Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 75. Luka Masa Lalu


__ADS_3

Heidi menggeliatkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Perlahan dia membuka matanya, dan terkejut saat menyadari dirinya berada di tempat yang asing. Heidi segera duduk dan membuka selimut yang menutup tubuhnya. Mata Heidi membulat saat melihat tubuhnya hanya memakai pakaian dalam saja.


"Aaaarrgg!!!" teriak Heidi.


Reymond terkejut mendengar teriakan Heidi. Dia segera keluar dari kamar dengan terburu-buru dan hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.


"Ada apa?" tanya Reymond.


Heidi langsung menoleh ke arah Reymond.


Reymond menelan salivanya kasar saat melihat dua bukit indah yang setengahnya tertutup kacamata hitam.


"Aaaarrggg!!!" teriak Heidi yang melihat penampilan Reymond dan melihat sesuatu sedang berdiri dari balik handuk.


"Aaaarrgg!!!" Reymond spontan ikut berteriak.


"Dasar pria mesum!" bentak Heidi sambil menutup tubuhnya dengan selimut.


"Di mana?" tanya Reymond sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Dirimu!" bentak Heidi.


"Diriku?" tanya Reymond dengan mulut menganga.


"Siapa kau? Mengapa hanya kau hanya memakai handuk? Apa yang sudah kau lakukan padaku? Dan di mana bajuku?" tanya Heidi sambil berteriak.


Reymond menghela napas panjang saat menyadari dirinya yang hanya memakai handuk. Reymond segera kembali ke kamar mandi, dan tak lama kemudian dia keluar dengan menggunakan kaos dan celana selutut.


"Mengapa aku bisa bersamamu? Dan ini di mana? Apa kau ingin memperkosaku?" tanya Heidi.


Reymond mendengus kesal.


"Dasar wanita tidak tahu terima kasih. Seharusnya kau bersyukur, aku sudah menyelamatkanmu. Jika tidak mungkin tubuhmu sudah digilir dan dinikmati kedua pria brewok dan berotot sampai pagi," jawab Reymond kesal.


Heidi terdiam sambil mencoba mengingatnya tapi tak bisa.


"Kita berada di kamar hotel. Aku terpaksa membawamu kemari. Kau semalam mabuk berat Nona. Dan apa kau tahu? Sangat berbahaya bagi wanita sepertimu pergi sendirian ke club dan minum sampai mabuk. Kau bisa menjadi sasaran empuk para pria hidung belang di luar sana," ucap Reymond.


Heidi menatap Reymond penuh selidik.


"Lalu bagaimana aku bisa percaya jika kau bukan salah satu dari pria b******k itu? Kau bahkan dengan beraninya melucuti bajuku," sahut Heidi.


"Itu bajumu, penuh dengan muntahan. Aku terpaksa melepasnya dari tubuhmu," ucap Reymond sambil menunjuk pakaian yang ada di dalam kantong plastik.


Heidi melihat bajunya yang terlihat menjijikkan.


Reymond mengambil baju dan handuk bersih dari dalam tasnya. Sebenarnya Reymond berencana berlibur ke pantai dan sudah membawa beberapa baju ganti karena dia ingin menginap di hotel dekat pantai. Namun saat Helena menghubunginya karena sedang ngidam, Reymond pun membatalkan rencana liburannya untuk memenuhi permintaan Helena dan baby triplets.


"Sebaiknya kau bersihkan dirimu dan pakailah baju ini, karena tidak ada baju lagi. Kecuali jika kau memang lebih nyaman dengan hanya memakai pakaian dalammu itu," ucap Reymond sambil menyodorkan handuk dan baju kepada Heidi.


Dengan cepat Heidi segera mengambil handuk dan baju dari tangan Reymond, kemudian masuk ke dalam kamar mandi dengan berbalut selimut.


Reymond duduk di atas sofa sambil memainkan ponselnya. Di dalam kamar mandi, Heidi terkejut melihat pantulan wajahnya di cermin.


"Memalukan sekali. Wajahku terlihat seperti hantu," ucap Heidi.


Heidi segera membersihkan tubuhnya. Dia juga memeriksa area sensitifnya.


