
"Lepaskan aku, b******k! Siapa kalian?" teriak Cassandra saat dirinya dibawa ke markas Red Dragon.
Cassandra duduk di atas sebuah kursi dengan tangan dan kaki yang diikat.
"Apa mau kalian? Apa kalian tidak siapa aku? Aku adalah putri seorang konglomerat yang ada di Jerman. Ayahku adalah Abraham Muller," bentak Cassandra.
Tapi anak buah Aiden diam seribu bahasa dan mengabaikan semua teriakan Cassandra.
"Sudah selesai berteriaknya? Apa kau mau lehermu patah dulu sebelum mendapat hukuman dariku," seru Aiden yang masuk ke dalam ruangan itu dan duduk di kursi kebesarannya.
"A-Aiden. Honey, apa kau lakukan padaku? Apa maksud dari semua ini?" tanya Cassandra tak mengerti.
Cassandra ketakutan saat melihat wajah dingin Aiden dan tatapan matanya yang tajam.
"Jawab dengan jujur. Bualan apa yang kau katakan pada teman-temanmu tadi malam saat kita berada di ruangan pesta?" tanya Aiden.
"Bu-bualan apa sayang? Aku tidak mengerti maksudmu. Aku tidak membuat bualan atau kebohongan apapun," jawab Cassandra sedikit gemetar.
"Aku memintamu untuk berkata jujur, tapi kau masih mengelak. Baiklah jika itu maumu," ucap Aiden sambil menyunggingkan bibirnya.
"Kalian! Lakukan apa yang aku perintahkan tadi. Aku ingin sedikit bersenang-senang sekarang!" perintah Aiden sambil menyeringai.
Para anak buah Aiden mengambil beberapa alat yang direkatkan di tubuh Cassandra.
"Alat apa ini? Aku mohon Aiden jangan siksa aku. Mana mungkin aku membohongi orang yang aku cintai. Aku mohon lepaskan aku sayang," mohon Cassandra.
"Jangan memanggilku dengan sebutan sayang. Aku jijik mendengarnya," sahut Aiden.
Tubuh Cassandra semakin gemetar. Dia tahu jika Aiden adalah salah satu mafia yang ditakuti seperti ayahnya, Tuan Arnold Morris. Aiden tak segan melakukan hal kejam pada musuhnya.
"Katakan dengan jujur, apa yang kau katakan tadi malam di depan teman-temanmu?" tanya Aiden lagi.
"Harus berapa kali kukatakan aku tidak...."
"Aaarrggghhh!!!" teriak Cassandra.
Aiden menekan sebuah tombol dan seketika aliran listrik menyetrum tubuh Cassandra. Beberapa detik kemudian, Aiden menekan lagi tombol itu dan aliran listrik itu pun berhenti.
Tubuh Cassandra menggeliat dengan napas tersengal-senggal.
"Itu baru kekuatan 10mA. Sekarang aku naikkan menjadi 20mA. Jawab dengan jujur Cassandra," ucap Aiden sambil tersenyum.
"A-aku mengatakan jika kembali bersama. Itu saja," jawab Cassandra dengan mata yang mulai basah.
Aiden tersenyum sinis.
"Dasar wanita ular! Masih tidak mau jujur," ucap Aiden.
Aiden menekan tombol pengejut listriknya dan seketika tubuh Cassandra bergetar lagi karena setruman listrik itu. Dan kali ini lebih menyakitkan karena Aiden sudah menambahkan kekuatan listriknya. Aiden menekan tombolnya lagi.
Cassandra merasakan tubuhnya sangat sakit terutama pada bagian dadanya.
"A-ampun Aiden. Aku minta ampun. Aku jujur sekarang. Aku mengatakan jika kau melamarku dan kita akan segera menikah," jawab Cassandra jujur sambil menangis.
Aiden langsung berdiri dan menghampiri Cassandra dengan wajahnya memerah karena marah.
Plak!!! Plak!!!
"Aku minta maaf Aiden. Aku berani bersumpah, jika aku hanya mengatakannya di depan teman-temanku saja. Lagi pula tidak ada yang dirugikan kan?" ucap Cassandra.
