
Emily menatap pantulan dirinya dari cermin yang ada di kamarnya. Emily tampak cantik dan menawan dengan balutan gaun pengantin berwarna putih bertabur mutiara dengan veil yang disematkan di bagian kepalanya dan buket bunga lily di tangannya. Keluarga Morris yang telah memesan gaun pengantin itu kepada salah satu designer terbaik yang ada di Jerman dan membutuhkan waktu selama 3 hari untuk menyelesaikannya. Emily masih tidak percaya jika akan menjadi Nyonya Aiden Ivander Morris.
"Apa kalian bahagia sekarang, Nak?" gumam Emily sambil mengusap perutnya.
Emily menutup matanya.
"Angela sayang. Mommy dan Daddy akan menikah dan hidup bersama selamanya. Mommy mohon saksikanlah ikatan suci kami dari sisi Tuhan ya sayang," batin Emily sambil membayangkan wajah Angela saat tersenyum.
Emily tersentak dan membuka matanya saat ada tangan yang menyentuh bahunya.
"Apa yang kau pikirkan, Em? Apa ada yang masih mengganjal di hatimu?" tanya Helena.
Emily tersenyum sambil menggeleng.
" Tidak, Helen. Tidak ada beban lagi yang aku rasakan. Aku sangat bahagia," jawab Emily.
"Syukurlah. Apa kau tahu, Em? Saat ini kau terlihat cantik bak bidadari. Jika Aiden melihatmu saat ini, pasti dia tidak akan bisa mengedipkan matanya," goda Helena.
Emily tersipu malu.
"Hai, kakak ipar," terdengar suara teriakan Azzura.
Azzura mengenakan gaun berwarna biru langit, pada bagian lengan berbentuk sabrina dan gaya rambut tatanan half unfo. Azzura sedikit berlari lalu memeluk Emily.
"Aku bahagia sekali, akhirnya Kak Emily menjadi kakak iparku," ucap Azzura.
"Azzura pelan-pelan. Kasihan keponakanmu yang ada di dalam perut Emily, dia nanti merasa sesak," tegur Helena.
"Ups. Maaf aku lupa, karena terlalu bahagia," ucap Azzura.
Azzura sedikit membungkuk dan mendekatkan wajahnya di perut Emily.
"Halo, keponakannya queen Azzura. Cepatlah besar ya. Nanti queen akan mengajakmu shopping setiap hari," ucap Azzura.
Helena dan Emily terkekeh.
"Memangnya kau yakin jika keponakanmu itu perempuan. Bagaimana kalau ternyata bayinya laki-laki?" goda Helena.
"Tidak apa-apa. Dia akan menjadi pria keturuan Morris yang tampan, gagah dan hebat," jawab Azzura.
"Kak Emily kau terlihat luar biasa. Kak Aiden sudah pasti tak akan bisa lagi melirik wanita lain," puji Emily.
"Terima kasih queen Azzura," ucap Emily dengan tersenyum.
Nyonya Lily berdiri di dekat pintu sambil tersenyum melihat aura kebahagiaan yang terpancar di wajah putrinya.
"Sayang, sudah saatnya kita berangkat ke gereja," ucap Nyonya Lily.
"Baik Mommy," jawab Emily.
Emily menarik napas panjang dan terlihat sedikit gugup.
"Tenanglah Em, jangan gugup. Raihlah kebahagiaanmu, sahabatku," ucap Helena sambil menggenggam tangan Emily.
"Terima kasih, Helen. Aku berangkat dulu ya," ucap Emily.
Helena mengangguk.
"Aku dan Axel akan menyambut kedatangan kalian di tempat pesta pernikahan kalian," sahut Helena.
"Ayo Kak. Aku akan menjadi bridesmaidmu dan Neil yang menjadi bestmannya kak Aiden," seru Azzura.
Keluarga besar Emily segera menuju ke gereja. Aiden, Neil dan keluarga besar Morris sudah menunggu pengantin wanita di dalam gereja. Aiden terlihat sangat tampan dan gagah dengan balutan setelan celana dan jas berwarna yang senada dengan gaun Emily. Terlihat sekali jika Aiden merasa gugup dan terus menghentakkan kakinya.
Neil tertawa geli melihatnya.
"Tenanglah Kak. Tidak perlu gugup seperti itu. Sebentar lagi Kak Emily juga datang," bisik Neil sambil meledek.
"Jangan meledekku Neil," ucap Aiden kesal.
Neil semakin terkekeh.
__ADS_1
Tuan Arnold mendekati putranya itu.
"Tenanglah Aiden. Pada saat kau menerobos masuk ke sarang Emily saja tidak gugup, mengapa sekarang jadi gugup?" ucap Tuan Arnold.
Aiden membelalakkan matanya.
Plak!!!
Tuan Zibber memukul kepala putranya.
"Auhh... Sakit. Mengapa Daddy memukul kepalaku?" tanya Tuan Arnold pada ayahnya.
"Jaga bicaramu. Kau harus ingat di mana kita berada sekarang!" ucap Tuan Zibber.
"Sayang ayo bersiap, keluarga Emily beserta Azzura sudah tiba di depan gereja," ucap Nyonya Daisy.
Aiden segera berdiri dan berjalan menuju altar.
Di luar gereja, Emily turun dari mobil dibantu oleh Tuan Thomas. Tuan Andrew sudah siap mengantarkan putri kesayangannya menuju altar. Emily berjalan menghampiri ayahnya. Tuan Thomas meneteskan air matanya, namun dengan segera dihapusnya.
"Apa kau sudah siap, sayang?" tanya Tuan Andrew.
"Emily siap Daddy," jawab Emily sambil tersenyum.
