
Clarissa's Cake 'n Bakery
"Kue red velvetnya satu!" seru David dan seorang wanita cantik secara bersamaan.
"Maaf Tuan dan Nona. Kue red velvetnya tinggal satu," ujar pelayan toko.
"Maaf Nona. Saya yang memesannya lebih dulu," ucap David berusaha ramah.
"Tidak bisa. Kue red velvet ini milikku. Sebaiknya kau memilih kue yang lain," jawab wanita itu dengan wajah judesnya.
David menatap kesal ke arah wanita berambut pink, memakai kaos ketat dan rok pendek selutut di hadapannya itu.
"Enak saja. Aku yang melihatnya lebih dulu, jadi kue ini milikmu."
"Hanya melihat saja, tapi kau belum membayarnya kan."
David dan wanita itu terus berdebat.
"Tuan dan Nona. Bisakah kalian berhenti berdebat? Kalian telah membuat para pelanggan yang lain menjadi tidak nyaman," tegur seorang pria paruh baya, yang tak lain adalah pemilik toko.
David dan wanita itu pun terdiam sambil menatap sekeliling mereka. Keduanya cukup malu karena menjadi pusat perhatian di toko kue tersebut.
"Di toko kami memiliki berbagai macam jenis kue. Kalian bisa memilih kue lezat kami yang lain dan tidak perlu memperbutkan kue red velvet ini," usul pemilik toko.
"Aku maunya kue red velvet ini!" tegas David dan wanita itu.
Keduanya saling menatap sengit. Pemilik toko menghela napas panjang sambil memijit pelipisnya. Lalu wanita itu menatap ke arah pemilik toko dengan wajah memelas.
"Tuan, aku mohon berikan kue red velvet ini padaku. Kasihanilah wanita hamil yang sedang mengidam ini," rayu wanita itu.
"Cih, sok drama," cibir David.
Wajah wanita itu terlihat semakin sedih, dia bahkan sampai menitikkan air mata di sudut matanya. Pemilik toko itu pun merasa iba.
"Tuan, saya mohon mengalahlah dengan Nona ini. Dia sedang hamil, dan kasihanilah bayi dalam kandungannya," mohonnya kepada David.
David menghembuskan napasnya kasar. "Baiklah, berikan kue ini padanya. Dan bungkuskan kue mississippi mud pie untukku."
"Baik Tuan. Pelayan, bungkuskan kue red velvet untuk Nona ini. Dan mississippi mud pie untuk Tuan ini."
"Thanks," ucap wanita itu dengan wajah sinisnya.
David mengabaikan ucapan wanita itu. Setelah membayar kuenya, David segera melenggang pergi meninggalkan toko. David masuk ke dalam mobil dengan sedikit membanting pintunya.
"Mengapa wajahmu masam seperti itu? Seperti wanita yang sedang PMS?" tanya Shane yang duduk di depan kemudi.
David memutar bola matanya dan menatap ke luar jendela.
"Gara-gara wanita itu, aku kehilangan satu-satunya kue red velvet yang tersisa di toko itu," gerutunya.
Shane mengikuti arah pandangan mata David.
"Wanita yang cantik dan menarik," puji Shane dengan mata nackalnya.
"Cih! Kau tidak tahu saja mulutnya itu sangat berbisa," sahut David membuat Shane tercengang.
Shane segera melanjukan mobil mereka menuju mansion Evan dan Jasmine.
"Apa kau yakin David? Suami Jasmine pasti tidak akan suka melihat kedatanganmu di mansion mereka," tanya Shane.
"Yah aku tahu. Tapi tekadku sudah bulat," jawab David.
David keluar dari mobil dengan membawa kue yang tadi dibelinya. "Kau mau ikut atau tetap tinggal di dalam mobil?"
Shane menghela napas panjang, kemudian ikut segera keluar. Keduanya melangkah memasuki halaman mansion, setelah meminta ijin terlebih dahulu kepada security.
"It's crazy, Bro. Pengamanannya ketat sekali. Para pria yang berjaga tadi itu tidak seperti security, tapi bodyguard," lirih Shane.
David sependapat. Di mansion keluarganya saja yang ukurannya lebih besar, sistem keamanannya tidak seketat itu.
"Permisi Tuan dan Nona. Di luar ada tamu," lapor Nyonya Matilda.
"Siapa tamunya, Nyonya Imelda?" tanya Hans.
"Ada dua orang pria. Mereka mengatakan jika mereka adalah teman Nona Jasmine. Salah satunya mengaku bernama David," jawab Nyonya Matilda.
"Mau apa pria itu datang kemari?" tanya Evan kesal.
Evan berdiri dan hendak menemui David, namun Axel langsung menahannya. "Sebaiknya kau ke kamar dan panggil Jasmine. Biarkan para executorku yang menghadapi kedua pria itu."
