Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 78. Para Malaikat Kecil


__ADS_3

Pagi hari yang cerah berbanding terbalik dengan aura yang dipancarkan oleh Axel saat ini. Axel terus mengusap punggung Helena yang terbaring di atas ranjang dengan jarum infus sudah tertancap di salah satu tangannya. Terlihat ekspresi, tegang, takut dan khawatir bercampur jadi satu di wajah Axel. Saat ini keduanya sedang berada di ruang VVIP Rumah Sakit.


"Sssttt... ssttt...," terdengar rintihan Helena.


Sejak kemarin Helena mengalami kontraksi pada perutnya. Helena pikir hanya kontraksi palsu seperti biasanya, namun pada malam harinya intensitas kontraksinya semakin sering dan rasanya semakin sakit. Sehingga Axel langsung membawa istrinya ke rumah sakit. Tuan Zayn dan Nyonya Aline juga ikut ke rumah sakit untuk mendampingi mereka.


"Mengapa dokternya belum datang juga?" tanya Axel emosi.


Axel tidak tega melihat wajah Helena yang sedang menahan rasa sakit.


"Tenanglah, Nak. Dokternya pasti masih dalam perjalanan," ucap Nyonya Aline menenangkan.


Nyonya Aline mengusap perut menantunya dengan lembut.


Pintu kamar diketuk lalu dibuka dengan pelan, Reymond masuk ke dalam ruangan. Axel langsung berdiri.


"Rey. Mana dokternya? Suruh dia cepat datang!" teriak Axel frustasi.


"Axel! Tenangkan dirimu!" bentak Tuan Zayn.


Axel berusaha mengontrol emosinya.


"Dokter Maya sedang sakit. Beliau tidak bisa datang ke sini. Tapi dokter Aisya sudah menghubungi dokter kandungan yang lain. Namanya dokter Zahra, dan sebentar lagi beliau akan datang," ucap Reymond.


Axel menyugar rambutnya kasar. Reymond mendekatinya.


"Tenanglah Axel. Jangan tegang dan kalut seperti ini," ucap Reymond pelan.


"Bagaimana aku tidak tegang Rey, saat melihat istriku kesakitan seperti itu," sahut Axel.


Reymond menghela napas panjang.


"Ini adalah salah satu proses yang harus dilewati oleh seorang ibu yang akan melahirkan," ucap Reymond.


"Aku takut Rey. Jadwal operasi Helena seharusnya masih 1 minggu lagi," ucap Axel cemas.


"Kau tidak perlu takut. Usia kandungan Helena sudah masuk bulan kesembilan, dan tidak masalah jika harus melahirkan lebih cepat dari tanggal yang sudah dijadwalkan. Sepertinya ketiga anakmu sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Daddy dan Mommy mereka. Kau harus menjadi penyemangat dan kekuatan bagi Helena. Buatlah Helena selalu merasa tenang dan nyaman. Jangan sampai Helena menjadi stress, dia harus rileks," terang Reymond.


"Apa yang dikatakan Reymond benar. Kau harus menjadi penyemangat dan kekuatan bagi Helena saat ini, Nak," ucap Tuan Zayn.


Axel pun mengangguk.


"Xel," panggil Helena.


Axel segera duduk kembali di samping Helena dan mengusap lagi punggung istrinya. Helena menolehkan kepalanya dan menatap Axel.


"Kamu tidak perlu khawatir, aku dan baby triplets akan baik-baik saja," ucap Helena sambil memaksakan senyumnya.


"Maafkan aku ya sayang. Seharusnya aku bisa menjadi kekuatan bagimu dan membuatmu tenang, bukannya bersikap konyol seperti tadi," ucap Axel sambil meneteskan air matanya.


Helena menghapus air mata di wajah suaminya. Axel menggenggam tangan Helena dan menciumnya.


Masuklah dokter Narita dan seorang dokter wanita yang seumuran dengan Nyonya Aline, yaitu dokter Zahra, bersama dua orang perawat.


"Assalamualaikum," ucap dokter Narita.


"Waalaikumsalam," jawab Axel dan yang lainnya.


"Kenalkan, ini adalah dokter Zahra. Dokter yang menggantikan dokter Maya untuk memeriksa kandungan Helena," ucap dokter Narita.


"Silakan dokter periksa istri saya," ucap Axel.


Dokter Zahra berjalan mendekat.

__ADS_1


"Permisi Nyonya, saya akan memeriksa kondisi Anda," ucap dokter Zahra.


Helena hanya mengangguk sambil menahan rasa sakitnya.


Dokter Zahra segera memeriksa kondisi Helena dan kandungannya. Dokter Zahra mengerutkan dahinya.


"Mohon maaf sebelumnya. Saya mohon dokter Reymond dan Tuan Zaidan untuk menunggu di luar terlebih dahulu," ucap dokter Zahra.


Tuan Zayn dan Reymond segera keluar dari ruangan itu.


Dokter Zahra memakai sarung tangan medisnya.


"Silakan angkat kedua kaki Anda dan buka lebar ya," ucap dokter Zahra.


Helena mengikuti perintah dokter Zahra. Axel membelalakkan matanya saat dokter Zahra akan melakukan sesuatu di area sensitif Helena.


"Tunggu dokter. Apa yang mau Anda lakukan pada istri saya?" tanya Axel.


"Axel tenang. Dokter Zahra sedang melakukan tugasnya. Beliau tidak akan menyakiti Helena. Kalau kau mau mengganggu, sebaiknya kau menunggu di luar saja dengan Papamu," ucap dokter Narita kesal.


"Tidak Oma. Axel mau di sini. Maaf dokter, silakan dilanjutkan," ucap Axel dengan wajah pasrah.


Dokter Zahra segera melakukan pemeriksaan dalam.