"Tunggu sebentar ya," ucap Tuan Andrew kemudian berjalan meninggalkan Emily.
Tuan Andrew berjalan ke arah Tuan Thomas.
"Ada apa Andrew? Apa ada lagi yang kau butuhkan?" tanya Tuan Thomas.
"Kau benar Thomas. Aku membutuhkanmu," jawab Tuan Andrew.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti," tanya Tuan Thomas.
Tuan Andrew mengulurkan tangannya.
"Ayo Thomas, kita antarkan putri kita ke altar bersama-sama," ucap Tuan Andrew.
"Terima kasih, Andrew," ucap Tuan Thomas.
"Sama-sama. Sebaiknya kita bergegas. Jangan sampai putri kita menunggu terlalu lama," jawab Tuan Andrew.
Emily menyeka air matanya. Dia sangat bahagia dan bersyukur karena Tuhan telah memberikan dua orang ayah yang sangat menyayanginya. Emily melingkarkan kedua tangannya ke tangan Tuan Andrew dan Tuan Thomas.
Terdengar suara musik pernikahan dimainkan dan dari arah pintu gereja Emily berjalan menuju altar diantarkan oleh kedua ayahnya. Aiden menatapnya tanpa berkedip dan beberapa detik berikutnya ada bulir air mata keluar dari pelupuk matanya. Aiden sangat bahagia. Aiden segera menyeka air matanya.
"Aiden. Kami serahkan putri kami padamu. Kami mohon bahagiakan dia," ucap Tuan Andrew.
"Dan jangan pernah kau sakiti hatinya," tambah Tuan Thomas.
"Terima kasih Tuan," ucap Aiden sambil meraih kedua tangan Emily.
Aiden dan Emily berdiri dengan saling berhadapan.
"Kau terlihat sangat cantik," ucap Aiden pelan.
"Kau juga sangat tampan," balas Emily sambil tersenyum malu.
Acara pemberkatan pun segera dimulai. Aiden dan Emily mengucapkan janji pernikahan mereka di hadapan pendeta dan keluarga besar mereka. Sang pendeta mempersilahkan Aiden untuk mencium pengantin wanitanya. Aiden mencium bibir Emily dengan lembut. Semua keluarga memberikan tepuk tangan dan saling memberikan ucapan selamat dan pelukan hangat.
...*****...
Axel dan Helena menyambut kedatangan pengantin baru itu di pesta yang dilakukan secara outdoor di hotel tempat Axel menginap. Tidak banyak tamu yang hadir, karena Aiden dan Emily hanya mengundang orang terdekat saja, mengingat waktu persiapan pernikahan mereka sangatlah singkat.
Aiden dan Emily sudah berganti baju. Aiden mengenakan setelah tuxedonya, sedangkan Emily mengenakan gaun panjang berwarna silver.
"Selamat Aiden dan Emily. Semoga kalian selalu diberikan kebahagiaan," ucap Axel.
"Terima kasih saudaraku," ucap Aiden sambil memeluk Axel.
"Selamat ya Emily, kau sudah resmi menjadi Nyonya Aiden Morris. Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu dan keluarga kecilmu," ucap Helena.
__ADS_1
"Terima kasih, Helen. Doa yang sama untukmu," ucap Emily.
"Ini hadiah pernikahan untuk kalian dari kami," ucap Axel sambil menyerahkan sebuah amplop.
"Terima kasih. Boleh aku buka sekarang?" tanya Aiden sambil tersenyum.
"Tentu saja," jawab Axel.
Aiden dan Emily membuka amplop itu dan keduanya melebarkan mata mereka.
"Tiket perjalanan honeymoon ke Amerika," seru Aiden tak percaya.
"Lebih tepatnya honeymoon dan babymoon," sahut Helena.
"Terima kasih banyak Axel dan Helena," ucap Aiden dan Emily bersamaan.
"Sama-sama. Semoga kalian menikmatinya," jawab Helena.
Aiden dan Emily juga menemui para tamu yang lain dan menerima ucapan selamat dari mereka. Azzura berjalan mendekati Axel dan Helena.
"Kak Axel, apakah Jasmine tidak datang? Aku sangat merindukannya," tanya Azzura.
"Jasmine memberikan salam padamu, dia minta maaf karena adikku itu tidak bisa datang," jawab Axel.
Azzura mendengus kesal.
"Padahal aku sangat mengharapkan kedatangannya. Ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padanya," ucap Azzura dengan wajah cemberut.
Axel dan Helena terkekeh melihatnya.
"Baiklah. Aku pergi ke toilet dulu. Perutku sedikit sakit, karena aku terlalu banyak makan tadi," ucap Azzura.
Azzura segera melangkahkan kakinya menuju toilet. Karena terburu-buru, Azzura kurang memperhatikan jalannya sehingga dia menabrak seorang tamu pria yang baru saja tiba.
"Hei, hati-hati kalau jalan. Kau taruh mana matamu itu?" bentak pria itu.
Azzura menajamkan matanya saat melihat pria yang telah membentaknya.
"Beraninya kau membentakku. Kau pikir siapa dirimu?" Azzura balas membentak.
"Beraninya kau meninggikan suaramu di hadapanku," sahut pria tak terima.
"Waktuku terlalu berharga untuk meladeni pria kasar sepertimu," ucap Azzura sambil melenggang pergi meninggalkan pria itu yang wajahnya semakin merah karena marah.
"Hei. Mau pergi ke mana kau? Dasar wanita bar-bar!"
"Ada apa pangeran?" tanya Philipe.
"Tidak apa-apa, Phil. Sebaiknya kita segera menemui Aiden dan mengucapkan selamat padanya," ucap Pangeran Aaron dingin.
Bersambung .....
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel pertama author :
"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰
__ADS_1