"Tidak sakit dan tidak keluar darah. Syukurlah aku selamat," gumam Heidi.


Setelah menghabiskan waktu cukup lama, Heidi pun keluar dari kamar mandi sambil mengenakan kemeja lengan pendek dan celana panjang yang bagian bawahnya sedikit ditekuk ke atas karena terlalu panjang.


Heidi duduk di atas ranjang dan Reymond segera meletakkan ponselnya di atas meja. Heidi menundukkan kepalanya. Dia malu karena tadi sempat menuduh Retmond yang tidak-tidak.


"Apa kau sudah merasa lebih baik?" tanya Reymond.

__ADS_1


Heidi mengangkat kepalanya.


"Ya, sudah lebih baik. Terima kasih," ucap Heidi.


Keduanya pun terdiam kembali.


"Apa sepatah itu hatimu hanya karena ditolak oleh Axel?" tanya Reymond.


Heidi membelalakkan matanya.


"A-apa maksudmu? Kau mengenal Axello. Siapa kau sebenarnya?" Heidi balik bertanya.


"Namaku Reymond. Aku teman Axel dan Helena. Aku sempat melihatmu bersama Helena tadi siang saat di restoran. Namamu Heidi kan? Helena dan Jasmine sudah menceritakan semuanya," jawab Reymond.


Heidi terdiam.


"Kau belum menjawab pertanyaanku," ucap Reymond.


"Aku mabuk bukan karena masalah Axello. Aku sudah berhenti berharap padanya," jawab Heidi.


Reymond menyerngitkan dahinya.


Heidi masih terdiam dengan tatapan sendunya.


"Bukannya aku mau tahu atau mau ikut campur. Tapi bercerita dan membagi masalah kita dengan orang lain bisa sedikit meringankan beban kita," ucap Reymond.


Heidi menatap Reymond, kemudian menghela napas panjang. Entah mengapa Heidi merasa Reymond adalah orang baik.


"Dua tahun yang lalu, aku pernah bertunangan dengan seorang pria bernama Robin. Aku pikir kami saling mencintai dan memutuskan untuk menikah. Namun, di hari pernikahan Robin tidak datang. Dia pergi meninggalkanku bersama wanita lain."


"Itu membuatku sangat terpukul. Hatiku sakit sekali. Meskipun sulit, dengan perlahan aku mulai bangkit dan mengobati rasa sakitku. Aku bahkan sempat berubah menjadi sosok yang berbeda dengan diriku yang sebenarnya," cerita Heidi.


Reymond masih diam dan mendengarkan dengan baik.


"Aku sudah hampir melupakan masa lalu yang menyakitkanku itu. Aku bisa merasakan kembali jatuh cinta pada seorang pria saat aku bertemu dengan Axello. Ternyata Tuhan berkehendak yang lain, Axello adalah pria beristri dan dia sangat mencintai istrinya. Beruntung rasa cintaku belum terlalu dalam, sehingga rasa sakit yang aku rasakan tidak sesakit dulu ketika Robin mengkhianatiku," lanjut Heidi.


"Saat keluar dari restoran kemarin, aku tidak sengaja bertemu dengan seorang wanita yang tak lain adalah kekasih Robin. Wanita itu merendahkanku dan menghinaku. Wanita itu mengatakan jika Robin meninggalkanku karena Robin merasa bosan dan jengah dengan sikapku yang menurutnya sok pintar, sok mengatur dan berkuasa."


Heidi menarik napas panjang.


"Padahal semua yang aku melakukan selama itu semata-mata demi kebaikannya. Aku bukannya merasa paling pintar, aku hanya ingin membantu Robin untuk memilih pilihan yang tepat, membantu mengarahkan dia mengelola bisnis keluarganya dengan baik. Aku tidak ingin dia sampai ditipu oleh orang lain yang berkedok sebagai klien. Aku ingin dia lebih baik lagi dalam memajukan perusahaannya. Itu saja," ucap Heidi.


"Seharusnya dia bersyukur memiliki wanita sepertimu di sampingnya," ucap Reymond.


Heidi tersenyum.