"Apa kau bilang? Tidak ada yang dirugikan!" bentak Aiden.
Aiden mencengkeram dagu rahang Cassandra dengan kuat.
"Asal kau tahu Cassandra, karena bualan dan kebohongan yang kau ciptkan itu telah membuat wanitaku salah paham. Dan akibat kebohonganmu itu kami harus kehilangan salah satu calon anak kami," ucap Aiden.
"A-apa? Anak?" tanya Cassandra tak percaya.
"Dan kau pasti tahu, jika nyawa harus dibayar dengan nyawa," ucap Aiden dengan tatapan membunuhnya.
Seandainya Aiden tidak ingat ada bayinya dalam kandungan Emily, saat ini pasti dia sudah mencabik-cabik dan memotong-motong tubuh Cassandra.
Cassandra melebarkan kedua matanya.
"K-kau tidak bisa melakukan ini padaku Aiden. Apa kau lupa siapa ayahku? Ayahku pasti tidak akan pernah melepaskanmu jika terjadi sesuatu padaku, putri kesayangannya," ancam Cassandra.
Aiden tertawa.
"Apa kau tidak tahu, jika saat ini ayahmu itu sedang menjadi buroran ayahku? Ayahmu melakukan kecurangan pada kontrak kerja sama kami dan membawa kabur uang dalam jumlah yang cukup besar. Dan kau pasti tahu jika seorang Arnold Morris tidak akan pernah melepaskan mangsanya," jawab Aiden.
"Tidak. Itu tidak mungkin. Kau bohong. Tidak mungkin ayahku meninggalkanku!" teriak Cassandra.
"Kalian! Habisi wanita ini! Lalu buang mayatnya ke laut atau ke kolam buaya. Terserah kalian!" perintah Aiden.
Aiden melangkah pergi meninggalkan Cassandra bersama para anak buahnya.
"Tidak Aiden. Kau tidak bisa melakukan ini padaku!" Cassandra terus berteriak.
Dorr! Dorr! Dorr!
Akhirnya teriakan Cassandra pun berhenti.
Aiden masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan markas Red Dragon dengan kecepatan tinggi.
"Pergi ke mana kau, Em? Ke mana aku harus mencarimu, sayang?" gumam Aiden.
Anak buah Aiden sudah berusaha melacak keberadaan Emily dan adiknya Neil, namun gagal. Aiden tahu jika Emily meminta bantuan kepada seseorang.
"Siapa yang sudah membantumu bersembunyi dariku, Em?"
__ADS_1
"Tidak mungkin Axel dan Helena. Karena tadi Axel dan Helena menghubungiku. Helena bercerita jika dia kesusahan menghubungi Emily. Helena juga meminta bantuan padaku untuk mencari di mana keberadaan Emily."
Aiden menepikan mobilnya.
"Aarrgghhhh!!!" Aiden berteriak sambil memukul setir mobilnya dengan keras.
"Ya Tuhan, hamba mohon pertemukan hamba dengan Emily dan calon anak kami," ucap Aiden sambil menangis.
...*****...
Sebuah private jet mendarat dengan mulus di bandara Internasional Adolfo Suárez Barajas Madrid, Spanyol.
"Aku minta maaf ya, El. Kita tidak jadi ke Jerman dulu, karena ada pertemuan penting yang harus aku hadiri," ucap Axel penuh sesal.
Saat ini Axel dan Helena beserta kedua asisten Axel sedang dalam perjalanan menuju salah satu hotel berbintang 5 yang ada di kota Madrid.
"Tidak apa-apa, Xel. Aku mengerti. Tidak masalah kita memulai kegiatan baby moon dimulai dari menjelajah negara Spanyol," jawab Helena sambil tersenyum.
"Terima kasih, sayang," ucap Axel.
Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih dari 30 menit, mobil yang mereka tumpangi tiba di hotel tempat mereka menginap.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya," sapa Tania.
"Tania," seru Helena.
"Aku sengaja meminta Tania untuk datang ke sini. Tania yang akan menemani dan menjagamu di hotel selama aku melakukan pertemuan. Karena William dan Irene harus ikut denganku," terang Axel.
Helena hanya mengangguk.
