TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Episode 35. Marah dan Terluka


__ADS_3

Guntur Menggeram..marah !!. Sorot matanya tajam, Gigi-giginya saling beradu, rahannya terlihat kaku karena amarah yang berusaha ditahannya. Kepalan tangannya hendak menggebrak meja lagi, tapi keburu ditahan Anton.


"Tahan bang..tahan emosi abang, ini di cafe. Jangan menimbulkan keributan disini. Ayo..kita ke pantai. Biar abang bebas meluapkan amarah dan kekesalan abang," ujar Anton sambil menarik lengan Guntur.


"Ayo sayang, kita berpindah tempat. Gak enak sama mbak Inah dan suaminya," ajak Anton sembari berpaling kearah Imah kekasihnya Imah mengangguk mengerti dan berdiri mengikuti langkah Anton dan Guntur.


Setelah membayar bill pesanan mereka, ketiganya lantas meninggalkan cafe menuju Pelabuhan yang letaknya memang tidak jauh dari cafe raminah. Merekapun mencari tempat yang tidak terlalu ramai agar Guntur bebas meluapkan emosinya tanpa memancing perhatian orang lain.


"Mbak Imah, telepon lagi Diana, aku harus bicara," ujar Guntur berusaha menahan emosinya.


Imah mengangguk sembari membuka ponselnya dan mencoba menghubungi Diana. Sekali lagi hp Diana tidak aktif. Setelah beberapa kali mencoba namun tetap gagal, Imah akhirnya mengirim pesan singkat ke ponsel Diana.


An..tolong aktifin ponselmu. PENTING..!! kalau kamu nggak nelp, bisa habis aku dan pacarku dibunuh masmu..!!!


"Gimana mbak Imah, Diana bisa dihubungi nggak !?" tiba-tiba Guntur bertanya lagi membuat Imah kaget. Gadis itu menggeleng.


"Tidak mas, tapi aku sudah ngirim SMS ke Diana," jawab Imah.


Guntur terdiam. Ingin marah lagi, tapi melihat Imah yang tadi sempat ketakutan melihatnya marah membuat Guntur tidak lagi memaksa.


"Ya udah, kita tunggu beberapa menit lagi. Mudah-mudahan Diana membaca sms mbak dan menghubungi mbak Imah," ucap Guntur akhirnya.

__ADS_1


Selang beberapa menit kemudian, tiba-tiba..tingg...terdengar bunyi sms masuk. Buru-buru Imah membuka ponselnya. Benar, sms dari Diana.


"Iya..iyaaaa, aku nelp ya," sms Diana.


Imah menarik nafas lega. Tak lama kemudian terdengar bunyi telepon masuk. Buru-buru Imah mengangkat ponselnya.


"Assalaamualaikum Imah, ada apa ? kamu sudah bertemu mas Guntur ?" tanya Diana diseberang sana.


"Waalaikumsalaam, sudah An.Jangan tanya bagaimana reaksi mas Gun ketika membaca voice note kamu," jawab Imah seraya melirik Guntur yang masih menunggu.


"Bicara sama mas Gun ya An," pinta Imah.


"Iiih, kamu ya. bikin aku ketakutan. Tau nggak, tadi mas Gun marah besar membaca voice note kamu. Kamu sich, kenapa voice notenya ga dikirim langsung aja ke ponsel masmu, dan malah dikirim ke aku ?" tanya Imah protes.


"Iya..kan aku ingin menghindari dia Imah sayang..dan aku mau dia nggak tau no hp aku yang baru, makanya voice notenya aku kirim ke kamu," jawab Diana enteng.


"Dassaaar, kamu ini ya....udah, skarang ngomong ya sama mas Gun..," tanpa menunggu jawaban Diana, Imah buru-buru menyerahkan ponselnya kepada Guntur.


"Eeeehhh, Imaaaaah...tunggu dulu...!!" terdengar teriakan Diana.


"An..?" suara Guntur menghentikan teriakan Diana. Gadis itu kaget dan terdiam mendengar suara yang sangat dikenal dan dirindukannya.

__ADS_1


Sesaat tak terdengar jawaban Diana. Gadis itu masih ragu untuk membalas sapaan Guntur. Bibirnya kelu.


"An....Sayang," suara lembut Guntur terdengar lagi. Laki-laki itu berusaha menahan gejolak perasaannya agar jangan sampai Diana memutuskan teleponnya.


"Mas..ak...aku minta maaf, harus putus darimu dengan cara seperti ini," jawab Diana terbata. Sungguh, gadis itu tidak suka mendengar suara Guntur disaat seperti ini. Suara yang akan menghantui pikiran dan hari-harinya. Suara yang sangat dirindukannya.


"An....,"


"Aku tau, mas nggak akan menerima keputusanku ini. Tapi mas, ini demi kebahagiaan kita, Kebahagiaan aku dan kebahagian mas serta Riana dan Kiara, istri dan anakmu mas," Jawab Diana, mulai emosi.


"Apa kamu bahagia tanpa aku Ana sayang..? tanya Guntur membuat Diana terkesima. Kelu bibir gadis itu.


Kamu sungguh sangat tau jawabannya mas, tapi kenapa kamu masih bertanya !? batin Diana gusar.


"Ya..kalau mas bahagia, aku ikut bahagia mas...aku...,"


"Bohong...kamu bohong An. Aku tau kamu nggak bahagia tanpa aku. Apa kamu pikir aku bahagia nggak ada kamu..!? kamu salah An, salah besar,"


Diana mulai terisak. Gadis itu tak sanggup lagi menahan perasaannya.


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2