Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 10. Kesal Bercampur Malu


__ADS_3

Helena baru selesai menyelesaikan ibadah sholat subuhnya. Jam menunjukkan pukul 05.00 pagi, dia segera beranjak dari kamarnya menuju kamar Axel. Helena tahu Axel pasti akan pergi ke kantor meskipun keduanya baru saja melangsungkan pernikahan. Setibanya di depan kamar Axel, Helena mengetuk pintu namun tidak ada sahutan dari dalam.


Helena menarik knop pintu, dan ternyata pintu kamar itu tidak dikunci. Helena segera masuk ke dalam kamar Axel. Seketika Helena mencium aroma maskulin khas yang menyeruak. Helena hafal betul dengan aroma yang menjadi salah satu ciri khas Axel. Helena mengedarkan pandangannya dan menyapu setiap sudut ruangan Axel yang didominasi dengan warna monokrom. Helena melirik ke atas ranjang yang berukuran king size yang sudah tertata rapi. Helena juga mendengar suara gemiricik air dari dalam kamar mandi.


"Hemm... Axel sedang mandi. Sebaiknya aku segera menyiapakan pakaiannya dan keluar dari kamar ini," ucap Helena lalu masuk ke dalam walk in closet.


Helena membuka lemari pakaian Axel, dan mengambil sebuah kemeja dan celana untuk Axel. Helena juga mengambil dasi yang sesuai dengan warna kemeja Axel dan menaruhnya di atas meja beserta jasnya. Kemudian Helena mengambil keranjang baju kotor Axel untuk dibawa keluar. Saat akan keluar dari ruangan itu, Helena melihat foto yang menarik pandangannya di atas nakas. Helena mendekat untuk melihat foto itu, yang tak lain adalah foto Marissa. Helena juga melihat beberapa foto lain tentang kebersamaan Axel dan Marissa.


"Marissa cantik sekali, pantas saja Axel tergila-gila dan sangat mencintainya. Mereka terlihat serasi sekali," gumam Helena sambil tersenyum.


"Ekhm!" terdengar deheman dari belakang Helena.


Helena tersentak. Dia segera membalikkan badannya. Helena membelalakkan matanya saat Axel berdiri di hadapannya dengan hanya memakai handuk yang dililitkan di pinggang, yang memamerkan tubuh atletis dengan beberapa roti sobek yang menggoda dan rambutnya yang basah membuat Axel terlihat semakin tampan. Helena meneguk salivanya kasar.


"Sudah puas memandanginya?" tanya Axel dingin.


Helena segera mengalihkan pandangannya. Pipinya terasa panas. Dia merutuki kebodohannya karena terpesona melihat tubuh Axel menggiurkan.


"Bukankah sudah aku tegaskan, selesai menyiapkan bajuku segera keluar dari sini. Atau kau memang sengaja menungguku keluar dari kamar mandi supaya kau bisa merayuku dan berharap aku akan jatuh ke dalam pelukanmu? Murahan sekali!" ucap Axel merendahkan.


Rahang wajah Helena mengeras. Dia langsung memelototi Axel. Lalu Helena mengubah ekspresinya. Helena tersenyum jahil, dia berjalan mendekat ke arah Axel dan berdiri tepat di depan Axel. Jarak mereka hanya tinggal beberapa centimeter saja.


"Mau apa kau?" bentak Axel.


Helena menyeringai.


"Sebaiknya kau turunkan tingkat kepercayaan dirimu yang terlalu tinggi itu," ucap Helena sambil tersenyum sinis.


Lalu dengan beraninya tangan kanan Helena menyentuh pusaka Axel dari luar handuk. Axel tersentak dan membulatkan bola matanya.


"Hehhh!!! Kecil saja sombong!" ejek Helena dengan tatapan meremehkan.


