Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 41. Axel Murka


__ADS_3

Axel kembali ke mansionnya bersama Jasmine. Axel masuk ke dalam kamar Helena. Dia mengambil baju Helena dan memeluknya erat.


"Kamu di mana, El? Aku sangat merindukanmu," ucap Axel pelan sambil mencium baju yang pernah Helena kenakan.


Axel semakin bersedih karena seharusnya saat ini mereka sedang bersuka cita menantikan kehadiran buah cinta mereka.


Axel menyentuh barang-barang milik Helena satu persatu. Axel mengambil sebuah novel milik Helena beli. Helena terbiasa membaca novel saat ada waktu senggang. Axel membuka laci meja untuk menyimpan novel itu. Saat akan memasukkan novel itu Axel melihat ada sebuah flashdisk yang tersimpan di sana.


Axel langsung mengambil flashdisk itu dan bergegas menuju ruang kerjanya. Jasmine yang melihatnya segera mengejar dan ikut masuk ke dalam ruangan Axel.


"Ada apa, Kak?" tanya Jasmine.


"Kakak menemukan flashdisk ini di laci Helena," jawab Axel.


Jasmine melebarkan matanya. Jasmine langsung mendekat dan berdiri di samping kursi kakaknya.


Axel menyalakan laptopnya dan menancapkan flashdisk itu ke tempatnya. Axel membuka file yang tersimpan di dalam flashdisk itu. Axel dan Jasmine membulatkan mata mereka saat melihat foto-foto mesra Axel dan Putri.


"Apa benar pria yang ada di dalam foto ini dirimu, Kak?" tanya Jasmine tak percaya.


"Bukan!" elak Axel.


"Pria yang ada di foto ini bukan aku, pasti foto ini sengaja diedit sehingga wajahnya berubah menjadi wajahku," ucap Axel.


Kemudian Axel membuka file video. Kedua kakak beradik itu dibuat terbelalak saat menonton adegan mesum Putri bersama seorang pria yang wajahnya telah diedit menggunakan wajah Axel.


Jasmine langsung menutup kedua matanya menggunakan tangan. Sedangkan Axel seketika merasakan perutnya mual. Axel menutup laptopnya dengan sedikit membanting.


"B******k!!!" teriak Axel kesal.


"Helena pergi meninggalkanku karena foto dan video palsu ini. K****g a**r kau Putri! Aku akan memberimu pelajaran karena telah berani mencoba menghancurkan rumah tanggaku," ucap Axel dengan wajah marahnya.


"Sebaiknya kita segera menemuinya Kak. Tanganku sudah gatal ingin memberikan pelajaran pada wanita m*****n itu," sahut Jasmine.


Axel dan Jasmine segera menuju apartemen, tempat Putri tinggal. William dan Irene sudah tiba lebih dahulu di sana. Axel dan Jasmine melangkahkan kaki mereka dengan cepat. Saat keluar dari lift, nampak William dan Irene menunggu mereka di depan pintu apartemen.


"Mengapa kalian masih di sini? Apa wanita itu tidak membukakkan pintu? Dobrak saja pintunya!" tanya Axel sambil berteriak.


"Percuma saja didobrak. Wanita itu sudah tidak berada di apartemen ini," jawab William.


"Apa? Cari keberadaannya. Kerahkan semua anak buah kita untuk mencari tempat tinggalnya yang baru," ucap Axel.


"Anak buah kita sudah bergerak," sahut William.


Ponsel William berdering.


"Halo,"


"Kalian sudah menemukannya? Baiklah kami akan segera ke sana," ucap William saat menerima telpon.


William memutuskan panggilan telponnya.


"Anak buah kita sudah menemukan keberadaan Putri. Sebaiknya kita bergegas ke sana," ucap William.


Tanpa menunggu waktu lebih lama, Axel, Jasmine, William dan Irene bergegas menuju tempat tinggal Putri saat ini.


Sedangkan Putri dan ibunya sedang merayakan keberhasilan rencana busuk mereka. Mereka juga tahu jika Helena telah pergi meninggalkan Axel.


"Rencana Mama memang luar biasa. Saat ini Helena sudah pergi meninggalkan Axel. Dan aku memiliki kesempatan lagi untuk mendekati Axel," ucap Putri dengan raut wajah bahagia lalu meneguk minumannya.


"Kau harus mendekati Axel secara perlahan. Pura-puralah menyesal dan minta maaf padanya. Kau harus bisa menarik simpatinya kembali. Dan saat Axel dalam kondisi terpuruk, masuklah ke dalam hidupnya dengan memberikan dukungan dan semangat untuknya," ucap ibu Putri.


