Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Season 2. Jasmine dan Kisah Cintanya 32 (Malam Pengantin)


__ADS_3

Bugh... (Es krim yang berada di tangan Hans jatuh dan tumpah di lantai)


"Ish, apa kau tidak bisa hati-hati, Ara? Es krimku sampai jatuh ke lantai," ucap Hans dengan wajah kesalnya karena Ara telah menabraknya.


"Siapa suruh kau berdiri di tengah jalan? Apa kau tidak sadar diri? Badanmu itu besar seperti tembok. Minggir sana, aku mau lewat. Dasar bule menyebalkan," jawab Ara ketus.


"A-apa kau bilang?"


Hans mulai tersulut emosinya, namun segera dia redam saat melihat Tuan Bayu berada di dekat mereka. Wajah Hans seketika berubah sedih.


"Memangnya aku salah apa padamu, Ra? Bukan kesalahanku jika aku terlahir menjadi seorang bule? Sudah jelas kau yang menabrakku, tapi kau malah menyalahkanku. Mengapa kau sangat membenciku? Apa salahku?" ucap Hans sedih.


"Mengapa kau tiba-tiba jadi melow seperti ini?" bentak Ara.


"Ara!" terdengar suara berat Tuan Bayu.


Ara terkejut dan langsung membalikkan badannya. "P-papa."


Hans menyunggingkan bibirnya. "Rasakan itu, Ra. Raja singa sendiri yang akan turun tangan."


"Mengapa kau berbicara kasar pada Hans. Ayah melihatnya sendiri, kalau kau yang telah menabraknya. Seharusnya kau meminta maaf bukan malah marah-marah padanya. Papa dan Mama tidak pernah mengajarkanmu bersikap kasar, apalagi membeda-bedakan orang dari ras atau sukunya," marah Tuan Bayu.


"Ara minta maaf, Pa," ucap Ara sambil menunduk takut.


"Minta maaflah pada Hans, bukan pada Papa," ucap Tuan Bayu.


"Sudahlah paman. Ini kan hanya masalah kecil, kita lupakan saja," sahut Hans dengan wajah tak enak, padahal dalam hati dia sedang tertawa bahagia.


"Tidak Hans. Ara harus meminta maaf," tegas Tuan Bayu.


Ara membalikkan badannya dan mengulurkan tangannya. "Aku minta maaf, Hans."


"Ya, aku memaafkanmu, Ara," ucap sambil tersenyum tipis.


"Jangan sampai kau ulangi lagi, Ara," tegas Tuan Bayu.


"Ya, Papa," jawab Ara.


Tuan Bayu melangkah pergi meninggalkan Hans dan Ara.


"Puas kau?" tanya Ara dengan tatapan tajamnya.


"Amat sangat puas sekali," jawab Hans sambil tersenyum puasnya.


"Minggir, aku mau lewat!" perintah Ara.


Hans pun menggeser tubuhnya. "Sana, jauh-jauh dariku. Jangan sampai kau jatuh cinta pada bule Perancis yang tampan ini."


Ara mendengus kesal. Dia melangkah sambil menghentakkan kakinya pergi meninggalkan Hans. Hans tertawa puas dan kembali menempati tempat duduknya. Tiba-tiba Darren dan Darrel menggeser kursi dan duduk di samping kanan dan kiri Hans. Keduanya kompak menyandarkan kepala mereka pada pundak Hans dengan wajah sedih.


"Ish, kalian berdua kenapa? Singkirkan kepala kalian, aku geli," gerutu Hans.


"Kami sedih, Hans," ucap Darren.


"Sedih kenapa? Apa ini ada hubungannya dengan Selma?" tanya Hans.


Double D langsung mengangguk dengan kompak. Hans menghela napas panjang.


"Dia tidak tertarik sama sekali pada kami. Padahal kami mewarisi ketampanan hakiki Keluarga Alvaro," ujar Darrel.


