Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Season 2. Jasmine dan Kisah Cintanya 5 (Bukan Jemuran Yang Digantung)


__ADS_3

"Selamat untuk kalian berdua, William dan Irene. Akhirnya Tuhan mengabulkan doa kalian dan sebentar lagi kalian akan menjadi orang tua," ucap Axel kepada William dan Irene.


Irene sudah dipindahkan ke ruang rawat inap VVIP. Irene terpaksa harus dirawat di rumah sakit karena kondisi tubuhnya yang sangat lemah. Irene mengalami kekurangan cairan setelah muntah cukup banyak, dan itu tidak baik untuk kesehatan dan perkembangan janin yang ada di dalam kandungannya.


"Terima kasih, Tuan. Puji Tuhan aku dan Irene sangat bahagia dengan hadiah yang Tuhan berikan kepada kami dengan hadirnya anak di dalam rumah tangga kami," ucap William penuh haru.


Axel langsung memeluk William.


"Selamat ya Kak William dan Kak Irene. Semoga Kak Irene dan kandungannya sehat selalu. Senangnya hatiku, keponakanku bertambah lagi," ucap Jasmine.


"Terima kasih banyak Nona. Aku berhutang budi kepada Nona Jasmine dan Tuan Evan yang telah membantuku saat tak sadarkan diri tadi," sahut Irene.


"Sama-sama, Kak. Aku senang kakak dan calon bayi kakak sehat dan selamat," jawab Evan.


"Irene, mulai sekarang aku memberhentikanmu sebagai sekretarisku," ujar Axel.


William dan Irene langsung kaget mendengar ucapan Axel.


"T-tapi Tuan. Apa kesalahan saya?" tanya Irene.


Axel tersenyum.


"Kau tidak memiliki kesalahan apapun, Irene. Tapi saat ini kau sedang hamil. Kalian kan sudah cukup lama menunggu kehadiran calon anak kalian selama ini. Aku ingin kau fokus dengan kehamilanmu," jawab Axel


"Suamiku benar Irene. Kau dengar sendiri kan apa kata dokter Zahra tadi, kandunganmu lemah dan kau harus bedrest total. Semuanya demi kesehatan dan keselamatanmu dan calon bayi kalian," sahut Helena.


Irene terdiam.


"Apa yang dikatakan Tuan Axel dan Nyonya Helena benar, sayang. Sebaiknya kau istirahat dan biar aku saja yang bekerja. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada kalian berdua. Dan aku masih bisa memenuhi semua kebutuhan kalian," ucap William lembut.


Irene menyentuh tangan suaminya.


"Aku tidak akan pernah meragukanmu, Will. Tapi siapa nantinya yang akan membantumu mengerjakan semua pekerjaan di kantor?" tanya Irene.


"Kau tidak perlu khawatir. Aku akan mencari sekretaris baru untuk menjadi partner kerja William," ujar Axel.


Irene mengangguk sambil memaksakan senyumannya.


"Tenanglah Irene. Aku tidak akan mencari sekretaris wanita, tapi seorang pria tulen. Sehingga kau tidak perlu mencemaskan suamimu secara berlebihan. Aku juga tidak mau mencari masalah dengan istri tercintaku," ucap Axel.


Irene langsung menunduk malu, karena Axel bisa menebak apa yang ada dipikirannya. Semuanya tertawa melihat sikap Irene yang terlihat sangat mencintai William. Sedangkan Helena langsung memeluk lengan suaminya.


"Hanya adikku, Jasmine, satu-satunya wanita yang akan menjadi partner kerjanya selain dirimu. Apa kau masih akan cemburu kepada adikku?" lanjut Axel sambil terkekeh.


"Tentu saja tidak, Tuan. Nona Jasmine sudah aku anggap seperti adikku sendiri. Apalagi sudah ada bule Turki ini yang selalu mengawalnya," jawab Irene sambil tertawa pelan.


William mencubit hidung Irene gemas.


"Aku tidak menyangka jika sebesar itu cintamu padaku, sampai kau takut aku akan tertarik pada partner kerja baruku nanti," ucap William.


Pipi Irene semakin merona.


"Duh silau. Jiwa lajangku meronta," celetuk Evan yang memicu tawa dari semua orang yang ada di sana.


"Oh iya. Bagaimana dengan pertemuan kalian dengan klien kita tadi?" tanya Axel.


"Semua berjalan dengan baik, Kak. Kami sudah menandatangi surat perjanjian kerja samanya."


"Apa Kakak tahu? Dia itu pria yang sangat baik dan ramah. Bahkan dia juga memuji caraku menyampaikan program kerja sama dari perusahaan kita," ucap Jasmine sambil tersenyum.


Axel menyerngitkan dahinya.


"Sepertinya kau terlihat senang sekali," ujar Axel.


"Tentu saja, Kak. Dapat pujian dari pria setampan dan sebaik itu, siapa yang tidak senang," sahut Jasmine sambil tersenyum.


Hati Evan saat ini sudah seperti lahar panas yang mendidih begitu mendengar Jasmine memuji pria lain di hadapannya. Jasmine dan Axel berusaha menahan tawa mereka saat melihat wajah kesal Evan.


