
Helena masuk ke dalam ruangan yang terletak di sebelah ruang IGD. Ada beberapa dokter dan perawat jaga yang sudah hadir di sana.
"Assalamualaikum dan halo semuanya," sapa Helena.
Semua yang berada di ruangan tersebut menjawab salam dan sapaan Helena, tanpa terkecuali dokter Aisya, sahabat Helena. Aisya segera mengambil rantang dari tangan Helena dan meletakkannya di atas meja.
"Menu apalagi yang dokter Helena masak hari ini?" tanya Rina, salah satu perawat di sana.
"Aku masak rendang tadi. Maaf ya sedikit berantakan karena tadi sempat terjatuh rantangnya," jawab Helena sambil tersenyum.
"Tidak apa-apa. Rendangnya masih selamat dan aman. Huwah... Perutku seketika menjadi lapar," seru Aisya dengan wajah penuh minat saat melihat rendang buatan Helena.
Helena dan lainnya tertawa melihat ekspresi Aisya.
"Helen, apa kau tahu mengapa kita diminta datang lebih cepat dari jam seharusnya?" tanya Aisya.
Helena menggeleng.
"Tolong beritahu aku, Aisya. Pasti ada hal penting yang ingin diumumkan oleh manager rumah sakit ini," jawab Helena.
"Aku dengar. Atasan akan memperkenalkan kepada kepada kita seorang dokter pria yang tampan berwajah bule. Sebenarnya dia sudah cukup lama bekerja di sini, tapi dia mengambil cuti selama 6 bulan untuk menyelesaikan tesis pendidikan S-2 nya. Namanya dokter Rey, dia adalah dokter tertampan di rumah sakit ini. Banyak dokter dan perawat wanita yang memujanya. Hahh... aku jadi tidak sabar untuk bertemu dengannya," ucap Aisya dengan rona wajah bahagia.
Helena mengerutkan dahinya.
"Jangan bilang dokter sok narsis yang menabrakku tadi. Dia bilang namanya Rey kan?" batin Helena.
"Menururku dia biasa saja," ucap Helena.
Aisya melebarkan matanya.
"Apa kau sudah bertemu dengannya?" tanya Aisya penasaran.
"Rantangku tadi jatuh gara-gara dia. Dia berlarian di rumah sakit ini, dan tak sengaja menabrakku," jawab Helena.
"Apa dia tampan, Helen?" tanya Aisya antusias.
Helena menghela napas panjang.
"Aku kan sudah bilang biasa saja bagiku, Ais," jawab Helena.
Aisya mengerucutkan bibirnya.
"Kau ini tidak seru," seru Aisya.
Helena hanya tersenyum.
"Ah iya, aku lupa kalau kau sudah mempunyai suami yang tampan seperti aktor Hollywood, tapi sayang sedingin benua Antartika," ucap Aisya.
Helena tertawa mendengar ucapan Aisya tentang Axel, suaminya. Di luar ruangan ada sepasang mata yang sedang memandang Helena dari luar jendela.
"Dia semakin cantik jika tertawa. Membuatku semakin bersemangat untuk menakhlukkan hatinya," gumam Rey lirih sambil tersenyum.
"Selamat siang semuanya," sapa manager hotel, dokter Arman.
"Selamat siang dokter," jawab semuanya.
Dokter Arman memasuki ruangan bersama Rey. Semua mata para wanita langsung tertuju kepada dokter tampan itu yang mempesona, kecuali Helena.
"Baiklah semuanya, perkenalkan ini adalah dokter Reymond. Beliau akan bertugas bersama kalian di sini. Sebenarnya Dokter Rey sudah hampir 3 tahun bekerja di rumah sakit ini, namun di divisi yang berbeda. Dokter Rey, silakan perkenalkan diri Anda," ucap dokter Arman.
"Terima kasih dokter Arman. Selamat siang semuanya. Perkenalkan nama saya Reymond Adi Bagaskara. Kalian bisa memanggilku Rey. Saya adalah keturunan campuran Indonesia dan Australia. Dan saya 100% pria single. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik ya," ucap Rey memperkenalkan dirinya sambil sesekali melirik ke arah Helena.
"Salam kenal dokter Rey," sapa semua orang.
"Baiklah. Saya harap kalian semua bisa bekerja sama dengan baik. Dokter Rey baru saja menyelesaikan pendidikan masternya, sehingga kalian bisa bertanya dan menimba ilmu darinya. Dan dokter Rey, ruangan Anda ada di sebelah kanan ruangan dokter Helena. Di bagian pintu sudah disematkan nama Anda," terang dokter Arman.
"Baik dokter. Terima kasih," ucap Rey.
Dokter Arman segera meninggalkan ruangan tersebut. Kemudian Rey berkenalan dengan semua dokter dan perawat yang ada di sana. Mata Aisya seperti terhipnotis saat Rey mengajaknya berkenalan dan keduanya berjabat tangan.
__ADS_1
"Hai, dokter Helena. Akhirnya kita bertemu lagi. Kalau jodoh memang tak ke mana," ucap Rey sambil menggoda.