"Ya Ma. Putri akan melakukan seperti yang Mama katakan," sahut Putri.


"Bagus. Kali ini kau tidak boleh gagal lagi. Gunakan otakmu itu dan jangan sampai bertindak bodoh lagi," seru ibu Putri.


Putri mengangguk. Dia tidak ingin mengecewakan ibunya lagi. Putri dan ibunya tertawa bahagia karena rencana mereka berjalan dengan baik.


Tok... Tok... Tok... (terdengar suara ketukan pintu)


Putri dan ibunya menghentikan tawa mereka.


"Buka pintunya, Put. Mungkin makanan yang kita pesan secara online tadi sudah datang. Mama ke dapur dulu," ucap ibu Putri sambil berdiri dan melangkahkan kakinya menuju dapur.

__ADS_1


Putri pun berdiri dan melangkah menuju pintu. Saat pintu itu terbuka, Putri terkejut dan membelalakkan matanya.


"A-Axel! Dari mana kau tahu tempat ini?" tanya Putri gugup.


"Tak perlu banyak omong lagi," seru Jasmine yang muncul dari belakang dan mendorong Putri masuk ke dalam rumah.


"Kalian! Cepat cari wanita yang bersamanya tadi," perintah Axel.


William dan Irene segera masuk ke dalam dan menggeledah rumah ibu Putri.


"A-ada apa ini, Axel?" tanya Putri sambil ketakutan.


Axel melangkah ke depan putri. Tangan kanannya langsung mencekik leher Putri dan merapatkannya di tembok.


"Aarrggkkk!" pekik Putri kesakitan.


"Aku sudah memperingatkanmu. Jangan pernah mengganggu hidupku dan istriku lagi. Beraninya kau membuat kebohongan besar dan membuat istriku pergi!" bentak Axel dengan tatapan membunuhnya.


Kedua tangan Putri memegang tangan Axel yang mencekiknya.


"A-aku tidak mengerti maksudmu, Axel," elak Putri.


Axel mengencangkan cekikannya membuat Putri semakin kesulitan untuk bernapas.


"Kau masih mau mengelak. Ini apa?" tanya Axel sambil memperlihatkan flashdisk yang berada di tangan Axel satunya.


Putri membulatkan matanya. Dia semakin ketakutan.


"Masih tidak mau mengaku?" bentak Axel.


"A-ampun. Tolong le pas kan. A ku ti dak bi sa ber na pas," mohon Putri dengan suara tersendat dan mata yang berair.


"Kakak. Lepaskan dia. Kau bisa membunuhnya," ucap Jasmine.


Axel mengeraskan rahanganya dan mengeratkan cekikannya sampai badan Putri semakin lemas dengan wajah pucat. Kemudian Axel menghempaskan tubuh Putri sampai jatuh ke lantai.


Putri berusaha bernapas sambil terbatuk-batuk. William dan Irene kembali dengan tangan kosong.


"Mengapa kalian hanya berdua. Di mana wanita itu?" tanya Axel marah.


"Sial!" teriak Axel sambil memukul tembok.


"A-apa? Mama kabur, dan meninggalkanku sendiri," batin Putri.


"Katakan! Di mana wanita itu? Di mana ibumu bersembunyi, Putri?" tanya Jasmine dengan tatapan dinginnya.


Putri menggeleng.


"A-aku tidak tahu. T-tadi Mama ada di dapur. Aku tidak tahu di mana Mamaku sekarang," jawab Putri ketakutan.


Axel menyugar rambutnya kasar. Rasa mual di perutnya semakin menjadi karena berdekatan dengan Putri tadi.


"Bawa wanita ini ke markas Alvaro! Dan kerahkan anak buah kita untuk mencari ibunya!" perintah Axel.


"Baik, Tuan," jawab William dan Irene.


Axel segera keluar dan memuntahkan apa yang sudah dia makan tadi di tanah. Jasmine dengan sabar dan telaten memijat tengkuk leher kakaknya.


Irene dan William segera membawa Putri keluar dari rumah itu dan masuk ke dalam mobil. Putri terkejut melihat Axel yang terus muntah.


"Apa Axel sakit?" tanya Putri saat dirinya sudah berada di dalam mobil.


"Ya seperti yang kau lihat. Dan obatnya hanya satu, istrinya yaitu Nona Helena," jawab Irene.


Hati Putri terenyuh mendengarnya.


"Apa sebesar itu cintamu pada Helena, Axel? Di saat Helena pergi kau merasakan sakit sampai seperti itu," batin Putri sambil meneteskan air mata.