"Sebaiknya kita keluar sekarang, supaya Irene bisa istirahat," celetuk Helena.


"Kamu benar sayang."


"Will, aku memberimu cuti selama satu minggu. Saat ini Irene lebih membutuhkanmu dari pada aku. Kau tidak perlu memikirkan tentang pekerjaan. Nantinya Jasmine dan Darren yang akan membantuku," ucap Axel.


"Terima kasih banyak Tuan, dan juga Nona Jasmine. Maaf saya jadi merepotkan Nona," ucap William.


"Terima kasih kembali Kak Will. Santai saja Kak. Semoga Kak Irene lekas sembuh ya," ujar Jasmine.


Axel, Helena, Jasmine beserta Evan pun pamit dan segera keluar dari ruangan Irene. Mereka memahami jika saat ini William dan Irene membutuhkan waktu untuk berduaan.


"Apa kau akan langsung kembali ke perusahaan, Jasmine?" tanya Axel.


"Ya Kak. Tapi sebelumnya aku mau makan dulu. Perutku lapar sekali, aku tadi tidak sempat makan siang," jawab Jasmine. "Kakak sendiri tidak kembali ke perusahaan?"


"Kakak masih ingin di sini dulu. Kakak ingin makan bersama kakak iparmu, karena tadi juga tidak sempat makan siang. Evan aku titip adikku ya. Antarkan dia ke Alvaro Group dengan selamat," ucap Axel.


"Ya, Kak. Kalau begitu kami pergi dulu. Assalamualaikum," ucap Evan singkat sambil memaksakan senyumnya.


"Waalaikumsalam," jawab Axel dan Helena.


Evan langsung melangkahkan kakinya.


"Hei Evan, mengapa kau terburu-buru?" teriak Jasmine.


Axel tidak bisa menahan tawanya.

__ADS_1


"Siap-siap kena batunya kamu, Dek," gumam Axel sambil terkekeh.


Helena langsung mencubit perut rata suaminya.


"Auhh. Kenapa kau mencubitku, sayang?" pekik Axel.


Helena mendengus kesal.


"Kalian itu kakak dan adik sama saja. Aku tahu kalian tadi sengaja memanas-manasi Evan dengan memuji klien yang Jasmine temui tadi. Ya kan?" ucap Helena.


Axel memeluk pinggang istrinya. Helena tersentak dan langsung melepaskan tangan Axel yang melingkar di perutnya.


"Xel, ini di rumah sakit. Jangan seperti itu. Malu!" ucap Helena sedikit kesal.


Axel tersenyum.


"Jangan marah seperti itu, El. Nanti aku semakin cinta mati padamu," goda Axel.


Wajah Helena seketika merona.


"Sudahlah. Ayo kita ke kantin rumah sakit sekarang," ucap Helena.


"Kita mau apa pergi ke sana, El?" tanya Axel.


"Kau tadi kan bilang lapar dan belum makan siang. Atau kita cari restoran di dekat sini saja," jawab Helena.


Axel mendekati Helena.


"Aku tidak lapar yang itu, El," bisik Axel.


Helena menyerngitkan dahinya.


"Maksudmu?" tanya Helena tak mengerti.


Axel menyeringai.


"Ini sudah lebih dari satu minggu. Si El-Na sudah berhenti mimisan, kan?" tanya Axel dengan masih berbisik.


Helena membulatkan matanya, dia tahu apa maksud dari pertanyaan Axel dan apa yang Axel inginkan saat ini.


"Ini masih siang, Xel. Apalagi kita berada di rumah sakit sekarang," ucap Helena sambil menahan malu.


"Tapi X-Lo sudah sangat merindukan L-Na, please!" mohon Axel.


"Bukankah aku sudah menyuruh orang untuk membuatkan kamar khusus di ruanganmu, dan kedap suara lagi," tambah Axel sambil memainkan kedua alisnya.


Helena mendengus kesal.


"Jadi tujuanmu membuat kamar itu di ruanganku karena hal seperti ini?" tanya Helena.


"Ayo kita pulang saja," ucap Helena kesal.


"Tidak sayang. Nanti saat kita tiba di mansion, Baby Triplets pasti akan menempel terus padamu," tolak Axel.


"Pulang atau tidak sama sekali, Axello Zyan Alvaro!" gertak Helena.


Axel membelalakkan matanya.


"Pulang sayang. Ayo kita pulang," ucap Axel dengan wajah ketakutan.


Axel dan Helena segera ke ruang IGD untuk mengambil tas Helena, lalu pergi meninggalkan rumah sakit. Mereka mengendarai mobil milik Helena.


"Belok kanan," seru Helena saat mereka akan melewati perempatan jalan.


"Sayang, arah ke mansion kita kan belok kiri," ucap Axel lembut.


"Siapa bilang kita mau ke mansion?" sahut Helena.


"Lalu?" tanya Axel.


"Hotel A1," jawab Helena sambil menyeringai.