Helena segera mengambil keranjang baju kotor Axel lalu keluar dari ruangan itu, dan meninggalkan Axel yang masih terpaku. Begitu keluar dari kamar Axel, Helena langsung berlari dan masuk ke dalam kamarnya lalu mengunci pintu kamarnya. Helena meletakkan keranjang tadi di atas lantai dan menyandarkan tubuhnya di pintu. Jantung berdetak sangat kencang dan napasnya terengah-engah seperti habis dikejar-kejar anjing gila.


"Apa yang sudah kau lakukan, Helena?" tanya Helena pada dirinya sendiri sambil memandangi tangan kanannya yang sedikit gemetar.


"Seumur hidup aku tidak pernah melakukan hal yang memalukan seperti itu. Bahkan saat bersama Marco dulu aku tidak pernah melakukan hal senonoh seperti itu," ucap Helena sambil menepuk dahinya.


"Sepertinya aku membangunkan singa yang sedang tidur. Jangan sampai Axel memendam dendam padaku," ucap Helena panik.


"Hahhhhh... Helena bodoh! Mengaoa otakmu semesum itu?" teriak Helena merutuki dirinya.


Helena segera mengangkat keranjang pakaian dan masuk ke kamar mandi untuk mencuci pakaian kotor Axel. Sedangkan di kamar Axel, setelah tersandar dari keterkejutannya, Axel merasa sangat marah.


"K****g a**r! Beraninya dia menyentuh asetku dan mengatakan bahwa milikku ini kecil!" umpat Axel dengan wajah memerah.


"Memangnya sebesar apa barang milik mantan suaminya itu?" ucap Axel kesal.


Dan yang membuat Axel semakin kesal, setelah disentuh oleh Helena, junior Axel langsung mengeras. Axel berusaha menidurkannya lagi tapi gagal. Akhirnya Axel masuk ke kamar mandi dan berendam. Hatinya benar-benar kesal. Setelah hampir 30 menit, Axel keluar dari kamar mandi dan bersiap.


Beruntung pakaian kotor Axel tidak terlalu banyak, sehingga Helena tidak membutuhkan banyak waktu untuk mencucinya. Selesai mencuci dan menjemur, Helena langsung ke dapur. Dia sudah meminta Bu Sari untuk menyiapkan nasi dan udang. Helena akan membuat nasi goreng seafood, salah satu makanan favorit Axel. Helena hobi sekali memasak, sehingga tidak sulit baginya untuk mengolah bahan-bahan itu dengan cepat. Setelah nasi gorengnya matang, Bu Sari langsung memindahkannya di piring dan meletakkannya di atas meja makan. Sedangkan Helena segera ke kamarnya untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Axel sudah siap dengan pakaian kerjanya. Saat ini dia sedang menemui William yang sudah tiba sejak tadi, di ruang tamu.


"Bu Sari!" panggil Axel.


Bu Sari segera menghadap.


"Iya Tuan," jawab Bu Sari.


"Tolong panggilkan Helena dan suruh dia ke sini!" perintah Axel.


"Baik, Tuan." Bu Sari segera menuju kamar Helena.


Sebenarnya Axel masih kesal dan tidak ingin melihat Helena, tapi dia ingin Helena segera menandatangi surat perjanjian mereka. Ekspresi wajah kesal Axel itu tidak luput dari perhatian William.


"Sepertinya peperangan sudah dimulai," batin William.


Tak lama terdengar hentakan kaki Helena mamasuki ruang tamu. Helena berusaha untuk bersikap santai meskipun dalam hati dia sangat malu untuk bertemu dengan Axel setelah apa dia perbuat tadi.


"Selamat pagi, semuanya," sapa Helena dengan senyum mengembang.


"Selamat pagi, Nona," jawab William.


Sedangkan Axel hanya diam dan mengalihkan pandangannya dari Helena. Dia masih kesal dan marah karena ucapan Helena tadi. Dan bertambah kesal karena Helena masih bisa bersikap tenang tanpa rasa bersalah.


"Cepat kau tanda tangani surat perjanjiannya!" seru Axel.


