Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 40. Sumber Kebahagiaan


__ADS_3

"Kita berada di mana sekarang? Ke mana kau membawaku pergi?" tanya Helena saat berada di dalam mobil yang sedang melaju.


"Ke tempat yang jauh sesuai permintaanmu. Aku yakin tidak akan ada yang bisa menemukanmu di sini, termasuk sang "Dewa Analyst", Daddy kita tercinta," jawab orang yang telah menyembunyikan Helena yang tak lain adalah Hans, adik Helena.


Helena terdiam, kepalanya terasa berat sekali.


"Ada apa denganmu, Kak? Mengapa kau bertindak sebodoh ini? Memangnya Kakak yakin jika Kak Axel benar-benar selingkuh? Seharusnya Kakak bicarakan dulu dengan Kak Axel," cerca Hans.


Ucapan Hans membuat kepalanya semakin sakit.


"Apa kau bisa tenang Hans? Kau membuat kepalaku semakin pusing," gerutu Helena.


Hans menatap Helena. Hans menepikan mobilnya.


"Ya ampun Kak. Wajahmu pucat sekali. Kau pasti tidak makan sama sekali selama perjalanan dari Indonesia ke sini. Apa kita berhenti di restoran dan makan dulu?" tanya Hans khawatir.


Helena menggeleng.


"Tidak perlu. Sebaiknya segera kau lajukan mobilnya supaya kita cepat sampai," jawab Helena.


"Baiklah," ucap Hans.


Hans melajukan mobilnya lagi sedikit lebih cepat. Tiga puluh menit kemudian, mobil mereka memasuki kawasan mansion yang cukup luas, dan ada peternakan sapinya.


"Kita sudah sampai, Kak," ucap Hans.


"Mañsion siapa ini, Hans?" tanya Helena.


"Ayo turun. Ada yang sudah menunggu kedatangan kita," jawab Hans sambil tersenyum.


Helena dan Hans segera turun dari dalam mobil. Nampak seorang wanita tua seumuran dengan GrandMa Sasmitha keluar dari mansion dan menyambut kedatangan mereka.


"Granny Martha?" seru Helena.


"Selamat datang Helena sayang," ucap wanita tua itu.


Helena langsung berlari dan memeluk wanita yang bernama Martha. Granny Martha adalah adik dari nenek kandung Helena dan Hans, bibi Nyonya Charlotte (ibu Helena dan Hans). Nyonya Martha adalah seorang dokter dan ahli dalam ramuan obat-obatan.


"Bagaimana kabar Granny? Terakhir kali Helena bertemu Granny saat masih kecil," tanya Helena.


"Granny baik sayang. Ayo masuk, Nak. Kau terlihat letih, pasti karena perjalanan jauh yang telah kau tempuh," ucap Granny Martha.


Helena masuk ke dalam mansion bersama Granny Martha. Sedangkan Hans membawakan koper Helena masuk ke dalam mansion.


Granny mengajak Helena duduk di ruang keluarga.


"Maaf Granny, saat ini aku berada di mana?" tanya Helena.


Granny Martha tersenyum.


"Kau berada di Sitka, Alaska, sayang," jawab Granny Martha.


Helena membelalakkan matanya.


"Bagaimana? Aku genius bukan membawamu sampai ke sini untuk bersembunyi," ucap Hans sambil terkekeh.


Grannya Martha menggelengkan kepalanya.


"Hans sudah menceritakan semuanya kepada Granny. Granny tidak akan mencampuri urusan rumah tanggamu sayang. Kau boleh tinggal di sini selama yang kau mau. Granny tahu kau sedang membutuhkan waktu untuk menyendiri dan merenung. Tapi pikirkanlah semuanya dengan kepala jernih, jangan ikuti emosimu," tutur Granny Martha.


Helena mengangguk.


"Terima kasih, Granny," ucap Helena sambil memeluk Grannya Martha.


