Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Season 2. Jasmine dan Kisah Cintanya 28 (The Result)


__ADS_3

Plak! Plak!


Tubuh Vicky jatuh ke lantai dengan ujung bibir yang mengeluarkan darah.


"Papa! Apa yang Papa lakukan?" tanya Nyonya Alya, ibu Vicky.


Nyonya Alya membantu putra kesayangannya itu untuk berdiri. "Kamu tidak apa-apa kan sayang?"


"Sakit Ma. Mengapa Papa tiba-tiba menyuruhku pulang? Dan sekarang Papa memukuliku dengan keras?" rengek Vicky sambil memeluk ibunya.


"Biarkan saja Ma. Anak ini memang harus diberi pelajaran. Bisanya hanya membuat susah keluarga," ucap Tuan Prawira.


"Mengapa Papa bicara seperti itu? Vicky ini anak kita Pa. Kalau ada masalah, bisa kita bicarakan dengan baik-baik," tanya Nyonya Alya.


Masuklah seorang wanita muda dengan dress super ketat ke dalam ruangan itu.


"Memangnya anak bodoh ini sudah membuat onar apalagi sih, Pa?" tanya seorang wanita itu sambil menjatuhkan pinggulnya di atas sofa.


Tuan Prawira menyugar rambutnya dengan kasar. "Gara-gara adikmu ini nama baik Papa dan keluarga kita bisa menjadi tercemar, Vika," jawab Tuan Prawira kepada putri sulungnya, Vika.


"Apa maksud Papa? Vicky tidak melakukan hal yang dapat mencemari nama baik Papa dan keluarga kita," sahut Vicky.


"Kalau begitu coba jelaskan kepada kami semua, bagaimana bisa ada video seperti ini?" teriak Tuan Prawira sambil menunjukkan video saat Vicky dan Ryan berada di club malam.


Bukan hanya mata Vicky yang terbelalak, tapi mata ibu dan kakaknya juga.


"Bagaimana mungkin?" gumam Vicky.


"Dasar anak bodoh. Bagaimana bisa kau menceritakan kebusukanmu dan terekam di video?" bentak Vika dengan wajah kesalnya.


"Papa dapat video ini dari mana? Ini saat aku dan teman-temanku bermain di salah satu club malam yang di London," tanya Vicky.


"Ada seseorang yang tidak Papa kenal mengirimkan video ini. Dan orang itu mengatakan jika kau harus bertanggung jawab atas perbuatan yang telah kau lakukan kepada gadis itu," jawab Tuan Prawira.


"Tidak Pa. Vicky tidak mau. Vicky mohon jangan biarkan masuk penjara Pa. Bukankah anak buah sudah membereskan masalah ini dan memastikan tidak akan ada jejakku yang tertinggal," ucap Vicky dengan wajah ketakutan.


"Mereka sudah membersihkan jejakmu. Tapi video ini bisa menjadi bukti kuat jika kau adalah pelaku pemerkosaan itu. Karena di dalam video ini kau telah mengakui perbuatanmu sendiri serta alasan mengapa kau melakukannya," ujar Tuan Prawira.


"Permisi, Tuan dan Nyonya. Ada tamu yang ingin bertemu," lapor seorang pelayan yang mengejutkan mereka.


"Siapa Bik?" tanya Nyonya Alya.


"Maaf Nyonya, saya kurang tahu. Mereka menunggu di ruang tamu," jawab si pelayan.


Tuan Prawira dan Nyonya Alya segera bergegas menuju ruang tamu. Vika dan Vicky mengikuti mereka dari belakang. Mereka cukup terkejut melihat kedatangan dua orang pria dengan setelan jas hitam.


"Selamat siang Tuan," sapa Tuan Prawira. "Siapa kalian? Dan apa mau kalian?"


"Selamat siang Tuan Prawira. Kami adalah orang kepercayaan dari Keluarga Alvaro, dan kebetulan sekali keluarga Anda dalam formasi lengkap saat ini," jawab Tuan Rino.


Tuan Prawira dan Nyonya Alya saling berpandangan.


"Keluarga Alvaro? Aku tidak ada urusan dengan keluarga Alvaro," ucap Tuan Prawira.


"Kami diperintahkan untuk membawa putra kalian, Vicky ke Jakarta untuk mempertanggung jawabkan perbuatan yang telah dia lakukan kepada gadis yang bernama Vira," ucap Tuan Rino.


"Lancang! Beraninya orang suruhan rendahan seperti kalian mau membawaku pergi dari sini!" bentak Vicky.


Vicky maju sambi mengepalkan tangan dan hendak memukul wajah Tuan Rino. Namun gerakan Bima jauh lebih cepat darinya.


Bugh... (Tubuh Vicky terpental dan jatuh ke lantai dalam keadaan pingsan).


"Vicky?" teriak Nyonya Alya.


"Beraninya kau memukul putraku?" bentak Tuan Prawira.


Tuan Rino melempar sebuah amplop besar ke atas meja.


