Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 61. Kan Kudapatkan Kepercayaan dan Cintamu


__ADS_3

Aiden mendengus kesal saat melihat tempatnya berada sekarang. Dia berangkat pagi-pagi sekali dari Jerman karena khawatir terjadi sesuatu pada Helena.


"Axel sungguh keterlaluan. Aku jauh-jauh datang dari Jerman ke sini hanya untuk mencari dan membeli bunga lily yang sesuai keinginan Helena," gerutu Aiden.


"Sabar Aiden, demi ibu hamil kembar tiga," gumam Aiden sambil mengelus dadanya.


Aiden menghela napas panjang dan dia teringat dengan Emily yang sedang hamil bayinya.


"Apa Emily juga mengalami ngidam seperti Helena? Bagaimana jika keinginannya tidak terpenuhi? Karena aku tidak berada di sampingnya," batin Aiden sedih.


Aiden memilih bunga yang ada di bagian depan toko dan akhirnya mengambil bunga lily berwarna putih sesuai permintaan Helena.


"Selamat datang di toko bunga kami," seru Emily yang keluar dari dalam toko sambil membawa bunga mawar yang sudah dia rangkai.


Deg...


"Suara ini...," batin Aiden sambil membelalakkan matanya.


Aiden langsung membalikkan badannya.


"Ada yang bisa saya bantu Tu....," ucapan Emily terpotong.


Dia terkejut dan menbulatkan matanya.


"A-Aiden," lirih Emily dengan bibir gemetar.


Sontak Emily menjatuhkan bunga mawar yang dia pegang.


"Emily," seru Aiden.


Emily langsung berbalik dan masuk kembali ke dalam toko. Aiden segera mengejarnya. Aiden menarik lengan Emily dan langsung memeluk tubuh Emily dengan posesif. Emily hanya diam membatu. Dia benar-benar syok.


Aiden mengurai pelukan keduanya. Kedua tangan Aiden menakup wajah Emily. Emily menatapnya tak percaya.


"Ini benar-benar dirimu kan, Emilyku sayang. Aku sudah mencarimu ke mana-mana. Akhirnya aku bisa menemukanmu," ucap Aiden sambil menitikkan air mata.


Aiden langsung mencium bibir Emily pelan. Emily memukul dada Aiden karena Aiden menghimpit perut buncitnya.


"Oh maafkan aku sayang," ucap Aiden.


Aiden pun sedikit berjongkok dan mendekatkan bibirnya di perut Emily.


"Maafkan Daddy ya sayang. Daddy terlalu bahagia akhirnya bisa bertemu dengan Mommymu," ucap Aiden kemudian mencium perut Emily.


Emily masih setia dengan keterkejutannya.


"Daddy? K-kau salah paham Aiden. D-dia mmm... itu bukan....," ucap Emily terbata-bata.


"Cukup, Em. Aku sudah mengetahui semuanya. Samantha sudah menceritakannya padaku. Ini adalah anakku," sahut Aiden.


Emily meneguk salivanya. Sudah tidak mungkin lagi berbohong di depan Aiden.


Sedangkan dari luar toko Axel, Helena dan Neil memperhatikan keduanya dari balik kaca.


"Mengapa ada Aiden di sini, Xel? Dan mengapa mereka terlihat dekat sekali?" tanya Helena tak mengerti.


"Bukankah kemarin kau memintaku untuk mencari pria yang sudah menghamili Emily. Itu dia, tersangkanya sudah datang," jawab Axel dengan santainya.


"Jadi Aiden adalah ayah dari bayi yang dikandung Emily saat ini. Benar-benar keterlaluan si Aiden. Aku harus memberinya pelajaran," ucap Helena emosi.


"Aku juga tidak mau kakakku dekat-dekat lagi dengan pria b******k itu. Aku harus menjauhkannya dari Kak Emily," sahut Neil.


Helena dan Neil hendak melangkah namun kedua tangan Axel menahan mereka.


"Tenangkan diri kalian. Biarkan Aiden dan Emily menyelesaikan masalah mereka sendiri dulu," ucap Axel.


Helena awalnya tak terima, namun akhirnya dia pun mengangguk. Dia mengerti apa yang dikatakan oleh Axel ada benarnya. Sedangkan Neil mendengus kesal.


"Apa Kak Axel juga harus memegangiku seperti ini? Aku geli, Kak," ucap Neil kesal.


