Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Season 2. Jasmine dan Kisah Cintanya 58 (Tawaran)


__ADS_3

Marco sedang membantu Putri menggoreng telur, sedangkan Putri sedang membuat nasi goreng sebagai sarapan pagi mereka. Keduanya memasak bersama setelah selesai membersihkan rumah.


"Sayang, telurnya sudah matang. Apalagi yang bisa aku bantu?" tanya Marco.


"Tidak ada. Sebentar lagi nasi gorengnya matang. Sebaiknya kau bersiap-siap saja suamiku, jangan sampai terlambat datang ke tempat kerja," jawab Putri.


Marco selalu mengulum senyum bahagia setiap mendengar Putri memanggilnya dengan sebutan suamiku.


"Mengapa kau malah senyum-senyum seperti itu? Cepatlah bersiap atau kau akan benar-benar terlambat nantinya," oceh Putri.


Bukannya segera pergi, Marco malah memeluk Putri dari belakang. "Rasanya aku tidak ingin ke mana-mana hari ini. Aku tidak ingin berjauhan darimu, sayang."


Putri terkekeh. "Dasar bapak tiga anak, masih saja sok manja seperti pemuda ingusan."


"Yah kan aku masih ingin menikmati momen bulan madu kita," rengek Marco dengan manjanya.


"Ish kau ini. Sebentar lagi Papa, Ibu dan anak-anak akan datang. Jangan seperti ini, malu kalau dilihat mereka," ujar Putri sambil menahan malu.


"Aku yakin mereka pasti sangat bahagia melihat keromantisan kita."


"Tapi makanan dan kebutuhan kita tidak akan terpenuhi dengan sendirinya," sahut Putri sambil mematikan kompornya


Marco melepaskan pelukannya supaya Putri bisa meletakkan nasi goreng buatannya di atas piring. Marco duduk di depan meja makan sambil menghela napas dan raut wajahnya berubah.


"Aku minta maaf sayang. Aku masih belum bisa memberikan nafkah yang layak dan kehidupan yang baik untuk kalian."


Putri duduk di samping Marco. "Jangan bilang seperti itu sayang. Kau adalah suami sekaligus ayah yang baik dan luar biasa. Sesulit apapun kondisi keluarga kita, kau tetap bertahan bersama kami. Aku yakin Tuhan pasti akan memberikan jalan supaya kau bisa mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan rejeki yang lebih berkah lagi untuk keluarga kecil kita."


"Terima kasih ya sayang." Marco mencium tangan istrinya dengan lembut.


Hari itu Marco pulang kerja lebih awal, karena dia sudah memenuhi target pengiriman. Marco bekerja dengan penuh semangat. Saat tiba di rumah, Marco dikejutkan dengan Aslan yang menangis di dalam kamar. Marco langsung menggendongnya.


"Mengapa Aslan menangis?" tanya Marco.


Putri hanya tersenyum kikuk.


"Hai jagoan Daddy. Mengapa kau menangis, sayang?" tanya Marco kepada putra bungsunya itu.


"Atan atian tama Mommy. Badan Mommy meyah-meyah. Mommy dijijit montel," jawab Aslan sambil terisak.


Marco menyerngitkan dahinya, dan menatap Putri bingung. Putri membuka sedikit bajunya dan menunjukkan banyak tato hasil buatan Marco semalam. Marco membelalakkan matanya.


"Tadi kami mandi bersama, dan aku melupakan stempel-stempel ini," ucap Putri.


Marco bukannya menyesal dan malah tertawa.


"Daddy kok tetawa. Daddy cahat. Atian Mommy. Huaaaa...!" Aslan menangis semakin kencang.


"Daddy minta maaf sayang. Jangan menangis lagi ya. Daddy juga kasihan sama Mommy. Daddy nanti akan memberikan obat untuk Momnya, dan Mommy akan segera sembuh," bujuk Marco.


"Benal Daddy?"


"Benar Aslan sayang," jawab Marco. "Ya kan, Mommy?"


Marco menatap ke arah Putri. Putri menghapus jejak air mata putranya sambil tersenyum.


"Ya Daddy benar sayang. Mommy pasti akan segera sembuh setelah diberi obat. Aslan sekarang bermain dengan Kak Deniz dan Kak Miya ya," ucap Putri.


Bocah tampan itupun tersenyum, kemudian mencium Daddy dan Mommy nya secara bergantian sebelum keluar dari kamar.


"Aku minta maaf ya," ucap Marco sambil tersenyum.


Putri memutar bola matanya. "Terlihat sekali minta maafnya tidak tulus. Padahal aku sudah sangat malu di depan putraku sendiri karena ulahmu."


"Ya mau bagaimana lagi sayang, karena sejujurnya aku memang tidak menyesal sama sekali. Malah ingin mengulanginya lagi," jawab Marco sambil tersenyum nakal.


"Pergi mandi sana. Kau bau," ucap Putri kesal.


"Mandi bareng yuk," ajak Marco.


"Aku sudah mandi. Sana mandi sendiri saja."

__ADS_1


Marco menunjukkan wajah memelasnya. "Aku mohon sayang."


"Tidak perlu berwajah seperti itu. Apa kau tidak tahu situasi dan kondisi? Anak-anak masih terjaga," ucap Putri sambil melempar handuk ke wajah Marco.


"Berarti nanti malam begadang ya setelah anak-anak tertidur," ucap Marco dengan penuh semangat.


Putri langsung tersipu malu. "Sudah mandi sana."


Putri segera keluar dari kamar, sebelum kemesuman Marco semakin meningkat. Marco tertawa keras melihat istrinya yang tersipu malu.


"Marco, Putri. Ada yang ingin Papa sampaikan kepada kalian. Uncle Sam menawari Papa untuk bekerja di tempat kerjanya," ucap Tuan Frans saat mereka sedang bersantai di ruang keluarga.


