
Kediaman Keluarga Besar Alvaro sudah penuh dengan kedatangan seluruh anggota keluarga besar Hermawan dan Hadinata. Semua anggota kompak menggunakan baju muslim berwarna putih. Hari ini keluarga Alvaro mengadakan acara aqidah untuk Baby Arkana, Arshaka dan Arsyila.
Tuan Alex dan Tuan Zayn juga mengundang seluruh karyawan Alvaro Grouo dan beberapa rekan bisnis dari Alvaro Group. Gak lupa juga mereka telah mengundang anak-anak dari panti asuhan.
Evan juga hadir bersama kedua orang tuanya yang sudah berada di Indonesia. Axel sudah menyiapkan lima ekor kambing jantan untuk acara aqiqah ketiga buah hatinya.
Baby Triplets sudah dipakaikan baju muslim khusus untuk bayi. Ketiganya terlihat lucu dan menggemaskan. Tuan Alex dan Tuan Zayn sibuk menyapa para tamu yang datang.
Reymond baru saja tiba bersama Heidi. Reymond memakai baju koko putih. Sedangkan Heidi memakai dress putih lengan panjang. Keduanya terlihat sangat serasi, dan saat ini berjalan menuju tempat acara.
"Cie... Calon pengantin berjalan beriringan menuju pelaminan," goda Jasmine.
Reymond melangkah mendekat dan tersenyum dengan bangganya, sedangkan Heidi tersipu malu.
"Assalamualaikum, semuanya," ucap Reymond.
"Waalaikumsalam," jawab Axel dan yang lain.
"Hmm... Sepertinya usahamu untuk menjodohkan mereka telah berhasil, El," ucap Axel.
"Alhamdulillah, ya Xel. Baby Triplets punya aunty baru lagi," sahut Helena.
Reymond menggenggam tangan Heidi. Heidi menunduk dengan pipi merona.
"Akhirnya Rey sudah tidak kalah lagi sama truk," celetuk William.
"Apa hubungannya sama truk?" tanya Reymond tak mengerti.
"Yah kan, truk aja gandengan masak dokter Reymond tidak?" sahut Jasmine, disambut dengan gelak tawa Axel dan William.
"Kapan mau dihalalkan, Kak?" tanya Evan.
"Satu atau dua minggu lagi, aku dan kedua orang tuaku berencana berangkat ke Inggris untuk menemui orang tua Heidi dan melamarnya. Saat ini aku masih mengurusi semua surat-surat yang diperlukan untuk mengajukan pernikahan beda kewarganegaraan. Nantinya juga masih harus berurusan dengan Kedutaan Besar Indonesia dan bagian imigrasi yang ada di Inggris," jawab Reymond.
"Langsung gerak cepat ya, takut ditikung pria lain," ledek Helena.
"Yaiyalah. Aku kan sudah tidakk sabar ingin punya baby semenggemaskan Baby Triplets."
"Apalagi buatnya," ucap Reymond sambil melirik Heidi.
Wajah Heidi semakin memerah karena malu. Heidi mencubit lengan Reymond, dan disambut gelak tawa oleh Reymond.
"Sebaiknya memang harus disegerakan," ucap Axel, William dan Evan bersamaan.
"Kau sendiri kapan Evan mau melamar Jasmine? Nanti ngiler lo lihat pasangan-pasangan hot berkeliaran dan bertebaran di mana-mana," tanya Reymond.
Jasmine langsung membulatkan matanya.
"Apaan sih Kak Rey, aku kan masih kecil," ucap Jasmine menahan malu.
Evan tersenyum.
"Tuan Zaidan sudah memberi ultimatum bahwa Jasmine harus menyelesaikan pendidikannya sampai S3 terlebih dahulu," jawab Evan.
"Apa itu tidak terlalu lama? Nanti Jasmine keburu diembat sama pria lain," sahut Reymond.
Evan menghela napas panjang.
"Hidup, mati, rejeki dan jodoh kan sudah diatur sama Tuhan. Manusia hanya bisa berusaha. Dan selama Jasmine belum berjodoh dengan pria manapun, aku akan selalu menganggap bahwa dia adalah jodohku."
"Untuk mendapatkan pendidikan yang tinggi adalah hak penuh Jasmine. Aku tidak akan pernah menghalangi dia untuk meraih mimpinya. Aku juga belum bekerja sekarang. Jadi selama menunggu Jasmine menyelesaikan pendidikan, aku akan fokus untuk bekerja. Aku ingin menjadi calon suami dan imam yang layak untuknya. Aku ingin membahagiakan istri dan anakku kelak. Aku harus bisa menjamin kehidupan mereka. Jangan sampai istriku harus meminta kepada orang tuanya lagi," ucap Evan.
