TENTARAKU SUAMIKU

TENTARAKU SUAMIKU
Bab 21. Terpaksa Jujur


__ADS_3

Ibu Sri memanggil Diana untuk duduk disampingnya. Dengan suara lembutnya, wanita paruh baya itu mencoba menenangkan Diana yang jelas terlihat gelisah.


Diana kemudian melangkah kearah ibu Sri dan duduk disamping perempuan itu. Raut wajahnya terlihat tegang.


"Ceritakan kepadaku cantik, apa yang sebenarnya terjadi dan membuatmu terlihat begitu gelisah dan marah," pinta ibu Sri lembut sambil menggenggam tangan Diana dan mengusap bahu gadis itu.


"Ibu,..ibu kenal lama mas Gun kan?, dan ibu pasti tau betul siapa sebenarnya mas Guntur," tanya Diana dalam kekalutannya. Gadis itu mencoba berusaha untuk tidak menangis di depan ibu Sri.


Ibu Sri tertegung, tak menyangka pertanyaan itu yang bakal keluar dari mulut Diana.


Walaupun ibu Sri sudah menduga kalau hal itu yang akan ditanyakan Diana kepada dirinya, namun tetap saja wanita paruh baya itu tidak dapat menutupi rona khawatir di wajahnya.


Diana menatap lekat mata ibu Sri, mencoba membuat perempuan itu untuk berkata jujur.


"Hmm..Ana sayang, ibu gak tau dan mas Gunmu juga gak pernah cerita ke ibu tentang dirinya," jawab ibu Sri berkilah.


Sorot mata perempuan paruh baya itu mengerling kesana kemari seolah berusaha mencoba menghindari tatapan tajam gadis dihadapannya.


"Ibu nggak sedang membohongi Diana kan bu?" tanya Diana mendesak.


Matanya tak lepas memandangi ibu Sri yang terlihat mulai gelisah.


"Nggak sayang," perempuan itu masih berusaha meyakinkan Diana.


Welaah..anak itu telah membuat aku menjadi pembohong hari ini, gerutu ibu Sri dalam hati.


Diana masih berusaha mendesak ibu Sri dengan berbagai pertanyaannya ketika tiba-tiba pintu depan warung dibuka seseorang dari luar.


Guntur Pramudya berdiri didepan pintu sambil memandangi Diana dan ibu Sri secara bergantian.


Melihat kehadiran Guntur, ibu Sri lantas buru-buru berdiri dan melepas genggaman tangan Diana serta melangkah pergi.


Perempuan itu memandangi anak angkatnya dengan tatapan seolah memberi isyarat. Guntur mengangguk, memahami isyarat ibu angkatnya.


Rupanya, sebelum masuk ke warung, Guntur sempat menguping pembicaraan Diana dan ibu Sri dari balik pintu.


Syukurlah, ibu Sri nggak ngomong apa-apa. batin Guntur lega.


Guntur berusaha tersenyum kearah gadisnya. Didekatinya Diana dan bertanya seolah dirinya belum mendengar pembicaraan Diana dan ibu Sri.


"Ada apa sayang, kok kelihatan sewot begitu?" tanya Guntur setibanya dihadapan Diana. Dikecupnya kening Diana lembut.


Tak ada respon dari Diana. Gadis itu Diam saja.

__ADS_1


Diana mendongakkan kepalanya kearah Guntur, menatap lekat bola mata kekasihnya yang masih berdiri dihadapannya.


Wajahnya terlihat tegang, netranya memerah namun tak mengeluarkan air mata.


"Jawab jujur mas..Siapa itu Riana dan Kiara," tanya Diana dalam amarahnya.


Matanya tak lepas dari wajah Guntur. Gadis itu berusaha menekan nada suaranya agar tidak meninggi disebabkan amarahnya yang membuncah.


"Apa..Riana dan Kiara?. Bukankah kita sudah pernah membahas hal ini say...,"


"JAWAAAAAAAB !!"


Ucapan Guntur terputus oleh teriakan Diana yang meninggi. Wajah gadis itu memerah. Ditatapnya dalam wajah Guntur dengan amarah yang sulit untuk dilukiskan.


Sudut netra gadis itu mengair. Jebol sudah pertahanan yang sejak tadi ditahan gadis itu.


"Kamu bohong mas,....ka..kamu benar-benar membohongi aku..huuu..hiks," Diana akhirnya menangis sesenggukan.


Guntur terpaku, tak tau harus bersikap bagaimana. Dipandanginya Diana yang berurai air mata dan penuh amarah.


