
Kondisi Bapak mulai membaik sejak keluar dari ruang ICU. Aku memutuskan untuk menetap beberapa hari lagi sambil menunggu Bapak benar-benar pulih dan Aa' datang menjemputku dan Kiara.
Malam ini kerinduanku tiba-tiba menyeruak pada sosok Aa' Guntur, suamiku. Keinginan untuk dibelai, disayang dan dimanja suami setelah hampir satu tahun lamanya kami berpisah membuatku sulit untuk memejamkan mata. Karena gelisah, aku memutuskan untuk menelpon Aa'.
Tuuut...tuuut..tuuut. terlihat status memanggil dilayar hpku. Berarti Aa' ga aktif telepon WA nya. Kembali aku mencoba menelpon di telepon biasa dan....tetap sama saja, Hp suamiku gak aktif.
Ada apa ini..!, kenapa hp Aa nggak aktif..? batin Diana resah.
Aku harus tau apa yang terjadi di rumah Mertuaku hari ini. Apa Aa' udah nyampe atau belum ...putusku dalam hati. Satu persatu aku mencari nomor hp orang yang bisa kuhubungi untuk mengetahui situasi di rumah Mertuaku.
Ria,..ya. Aku menyimpan nomor hp Ria, sepupu Aa' yang rumahnya tetanggaan dengan rumah kedua Mertuaku. Ria satu-satunya keluarga Suamiku yang paling sering saling berhubungan via wa denganku. Ria pernah diajak Aa' ke rumah kami di asrama bareng adik bungsu Suamiku, Anggi. Namun karena Anggi masih kecil, jadi tidak memliki hp seperti punya Ria.
Segera setelah menemukan nomor WA Ria, aku langsung melakukan telepon WA dengannya. Tuuut...tuuuut....tuuut, terlihat status berdering dilayar hpku. Alhamdulillah, WA Ria aktif.
"Hallo..Assalaamualaikum,," suara Ria begitu panggilan WA ku diterimanya.
"Wa'alaikumsalaam, ini Teh Riana. Apa kabar Ria, Mak dan Bapak?" tanyaku membuka pembicaraan.
Alhamdulillah, kami sehat. Teteh apa kabar. Kiara juga apa kabar Teh?"
"Teteh dan Kiara juga sehat Ri. Alhamdulillah. Oh iya Ria, Teteh mau nanyak sesuatu, boleh ??" tanyaku
"Emm..mm..bo..boleh Teh. mau nanyak apa?" tanya Ria, terdengar gagap.
"Ayahnya Kiara udah nyampe belum !?" tanyaku langsung pada pokok pertanyaanku.
"Udah Teh. Teteh dan Kiara kenapa nggak ikut?"
"Kakeknya Kiara sakit. Makanya Teteh dan Kiara nggak bisa ikut ke situ," jawabku.
"Oohh...," jawab Ria seadanya.
Aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan Ria dariku. Entah apa..Tapi aku penasaran dan sangat ingin tahu. Gadis itu biasanya banyak ngomong kalau teleponan denganku dan suka minta VC an dengan Kiara. Tapi kali ini Ria lebih banyak diam dan terasa irit kata-kata.
"Ria...kenapa diam..!?" aku kembali bertanya dan memecah kebisuan diantara kami.
"Eeeh....ii..iyaa, ga kenapa-kenapa Teh," Ria kembali menjawabku dengan gugup.
__ADS_1
"Ada yang kamu sembunyikan dari Teteh?, kenapa kamu kedengaran gugup Ri'!?" tanyaku mulai bernada selidik.
"Nggak kenapa-kenapa Teh. Ria hanya kaget aja tiba-tiba teteh nelpon....."
"Riaaaaaa.....jangan bohong. Teteh tau saat ini kamu sedang bohong. Iya kan..!?. Katakan Ri'..ada apa!?" serangku bertubi-tubi mbuat Ria semakin gelagapan.
"Eeemmm..tadi...tadi Abang..emm..Abang datang dengan seseorang Teh. Kata Abang itu saudara angkatnya waktu di kota "T"....," jawab Ria akhirnya membuatku makin penasaran.
Kenapa Aa nggak pernah cerita ke Aku kalau dia punya Saudara angkat waktu bertugas di kota "T"..!? batinku heran.
"Perempuan atau laki-laki Ri'!? tanyaku lagi, makin penasaran.
"Mmm...perempuan Teh. masih muda. Namanya Diana. Kata Abang Diana kuliah di Bandung," jawab Ria membuat dadaku berdegub kencang. Instingku mengatakan ada hal lain yang tidak aku ketahui.