Axel mengantarkan istrinya masuk ke dalam kamar presidential suit yang telah dipesannya. Begitu juga William dan Irene yang masuk ke dalam kamar mereka untuk meletakkan barang.
"Sekarang kau istirahatlah. Kau pasti lelah. Setelah aku selesai rapat dengan klien, aku akan segera kembali ke sini," ucap Axel.
"Baiklah suamiku. Ingat jangan macam-macam di luar ya," ucap Helena.
Axel terkekeh.
"Bagaimana mau macam-macam, kalau melihat dan berdekatan dengan wanita lain saja aku sudah merasa mual dan ingin muntah," ucap Axel.
Helena tersenyum.
"Sebaiknya aku pergi sekarang, sebelum aku membatalkan rapat ini dan lebih memilih mengunjungi baby triplets," ucap Axel.
"Xel," keluh Helena.
Cup...
Axel mengecup bibir Helena. Helena salim dan mencium punggung suaminya.
"Jangan lama-lama. Aku ingin sholat berjamaah denganmu nanti," ucap Helena.
"Kalau kau lapar atau butuh apa-apa bilang saja kepada Tania. Aku berangkat dulu. Assalamualaikum," ucap Axel.
Helena menganggukkan kepalanya.
"Waalikumsalam," jawab Helena.
Setelah Axel pergi, Helena segera membersihkan diri dan berganti baju. Kemudian dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Pada sore harinya Axel mengajak Helena berjalan-jalan berkeliling di sekitar hotel. Helena sangat menikmati suasana dan pemandangan indah yang ada di sana. Helena melihat sebuah florist.
"Xel, aku ingin membeli bunga di toko itu. Boleh ya?" pinta Helena.
"Tentu saja, El ku sayang. Kalau perlu kita beli sekalian dengan tokonya," jawab Axel sambil terkekeh.
"Ah kau itu, Xel," ucap Helena kesal.
"Bercanda sayang. Jangan marah, nanti aku jadi tambah pengen itu tu loh," goda Axel sambil mencium pipi Helena.
Wajah Helena lansung merah merona.
"Bos! Jangan lupa ada kami bertiga di sini," ucap William.
"Suasana masih sore, tapi kok sudah terdengar suara makhluk tak kasat mata ya," seru Axel.
Irene dan Tania terkekeh, sedangkan William sudah memberikan wajah kesalnya. William, Irene dan Tania duduk di taman tak jauh dari Florist itu.
Axel dan Helena masuk ke dalam Florist. Wajah Helena berbinar saat melihat berbagai jenis bunga yang warna warni yang terlihat sangat indah.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya di toko bunga kami. Ada yang bisa saya bantu?" sapa pemilik toko.
Axel dan Helena membalikkan badan mereka.
"Emily," seru Helena.
"H-Helena," jawab Emily dengan wajah terkejutnya.
Helena langsung memeluk Emily.
"Bagaimana kabarmu, Em? Mengapa ponselmu mati? Aku sangat merindukanmu," tanya Helena.
"Aku baik Helena. Bagaimana kabarmu dan ketiga bayimu?" tanya Emily sambil memaksakan senyumnya.
Melihat perut besar Helena karena ada tiga bayi kembar di dalam sana, membuat Emily mengingat saat dirinya masih hamil dua anak kembar.
"Aku dan ketiga bayiku baik, Em," jawab Helena.
"Apa kabar Axel?" tanya Emily.
__ADS_1
"Kabarku baik, Emily," jawab Aiden.
"Sepertinya kau gemukan sekarang, Em?" sindir Axel.
Helena langsung memperhatikan bentuk tubuh Emily. Dan tak lama kemudian Helena menyipitkan matanya. Wajah Emily seketika memucat dan terlihat gugup.
"Sebaiknya kalian duduk sekarang. Ada banyak hal yang harus kalian bicarakan," ucap Axel.
Helena dan Emily duduk di atas sofa, sedangkan Axel berdiri di samping Helena. Emily terdiam dengan wajah menunduk.
Helena menghela napas panjang.
"Apa benar saat ini kau sedang hamil, Em?" tanya Helena.
Emily mengangguk pelan.