Axel terkejut saat menyadari bahwa dia melingkarkan tangan kanannya di pinggang Neil. Axel segera menarik tangannya.


"Itu hanya refleks. Aku masih lurus untuk istriku tercinta, Helena," ketus Axel.

__ADS_1


"Sebaiknya kita perhatikan saja mereka dari sini. Aiden tidak akan pernah melukai Emily, apalagi anaknya," ucap Axel.


Emily masih terdiam.


"Mengapa kau pergi, Em? Mengapa kau tidak mengatakannya padaku jika kau hamil? Bahkan anak kita kembar," tanya Aiden.


Emily menatap Aiden tajam.


"Untuk apa? Bukankah kau tidak menginginkan kehadiran seorang anak apalagi sampai dua orang anak, Aiden? Kau kan pernah mengatakan padaku jika kau tidak ingin wanita yang kau tiduri merengek meminta pertanggung jawaban darimu. Jadi apa pentingnya kau tahu atau tidak tentang bayi ini," ucap Emily.


Aiden melihat ada rasa marah, benci dan kecewa dari sorot mata Emily.


"Aku akui, aku memang salah padamu. Aku salah pada anak-anak kita. Aku minta maaf. Aku akan bertanggung jawab, Em," ucap Aiden.


Emily tersenyum sinis.


"Aku tidak membutuhkan pertanggung jawabanmu, Aiden. Aku bisa membesarkan anakku sendiri," jawab Emily.


"Tidak Em. Bayi ini juga anakku. Aku juga berhak dan menginginkan anak ini, begitu juga denganmu. Kalian sangatlah penting bagiku," ucap Aiden.


Emily terkekeh.


"Cukup Aiden. Sebaiknya kau lupakanlah kami. Dan kembalilah pada kekasihmu itu. Oh maaf, maksudku wanita yang sudah menjadi tunanganmu. Bukankah kalian akan segera melangsungkan pernikahan? Kau tidak perlu khawatir, aku dan anakku tidak akan pernah mengusik kehidupan kalian," ucap Emily sambil menyeka air matanya yang mulai jatuh.


"Itu tidak benar Em. Semua yang dikatakan oleh Cassandra itu hanyalah bualan dan kebohongan. Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya. Kau salah paham sayang." Aiden mencoba menjelaskan.


"Sayang? Jangan memanggilku dengan sebutan itu. Aku jijik mendengarnya. Berapa banyak wanita yang kau panggil dengan sebutan sayang? Bahkan wanita yang bernama Cassandra itu juga memanggilmu sayang. Dan kalian berpelukan dengan mesra di depan mata kepalaku sendiri. Jangan anggap aku ini gadis bodoh, Aiden," balas Emily.


"Baiklah, aku tidak akan memanggilmu dengan sebutan itu, Em. Aku minta maaf. Aku mohon berikan aku kesempatan untuk memperbaiki kesalahanku. Aku bersumpah, aku tidak memiliki hubungan dengan Cassandra atau wanita lain."


"Mari kita menikah, Em," mohon Aiden.


"Pernikahan itu bukanlah sebuah mainan Aiden. Dan aku juga tidak sudi menjadi istri pajangan yang akan kau pajang di rumahmu. Sedangkan kau adalah seorang petualang yang masih mengharapkan kehangatan wanita lain di luar sana. Maaf aku tidak berminat," jawab Emily.


"Aku serius Em. Aku akan menjadikanmu satu-satunya wanita yang akan menjadi istriku, satu-satunya wanita dalam hidupku. Tidak akan ada wanita lain," sahut Aiden.


Aiden meraih tangan Emily, namun Emily segera menepisnya.


"Sudah cukup Aiden. Aku sudah kehilangan satu bayiku. Aku hanya ingin hidup tenang dengan dengan bayi yang masih hidup dalam diriku. Aku mohon pergilah," ucap Emily.


"Aku mohon pergilah," ucap Emily sambil menangis.


"Kau harus tahu Em, jika Angela menginginkan kita bersama," sahut Aiden.


"Bisa-bisanya kau menyebut nama wanita lain lagi saat ini, Aiden," ucap Emily sambil tersenyum hambar.


"Dia bukan wanita lain. Angela adalah putri kita Em. Di-dia adalah putri kita yang telah berpulang ke rumah Tuhan. Putri kita ingin melihat kita bersama, Em," ucap Aiden sambil menangis.