"Bohong gimana sayang ?".


"Mas sudah beristri kan...? dan Kiara..Kiara itu anak mas. Jangan bohong mas,".


Guntur masih mencoba mengelak. Namun hatinya mulai gelisah. Diana terlihat tak percaya mendengar kata-katanya.


"Kamu nggak perlu tau dari siapa aku mendapatkan informasi ini. Jawab saja mas dengan jujur," Diana mencoba menahan gejolak didalam hatinya.


Suaranya kini mulai melemah


Aku masih berharap info ini salah mas, beri aku jawaban. Jawaban yang sebenarnya, Diana membatin.


Ada perih yang mengiris hati gadis itu.


Disudut hatinya yang paling dalam gadis itu berharap apa yang diinfokan Nani tidaklah benar. Namun si sudut lain dalam hatinya, gadis itu justru menginginkan jawaban jujur kekasihnya.


Hening sesaat. Guntur mengatur ritme nafasnya yang mulai tak beraturan. Sedikit memberi waktu kepada Diana untuk menenangkan diri.


Brengsek..siapa yang sudah berani memberitahu Diana tentang statusku ? Apa si Anton ?. Awas saja kalau benar dia yang melakulannya, batin Guntur menebak. Geram hati laki-laki itu.


"Sebaiknya mas jujur. Toh cepat atau lambat aku akan tau juga. Setidaknya aku tau mas masih bisa berkata jujur, meski itu menyakitkan buatku," suara Diana melemah dalam isak tangisnya.


Guntur tergugu. Ada kepasrahan yang coba dibangun gadis itu. Tak tega, namun dirinya harus berkata jujur.

__ADS_1


Benar kata Diana, Sekarang atau nanti, kebenaran tentang dirinya akan terkuak juga. Perlahan laki-laki itu mendekati Diana yang sejak tadi menjauhi dirinya.


Dengan menghela napas panjang, pertanda kejujuran ini begitu berat baginya, Guntur akhirnya memutuskan untuk berkata jujur.


Laki-laki itu memandang dalam wajah kekasihnya.


"Kamu benar An, Sekarang dan nanti tidak akan mengubah kebenaran tentang diriku,".


Diana menunduk. Matanya terpejam. Kedua telapak tangannya mulai terasa dingin. Debaran jantungnya semakin tak beraturan.


Duh, inikah harga yang harus aku bayar karena berani mencintainya? batin Diana perih.


Netranya memanas. Detik demi detik terasa begitu lambat. Gadis itu benar-benar berharap Guntur menyangkal. Namun......


"Benar Ana, benar apa yang sudah kamu dengar. Riana itu nama istriku dan Kiara nama putriku," akhirnya, kebenaran itu yang diucapkan Guntur.


DUAARRRR...


Bagai petir disiang bolong, kata-kata Guntur terdengar sangat jelas ditelinga Diana.


Meskipun gadis itu telah berusaha sekuat tenaga untuk siap dan menerima apapun kebenaran yang akan diungkapkan kekasihnya, namun tetap saja kejujuran Guntur teramat sangat menyakiti hatinya.


"Kamu menyakitiku mas..sangat menyakitiku", Gadis itu meringis, memandangi Guntur dengan tatapan kosong.


Marah, kecewa, dendam dan perih menyatu didalam hatinya membuat gadis itu tak sanggup lagi untuk berkata-kata.


Dengan berurai air mata, Diana berlari keluar meninggalkan Guntur yang masih berdiri terpaku dan tak bermaksud mencegah gadis itu pergi.


Dari dalam dapur, ibu Sri menyaksikan semua kejadian barusan. Perempuan paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepalanya.


Kasihan gadis itu, sekali lagi dia tersakiti, batin ibu Sri merasa kasihan dengan apa yang dialami Diana.


Dulu Tomi, dan sekarang Guntur. Diana benar-benar tidak beruntung.


Ibu Sri menghela napasnya, didekatinya Guntur yang masih berdiri dan tak tau harus berbuat apa. Ditepuknya pundak anak angkatnya itu.


"Apa yang harus kulakukan ibu,".


"Biarkan Diana tenang dulu. Besok mas temui Diana. Bicara baik-baik dengannya. Kejujuran itu memang menyakitkan nak, tapi Diana harus bisa menerimanya. Dia gadis yang baik, tak pantas untuk kamu sakiti",


Guntur terdiam mendengar ucapan ibu angkatnya.


Ibu Sri benar..besok akan kutemui Diana. batin Guntur akhirnya.

__ADS_1


__ADS_2