Hans terkekeh dan hampir saja tersedak es krim saat melihat ekspresi pria kembar itu.


"Selma memang tidak tertarik dengan bule Jerman seperti kalian. Lihatlah. Sepertinya Selma lebih tertarik kepada pria asli Indonesia," ucap Hans.


Pandangan Darren dan Darrel langsung tertuju pada pria yang sedang dipandang oleh Selma.


"Adnan?" lirih Darren dan Darrel.


Selma terus memperhatikan Adnan yang sedang bermain dengan Triplets A dan Angelo, yang berada di dekat meja Hans dan Double D. Terlihat sekali jika Selma tertarik dengan Adnan, namun Adnan tidak menyadarinya.


"Mengapa kalian berdua menatapku seperti itu?" tanya Adnan sambil menarik kursi dan duduk bersama tiga pria bule itu.


"Kau telah mematahkan hati kami," ucap Darren.


Adnan menyerngitkan dahinya tak mengerti. Hans memberikan isyarat supaya Adnan melihat ke arah Selma. Adnan pun menurut. Saat keduanya berpandangan, Selma terkejut lalu tersenyum malu.


Blush... (wajah Adnan merona melihat senyum cantik Selma)


"Selma tertarik padamu," bisik Darrel.

__ADS_1


"A-aku tidak mungkin menikung sahabat dan saudaraku sendiri," ujar Adnan.


"Kau tenang saja, kami sudah ikhlas. Benar kan Darrel?" sahut Darren.


"Yups. Gugur satu tumbuh seribu. Nanti kita hunting lagi, Kak," jawab Darrel sambil tersenyum.


Hans dan Adnan tertawa. Mereka berempat menikmati pesta malam itu, bahkan mereka melakukan dansa berempat. Pesta yang meriah itu pun berakhir menjelang tengah malam. Semua tamu telah berpamitan. Evan dan Jasmine juga telah berada di presidential suite, suite yang menjadi kamar pengantin mereka.


Saat berada di dalam kamar, Jasmine melihat sebuah box yang diletakkan di atas meja.


"Ini pasti dari Azzura," gumamnya.


Jasmine segera membukanya karena penasaran. Mata Jasmine langsung membulat dan wajahnya memerah saat kedua tangannya mengangkat lingerie model open b** dan g-string berwarna hitam menerawang.


"Azzura benar-benar tidak waras. Bagaimana mungkin dia menyuruhku memakai kain yang bentukannya lebih parah dari saringan tahu," gumam Jasmine.


"Wow... Aku tidak menyangka kau sudah mempersiapkannya untuk malam pengantin kita," goda Evan yang berdiri di belakangnya.


Jasmine tersentak dan langsung memasukkan lingerie itu ke dalam box dan menutupnya kembali. Jasmine benar-benar malu.


"Ini hadiah dari Azzura. Aku yakin otak anak itu pasti bermasalah sampai mengirimkan hadiah seperti ini," ucap Jasmine sambil menyembunyikan rasa malunya.


"Jadi, kau tidak ingin memakainya?" tanya Evan dengan wajah kecewa.


"Tentu saja tidak," jawab Jasmine kesal.


"Aku akan memakai baju yang disimpan di dalam lemari pakaian."


Jasmine segera membuka lemari pakaiam yang ada di sana. Sekali lagi bola matanya serasa ingin melompat dari tempatnya. Lemari pakaian itu dipenuhi dengan lingerie dengan berbagai warna dan model yang berbeda. Evan tertawa. Jasmine langsung menutup pintu lemari itu dengan keras karena kesal. Jasmine duduk di atas ranjang dengan wajah ditekuk.


"Ini pasti ulah Kak Helena," gerutunya dalam hati.


Evan langsung duduk di sampingnya.


"Jadi, apa kau akan tidur dengan memakai gaun pengantin ini?" goda Evan.


Jasmine tak menjawab karena hatinya semakin kesal.


