Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 66. My Queen


__ADS_3

Pangeran Aaron duduk santai menikmati kemeriahan pesta pernikahan Aiden dengan segelas wine yang ada di tangannya. Sedangkan ekor matanya tidak lepas dari sosok Azzura.


Philipe menghampirinya dengan tergesa-gesa.


"Maaf Pangeran. Yang Mulia Raja Jasper berada di kota Madrid, dan saat ini beliau sudah berada di kamar Anda dan menunggu kedatangan Anda," bisik Philipe.


Pangeran Aaron mendengus kesal.


"Mau apa dia jauh-jauh datang ke mari?" tanya Pangeran Aaron kesal.


"Sepertinya ini berhubungan dengan akan diadakannya pesta perayaan ulang tahun Anda yang ke-27. Dan rencana pemilihan calon istri untuk Anda yang akan dilakukan oleh Yang Mulia Ratu," jawab Philipe dengan hati-hati.


"Dasar iblis betina sialan! Setelah dia menyingkirkan ibuku, sekarang dia ingin mengatur hidupku!" ucap Pangeran Aaron geram.


Philipe hanya menarik napas panjang mendengar ucapan Pangeran Aaron.


Pandangan mata Pangeran Aaron terpusat pada Azzura. Tak lama kemudian dia menyunggingkan bibirnya. Philipe pun menyadarinya.


"Sepertinya Yang Mulia tertarik dengan Azzura," batin Philipe.


"Baiklah kita kembali ke hotel sekarang. Tapi sebelumnya kita berpamitan terlebih dahulu kepada Aiden dan istrinya," ucap Pangeran Aaron.


Pangeran Aaron dan Philipe akhirnya berpamitan dengan Tuan Arnold dan Nyonya Daisy, karena Aiden dan Emily sudah meninggalkan pesta terlebih dahulu.


Begitu tiba di depan kamarnya, ada dua orang pengawal istana yang sedang berjaga di sana. Mereka memberikan hormat kepada Pangeran Aaron dan memberitahukan kedatangan Pangeran Aaron kepada Raja Jasper.


Pangeran Aaron pun masuk dan memberikan hormat kepada Raja Jasper.


"Salam Yang Mulia Raja," seru Pangeran Aaron.


Raja Jasper hanya mengangguk.


"Duduklah," perintah Raja Jasper.


Pangeran Aaron segera duduk berhadapan dengan ayahnya, Raja Jasper.


"Ada kepentingan apa sampai Yang Mulia jauh-jauh datang ke sini untuk menemui saya?" tanya Pangeran Aaron dingin.


Raja Jasper menghela napas panjang. Pangeran Aaron selalu memberikan kesan dingin padanya, dan itu membuat hatinya sedih.


"Daddy mohon Nak. Daddy ingin berbicara denganmu sebagai ayah dan anak, bukan sebagai seorang raja," ucap Raja Jasper.


"Baiklah. Apa yang kepentingan apa Daddy menemuiku di tengah padatnya kesibukan Daddy sebagai seorang raja?" sahut Pangeran Aaron.


"Ini tentang pesta perayaan ulang tahunmu. Para pejabat pemerintah beserta para bangsawan terus mendesak dan mengajukan permintaan agar diadakan pemilihan calon istri untukmu," ucap Raja Jasper.


Pangeran Aaron tersenyum sinis.


"Apa semua itu atas perintah Ratu?" tanya Pangeran Aaron.


Raja Jasper terdiam.


"Jika Daddy memang menganggapku sebagai anak dan bukan sebagai pion untuk mempertahankan kekuasaan, seharusnya Daddy tahu bagaimana harus bersikap," ucap Pangeran Aaron.


"Bukannya Daddy menyetujui permintaan mereka, tapi Daddy juga ingin melihatmu bahagia Nak. Daddy ingin kau bisa bangkit kembali setelah kepergian Amarilys, tunanganmu. Daddy ingin kau memiliki pendamping hidup. Apa Daddy salah?" ucap Raja Jasper.


"Aku pastikan Daddy, aku akan menikah. Tapi tidak sekarang dan aku ingin memilih calon istriku sendiri," jawab Pangeran Aaron.


"Lalu kapan? Para pejabat dan bangsawan tidak akan tinggal diam begitu saja. Setidaknya kau sudah harus memiliki seorang wanita yang akan menjadi calon istrimu," tanya Raja Jasper.


"Beri aku waktu 2 tahun lagi. Karena wanita yang akan menjadi istriku saat ini harus fokus dengan pendidikannya. Aku ingin memiliki istri bukan hanya cantik, tapi juga cerdas. Sehingga dia tidak akan bisa dikendalikan oleh orang lain, terutama oleh Ratu dan anak buahnya," jawab Pangeran Aaron.