Helena segera duduk di sofa depan Axel. Lalu William menyerahkan surat perjanjian terbaru itu kepada Helena.


"Terima kasih, Tuan William," ucap Helena sambil tersenyum ramah.


"Sama-sama, Nona. Panggil saja Will," jawab William.


"Baiklah, Will," sahut Helena.


Helena membaca surat perjanjian itu sampai selesai, lalu dia menandatanganinya.


"Sudah. Silakan Will minta tanda tangan bosmu," ucap Helena.


William segera mengambil surat perjanjian itu dafi tangan Helena dan memberikannya kepada Axel. Axel pun segera menandatanganinya tanpa membacanya terlebih dahulu.


"Ayo kita berangkat sekarang, Will!" seru Axel.


"Tunggu. Apa kau lupa dengan perjanjian kita, suamiku? Kamu wajib sarapan di rumah dan memakan masakanku," sahut Helena.


Axel menghembuskan napasnya berat, lalu berdiri dan melangkah menuju ruang makan.


"Mari Will, kau juga ikut makan," ajak Helena.


"Tapi, Nona," sahut William tak enak.


"Will, segera ke ruang makan!" teriak Axel.

__ADS_1


William tersentak lalu segera melangkah cepat menuju ruang makan. Axel sudah duduk dengan tenang di tempatnya, dan William duduk di sampingnya. Sedangkan Helena duduk di seberang meja berhadapan dengan Axel. Sebelumnya, Bu Sari sudah menghidangkan nasi goreng di meja makan. Axel menatap lapar nasi goreng itu, tapi dia tetap berusaha mempertahankan raut wajah datarnya.


"Apa Nona Helena yang memasak?" tanya William.


"Iya Will. Semoga kau menyukainya," jawab Helena sambil tersenyum.


Merekapun melahap nasi goreng seafood buatan Helena. Begitu nasi goreng itu masuk ke dalam mulut, mata Axel berbinar. Nasi goreng buatan Helena sama lezatnya dengan buatan ibunya, Aline. William juga terlihat sangat menikmatinya.


"Wah, ini nasi goreng terlezat yang pernah aku makan, Nona. It's so delicious. Benar kan, Tuan?" puji William.


"Biasa saja," jawab Axel dingin.


"Ah yang betul, Tuan? Jika rasanya biasa saja, mengapa Tuan Axel makan dengan lahapnya bahkan sudah habis tak bersisa di piring," ledek William saat melihat piring Axel bersih mengkilap.


Axel menahan rasa malunya.


"Aku hanya tidak ingin membuang-buang makanan. Mubazir itu tidak baik," jawab Axel.


"Cepat habiskan makananmu. Aku tidak ingin kesiangan datang ke kantor. Aku tunggu di mobil," perintah Axel yang sudah berdiri dan hendak melangkah pergi.


"Tunggu!" tahan Helena.


Axel menghentikan langkahnya.


"Apa kau lupa dengan perjanjian kita? Setiap kau akan berangkat kerja, kau harus pamit dulu, suamiku," ucap Helena sambil mengulurkan tangannya untuk salim.


Axel mendengus kesal. Dia membalikkan badannya dan menerima uluran tangan Helena. Helena langsung salim dan mencium punggungnya.


"Assalamualaikum," ucap Axel lalu melangkahkan kakinya.


"Waalaikum salam," jawab Helena sambil tersenyum.


"Saya berangkat dulu ya Nona. Terima kasih untuk sarapan lezatnya," pamit Will.


"Sama-sama, Will. Hati-hati ya," jawab Helena.


Helena segera membereskan piring kotor dan merapikan meja makan dibantu oleh Bu Sari. Setelah itu Helena kembali ke kamarnya, karena dia masih cuti kerja.


Baca juga baca novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author dengan :


💫Tinggalkan comment


💫Tinggalkan like


💫Tinggalkan vote


💫Klik favorite

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2