"Nyonya Helena sudah pembukaan 4. Kita harus segera melakukan tindakan operasi, dokter Narita," ucap dokter Zahra.


Dokter Narita mengangguk dan meminta perawat untuk menyiapkan ruang operasi.


Meskipun Helena berusaha untuk rileks, namun rasa khawatir tetap dia rasakan karena ini adalah kali pertamanya dia melahirkan.


"Sayang, kau tidak perlu cemas. Aku akan selalu mendampingimu," ucap Axel.


Helena mengangguk dan tersenyum.


"Iya sayang. Kamu tenang dan banyak berdoa. Mama juga akan berdoa untuk kalian," ucap Nyonya Aline.


Di luar ruangan, sudah ada keluarga besar Alvaro, Tuan Haris dan Nyonya Sasmitha. Tak lama kemudian, Tuan Narendra dan Nyonya Charlotte tiba di rumah sakit. Keduanya segera terbang dari kota Paris saat mendengar Helena mengalami kontraksi dan diperkirakan akan melahirkan lebih cepat dari waktu yang dijadwalkan.


Perawat mendorong brangkar Helena keluar dari ruangan bersama Axel dan Nyonya Aline. Semua anggota keluarga langsung berdiri. Tuan Narendra dan Nyonya Charlotte langsung mendekati putri mereka.


"Daddy, Mommy," panggil Helena sambil menangis haru.


Helena bahagia sekali kedua orang tuanya sudah tiba. Nyonya Charlotte mencium kening putrinya.


"Mommy dan Daddy ada di sini sayang. Kamu tidak perlu takut, kami semua akan menunggu dan berdoa untuk kalian," ucap Nyonya Charlotte sambil menggenggam tangan Helena.


"Iya Mom. Terima kasih," ucap Helena.


Helena dibawa masuk ke dalam ruang operasi. Dokter Zahra sendiri yang akan melakukan tindakan operasi bersama dua orang dokter dan didampingi beberapa perawat. Perawat segera memberikan suntikan epidural. Dan sebelum operasi dimulai, para dokter dan perawat memanjatkan doa terlebih dahulu.


Axel dengan setia berada di samping Helena. Axel terus memanjatkan doa dan membisikkannya di telinga istrinya.


"Oeekk... ooeekkk...," terdengar tangisan bayi pertama.


"Selamat, bayi pertama kalian berjenis kelamin laki-laki," ucap dokter Zahra, lalu memberikan bayi itu kepada perawat untuk dibersihkan.


Alex dan Helena tersenyum bahagia.


5 menit kemudian.


"Oeekk... ooekk...," tangisan bayi kedua.


"Bayi kedua juga laki-laki," seru dokter Zahra lagi.

__ADS_1


Axel tidak bisa membendung lagi air matanya saat melihat kedua bayinya yang masih berlumuran darah itu.


Untuk bayi ketiga, para dokter mengalami sedikit kesulitan untuk mengeluarkannya karena tubuh dan lehernya terlilit tali pusar.


"Ada apa dokter? Mengapa bayi ketiga kami belum keluar?" tanya Axel yang mulai cemas karena bayi ketiganya tidak segera keluar seperti kedua bayi sebelumnya.


"Tenanglah Tuan. Bayi ketiga Anda terlilit tali pusar, para dokter sedang berusaha untuk mengeluarkannya," jawab salah seorang perawat.


Wajah Axel menjadi tegang setelah mendengar ucapan perawat itu, namun dia berusaha untuk tenang supaya Helena tidak ikut panik.


"Sabar ya sayang, bayi ketiga kita masih enggan keluar dari perut Mommynya," ucap Axel sambil tersenyum.


Helena mengangguk dan ikut tersenyum.


Setelah hampir 20 menit, akhirnya dokter Zahra berhasil mengeluarkan bayi ketiga Axel dan Helena dengan selamat.


"Oeekkk... Ooeekk...," tersengar tangisan yang sangat keras dari bayi ketiga.


Suara tangisan bayi ketiga adalah yang paling keras dibandingkan kedua kakaknya tadi.


"Selamat bayi ketiga kalian berjenis kelamin perempuan," seru dokter Zahra.


"Alhamdulillah. Akhirnya ketiga bayi kita sudah lahir dengan selamat sayang. Selamat El-ku sayang, kau sudah menjadi seorang ibu sekarang," ucap Axel sambil mencium kening Helena dengan air mata yang terus berurai.


"Alhamdulillah. Selamat juga untuk, Xel, kau sudah menjadi seorang ayah," ucap Helena dengan tangisan bahagia bercampur haru.


Perawat mendekatkan ketiga bayi itu supaya Axel dan Helena bisa melihat bayi mereka, sebelum di bawa ke ruang bayi.


"Sekali lagi saya ucapkan selamat kepada kalian. Bayi kalian sangat tampan dan cantik mewarisi ketampanan dan kecantikan kedua orang tuanya," ucap dokter Zahra.


"Terima kasih banyak dokter," ucap Axel terharu.


"Terima kasih dokter," ucap Helena pelan.


"Assalamualaikum, para malaikat kecil Daddy dan Mommy," sapa Axel kepada ketiga bayinya.


Axel dan Helena melihat ketiga bayi mereka satu persatu dengan senyum bahagia. Kemudian ketiga bayi itu dibawa ke ruangan bayi dan Helena masih harus menjalani proses penjahitan pada perutnya.


Axel segera keluar untuk memberitahukan kabar gembira lahirnya ketiga anaknya kepada seluruh anggota keluarga. Tangis bahagia bercampur haru menghiasi ruang tunggu yang ada di depan ruang operasi.


Bersambung ...


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel pertama author :



Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


I'm The Unstoppable Queen (new novel)



Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖

__ADS_1


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2