"Kau sangat menggemaskan jika sedang marah. Aku membawakan ini untukmu," ucap Evan sambil menyerahkan sebuah paper bag yang telah dia bawa tadi.


"Apa ini?" tanya Jasmine.


Jasmine segera membukanya, lalu sebuah senyuman terbit di bibirnya. Ternyata Evan menyiapkan piyama tidur untuknya.


"Terima kasih," ucap Jasmine.


Evan mengangguk sambil tersenyum. "Jadi kau akan mengabaikan semua baju seksi itu?"


"Apa kau kecewa? A-aku tidak terbiasa memakai baju seperti itu."


"Pakailah apa yang membuatmu nyaman," jawab Evan.


"Apa kau serius? Apa kau tidak marah?" tanya Jasmine.


Evan menggeleng. "Untuk apa kau marah. Aku juga akan memakai apa yang membuatku nyaman."


"Jadi kau juga membawa piyama tidur," sahut Jasmine.


"Nope. Aku biasa tidur tanpa memakai baju, hanya memakai celana boxer," jawab Evan sambil tersenyum nakal.


"Ish, menyebalkan." Wajah Jasmine langsung merona membuat tawa Evan semakin keras.


Evan berdiri dan melepas jas serta kemejanya, sehingga menunjukkan tubuh ramping berisi dengan otot-otot kencangnya dan lebih terkesan seksi. Wajah Jasmine semakin merah merona.


"Aku mau mandi dulu," ucap Evan sambil melangkah menuju kamar mandi.


"Ya. Segera mandi sana, aku juga ingin segera mandi. Badanku terasa lengket," sahut Jasmine.


Evan menghentikan langkahnya dan berbalik. "Atau sebaiknya kita mandi bersama."


"Tidak. Kita mandi sendiri-sendiri," tolak Jasmine.


Evan mengencangkan tawanya dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Setelah keduanya selesai membersihkan diri dan mengenakan piyama, mereka melakukan ibadah secara berjamaah untuk pertama kalinya.


Saay ini Jasmine duduk di atas ranjang dengan perasaan tak karuan. Dia sangat gugup, bahkan dia tidak berani menatap ke arah Evan. Sedangkan Evan sedang sibuk memeriksa ponselnya. Dia mendapatkan ucapan selamat dari teman dan koleganya yang tak bisa hadir di pesta pernikahannya. Tiba-tiba Evan merasakan sakit perut dan langsung masuk ke dalam kamar mandi. Saat kembali, Evan mendapati Jasmine yang sudah tertidur di atas ranjang.


"Sepertinya istriku kelelahan sekali setelah melalui berbagai acara pernikahan tadi," ucap Evan sambil tersenyum.


Evan membetulkan posisi tidur Jasmine dan menyelimutinya. Evan mengganti lampu tidur, lalu ikut masuk ke dalam selimut dan menarik tubuh Jasmine ke dalam pelukannya. Evan mencium kening Jasmine, kemudian dia juga mengistirahatkan kedua matanya.

__ADS_1


Jasmine merasakan tubuhnya terasa sesak, dengan perlahan dia membuka matanya. Jasmine terkejut saat menyadari dirinya tengah berada di dalam pelukan Evan. Jasmine bangun dan duduk dengan perlahan. Dia mengamati wajah tenang Evan yang sedang tidur.


"Apa yang sudah aku lakukan? Bisa-bisanya aku tertidur tadi. Ini kan malam pengantin kami. Evan pasti sangat kecewa," gumam Jasmine dengan raut wajah menyesal.


"Mengapa kau bangun?" tanya Evan yang membuat Jasmine tersentak.


Evan langsung duduk. "Apa kau membutuhkan sesuatu, sayang?"


"A-aku haus. Aku ingin minum," jawab Jasmine asal.


Evan mengambilkan segelas air yang ada di atas nakas, lalu menyerahkannya kepada Jasmine.


"Terima kasih," ucap Jasmine.


