru mas masuk temui Diana"

__ADS_1


"Oke..," jawab Guntur sambil melangkah menuju mogenya dan menyusul Imah yang sudah lebih dulu memacu motornya menuju jalan raya.


Waktu masih menunjukkan pukul 10.00 pagi ketika Guntur dan Imah memacu motor masing-masing menuju rumah si kembar Nani Nina.


__ADS_2