Evan menyerngitkan dahinya, namun ekspresi Axel sangat meyakinkan. Sehingga Evan pun segera pergi ke kamarnya.
Di ruang tamu, David dan Shane tercengang karena kedatangan mereka disambut oleh ketiga anak rupawan namun dengan tatapan sedingin gunung es. Baby Triplets duduk berjejer di depan mereka. David meletakkan kue yang dibawanya tadi di atas meja.
__ADS_1
"Apa suhu AC di ruangan ini sangat rendah? Tubuhku serasa menggigil," bisik Shane.
David hanya memaksakan senyumannya.
"Hai, anak-anak manis," sapa David sambil tersenyum, namun hanya mendapatkan tatapan tajam dari ketiganya.
Glek... (David meneguk salivanya)
"Jadi, kau pria yang berusaha menggoda aunty Jasmine?" tanya Arkana.
"Apa?" seru David.
"Apa telingamu tidak berfungsi dengan baik?" ucap Arshaka.
David dan Shane terbelalak, lalu saling berpandangan.
"Mmhh... Kenalkan aku David. Dan ini temanku, Shane," ujar David.
"Hai," sapa Shane.
"Kami adalah teman aunty Jasmine."
"Tidak mungkin. Teman-teman aunty Jasmine itu orang baik. Tapi kau, tidak. Karena kau sudah membuat aunty Jasmine dan uncle Evan bertengkar," ucap Arkana.
"Bu-bukan seperti itu anak manis."
"Aku bukan gula," sahut Arkana.
"OK. I'm sorry. Kedatangan uncle ke sini, karena uncle ingin meluruskan kesalahpahaman kepada uncle Evan. Supaya uncle Evan tidak marah lagi kepada aunty Jasmine." David berusaha menjelaskan.
Shane menggelengkan kepalanya mendengar ucapan David. Bagaimana bisa David mengatakan hal seperti itu kepada anak kecil. Shane mengambil minuman yang telah disajikan oleh Nyonya Matilda di atas meja dan meminumnya.
"Apa kau tidak laku?" seru Arsyilla.
"Uhukk..." Shane langsung tersedak dan menumpahkan sedikit minumannya.
"Hah?!"
"Aunty Jasmine sudah punya suami, yaitu uncle Evan. Mengapa kau masih mengejar aunty Jasmine? Pasti tidak laku ya," ejek Arshaka dengan tatapan merendahkan.
Shane tercengang dengan ucapan ketiga anak kembar itu. Sedangkan David terdiam dan berusaha mengontrol emosinya.
"Sial sekali nasibku hari ini. Tadi bertemu wanita berbisa di toko kue. Dan sekarang harus berhadapan dengan ketiga anak pelemah mental dan bermulut pedas," batin David.
"Apa kalian sudah selesai bersenang-senang, para kesayangan Daddy?" tanya Axel yang datang bersama Hans.
"Tidak terlalu, Dad. Dia itu pria lemah," jawab Arkana.
"Payah," sahut Arshaka.
"Tidak laku lagi," tambah Arsyilla.
Hans tidak bisa menahan tawanya. Sedangkan Axel tetap setia dengan wajah datarnya. David telihat memberikan tatapan tajamnya ke arah Baby Triplets yang berjalan meninggalkan ruang tamu.
"Beraninya kau memelototi anak-anakku seperti itu! Apa kau ingin matamu kucongkel satu per satu?" hardik Axel.
David langsung gelegapan. "Ternyata ayahnya lebih menakutkan lagi."
Axel dan Hans duduk menggantikan posisi Baby Triplets. David dan Shane serasa berada di depan para algojo.
"Kedatanganku ke sini hanya untuk menemani David saja. Tapi mengapa rasanya seperti sedang disidang karena telah melakukan tindak kriminal berat," batin Shane dengan wajah menyedihkan.
"Jadi, kau yang bernama David?" tanya Hans sambil menelisik David dari atas ke bawah.
"Benar. Namaku David," jawab David.
"Apa hubunganmu dengan ketiga pria yang berusaha mencelakai adikku, Jasmine?" tanya Axel secara langsung.
David menyerngitkan dahinya lalu menarik napas panjang.
"Aku tidak kenal dengan ketiga pria itu," jawab David.
"Aku berkata jujur. Aku benar-benar tidak mengenal siapa mereka," tambahnya saat melihat tatapan tak percaya Axel dan Hans.
"Lalu, bagaimana kau bisa tahu jika Jasmine sedang dalam bahaya? Mustahil, jika itu suatu kebetulan," cerca Hans.
"Baiklah, akan aku jelaskan kronologinya. Awalnya, aku tidak sengaja bertemu dengan Jasmine di lorong kampus arah menuju toilet. Kami sempat mengobrol sebentar, sebelum Jasmine akhirnya pergi menuju toilet. Tak selang berapa lama, ada beberapa mahasiswi berlarian dengan wajah ketakutan. Mereka mengatakan jika ada tiga orang pria asing berada di toilet wanita dan melarang siapapun untuk masuk."