"Kembalilah tidur, kau pasti masih lelah," ucap Evan.


"Apa kau kecewa, Evan?"


"Mengapa aku harus kecewa?"


"Ini adalah malam pengantin kita, tapi aku malah tertidur. Aku minta maaf," ucap Jasmine.


Evan tersenyum dan mengusap pucuk kepala Jasmine dengan lembut.


"Untuk apa aku kecewa. Kita sudah menikah dan itu merupakan hal yang sangat aku syukuri. Bagiku setiap malam yang akan kita lalui nantinya adalah malam pengantin kita," jelas Evan.


"Apa kau tidak menginginkannya sekarang?" tanya Jasmine sedikit kecewa.


"Aku pria normal, tentu saja aku menginginkannya dengan sangat. Tapi, bagiku kesehatanmu jauh lebih penting dibandingkan hasratku. Kita bisa melakukannya nanti kapanpun kau siap. Aku tidak ingin menyakitimu, my sunshine," jawab Evan.


Jasmine sangat terharu. Sejak dulu Evan selalu berusaha untuk menjaganya dan tidak ingin melihatnya sakit. Jasmine mengecup bibir Evan, membuat Evan terkejut.


"Aku mencintaimu, Evan," lirih Jasmine.


Kecupan itu berubah menjadi ci***n yang semakin dalam dan liar. Evan melepaskan tautan bibir mereka dengan napas terengah.


"Apa kau yakin ingin melakukannya sekarang?" tanya Evan.


"Aku sangat yakin, my king," jawab Jasmine sambil tersenyum malu.


Evan tersenyum bahagia dan langsung melafalkan doa. Evan menarik tekuk leher Jasmine dan melanjutkan ci***n panas keduanya. Tak butih waktu lama, piyama mereka sudah berserakan di atas lantai. Evan terus menyentuh dan menjamah setiap jengkal tubuh Jasmine dengan lembut, membuat bibir Jasmine terus mend***h. Jasmine mencengkeram bahu Evan dengan kuat saat Evan berhasil mengoyak mahkotanya.


"Terima kasih sayang," bisik Evan sambil menikmati junionya yang terasa di remas-remas di dalam sana.


Evan bergerak dengan perlahan membuat rasa sakit yang Jasmine rasakan berubah menjadi nik**t. Evan mempercepat lajunya saat keduanya berusaha menuju puncak dan membuat kamar pengantin dipenuhi dengan suara lenguhan yang saling bersahutan. Evan dan Jasmine berpelukan dengan erat saat meraih puncak surga dunia bersama-sama.


Evan menjatuhkan tubuhnya yang dipenuhi peluh di samping tubuh Jasmine. Evan memeluk Jasmine yang masih memejamkan mata menikmati sisa gelombang cinta yang baru saja mereka raih.


Evan mengecup kening Jasmine seraya berkata, "Terima kasih, my sunshine. Aku sangat mencintaimu."


Evan membopong tubuh Jasmine menuju kamar mandi dan keduanya segera membersihkan sisa percintaan mereka. Evan memakaikan piyama pada tubuh Jasmine dengan perlahan, lalu mengganti sprei ranjangnya. Evan menidurkan tubuh Jasmine ke atas ranjang. Jasmine senang dan menikmati semua perlakuan lembut Evan kepadanya.


Evan mengusap kepala Jasmine dengan lembut, hingga istrinya itu tertidur. Meskipun dia masih menginginkannya lagi, namun Evan tidak tega untuk mengulanginya lagi. Evan tahu jika saat ini istrinya masih kesakitan. Evan memejamkam matanya dan ikut masuk ke dalam alam mimpi. Keduanya pun tertidur dengan saling berpelukan.


Bersambung ....


...🌹🌹🌹...


(Evan dan Jasmine membuat suasana dingin setelah hujan ini menjadi hangat🤭)


Baca juga novel author lainnya:


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. I'm The Unstoppable Queen


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2