Wajah Axel langsung sumringah. Dia langsung mempercepat laju mobilnya. Tak butuh waktu lama mobil mereka sudah berada di tempat parkir khusus pemilik hotel A1.


"Kau memang yang terbaik, El-ku sayang," ucap Axel sambil mencium tangan Helena.


"Kau pikir hanya X-Lo yang rindu, L-Na juga rindu," sahut Helena dengan manja.


Axel langsung mel***t bibir Helena dengan lembut. Kemudian mereka segera masuk ke dalam lift khusus menuju suite pribadi milik Axel. Dan terjadilah pergulatan panas hingga berkali-kali, yang semakin meningkatkan suhu udara yang sudah tinggi di Kota Jakarta.


Sedangkan di dalam mobil Evan, keheningan masih setia menyelimuti Jasmine dan Evan. Jasmine pun akhirnya membuka suara terlebih dahulu.


"Ada apa Evan? Mengapa kau diam terus seperti itu?" tanya Jasmine.


"Tidak ada," jawab Evan ketus.


"Sepertinya Evan benar-benar marah," batin Jasmine.


"Kalau tidak ada apa-apa, mengapa wajahmu ditekuk seperti itu?" tanya Jasmine lagi.


Evan mendengus kesal. Evan langsung menepikan mobilnya.


"Apa klien yang kau temui tadi sangat tampan?" tanya Evan dengan wajah kesalnya.


Jasmine tersenyum simpul.

__ADS_1


"Ya," jawab Jasmine.


Evan memukul kemudinya dengan keras.


"Memangnya apa ada yang salah dengan ucapanku? Aku hanya menjawab dengan jujur," ucap Jasmine.


"Ya kau tidak salah," sahut Evan semakin kesal.


"Sebenarnya apa yang membuatmu marah, Evan?" tanya Jasmine sambil terus menahan tawanya.


"Bagaimana aku tidak marah saat kau memuji pria lain di hadapanku. Hatiku panas seperti lahar gunung berapi yang mendidih. Hatiku perih seperti ditusuk dan disayat-sayat belati tajam," ucap Evan sambil menahan amarahnya.


Jasmine tertegun. Baru kali ini dia melihat sisi Evan yang seperti ini.


"Tuan Kimura itu memang sangat baik dan tampan. Usianya 40 tahun, sudah beristri dan mempunyai 3 orang anak," terang Jasmine. "Apa kau pikir wanita berkelas sepertiku akan menjadi seorang pelakor?"


Evan menatap mata Jasmine lekat.


"Jadi, kau tidak tertarik padanya?" tanya Evan.


Jasmine menggelengkan kepalanya.


"Kau tidak jatuh cinta padanya?" tanya Evan lagi.


"Aku masih waras Evan," teriak Jasmine.


"Syukurlah. Hatiku lega sekali," ucap Evan dengan senyum bahagia.


Jasmine mendengus kesal.


"Apa kau tahu? Aku takut sekali jika sampai kehilangan dirimu. Aku takut kau akan tertarik dan jatuh cinta pada pria lain," ucap Evan sambil menghela napas lega.


"Kalau kau setakut itu mengapa kau tidak bergerak cepat?" tanya Jasmine.


"Maksudmu?" sahut Evan dengan wajah bingung.


"Aku sudah menyelesaikan pendidikan S2-ku, Evan," jawab Jasmine.


"Lalu?" tanya Evan dengan polosnya.


"Lalu katamu? Mau sampai kapan hubungan kita seperti ini? Aku bukan baju atau jemuran yang akan terus digantung, Evan," bentak Jasmine kesal.


Cup... (Evan meng***p bibir Jasmine sekilas)


Blush... (Wajah Jasmine merona)


"Apa kau sudah siap untuk menikah?" tanya Evan.


"Mengapa kau masih bertanya?" sahut Jasmine kesal.


"Aku hanya ingin memastikan. Aku khawatir jika kau masih ingin menikmati masa lajangmu dan bersenang-senang. Aku tidak ingin nantinya kau merasa terkekang dalam pernikahan yang akan kita jalani nantinya," ucap Evan dengan lembut.


"Jika aku masih ingin menikmati masa lajangku, pasti saat ini aku melanjutkan pendidikan S3-ku," ujar Jasmine.


Hati Evan bahagia mendengarnya.


"Daddy dan Mommy ku akan tiba hari ini. Aku akan berbicara kepada mereka untuk segera melamar dan memintamu kepada Papa dan Mamamu, Tuan Zayn dan Nyonya Aline," ucap Evan.


"Apa kau serius?" tanya Jasmine antusias.


"Aku sangat serius," jawab Evan meyakinkan.


Jasmine sangat bahagia dan langsung memeluk Evan.


Kruukkk... (Terdengar suara dari perut Jasmine)


Jasmine dan Evan langsung tertawa, lalu mengurai pelukan keduanya. Kemudian mereka segera pergi dari tempat itu dan menuju sebuah restoran. Setelah Jasmine kenyang, Evan langsung mengantarkan Jasmine ke Alvaro Group dalam keadaan kenyang dan selamat.


Bersambung ....


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel author :



Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. I'm The Unstoppable Queen



Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2