"Dan apa karena ini kau menghilang?" tanya Helena lagi.
"Bukan maksudku untuk menghilang Helena. Jujur aku juga sangat merindukanmu. Hanya saja keadaan yang memaksaku ingin menyendiri dan fokus dengan kehamilanku. Aku minta maaf, Helen," jawab Emily dengan wajah penuh sesal.
"Siapa ayah dari bayi yang kau kandung ini, Em?" cerca Helena.
Emily menarik napas panjang.
"I-itu, aku tidak tahu. Kami melakukannya saat dalam kondisi mabuk. Dan aku tidak mengenalinya," ucap Emily dengan hati-hati.
"Apa kau yakin?" sahut Helena.
Emily mengangguk sambil tersenyum.
"Emily. Bagaimana bisa kau tidur dengan pria yang tidak kau ketahui dan mengandung anak dari pria itu? Bukankah aku dulu selalu mengingatkanmu agar jangan minum terlalu banyak," ceramah Helena.
"Aku minta maaf, Helen. Aku telah mengecewakanmu," ucap Emily dengan perasaan tak enak karena harus berbohong.
Helena langsung memeluk sahabatnya itu.
"Kakak, aku pulang," seru Neil yang baru datang.
Neil terkejut melihat keberadaan Axel dan Helena di dalam florist bersama Emily, kakaknya.
"Kemarilah, Neil," panggil Emily.
"Axel, Helena. Perkenalkan ini Neil, adikku. Dan Neil kenalkan ini sahabatku, Helena dan suaminya, Axel," ucap Emily.
Axel dan Neil saling berjabat tangan.
"Apa kau berhenti menjadi seorang dokter beralih profesi menjadi penjual bunga?" tanya Helena.
"Hanya sementara, Helen. Selama aku hamil, dokter tidak mengijinkanku bekerja terlalu berat dan melelahkan. Dan berhubung aku menyukai bunga, maka aku pun memutuskan untuk menjual bunga. Sebenarnya florist ini milik mendiang nenek Neil, dan sekarang kami yang melanjutkan usaha beliau," terang Emily.
"Tempat yang cukup bagus dan strategis. Pemandangannya juga sangat bagus," puji Axel.
"Akan lebih bagus lagi jika dilihat dari rooftoop. Pemandangannya sungguh luar biasa tetutama pada malam hari," ucap Neil.
"Benarkah? Apa aku boleh ke sana dan membuktikan ucapanmu?" tanya Axel antusias.
"Tentu saja, mari aku antarkan," jawab Neil.
Axel mengikuti langkah Neil menuju rooftoop. Dan apa yang dikatakan Neil benar adanya. Dari atas sana, Axel bisa menikmati keindahan pemandangan kota Madrid.
"Aku ganti baju dulu ya, Kak. Kakak santai saja di sini. Anggaplah rumah sendiri," ucap Neil.
"Baiklah. Terima kasih, Neil," ucap Axel.
Neil segera pergi ke kamarnya dan meninggalkan Axel sendiri. Setelah Neil pergi, Axel menyapukan pandangannya ke seluruh tempat yang ada di rooftoop. Axel merasa ada yang disembunyikan oleh Emily, karena Axel bisa melihat kejanggalan dari sikap dan ucapan Emily.
Kedua mata elang Axel mendapatkan apa yang diinginkannya. Dia menatap kaos dengan gambar wajah seseorang yang sangat dia kenali, yang sedang dijemur tak jauh dari tempat Axel berdiri. Axel tersenyum miring.
"Haaahhh... Jadi baj***n tengik ini yang sudah menghamili Emily," umpat Axel.
Axel mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Halo, Axel," sapa orang di seberang telpon.
"Halo, Aiden. Segera berangkat ke Madrid sekarang juga. Atau kau akan menyesal seumur hidup dan istriku tersayang, Helena, akan memberikan suntikan mati padamu. Aku tidak menerima bantahan atau penolakan. Datanglah secepatnya," ucap Axel lalu memutuskan panggilan telpon mereka.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
Bang Axel memang selalu peka kalau ada yang tidak beres. Good job bang Axel..👍👍👍🥰
Baca juga novel pertama author :
"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰
__ADS_1