"Sama-sama sayang. Granny senang sekali kau berada di sini. Sejak Hans kuliah di Amerika, beberapa kali dia mengunjungi Granny. Granny terkejut adikmu ini bisa menemukan mansion ini. Padahal sudah lama sekali Granny tidak berkomunikasi dengan keluarga kalian setelah GrandMa kalian, kakak Granny meninggal," ucap Granny Martha.


"Aku kan calon penerus sang "Dewa Analyst". Kegeniusan Daddy menurun banyak padaku," ucap Hans dengan sombongnya.


Helena dan Granny Martha tertawa.


Tiba-tiba kepala Helena pusing lagi. Dia memegang pelipisnya.


"Ada apa sayang? Apa kau sakit?" tanya Granny Martha khawatir.


"Sepertinya Kakak belum makan sejak berangkat dari Indonesia, Granny. Wajahnya sampai pucat gitu, karena fokus memikirkan masalahnya dengan Kak Axel," sahut Hans.


"Helena tidak apa-apa, Granny. Sedikit lelah saja," jawab Helena.


"Baiklah. Sebaiknya kau segera ke kamar untuk beristirahat. Granny akan membuatkan makanan untuk kalian," ucap Granny Martha.


Helena mengangguk.


"Hans, antarkan Kakakmu ke kamarnya. Granny sudah menyiapkan kamarnya di samping kamar yang biasanya kau tempati," ucap Granny Martha.


"Ayo Kak, aku antarkan ke kamar," seru Hans.

__ADS_1


Helena segera berdiri. Saat dia akan melangkah, kepalanya terasa semakin pusing dan pandangannya serasa berputar-putar.


Brughh...


Helena jatuh ke atas sofa dan pingsan.


"Kakak/Helena!" teriak Hans dan Granny Martha bersamaan.


Hal serupa juga terjadi di kediaman Zayn. Axel yang baru saja turun dari tangga dan berjalan menuju ruang makan. Wajahnya terlihat pucat sekali dan jalannya gontai. Saat memasuki ruang makan, Axel kehilangan keseimbangannya dan jatuh pingsan di atas lantai.


Zayn, Aline dan Jasmine sangat terkejut. Mereka langsung berlari menghampiri Axel. Zayn segera menghubungi dokter Narita.


Tuan Alex dan Nyonya Savira langsung datang ke mansion saat mendengar bahwa Axel pingsan.


"Bagaimana keadaan cucuku, Rit?" tanya Nyonya Savira setelah dokter Narita memeriksa Axel.


"Dia hanya kelelahan dan sepertinya sejak semalam dia belum makan," jawab dokter Narita. "Sebentar lagi dia kan siuman."


Tak lama kemudian, Axel membuka matanya perlahan. Yang pertama kali dia lihat adalah ibunya, Aline, sedang duduk di sampingnya sambil menangisi dirinya.


"Mama," ucap Axel pelan.


Zayn, Aline dan semua yang berada di sana merasa lega, akhirnya Axel siuman.


"Bagaimana keadaanmu sayang? Mama sangat takut saat kau pingsan tadi," tanya Aline lembut.


"Axel tadi hanya sedikit pusing, Ma. Maaf sudah membuat Mama dan semuanya khawatir," jawab Axel sambil duduk dan bersandar di sandaran ranjang.


"Kau belum makan kan sejak tadi malam. Mama sudah menyiapkan bubur ayam untukmu. Kau harus makan supaya kau mempunyai tenaga untuk mencari Helena," ucap Aline.


Axel mengangguk.


Aline mengambil mangkok berisi bubur ayam dari atas nampan. Lalu menyendok bubur itu dan menyuapkan ke mulut Axel.


Saat bubur itu berada tepat di depan wajah Axel, perut Axel seketika mual.


"Apa ini Ma? Bau sekali? Axel tidak kuat dengan baunya, perut Axel terasa mual. Oma-oma juga memakai parfum apa? Baunya menyengat sekali membuat hidung Axel tidak nyaman," ucap Axel sambil menutup hidungnya.


Aline langsung menarik tangannya bingung. Zayn langsung membelalakkan matanya. Jasmine, Nyonya Savira, Tuan Alex dan dokter Narita bingung dengan ucapan Axel.