Jasmine tersenyum bahagia. Dalam hati dia sangat bangga pada Evan. Evan tidak pernah bersikap egois.
__ADS_1
"Itu baru namanya pria sejati. Opa bangga dan bahagia cucu Opa yang paling cantik ini mendapatkan calon pendamping yang bertanggung jawab sepertimu," ucap Tuan Alex yang ikut bergabung dengan mereka.
Evan dan Jasmine tersenyum malu.
Tuan Zayn menyunggingkan bibirnya saat mendengar ucapan Evan. Begitu juga dengan Tuan Farhat, dia bangga sekali dengan anak bungsunya itu.
"Tuan Zayn. Evan sudah bercerita dengan kami, tentang Jasmine yang harus menyelesaikan pendidikannya sampai S3. Kami sangat bahagia dan bersyukur, Anda dan keluarga besar Alvaro bersedia menerima putra kami di tengah keluarga besar kalian," ujar Tuan Farhat.
"Evan, putra Anda adalah pria yang baik. Tapi usia Jasmine masih belia, dia belum genap 20 tahun. Dan saya pribadi tidak rela jika anak gadis saya menikah di usia yang sangat muda. Saya ingin Jasmine fokus dengan belajarnya dahulu. Setidaknya biarkan dia menyelesaikan pendidikan S2-nya terlebih dahulu. Lalu melanjutkan pendidikan S3 nanti setelah menikah. Bahkan keduanya bisa melanjutkan pendidikan mereka bersama," ucap Tuan Zayn.
"Saya setuju Tuan. Saya juga ingin keduanya bisa menikmati masa muda mereka dahulu. Evan juga harus belajar menjadi pria dan calon suami yang lebih bertanggung jawab. Karena pernikahan adalah sesuatu yang sakral. Dan doa dan harapan kita semua, pernikahan akan terjadi sekali seumur hidup," ucap Tuan Farhat.
Tuan Zayn mengangguk sambil tersenyum.
"Lihatlah Nyonya Aline, kedua suami kita sudah membahas tentang pernikahan kedua anak muda kita," ucap Nyonya Diah sambil terkekeh.
"Anda benar, Nyonya. Jujur saja kami sekeluarga menyukai Evan. Dia anak yang baik, santun, rajin beribadah juga. Dan selama ini Evan sangat bertanggung jawab dan menjaga Jasmine dengan baik," ucap Nyonya Aline.
"Kami juga sangat menyukai putri kalian, terutama suamiku. Jasmine adalah menantu idamannya, yang bukan hanya cantik tapi juga cerdas, santun, dan mandiri," sahut Nyonya Diah.
Nyonya Aline tersenyum.
"Wah, putraku Hans pasti akan seperti orang kebakaran jenggot, jika tahu sahabat baiknya akan segera menikah. Dia kan tidak pernah mau kalah sama Jasmine. Di mana kita harus mencarikan calon istri untuknya nanti, suamiku?" ucap Nyonya Charlotte.
"Kita serahkan saja pada Tuhan, istriku. Aku sedang tidak ingin ambil pusing sekarang," sahut Tuan Narendra sambil tertawa.
Evan dan Jasmine sangat bahagia mendengar percakapan kedua orang tua mereka.
"Wah, ada sudah mendapatkan lampu hijau nih dari Tuan Besar Zaidan," seru William.
Evan dan Jasmine tersipu malu.
"Fokus kerja dulu, Evan. Tunjukkan kepada kami, terutama Papa, bahwa kami tidak salah telah memilihmu," ucap Axel.
"Kau juga, fokus pada belajarmu. Aku yakin Hans pasti akan menartawakanmu jika kau tidak bisa mendapatkan nilai terbaik dan bergelar cum laude pada kelulusan S2-mu," ucap Axel pada Jasmine.
"Kakak tidak perlu khawatir. Kakak tahu sendiri kan jika aku tidak pernah bermain-main dalam belajar. Dan cukup satu kali aku membiarkan Hans menang dariku, yaitu saat dia berhasil menyembunyikan Kak Helena dulu," ucap Jasmine dengan wajah penuh percaya diri.
Axel memeluk bahu adiknya. Axel yakin jika adiknya, Jasmine akan menepati ucapannya itu. Axel sangat bangga dan bahagia kepada adik kesayangannya itu.
Baby Arkana menangis.
"Sepertinya Arkana haus, sayang," seru Axel.
"Sebaiknya kita bawa mereka masuk ke dalam, supaya Helena bisa memberikan ASI dengan nyaman," ucap Nyonya Charlotte.
Axel dan Helena setuju. Mereka langsung membawa Baby Triplets ke dalam kamar tamu yang ada di lantai bawah mansion. Jasmine, Heidi dan Irene juga ikut masuk untuk menemani Helena dan melihat Baby Triplets.