"Hai dokter Rey. Selamat bergabung dengan kami di sini. Dan saya harap kita bisa bekerja sama dengan baik dan profesional," jawab Helena.
"Terima kasih," ucap Rey sambil mengerlingkan mata kanannya, lalu masuk ke dalam ruangannya sendiri.
Helene mendengus kesal, lalu dia juga masuk ke dalam ruangannya yang bersebelahan dengan ruangan Rey. Tak lama kemudian, Helena keluar dan makan bersama rekannya yang lain. Mereka menikmati rendang buatan Helena. Rey yang merasa bosan pun keluar dari ruangannya.
"Eh, dokter Rey. Sini dokter ikut makan bersama kami. Ini ada rendang yang enak sekali, buatan dokter Helena," seru Rina.
"Benarkah? Wow, ternyata dokter Helena jago masak juga ya. Aku juga mau ikut makan bersama kalian," ucap Rey bersemangat sambil melihat ke arah Helena.
Namun Helena tak balas melihatnya, dia sibuk mengunyah makanannya. Rey duduk di kursi yang kosong di sebelah Rina. Rina pun segera mengambil piring lalu diisi dengan nasi, sayur, sambal dan daging rendang. Kemudian diserahkan kepada Rey. Rey memakannya dengan lahap. Dia sangat menikmati masakan Helena itu.
"Wah, masakan dokter Helena benar-benar lezat," puji Rey.
"Terima kasih atas pujiannya dokter Rey," jawab Helena sambil memberikan senyuman secara terpaksa.
Setiap hari Rey selalu berusaha menggoda Helena. Bahkan Rey sengaja menyamakan jadwal jaga di rumah sakit sama dengan jadwal Helena. Suatu pagi Helena pernah mendapatkan buket bunga mawar dan tertulis nama Reyna pada kartu namanya. Helena segera mengembalikannya kepada Rey, dia tidak ingin sampai ada orang yang salah paham.
Tok... Tok... (Helena mengetuk pintu ruangan Rey)
"Masuk!" terdengar seruan dari dalam.
Helena membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Rey sambil membawa buket bunga di tangannya. Saat melihat Helena masuk ke dalam ruangannya, wajah Rey langsung berbinar.
"Oh, hai dokter Helena. Bagaimana? Apa kau suka dengan bunganya?" tanya Rey sambil tersenyum.
Helena langsung meletakkan buket bunga itu ke meja Helena.
"Tolong jaga sikap Anda. Apa maksud dokter Rey memberikan buket bunga ini kepada saya?" ucap Helena dengan wajah kesal.
"Yah, sebagai ucapan terima kasih atas masakan lezat yang dokter buat beberapa waktu lalu. Jujur saja, aku tertarik denganmu. Aku menyukaimu, dan aku ingin bisa lebih dekat denganmu, dokter Helena," ucap Rey tanpa basa basi.
Helena membelalakkan matanya, lalu menghela napas panjang.
"Maaf dokter Rey. Sebaiknya Anda buang jauh-jauh perasaan suka Anda itu. Karena saya adalah wanita yang sudah bersuami. Dan saya tidak akan mengkhianati suami saya," ucap Helena sambil memperlihatkan cincin nikahnya.
"Apa kau serius?" tanya Rey.
"Saya serius dokter Rey. Saya sudah menikah," jawab Helena.
"Baiklah. Aku minta maaf. Tapi aku masih boleh kan berteman denganmu?" tanya Rey santai.
"Tentu saja boleh. Asal Anda bisa menjaga sikap. Saya tidak ingin ada yang salah paham. Karena saya harus menjaga nama baik dan kehormatan suami saya," jawab Helena.
"Terima kasih," ucap Rey.
Helena hanya mengangguk, lalu keluar dari ruangan Rey.
"Meskipun kau sudah menikah, aku tetap tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu, Helena. Karena aku bisa melihat jika kau tidak bahagia dengan pernikahanmu. Dan aku siap untuk membahagiakanmu," gumam Rey setelah Helena meninggalkan ruangannya.
Meskipun Rey suka mencari kesempatan untuk menggoda Helena, tapi Rey sangat profesional dalam bekerja. Bahkan Helena memuji cara kerja dan kepiawaian Rey dalam melayani para pasien. Sikapnya sangat ramah sehingga pasien merasa nyaman.
Pagi ini Helena memasak sup daging. Dan seperti biasa Axel selalu menikmati sarapannya. Meskipun dia tidak pernah memuji masakan Helena, dari caranya makan sampai habis tak bersisa membuat hati Helena bahagia. Axel juga sudah terbiasa pamit dan salim sebelum berangkat. Tangannya sudah tidak sekaku dulu lagi.
"Bagimana dengan undangan Tuan Robinson, Will? Kapan acaranya?" tanya Axel kepada William yang sedang mengemudikan mobil.
"Undangannya dua hari lagi, Tuan. Dan di dalam undangannya Tuan Robinson juga meminta Anda untuk membawa istri, karena istri Tuan Robinson ingin berkenalan dengan istri Anda," jawab William.