"Silakan buka amplop ini kemudian lihat dan baca isinya. Kita lihat apa kau masih sanggup untuk membentak kami, Tuan Prawira," ucap Tuan Rino.


Tuan Prawira segera mengambil amplop besar itu dan membuka isinya. Wajahnya seketika menjadi tegang dan memucat saat mengetahui isi amplop itu.


"Bagaimana? Apa Anda masih sanggup untuk membentak kami?" ejek Bima.

__ADS_1


Tuan Prawira terdiam. Dia masih syok saat melihat bukti-bukti kejahatan yang telah dia lakukan selama ini, terutama tindak korupsi dan uang suap yang telah dia terima selama ini. Bahkan semua bukti kejahatan sek***l yang telah dilakukan oleh Vicky kepada beberapa gadis juga ada di sana. Vika dan Nyonya Alya tak kalah terkejutnya saat melihat semua bukti itu.


"Ini tidak baik, Pa. Kalau sampai bukti-bukti ini jatuh ke tangan polisi, keluarga kita bisa hancur. Pemerintah pasti akan menyita semua harta kita. Aku tidak mau menjadi orang miskin dan hidup menderita Pa," ucap Vika.


"Diam saja kau, Vika!" bentak Tuan Prawira.


Vika langsung terdiam sambil menggigit kuku jarinya.


"Dan ada satu lagi, Tuan," ucap Bima sambil menyodorkan sebuah amplop yang ukurannya lebih kecil.


"Apa ini?" tanya Tuan Prawira.


Tuan Prawira membuka amplop itu, dan tak lama kemudian dia memegang dadanya.


"Vika!" teriak Tuan Prawira.


"Mengapa Papa terus berteriak pada Vika?" tanya Vika kesal.


Plak!!


"Sejak kapan kau menjadi wanita murahan? Kau sampai hamil segala. Bahkan kau telah melakukan aborsi," tanya Tuan Prawira sambil melempar foto-foto adegan syur Vika dengan beberapa pria yang berbeda dan juga foto serta bukti saat Vika menggugurkan kandungannya di sebuah klinik.


Vika terduduk sambil menggelengkan kepalanya saat melihatnya. Nyonya Alya terus menangis sambil memegang dadanya mengetahui semua kejahatan suami dan anak-anaknya. Bima langsung menyeret tubuh Vicky.


"Apa yang kau lakukan? Lepaskan putraku!" teriak Nyonya Alya sambil memegangi kaki Vicky.


"Kami tidak punya banyak waktu. Kami harus segera membawanya ke Jakarta," sahut Bima sambil melepaskan tangan Nyonya Alya dengan paksa.


"Apa hubungan Keluarga Alvaro dengan gadis yang bernama Vira itu?" tanya Tuan Prawira.


"Karena kejahatan yang putramu lakukan telah menimbulkan kesalahpahaman besar. Dan buruknya, yang menjadi salah satu korban dari kesalahpahaman itu adalah anggota Keluarga Alvaro. Gadis yang bernama Vira, saat ini berada di bawah perlindungan Keluarga Alvaro," terang Rino.


"Sebaiknya kalian segera menyusul anak kalian ke Jakarta dan mempertanggungjawabkan perbuatan kalian. Jangan coba-coba untuk melarikan diri, karena dalam waktu kurang dari satu menit semua bukti-bukti ini akan tersebar ke seluruh sosial media. Dan kalian semua bukan hanya menjadi buronan nasional tapi buronan internasional," tambahnya.


Tuan Rino dan Bima segera membawa Vicky kembali ke Jakarta dan meninggalkan keluarga Tuan Prawira yang masih dalam keadaan syok berat.


...***...


Jasmine dan Hans melangkahkan kaki mereka dengan cepat saat telah berada di laboratorium. Evan, Sandy, Tuan Farhan, Pramudya dan Nabila sudah tiba lebih dahulu di sana. Bahkan Axel, Helena dan Tuan Zayn juga sudah berada di sana. Penampilan Evan saat ini terlihat sangat rapi karena dia tidak ingin Jasmine melihat keterpurukan yang dia rasakan beberapa hari ini.


Seorang perawat meminta mereka semua masuk ke dalam ruangan dokter yang melakukan tes DNA tersebut.


"Mari silakan masuk, Tuan dan Nyonya," ucap dokter itu yang diketahui bernama dokter Hendrawan.


Tuan Zayn dan Tuan Farhan duduk di kursi yang ada di depan meja dokter Hendrawan. Sedangkan yang lain berdiri di belakang mereka. Axel terus menggenggam tangan Jasmine.


"Terima kasih dokter. Bagaimana dengan hasil tes DNA-nya?" tanya Tuan Zayn.


Dokter Hendrawan segera mengambil dan membuka amplop yang masih bersegel, kemudian mengeluarkan hasil tes DNA Evan dengan cairan yang ada di sprei kamar hotel itu. Dokter Hendrawan menarik napas panjang sebelum memberitahukan hasilnya.