Raja Jasper melebarkan matanya dan tersenyum. Dalam hati dia sangat bahagia akhirnya putranya telah membuka hatinya kembali.


"Berasal dari bangsawan mana wanita itu?" tanya Raja Jasper.


Pangeran Aaron menyunggingkan bibirnya.

__ADS_1


"Dia bukan dari kalangan keluarga bangsawan. Apa itu akan menjadi masalah bagi Daddy?" tanya Pangeran Aaron.


Raja Jasper mengerutkan dahinya.


"Siapapun wanita yang menjadi pilihanmu, tidak akan menjadi masalah bagi Daddy. Hanya saja Daddy harus mempersiapkan diri jika ada pejabat dan bangsawan yang mengajukan penolakan. Karena bagaimana pun juga kita adalah keluarga kerajaan yang selalu dijunjung oleh rakyat kerajaan Monarc. Dan sebagai seorang ayah, Daddy akan berjuang untuk kebahagianmu," jawab Raja Jasper.


"Dia adalah Nona Muda Keluarga Morris," ucap Pangeran Aaron.


"Keluarga Morris? Maksudmu keluarga Mafia Red Dragon?" tanya Raja Jasper tak percaya.


"Daddy tahu tentang mereka?" sahut Pangeran Aaron.


"Siapa yang tidak tahu tentang nama besar Red Dragon? Tapi apa mereka setuju jika kita mempersunting putri dari keluarga mereka? Dan Daddy harap ini semua tidak ada hubungannya dengan perebutan tahta kerajaan Monarc, Aaron," ucap Raja Jasper.


Pangeran Aaron hanya tertawa.


"Aku bukan orang yang gila kekuasaan. Seharusnya Daddy tahu itu. Tahta kerajaan Monarc akan tetap menjadi hak kakakku, yaitu Pangeran Arthur. Dan sesuai dengan apa yang pernah aku ucapkan dulu, aku hanya akan terus menggunakan gelar pangeranku tanpa harus masuk ke dalam dunia politik kerajaan. Aku akan menjadi tameng raja selanjutnya dari luar dan secara diam, Daddy."


"Aku memilih Nona Morris, karena hanya dia yang bisa membantuku untuk mencapai tujuanku. Dan wanita seperti dia tidak akan bisa dikendalikan oleh siapapun, termasuk Ratu sekalipun. Aku pastikan Keluarga Morris akan menerima lamaran yang akan kita kirimkan dua tahun lagi," ucap Pangeran Aaron.


"Baiklah, Daddy menyetujui permintaanmu. Daddy akan berusaha mencegah semua rencana Ratu beserta para pejabat dan bangsawan. Terutama Bangsawan Dustin, yang sangat berambisi ingin menjodohkan putrinya, Nona Navier Dustin, denganmu," ucap Raja Jasper.


"Terima kasih, Daddy," ucap Pangeran Aaron sambil tersenyum tipis.


"Bolehkan Daddy mendapatkan pelukan darimu?" pinta Raja Jasper.


Pangeran Aaron berdiri dan memeluk ayahnya.


"Daddy sangat merindukan pelukanmu, Nak," ucap Raja Jasper haru.


Pelukan keduanya pun terurai.


"Daddy minta maaf atas semua yang menimpa ibu kalian. Daddy terlalu lemah untuk melawan orang-orang seperti mereka. Tapi Daddy telah berjanji pada mendiang ibu kalian, Daddy akan terus berjuang untuk kebahagiaan kalian. Meskipun sampai saat ini Daddy harus berpura-pura menjadi keledai yang bisa mereka atur seenaknya," ucap Raja Jasper sambil menitikkan air mata.


Pangeran Aaron menghapus air mata ayahnya dengan lembut.


Setelah pembicaraan antara ayah dan anak itu selesai, Raja Jasper segera pergi meninggalkan kota Madrid dan kembali ke kerajaan Monarc.


...*****...


Azzura keluar dari kamar mandi dengan menggunakan jubah mandinya sambil bersenandung.


"Aaaarrgghhh!" teriak Azzura saat melihat Pangeran Aaron duduk di atas sofa yang ada di kamar hotelnya.


"Apa yang kau lakukan di kamarku pria mesum?" bentak Azzura dengan kedua tangannya memegang jubahnya erat.


"Berisik! Bisakah kau pelankan suaramu? Kita bukan sedang di hutan," sahut Pangeran Aaron.


"Bagaimana kau bisa masuk ke dalam kamarku?Pergi kau dari kamarku! Atau aku akan mengadukamu pada keluarga Morris!" bentak Azzura.


"Adukan saja, supaya kita bisa segera dinikahkan," jawab Pangeran Aaron dengan santainya.


"A-apa kau bilang? Mimpi kau bisa menikah denganku!" ucap Azzura ketus.