"Dia juga menganggapku wanita yang freak, karena aku tidak bisa memuaskan hasratnya sebagai seorang pria. Bukannya aku tidak mampu, tapi aku ingin menyerahkan diriku sepenuhnya saat kami telah resmi menikah. Mungkin sikap dan pola pikirku memang kolot di jaman yang modern seperti sekarang ini," ucap Heidi sambil tersenyum hambar.


"Kau bukannya kolot, tapi pria itu memang tidak pantas untuk wanita sebaik dirimu. Dia hanyalah sampah yang memang tidak layak bersanding dengan berlian sepertimu. Jangan pernah berkecil hati. Tuhan sudah mengatur segalanya. Aku yakin semua pasti indah pada waktunya," ucap Reymond sambil tersenyum.


Hati Heidi menghangat mendengar ucapan Reymond. Dia pun tersenyum.


"Terima kasih sudah bersedia mendengarkan ceritaku," ucap Heidi.


"Sama-sama. Apa perasaanmu sekarang sudah lebih baik?" tanya Reymond.


Heidi mengangguk.


"Sangat baik," jawab Heidi.


"Baiklah. Karena sekarang sudah pagi, sebaiknya aku mengantarkanmu pulang," ucap Reymond.


Heidi mengangguk.


Reymond dan Heidi segera keluar dari kamar hotel.

__ADS_1


"Apa kau mau sarapan dulu? Kita bisa singgah sebentar di restoran hotel ini," tanya Reymond saat keduanya berada di dalam lift.


"Jika kau tidak keberatan, karena jujur saja perutku terasa lapar," jawab Heidi sambil tersenyum malu.


"Tentu saja lapar, karena kau muntah banyak sekali tadi malam," ucap Reymond.


"Aku minta maaf," ucap Heidi tak enak.


"Sudahlah," sahut Reymond.


Reymond dan Heidi keluar dari lift dan menuju lobbu hotel.


"Kau tunggu di sini. Aku akan ke bagian resepsionis dulu," ucap Reymond.


Heidi menunggu sambil berdiri di lobby hotel. Tak disangka Heidi bertemu dengan Robin dan Cecilia yang baru keluar dari lift.


"Heidi," sapa Robin dengan Cecilia yang memeluk lengan Robin dengan erat.


"Hai Robin dan Cecilia," sapa Heidi dengan wajah malasnya.


"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Robin.


"Apapun yang aku lakukan di sini bukanlah urusanmu," jawab Heidi ketus.


"Heidi. Aku, aku minta maaf atas kejadian dua tahun lalu. Aku tahu itu salah, tapi aku tidak bisa membohongi perasaanku sendiri jika aku mencintai Cecilia," ucap Robin.


"Sayang. Untuk apa kau minta maaf kepada wanita ini. Kau pria bebas, dan kau punya hak penuh untuk memilih. Dan aku senang kau lebih memilihku daripada wanita freak ini," ucap Cecilia dengan tatapan mengejek.


Heidi hendak menjawab, namun dia urungkan karena terkejut saat ada tangan yang melingkar di pinggangnya.


"Apa kau mengenal mereka, sayang? Apa mereka temanmu?" tanya Reymond sambil tersenyum pada Heidi.


Robin dan Cecilia terkejut dengan kedatangan Reymond.


"Well. Hanya sekumpulan sampah saja, tidak penting. Sebaiknya kita pergi dari sini, sebelum bau busuknya melekat pada tubuh kita," jawab Heidi sambil menyeringai.


Robin dan Cecilia membulatkan mata mereka mendengar kalimat hinaan yang keluar dari bibir Heidi.


Reymond segera membawa Heidi keluar dari hotel dan masuk ke dalam mobilnya. Saat berada di dalam mobil, mereka langsung tertawa terbahak-bahak.


"Apa kau merasa puas?" tanya Reymond sambil tertawa.


"Itu menyenangkan sekali. Aku puas saat melihat wajah Cecilia yang memerah menahan marah," ucap Heidi sambil tertawa.


"Sepertinya kita harus menikmati sarapan di tempat lain," ucap Reymond.


Heidi mengangguk sambil tersenyum. Reymond segera melajukan mobilnya meninggalkan area hotel. Heidi tersenyum bahagia, dia merasakan bebannya seolah menguap.


Bersambung ...


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖

__ADS_1


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2