"Istriku. Sepertinya putra kita berhasil membuatkan cucu untuk kita," seru Zayn.


Aline menatap suaminya bingung.


"Apa maksudmu, Rit?" tanya Nyonya Savira.


"Aku rasa kita akan memiliki cicit Kak," jawab dokter Narita.


"Jadi, maksudnya Kak Axel mengalami gejala "couvade syndrome" seperti yang pernah dialami oleh Papa saat Mama hamil dulu," seru Jasmine.


Zayn dan dokter Narita mengangguk.


"Maksud kalian saat ini Helena sedang hamil, dan aku akan menjadi seorang ayah?" tanya Axel penuh semangat.


"Kemungkinan besar," jawab Zayn.


Axel tersenyum sambil meneteskan air mata bahagia. Aline memberikan pelukan penuh sayang.


"Mama berharap Helena benar hamil. Kau harus segera menemukan Helena," ucap Aline.


"Ya, Ma. Axel janji, Axel akan berusaha menemukan Helena secepatnya," ucap Axel.


"Ya Tuhan kita akan memiliki cicit suamiku," ucap Nyonya Savira senang.


Tuan Alex memeluk istrinya dengan perasaan bahagia.


"Ya istriku. Aku akan mengerahkan seluruh anak buah Alvaro untuk mencari Helena. Aku juga akan meminta bantuan Zibber supaya mengerahkan anak buahnya untuk membantu mencari Helena," ucap Tuan Alex.


"Kau dengar itu, Nak. Banyak orang yang akan membantumu menemukan Helena. Kau harus segera sembuh dan segera bawa menantu dan calon cucu Papa pulang. Jangan sampai kau melakukan kesalahan yang sama, seperti yang Papa lakukan dulu. Jangan sampai anakmu merasakan sedihnya tidak bisa bersama ayahnya, seperti yang pernah kau rasakan dulu, Nak," tutur Zayn.


Axel mengangguk.


"Aku akan menemui Narendra. Mungkin dia tahu di mana keberadaan Helena," ucap Zayn lagi.


"Terima kasih Papa. Terima kasih semuanya," ucap Axel penuh haru.


Sedangkan di mansion Granny Martha, Helena masih tak percaya saat melihat tespeck dan hasil USG yang ada di tangannya. Saat Helena pingsan, Hans dan Granny Martha segera membawanya ke klinik terdekat.


"Ini tidak mungkin. Bagaimana aku bisa hamil?" gumam Helena.


"Apanya yang tidak mungkin, Helen? Kau tidak mungkin hamil, jika kau tidak dengan suka rela membukakan kedua pahamu untuk suamimu," ucap Granny Martha sambil tersenyum.


Hans yang sedang minum langsung tersedak dan terbatuk-batuk. Sedangkan pipi Helena mulai merona.


"Granny bicaranya frontal sekali," protes Hans.

__ADS_1


Granny Martha terkekeh.


"Maaf, Granny lupa jika masih ada anak kecil di sini," ucap Granny Martha.


Hans hanya memutar bola matanya malas.


"Apa kau menyesalinya Helena? Apa kau tidak menginginkan kehadiran bayi di dalam rahimmu?" tanya Granny Martha.


Helena menggeleng.


"Bukan seperti itu, Granny. Aku hanya terkejut dan tidak percaya. Selama ini aku selalu meminum obat penunda kehamilanku, dan tidak pernah telat meminumnya," jelas Helena.


Granny mengerutkan dahinya.


"Apa kau membawa obat itu ke sini?" tanya Granny Martha.


"Ya Granny. Obat itu ada di dalam tas," jawab Helena.


Hans langsung mengambilkan obat dari dalam tas Helena dan menyerahkannya kepada Granny Martha. Granny Martha mengambil satu butir obat itu lalu mencium aromanya dan menggigitnya sedikit.


Tak lama kemudian Granny tersenyum.