"Hasil tes DNA dari saudara Evander Sahir dengan cairan tersebut adalah 99,99% tidak cocok. Itu artinya cairan itu bukanlah milik Tuan Evander Sahir," terang dokter Hendrawan.


"Alhamdulillah." Evan langsung melakukan sujud syukur.


Tuan Farhan turun dari kursi dan memeluk putranya. Keduanya berpelukan sambil menangis. Jasmine juga langsung memeluk kakaknya sambil menangis bahagia. Sedangkan Pramudya hanya diam tanpa ekspresi. Hatinya berkecamuk, dia tak tahu harus merasa senang atau tidak. Nabila terus menggenggam tangan Pramudya untuk menguatkan sahabatnya itu.


Mereka segera mengambil hasil tes DNA itu dan keluar dari ruangan dokter Hendrawan.


"Evan," panggil Jasmine.


Evan membalikkan badannya dan Jasmine langsung memeluknya.


"Syukurlah kau tidak menodai gadis itu," lirih Jasmine sambil terisak.


Evan tersenyum. "Aku juga sangat bersyukur, my sunshine."


Jasmine mengurai pelukannya. "Aku minta maaf karena aku telah meragukanmu."


Evan menghapus air mata Jasmine dengan lembut.


"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Aku yang seharusnya meminta maaf karena tidak mendengarkan nasihatmu untuk selalu berhati-hati," ucap Evan dengan lembut.


Jasmine dan Evan saling melempar senyum mereka.

__ADS_1


"Sebaiknya kita segera menikahkan mereka, Tuan Farhan. Saya tidak mau putra Anda terus menerus mencari keuntungan dengan menyentuh putri saya," ucap Tuan Zayn.


"Anda benar sekali, Tuan Zayn. Saya juga tidak mau calon menantu kesayangan saya disentuh-sentuh seperti itu," sahut Tuan Farhan.


Evan dan Jasmine langsung tersadar dan saling menggeser tubuh mereka agak berjauhan.


"Maaf Tuan Zayn. Yang memeluk terlebih dahulu kan Jasmine, bukan saya," elak Evan sambil tersenyum.


"Sama saja. Kau tidak menolak dan menghindar," ucap Tuan Zayn.


"Mana mungkin saya menolak rejeki, Tuan," jawab Evan terkekeh sambil menatap wajah Jasmine yang memerah karena malu.


"Dasar calon menantu tidak ada akhlak," ejek Hans.


"Mengapa kau marah Hans? Apa kau cemburu? Apa kau patah hati karena aku dan Evan tak jadi berpisah?" tanya Jasmine.


"Tentu saja. Bagaimana aku tidak patah hati, satu sahabatku sudah sold out dan satunya lagi menuju sold out. Aku akan menjadi satu-satunya jomblo ngenes diantara kita bertiga," jawab Hans dengan wajah kesalnya.


"Kasihan sekali adik tampanku ini," goda Helena.


"Kakak," rengek Hans sambil memeluk Helena manja.


Axel segera menarik tubuh Hans dari pelukan istrinya. "Jangan lama-lama. Hanya aku dan Triplets A yang boleh memeluk Helena sesuka hati."


"Ish, kakak ipar yang posesif dan pelit," cibir Hans.


Axel tidak menggubris cibiran Hans dan memeluk Helena dengan erat di depan semua orang. Pramudya dan Nabila mendekati Evan dan Jasmine.


"Evan, aku minta maaf karena menuduh dan menganggapmu sebagai pria yang telah menodai adikku, Vira," ucap Pramudya.


"Sudahlah Pram. Yang penting bagiku saat ini aku telah membuktikan kepada diriku sendiri dan semua orang bahwa bukan aku yang telah menodai adikmu," jawab Evan.


"Aku berencana akan membawa Vira kembali ke Batam. Aku tidak ingin merepotkan kalian lagi," ujar Pramudya.


"Tidak Pram. Perawatan Vira akan tetap dilakukan di rumah sakitku sampai dia sembuh," ucap Helena.


"Apa yang dikatakan istriku benar, adikmu akan mendapatkan perawatan yang terbaik di sini," sahut Axel.


"Tapi kalian sudah terlalu banyak membantu dan kami juga sudah terlalu banyak membebani kalian," ucap Pramudya.


"Kau tidak perlu memikirkannya. Kami sangat ingin melihat Vira segera sembuh," ucap Helena.


Pramudya dan Nabila saling berpandangan, mereka bingung harus berkata apalagi.


"Kau tidak perlu khawatir Pram. Vira akan tetap melakukan perawatan di rumah sakit sampai dia sembuh. Dan tak lama lagi kau akan bertemu dengan pria yang telah menjahati Vira," ucap Jasmine.


Pramudya dan Evan melebarkan


"Apa maksudmu?" tanya Pramudya.


"Saat ini Paman Rino dan Bima sedang dalam perjalanan dari Batam menuju ke sini dengan membawa pelaku yang sebenarnya," jawab Jasmine sambil menyeringai.


Bersambung ....


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel author lainnya:


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. I'm The Unstoppable Queen


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2