Perempuan...!!??...hmm..pantesan, saat mengajakku kemaren, Aa' terlihat kurang serius dan hanya mengajakku satu kali saja. Biasanya Suamiku akan mengajakku berulang-ulang untuk ikut dengannya, bahkan merayuku. Tapi kemaren sangat berbeda. Aa' juga terlihat agak dingin kepadaku dan tidak banyak protes ketika aku menolak untuk ikut dengannya. Padahal kami baru saja bertemu. Seharusnya saat bertemu denganku dan Kiara, kami jadi prioritas utama Aa'.
Tiba-tiba, satu pertanyaan penting timbul di kepalaku.
"Ria...jawab dengan jujur. Apakah Ayahnya Kiara langsung pulang atau...atau mereka....nginap?" selidikku dengan mata yang mulai panas. Netraku memerah menahan sesuatu yang ingin tumpah disana.
"Iya Teh...mereka nginap," jawaban Ria bagaikan petir disiang bolong.
Pantaaass..sejak tadi sore hp Aa' gak diaktifin sama sekali...ap...apakah..AAAKKHH...apa yang sebenarnya sedang terjadi di belakangku..!!!??? batinku marah. Airmataku mengalir deras seiring rasa panas yang membara di dadaku.
"Teh...teteh masih disana..?" suara Ria mengejutkanku.
"Ooh...i...iya Ria," sahutku segera. Kuhapus air mataku dan mulai berusaha meredakan amarahku yang terasa membuncah.
Aku tidak boleh lemah..
"Ria..kamu bisa bantu teteh!?" tanyaku akhirnya
"Bisa Teh...bisa. apa yang harus Ria lakukan Teh?"
"Coba Ria ke rumah Baba. Cek Ayahnya Kiara dan perempuan itu...siapa namanya tadi ? Diana...ya..Diana...apa yang sedang mereka lakukan sekarang. Ria fotoin dan kirim ke WA Teteh," Diana memberi instruksi.
"Iya Teh...baik. Ria ke rumah Baba dulu ya," jawab Ria menutup pembicaraan kami.
__ADS_1
Selama menunggu kabar dari Ria, perasaanku semakin gelisah. Sekali lagi aku mencoba menghubungi Aa' tapi tetap saja sama. Hp Suamiku masih nggak diaktifin.
Tak berselang lama...
Tinggg....bunyi WA masuk....dari Ria. berdebar jantungku ketika kubuka WA dari Ria.
Abang lagi ngobrol di teras depan Teh, bareng Baba dan Mak juga Bang Yudi dan Teh Lusi. tulis Ria.
"Perempuan itu....!??" kujawab WA Ria lagi tanpa menyebutkan nama perempuan itu. Hatiku terasa panas terbakar api cemburu.
"Diana teh..?, dia juga ada,"
Lama aku tidak.menjawab WA Ria sampai akhirnya...tingggg...suara WA masuk lagi...dari Ria. Sebuah video dan foto dikirim Ria yang diambilnya secara sembunyi-sembunyi.
Karena foto dan videonya diambil Ria malam hari, sembunyi-sembunyi pula membuat video dan foto yang dihasilkan tidak terlalu jelas terlihat. Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajah perempuan itu dan bagaimana rona wajah suamiku ketika berbicara dengannya.
"Gambar dan videonya ga jelas Ria. Teteh ga bisa melihat wajah perempuan itu"
"Ya udah teh..besok Ria kirimin foto dan video Diana dan Abang ya Teh!?"
"Iya..makasih ya Ri' sudah membantu Teteh,"
"Sama-sama Teh. Ria senang bisa bantu Teteh. Ria juga nggak suka dengan perempuan itu...tukang cari muka...!!! Ria nggak suka," celetuk Ria berapi-api.
"Anggi gimana Ri'..?, Apa dia terlihat suka dengan perempuan yang dibawa Ayahnya Kiara!?"
Anggi kelihatannya suka Teh..soalnya Anggi, Baba dan Emak dibawain oleh-oleh buanyaaak banget. Makanya si Anggi seneng-seneng aja..Dassaaar...TUKANG CARI MUKA..Ria curiga Teh..Diana itu PELAKOR. Ngakunya saudara angkat..padahal...." Wa Ria menggantung membuat bara dihati Riana makin menyala.
Diana tak tahan lagi. Ucapan Ria berhasil membuat Riana marah.
"Ya udah Ri' untuk sekarang cukup info dari Ria. Makasih udah bantu Teteh,"
"Iya Teh..sama-sama. Teteh yang sabar ya...Assalaamualaikum,"
"Wa'alaikumsalaam," jawabku menutup percakapan WA kami malam ini.
Pikiranku kacau balau setelah menerima WA Ria. Aku jadi nggak fokus merawat Bapak. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah dan tugas menemani Bapak malam ini kuserahkan kepada Mbak Tiwi Kakakku. Aku harus tau siapa perempuan itu...secepatnya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=