William melajukan mobilnya dan membawa Putri ke markas Alvaro sesuai perintah Axel.


Axel langsung meminum air saat berada di dalam mobil. Jasmine yang mengambil alih kemudi dan segera melajukannya menyusul mobil William.


Setibanya di markas Alvaro, Putri didudukkan di sebuah kursi dengan kedua tangan diikat.

__ADS_1


"Cepat katakan, di mana keberadaan ibumu?" bentak Axel.


"A-aku benar-benar tidak tahu Axel," jawab Putri sambil terus menangis.


Rasa takut dan sedih bercampur menjadi satu di dalam hati Putri. Dia kecewa kepada ibunya. Untuk kesekian kalinya ibunya meninggalkannya di saat dia dalam keadaan terpuruk.


"Sebaiknya kau jawab dengan jujur dan jangan melindungi ibumu lagi, atau kami akan mengirimmu ke dalam penjara," ucap Jasmine.


"Demi Tuhan. Aku tidak tahu di mana ibuku berada. Aku akui aku salah. Aku minta maaf," ucap Putri memohon.


Jasmine hanya mencibirnya.


"Sebaiknya kita kembalikan saja kepada kekasihnya Kak, Javier Alonso," ucap Jasmine sambil tersenyum miring.


Seketika Putri membelalakkan matanya. Putri menggelengkan kepalanya.


"Tidak! Aku mohon jangan berikan aku pada pria sakit jiwa itu. Masukkan saja aku ke dalam penjara. Lebih baik aku mati dari pada harus hidup bersama pria itu," mohon Putri.


"Bukankah kau bahagia saat bersamanya?" ejek Jasmine.


Putri menggeleng.


"Aku harus berpura-pura agar terlihat bahagia. Kenyataannya aku sangat menderita. Aku terpaksa bersama pria itu demi membayar hutang ibuku. Javier mengancam akan membunuh ibuku," ucap Putri dengan raut wajah sedih.


"Apapun yang kalian inginkan, akan aku lakukan. Tapi jangan berikan aku kepada Javier Alonso," tambahnya dengan nada memohon.


Jasmine melihat ke arah Axel. Axel tetap setia dengan wajah dinginnya, bahkan tidak terlihat rasa iba sedikitpun.


"Irene! Cambuk dia sebanyak 20 kali! Kemudian masukkan ke dalam salah satu ruangan yang ada di sini," perintah Axel.


Putri membulatkan matanya. Dia tidak percaya jika Axel tega melakukan semua ini padanya.


"Apa sebenci itukah dirimu padaku, Axel?" tanya Putri.


"Sangat. Aku sangat membencimu. Untuk kedua kalinya kau membuatku kehilangan wanita yang sangat aku cintai," jawab Axel dengan tatapan penuh kebencian.


Axel segera pergi meninggalkan ruangan itu. Jasmine mengikutinya dari belakang.


Irene mengambil cambuk dan melaksanakan perintah dari Axel. Putri menjerit kesakitan. Dia merasakan sakit di tubuh dan hatinya. Setelah 20 cambukan, Irene menyuruh anak buahnya untuk memindahkan tubuh Putri ke dalam suatu ruangan dan meletakkannya di atas ranjang.


"Sebentar lagi akan ada yang membawakanmu makanan dan minuman, juga obat untuk lukamu. Kami masih berperikemanusiaan."


"Jangan kau anggap penderitaanmu sudah berakhir. Makanya jangan coba-coba mencari masalah dengan anggota keluarga Alvaro!" ucap Irene dingin.


"Dan satu lagi, jangan coba-coba kau kabur dari sini!" ancam Irene.


Irene segera keluar dari ruangan itu dan menguncinya dari luar meninggalkan Putri yang tergeletak tak berdaya dengan hati yang hancur.


"Mama di mana? Mengapa Mama meninggalkan Putri? Hiks..." lirih Putri dalam isak tangisnya.


"Mama bohong. Axel bukan pangeran untukku."


"Ya Tuhan. Mengapa tidak ada seorang pun yang bersedia menyayangiku? Apa aku tidak layak untuk dicintai?" ucap Putri sambil terus menangis.


Putri mengingat kembali memori masa kecilnya. Ibunya selalu memarahinya setiap dia melakukan kesalahan atau gagal melakukan apa yang diperintahkan oleh ibunya. Ibunya hanya akan bersikap manis ketika Putri berhasil menyenangkan hatinya. Putri kecil selalu berusaha keras untuk melakukan setiap perintah dengan baik dan menyenangkan hati ibunya. Putri ingin seperti anak-anak lain yang mendapatkan kasih sayang dari ibunya.


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2