"Aku ingat jika Jasmine tadi pergi ke toilet. Jadi tanpa berpikir panjang aku langsung berlari ke toilet karena cemas terjadi sesuatu kepadanya. Dan saat aku tiba, ketiga pria itu sedang berkelahi dengan Jasmine. Mereka berusaha mengeroyok Jasmine," terang David.
"Kalau kalian tidak percaya, kalian bisa memeriksa rekaman CCTV yang ada di sana," tambahnya.
"Rekaman CCTVnya mati semua di area itu, maksudnya sengaja dimatikan," sahut Hans.
__ADS_1
"Hah?!" seru David.
"Apa kau punya bukti kuat yang bisa meyakinkan kami?" tanya Axel.
David terdiam, kemudian menggeleng. "Aku tidak mempunyai bukti maupun saksi, karena saat itu hanya ada aku, Jasmine, dan ketiga pria tak dikenal itu. Tapi demi Tuhan, aku berkata jujur. Aku memang menyukai Jasmine sejak pertama aku melihatnya. Tapi aku masih waras. Aku tidak segila itu untuk menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya."
"Aku pegang kata-katamu. Jika aku tahu kau sampai berbohong, maka aku tidak segan-segan membuat O'Connell Cooperation rata dengan tanah," ancam Axel.
David dan Shane meneguk saliva mereka dengan kasar. David mengangguk pelan dan dalam hati bertanya-tanya siapakah gerangan pria yang berada di hadapannya saat ini.
"Bagaimana, Kak?" seru Evan yang sudah datang bersama Jasmine.
Evan sengaja memeluk pinggang Jasmine dengan posesif. Dia ingin menunjukkan kepada David, jika Jasmine hanyalah miliknya.
"Meskipun aku kesal dan kurang suka padanya, tapi dia berkata jujur," jawab Axel.
Evan dan Jasmine duduk dengan saling berdampingan.
"Sekali lagi aku ucapkan terima kasih David, karena kau datang tepat waktu untuk menyelamatkanku," ucap Jasmine tulus.
"Sama-sama," jawab David sambil tersenyum.
"Evan sayang," panggil Jasmine sambil melirik ke arah Evan.
Evan menghela napas panjang. "Terima kasih David. Terima kasih kau telah menyelamatkan istri beserta calon bayi kembar kami."
"Yah, sama-sama," ujar David sambil memaksakan senyumnya.
Tiba-tiba David terdiam dan mencerna ucapan Evan. "Tunggu sebentar. Calon bayi kembar? M-maksudmu Jasmine hamil?"
Evan mengangguk sambil tersenyum bangga. "Ya, Jasmine sedang hamil dan sebentar lagi kami akan mendapatkan dua malaikat sekaligus."
"Aku ucapkan selamat untuk kalian berdua. Semoga Jasmine dan kedua calon bayi kalian selalu sehat," ucap David sambil tersenyum tulus.
"Terima kasih," jawab Evan dan Jasmine.
"Dan kau Evan. Pastikan wanita ular itu menjauh dari Jasmine. Aku khawatir jika wanita ular itu berusaha untuk menyakiti Jasmine dan calon anak kalian," ujar David.
"Wanita ular?"
"Maksudku, wanita yang bersamamu di klinik kemarin. Aku melihatnya tersenyum senang melihat kalian bertengkar," jawab David.
Evan mengepalkan tangannya. "Kau tenang saja. Aku takkan membiarkan siapapun menyakiti istri dan calon anak kembar kami."
"Oh, ya. Aku tadi membawakan kue ini untuk kalian. Semoga kalian suka. Sebenarnya aku ingin membawakan kue red velvet, tapi sayangnya sudah habis," ujar David.
"Terima kasih banyak, David," ucap Jasmine sambil tersenyum. Berbanding terbalik dengan wajah kesal Evan karena cemburu, ternyata David mengetahui apa kue kesukaan Jasmine.
"Halo, semuanya," terdengar teriakan seorang wanita dari arah pintu.
Semua mata langsung tertuju pada wanita itu yang berdiri dengan senyum mengambang di bibir merahnya.
"Nayya!" seru Jasmine dan Hans.
David membelalakkan matanya begitu melihat wanita yang baru tiba itu. Wanita itu adalah wanita yang tadi bertengkar dan berebut kue red velvet dengannya.
"Nayya Franda Putra!" terdengar suara berat Axel yang menakutkan.
Wanita itu langsung menoleh ke arah Axel.
"K-kak Axel," ucap wanita yang dipanggil Nayya itu dengan bibir bergetar melihat tatapan mata elang Axel yang seakan ingin menerkamnya hidup-hidup.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel author lainnya:
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
__ADS_1
Terima kasih🙏🥰