Axel mendengus kesal.
"Itu artinya aku juga harus membawa Helena," ucap Axel.
"Benar Tuan," sahut William.
"Baiklah, siang nanti kita ke rumah sakit Oma Narita. Aku akan meminta ijin pada Oma supaya Helena mendapatkan cuti kerja," ucap Axel.
"Baik Tuan," jawab William.
__ADS_1
"Tumben si bos berbaik hati dan mau repot-repot datang ke rumah sakit untuk meminta ijin agar Nona Helena bisa mendapatkan cuti," batin William.
Axel dan William keluar dari ruangan dokter Narita. Dokter Narita sudah memberikan ijin cuti kepada Helena. Axel menghentikan langkahnya saat melihat Helena sedang berbincang dengan Aisya dan Rey yang duduk di bangku depan ruangan mereka. Axel bisa melihat jika Rey menatap Helena dengan tatapan memuja. Axel menggenggam tangannya kuat. William yang menyadarinya langsung melihat ke arah yang sedang dilihat oleh Axel. Dan William juga melihat Rey yang berbicara sambil menatap Helena dengan tatapan tak biasa.
"Anda tidak apa-apa, Tuan? Apa Anda cemburu?" goda William.
"Apa kau bilang? Aku cemburu. Itu konyol. Aku hanya tidak suka wanita yang sudah bersuami bersikap genit pada pria lain. Seharusnya dia bisa menjaga kehormatanku sebagai suaminya," ucap Axel kesal.
William hanya tersenyum.
"Kalau cemburu bilang bos," gumam William dalam hati.
"Aku tidak sabar menunggu hari esok datang," ucap Rey.
"Memangnya ada apa dengan besok, dokter Rey?" tanya Aisya penasaran.
"Karena besok kita ada jadwal shift malam, dan dokter Helena pasti akan memasak masakan yang lezat seperti biasanya. Aku sudah tidak sabar untuk menikmatinya," jawab Rey sambil terus melihat ke arah Helena.
Aisya tersenyum mendengar jawaban Rey, sedangkan Helena bersikap biasa saja sambil membaca laporan yang diberikan oleh perawat kepadanya.
"Dasar pria tak tahu diri. Beraninya dia menggoda istri orang," gumam Axel kesal.
William yang mendengarnya hanya bisa menahan tawanya. Aisya melihat ke arah Axel dan William.
"Helen, bukankah itu suamimu?" ucap Aisya sambil menunjuk ke arah tempat Axel berdiri.
Helena dan Rey mengikuti arah tunjuk Aisya. Helena terkejut, dia langsung berdiri dan berjalan mendekati Axel.
"Jadi itu suaminya dokter Helena?" tanya Rey.
"Benar. Dia adalah salah satu Tuan Muda di keluarga Alvaro. Cucu dari kakak perempuan dokter Narita," jawab Aisya.
Rey hanya menganggukkan kepalanya.
"Ada apa kau datang ke sini? Apa kau sakit?" tanya Helena.
"Aku ke sini menemui Oma Narita untuk memintakan ijin cuti untukmu. Malam ini kita berangkat ke Jerman. Ada undangan pertemuan bisnis yang harus aku hadiri. Dan aku harus hadir dengan membawa istriku. Karena istri kolegaku ingin berkenalan denganmu. Oma Narita sudah memberikan ijin, setelah pekerjaanmu selesai segeralah pulang dan bersiap," jawab Axel dingin.
"Baiklah," ucap Helena.
"Dan satu hal lagi. Kau di sini itu untuk bekerja bukan untuk menggoda pria lain," ucap Axel, lalu melangkah pergi meninggalkan Helena.
"Apa maksud ucapannya itu?" tanya Helena tak mengerti.
"Sabar ya Nona. Sepertinya Tuan Axel tidak suka melihat kedekatan Nona dengan dokter pria itu. Saya yakin di dalam hatinya sedang ada pertemuran antara rasa cemburu dan kesal," ucap William sambil terkekeh.
Helena terkekeh mendengar ucapan William dan Axel pun menyadarinya.
"William!" teriak Axel.
William segera berlari mengikuti langkah Axel. Sikap dingin Axel kepada Helena tidak luput dari perhatian mata Rey. Saat berpapasan dengan Rey, Axel memberikan tatapan tajamnya. Aisya sedikit bergidik melihat tatapan Axel. Sedangkan Rey yang menyadari jika tatapan itu ditujukan untuknya, hanya memberikan seringaian.
"Aku semakin bersemangat untuk merebut Helena darimu," batin Rey.
...🌹🌹🌹...
Tuh kan?! Ada yang sudah siap menunggu Helena menjadi jandanya Axel. Persiapkan dirimu ya Axel! 🤭
Baca juga baca novel pertama author :
"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"
Jangan lupa selalu dukung author dengan :
💫Tinggalkan comment
💫Tinggalkan like
💫Tinggalkan vote
__ADS_1
💫Klik favorite
Terima kasih🙏🥰