Sejak dia tiba, kedua mata Irene berbinar melihat ketiga bayi menggemaskan itu. Ingin rasanya dia menggendong mereka.
"Apa kau ingin menggendong mereka, Irene?" tanya Helena sambil menyusui baby Arkana.
"Apa boleh Nyonya?" sahut Irene penuh semangat.
"Tentu saja boleh. Dan panggil Helena saja, please," jawab Helena.
Irene mengangguk dan tersenyum.
Dengan hati-hati, Irene mengambil baby Arshaka dari dalam strollernya. Irene menciumi wajah bayi tampan itu karena gemas.
"Sabar ya Irene. Aku yakin Tuhan akan memberikan yang terbaik untukmu dan William. Yang penting kalian berdua jangan putus berdoa dan berusaha."
"Kamu masih konsisten menjalani perawatan kan?" tanya Helena.
__ADS_1
"Masih Helena. Aku sangat berterima kasih padamu dan Tuan Axel. Aku juga sangat bersyukur, Tuhan telah memberikanku suami sebaik William. Dia selalu memberikan dukungan padaku agar tidak pernah menyerah dan putus asa. Aku sekarang mulai belajar untuk ikhlas dengan semua jalan yang diberikan oleh Tuhan. Dan itu membuatku lebih bahagia dalam menikmati hidup ini," jawab Irene.
"Aku senang mendengarnya. Kalau kalian mau, kalian bisa menjadi orang tua angkat Baby Triplets. Aku dan suamiku tak keberatan," ucap Helena.
"Benarkah?" tanya Irene tak percaya.
Helena mengangguk.
"Terima kasih banyak. Kalian sangat baik. Aku sangat bahagia. Aku yakin William pasti juga sangat bahagia," ucap Irene sambil menangis haru.
Jasmine langsung memeluk Irene. Heidi juga ikut terharu. Dia terkesima dengan kebaikan Helena. Baginya Helena adalah wanita yang berhati emas. Heidi bersyukur Tuhan telah memberikan teman sebaik Helena. Heidi semakin malu karena dulu pernah berniat masuk ke dalam rumah tangga Axel dan Helena.
"Semoga hubunganku dan Rey nanti bisa seperti hubungan Axel dan Helena. Aku akan belajar menjadi wanita dan istri yang baik untuk Rey," batin Heidi sambil tersenyum.
"Oh ya Heidi, apa kau akan tinggal di sini sampai Rey mengurusi segala keperluan untuk pernikahan kalian?" tanya Helena.
"Tidak, Helen. Besok pagi aku akan kembali ke Inggris. Dan hari ini kedua orang tua Rey datang ke kota ini. Mereka berkenalan denganku, begitu juga denganku," jawab Heidi.
"Hah cepat sekali. Aku pikir kau akan tinggal lebih lama di Indonesia," sahut Helena.
"Ada pekerjaan yang telah menungguku di sana. Dan aku juga harus memberitahu kedua orang tuaku tentang hubunganku dengan Rey, termasuk rencana pernikahan kami," ucap Heidi.
"Aku doakan semoga rencana baik dan mulia kalian ini berjalan dengan baik. Semoga Tuhan mempermudahkan segala urusan kalian," ujar Helena.
"Aamiin. Terima kasih atas doanya. Aku harap kalian semua nantinya bisa hadir di acara pernikahan kami," ucap Heidi.
"Akan kami usahakan. Jika Baby Triplets sudah diperbolehkan untuk diajak bepergian jauh, kami pasti akan datang," ucap Helena.
"Kalau aku dan William selalu menurut apa kata kedua bos besar kami," sahut Irene sambil tertawa.
"Kau bisa datang kan, Jasmine?" tanya Heidi.
"Akan aku usahakan. Karena aku juga berencana mendaftar dan melanjutkan pendidikanku di Oxford," jawab Jasmine.
"Itu bagus sekali. Aku yakin kau akan lulus tes masuk universitas," ucap Heidi sambil tersenyum.
Setelah merasa kenyang, baby Arkana kembali tertidur. Helena segera meletakkannya di dalam stroller. Namun tak selang berapa lama, baby Arshaka yang haus dan lapar. Irene segera memberikannya kepada Helena untuk disusui. Sedangkan si cantik, baby Arsyila masih setia dengan tidur nyenyaknya.
Acara pengajian dan aqiqah yang dipimpin oleh seorang ustadz berjalan dengan hikmat dan diliputi rasa kekeluargaan. Menjelang siang hari, acara aqiqah telah selesai. Satu per satu para tamu telah pergi meninggalkan masion Alvaro, termasuk anak-anak panti sudah kembali ke panti asuhan.
Bersambung ...
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰
__ADS_1