Pangeran Aaron berdiri dan berjalan mendekat ke arah Azzura. Azzura pun menjadi gugup sehingga dia berjalan mundur. Namun keberuntungan tidak berpihak padanya, tubuhnya telah merapat dengan dinding.


"A-apa yang mau kau lakukan? Menjauhlah dariku!" ucap Azzura.


Pangeran Aaron semakin mendekat dan mengikis jarak diantara mereka.


"Aku datang ke sini karena aku menginginkan sesuatu darimu," ucap Pangeran Aaron sambil tersenyum.


Glek!


Azzura menelan salivanya kasar. Dia takut jika Pangeran Aaron berbuat macam-macam padanya. Meskipun dia berteriak sekalipun, keluarganya tak kan mendengarnya karena kamarnya kedap suara.


"A-apa yang aku inginkan?" tanya Azzura gugup.

__ADS_1


Pangeran Aaron mengambil sesuatu dari dalam saku celananya. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk bulat dan di tengahnya ada lambang singa jantan yang terbuat dari batu rubi.


"Ini adalah simbol gelar pangeran milikku. Aku ingin kau memakainya dan menyimpannya," ucap Pangeran Aaron sambil memakaikan kalung itu ke leher Azzura.


"Untuk apa?" tanya Azzura.


"Suatu saat nanti kau akan tahu. Pastikan kau selalu menjaganya dan jangan sampai hilang, my queen," bisik Pangeran Aaron.


Azzura membelalakkan matanya saat Pangeran Aaron memanggilnya dengan sebutan "my queen".


"Kalung ini sangat pas dan cocok untukmu," ucap Pangeran Aaron sambil tersenyum.


"Aku tidak mengerti apa maksudmu dan tujuanmu," sahut Azzura.


"Saat waktu telah tiba nanti kau pasti akan mengerti," jawab Pangeran Aaron.


"Besok pagi-pagi sekali, aku akan kembali ke kerajaan Monarc dan kita tidak akan bertemu dalam jangka waktu yang lama. Dan selama itu kau harus selalu menjaga pandangan matamu dan hatimu dari pria lain. Karena mata indahmu ini hanya boleh melihatku, dan hatimu hanya akan terisi oleh diriku. Ingat itu baik-baik," ucap Pangeran Aaron dengan tegas.


"Kau pikir siapa dirimu? Jangan mentang-mentang kau seorang pangeran kau bisa mengaturku seenakmu," ucap Azzura.


Pangeran Aaron tidak menjawab. Dengan cepat dia membungkam bibir Azzura dengan bibirnya. Kali ini dia mencium Azzura dengan sangat lembut sehingga membuat Azzura terbuai. Azzura merasakan kakinya melemas. Dengan sigap Pangeran Aaron merengkuh pinggang Azzura supaya dia tidak jatuh.


Setelah cukup lama, Pangeran Aaron melepaskan bibirnya dari bibir Azzura dan mengecup kening Azzura. Pangeran Aaron melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah pintu balkon kamar Azzura yang terbuka.


"Ingatlah semua perkataanku tadi, my queen."


Azzura terus menatap Pangeran Aaron tanpa bersuara.


"Semoga kau memimpikanku dengan indah," ucap Pangeran sambil mengerlingkan matanya.


Dan sekejam mata Pangeran Aaron pergi melalui balkon kamarnya. Azzura segera berlari ke balkon. Dia membulatkan matanya saat melihat kelincahan Pangeran Aaron memanjat dan melompat melewati beberapa kamar untuk kembali ke kamarnya.


"Apa pria itu setengah siluman? Baru kali ini aku melihat manusia memiliki keahlian seperti itu," gumam Azzura.


Azzura menyentuh bibirnya dan merasakan jantungnya berdegup kencang. Azzura segera menutup dan mengunci pintu balkon kamarnya. Lalu dia pergi ke depan cermin untuk melihat kalung yang diberikan oleh Pangeran Aaron.


"Kalungnya indah sekali," ucap Azzura sambil tersenyum.


"Tapi apa maksud ucapannya tadi?"


Azzura menghela napas panjang.


"Entahlah. Dia bilang kan suatu saat nanti aku akan tahu. Yang penting sekarang aku harus segera memakai baju tidurku dan menonton "BTS In The Soop". Maaf beribu maaf Pangeran Aaron, pandangan mataku tidak bisa teralih dari ketampanan ketujuh member BTS," ucap Azzura sambil tersenyum riang.


Azzura segera mengenakan piyama tidurnya dan membuka laptop untuk menyaksikan acara favoritnya itu.


Bersambung ....


...🌹🌹🌹...


Untuk kisah Azzura Morris dan Pangeran Aaron, author skip sampai di sini ya. Karena Author berencana akan membuat kisah mereka di novel yang berbeda.🥰


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2