"Sepertinya Tuhan berkehendak lain sayang. Suamimu cerdas sekali. Aku yakin dia yang sudah menukar obatmu. Ini bukan obat penunda kehamilan, tapi obat penyubur kandungan. Granny yakin obat ini sengaja dibuat semirip mungkin dengan obat penunda kehamilanmu, baik dari segi warna, bau dan rasa. Tapi Granny masih tetap bisa membedakan keduanya," terang Granny Martha.


Helena membelalakkan matanya. Dia mendengus kesal.


"Pantas saja Axel selalu mengingatkanku untuk meminumnya. Setelah itu dia menggempurku tanpa ampun dan sengaja mendiamkan X-Lo agak lama setelah mendapatkan pelepasan," batin Helena.


Helena meraba perutnya yang masih datar.


"Kau harus menjaga kesehatanmu dan pola makanmu. Jangan bersedih lagi, kasihan mereka nanti juga akan ikut sedih, sayang. Sekarang kau harus banyak beristirahat karena badanmu masih lemah," tutur Granny Martha.


Helena mengangguk. Granny Martha dan Hans keluar dari kamar Helena dan membiarkan Helena untuk beristirahat.


"Maafkan Mommy ya sayang. Mommy terpaksa memisahkan kalian dari Daddy demi anak yang lain," ucap Helena sambil mengelus perutnya.


"Mommy berharap semua itu tidak benar. Tapi hati Mommy sakit saat mengingatnya. Mommy berjanji akan menjaga dan merawat kalian dengan penuh kasih sayang. Jika Daddy kalian memang mencintai Mommy, biarlah Daddy berusaha untuk menemukan kita," ucapnya lagi sambil meneteskan air mata.


"Sekarang, kalian lah sumber kebahagiaan bagi Mommy," lirih Helena sambil tersenyum.


Helena masuk ke dalam kamar mandi untuk mengambil air wudlu, kemudian melaksanakan ibadahnya dan berdoa memohon petunjuk kepada Tuhan.


Hans membantu Granny Martha yang sedang mencuci perkakas yang mereka gunakan saat makan malam tadi.


"Hans kasihan pada Kak Helena. Di saat hamil seperti ini, dia harus berjauhan dengan Kak Axel. Hans heran, mengapa Kak Helena mengambil keputusan untuk meninggalkan Kak Axel tanpa meminta penjelasan terlebih dahulu kepada Kak Axel," ucap Hans.


Granny Martha tersenyum.


"Granny yakin, Helena kemarin sedang dikuasai emosinya sehingga dengan mudahnya mengambil keputusan untuk pergi. Emosi ibu hamil itu sering tidak stabil dan tidak bisa ditebak Hans. Perasaannya terlalu sensitif sehingga terkadang mempengaruhi pola pikirnya. Lagipula Helena belum mengetahui jika dirinya sedang mengandung," tutur Granny Martha.


"Biarkan Kakakmu menenangkan dirinya dulu. Aku yakin jika bayi dalam kandungan Helena memiliki ikatan batin yang kuat dengan ayahnya. Granny doakan semoga masalah mereka segera selesai. Helena dan bayi-bayinya bisa hidup bahagia bersama suami dan ayah mereka," tambah Granny Martha.


"Aamiin Granny. Hans juga mendoakan hal yang sama," ucap Hans.


"Kau jangan lupa sholat dulu sebelum kau tidur. Granny juga akan ke kapel sebentar lagi untuk berdoa," ucap Granny Martha.


"Siap Granny. Hans bersyukur kepada Tuhan, meskipun kita memiliki perbedaan, tapi Granny tetap menyayangi kami," ucap Hans.


"Tentu saja. Kalian itu cucu-cucu Granny. Granny orang yang menghargai dan menerima perbedaan, sayang," ucap Granny Martha.


Hans tersenyum bahagia.


...🌹🌹🌹...


Bibit-bibit Alvaro mulai tumbuh.🥰🥰🥰


Axel berhasil menyirami ladang Helena dengan sangat baik...🤭🤭🤭


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2