"Aku mohon Aiden, jangan membual dengan membawa-bawa bayiku yang telah pergi. Pergi dari hadapanku!" bentak Emily.


Neil masuk ke dalam toko saat mendengar teriakan kakaknya. Dia khawatir jika kakaknya stress dan mengalami kontraksi lagi.


"Saya mohon Anda pergi dari sini. Biarkan Kakakku tenang. Jangan sampai apa yang Anda lakukan ini mempengaruhi kesehatan bayi dalam kandungannya," ucap Neil.


Aiden pun mengalah.


"Baiklah. Aku akan keluar dari sini, tapi aku tidak akan pernah pergi dari tempat ini sebelum Emily mau memaafkanku dan menerimaku," ucap Aiden.


Aiden melangkahkan kakinya keluar dari toko bunga itu.


"Neil tutup tokonya! Kita libur hari ini," perintah Emily.


Emily segera melangkah pergi menuju kamarnya dan membanting pintu dengan keras. Neil segera melaksanakan perintah kakaknya. Dia menutup toko bunga mereka. Sedangkan Aiden tetap berdiri di depan toko.


"Kakakku pasti sangat terkejut dengan kehadiranmu. Dia masih terpukul atas kepergian salah satu bayinya," ucap Neil pada Aiden.


"Apa kau mencintai kakakku?" tanya Neil.


"Sangat. Aku sangat mencintai Emily," jawab Aiden tegas.


"Berjuanglah dan jangan pernah menyakitinya lagi," ucap Neil.


Aiden tersenyum dan mengangguk.

__ADS_1


Neil pun menutup pintu toko mereka.


Axel dan Helena mendekati Aiden. Axel menepuk bahu Aiden. Aiden tersentak dan menoleh ke belakang.


"Terima kasih," ucap Aiden sambil terisak.


Axel langsung menarik tubuh kekar Aiden ke dalam pelukannya.


"Tidak perlu berterima kasih. Kita kan saudara. Benar apa yang dikatakan Neil. Biarkan Emily tenang dan bersabarlah. Setelah dia tenang, berjuanglah untuk mendapatkan cinta dan kepercayaannya," ucap Axel.


Aiden mengangguk sambil terus menangis. Tak lama kemudian, keduanya mengurai pelukan mereka.


"Aku akan menunggu dan tidak akan pernah menyerah untuk berjuang. Aku akan terus berjuang untuk mendapatkan kepercayaannya lagi," ucap Aiden.


"Bagus," sahut Axel.


Aiden terkekeh sambil menyeka air matanya.


"Dia adalah satu-satunya wanita yang bisa membuatku mengeluarkan air mata dan benar-benar rapuh," ujar Aiden.


Axel tersenyum melihat sikap sahabatnya itu.


"Jadi, kau adalah pria yang sudah menghamili Emily," celetuk Helena.


Aiden menoleh ke arah Helena.


Sriiinggg...!!


Aiden menelan salivanya kasar saat mendapatkan tatapan setajam pedang samurai dari Helena.


"Ya, aku mengaku salah Helena. Kau boleh memberikan suntikan mati padaku jika nanti Emily benar-benar tidak mau menikah denganku," ucap Aiden tulus.


Helena menghela napas panjang.


"Jangan hanya ucapan tapi buktikan. Segera undang keluargamu dan keluarga besar Emily. Meminta maaflah pada mereka. Kemudian mintalah restu pada mereka. Emily sangat menyayangi keluarganya. Jadi gunakan otak dan kesempatanmu dengan baik," cerocos Helena.


Axel dan Aiden melebarkan mata mereka.


"Itu ide yang sangat brilliant," seru Aiden.


"Kau sungguh luar biasa, El-ku sayang. Itu genius sekali," ucap Axel lalu mendaratkan kecupan di kening Helena.


"Terima kasih, Helena," ucap Aiden.


"Ucapan terima kasihnya nanti saat kau sudah membuat sahabatku bahagia, Aiden," sahut Helena.


"Pasti," tegas Aiden.


Aiden menatap toko bunga yang sekaligus sebagai rumah, tempat tinggal Emily saat ini, dengan tersenyum bahagia.


"Aku berjanji Emily, aku akan mendapatkan kepercayaanmu dan cintamu," batin Aiden.


Bersambung ....


...🌹🌹🌹...


Semangat bang Aiden💪💪💪


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2