Marco dan Putri terkejut.


"Tapi Pa, bukankah Papa sudah disibukkan dengan mengolah ladang gandum? Mengapa Papa masih ingin bekerja lagi di luar?" tanya Putri.


"Perekonomian keluarga kita kan sedang tidak baik-baik saja. Hasil panen kita kemarin juga kurang bagus. Papa kasihan jika Marco harus banting tulang sendiri untuk memenuhi kebutuhan kita semua," jawab Tuan Frans.


"Papa tidak perlu merasa seperti itu. Marco masih sanggup Pa. Dan Marco berjanji akan mencari pekerjaan yang lebih baik lagi. Marco tidak ingin Papa sampai jatuh sakit nantinya," ucap Marco.


"Suamiku benar Pa. Putri juga tidak mau terjadi sesuatu sama Papa nantinya. Papa tidak perlu khawatir, Putri juga akan mencari pekerjaan," sahut Putri.


"Tidak sayang. Aku tidak setuju. Kalau kau juga bekerja, bagaimana dengan anak-anak? Aku minta maaf, aku tidak memberimu ijin untuk bekerja, termasuk juga Papa. Sudah menjadi tugasku untuk mengurus kalian semua, karena kalian adalah keluargaku," tegas Marco.


Putri sangat terharu. Marco adalah pria terbaik yang telah Tuhan berikan padanya. Dan kebersamaan mereka dikejutkan oleh kedatangan keluarga kecil Axel dan Jasmine. Marco dan keluarganya menyambut kedatangan para Alvaro itu dengan senang hati.


"Maaf jika kedatangan kami mengganggu waktu bersantai kalian," ucap Axel dengan wajah datarnya.


"Kalian tidak mengganggu sama sekali. Justru kami sangat senang karena kalian telah berkenan untuk datang ke rumah kami yang kecil ini. Silakan duduk," ujar Marco.


Putri mengajak Helena, Jasmine dan Baby Triplets ke ruang keluarga. Sedangkan para pria berbincang di ruang tamu. Bu Farah (ibu tiri Putri) menyiapkan minuman dan makanan ringan untuk tamu mereka.


"Baiklah, aku tidak akan berbasa-basi lagi, Marco," ucap Axel.


Marco menyerngitkan dahinya. "Ada apa Axel? Apa ada masalah? Atau keluargaku masih memiliki masalah denganmu?"


Marco khawatir jika Axel masih menyimpan dendam dengan Putri.


"Buang jauh-jauh pikiran burukmu itu."


"Aku datang ke sini karena berniat untuk menawarimu untuk bekerja di perusahaan kami."


"A-apa kau serius?"


Axel mengangguk.


"Tapi, bagaimana mungkin Tuan Besar Alvaro akan menerimaku bekerja di Alvaro Group? Mengingat apa yang terjadi di masa lalu."


"Bukan di Alvaro Group. Tapi di perusahaan baru kami. Aku dan Hans membangun perusahaan kami sendiri, dan kami berdua yang memimpin perusahaan itu bersama-sama. Ada posisi sebagai manager dan beberapa divisi yang masih kosong. Mungkin saja kau berminat," terang Axel.


Marco tersenyum senang. "Tentu saja aku berminat. Mana mungkin aku menyia-nyiakan kesempatan besar ini."


Axel menyerahkan sebuah kartu nama, yang bertuliskan AH Corps.


"Besok pagi datanglah ke perusahaan kami dengan membawa surat lamaran. Dan kau harus tahu Marco, kau juga harus mengikuti seleksi seperti calon pegawai yang lain. Kau harus lolos seleksi wawancara agar bisa bergabung dengan perusahaan kami," ucap Axel.


"Aku mengerti, Axel. Aku akan bersikap profesional dan mengikuti prosedur yang ada," ujar Marco.


"Saranku, sebaiknya kau harus mempersiapkan mental untuk wawancara besok. Karena yang akan mewawancaraimu bukanlah orang sembarangan," ucap Axel sambil menyeringai.


Marco mengerti maksud dari ucapan Axel. Bisa dipastikan bukan Axel atau Hans sendiri yang akan mewawancarai dan menyeleksi para calon karyawan baru.


"Kau tidak perlu khawatir. Aku akan berusaha sekuat tenaga dan semampuku," ucap Marco dengan penuh semangat.


"Bagus. Memang harus seperti itu. Semangat mencari nafkahmu jangan sampai kalah dengan semangatmu untuk menghadirkan anak keempat."


Marco membelalakkan matanya. Gelak tawa menguar dari bibir Tuan Frans dan Evan yang membuat Marco tersenyum malu.


Di ruang keluarga, Baby Triplets bermain dengan riang bersama Deniz, Miya dan Aslan. Deniz terlihat sedang berebut sebuah buku dengan Aslan.


"Aslan, ayo kembalikan. Ini kan buku Mommy, nanti rusak," ucap Deniz sambil merebut buku itu dari tangan adiknya.

__ADS_1


Aslan hendak menangis, namun Arkana memberinya lolipop sehingga dia tidak jadi menangis.


"Deniz, buku apa itu? Apa aunty boleh meminjamnya?" tanya Jasmine.


"Ini buku gambar Mommy, aunty. Mommy sangat pintar menggambar," jawab Deniz sambil menyerahkan buku itu kepada Jasmine.


Jasmine membuka buku itu dan melihat gambar yang Putri buat satu per satu.


"Jasmine?" tegur Putri.


"Maaf ya aku melihatnya tanpa meminta ijin padamu," ucap Jasmine.


"Ah, itu tidak apa-apa. Aku hanya malu saja, kau melihat gambar jelekku ini," sahut Putri malu.


"Jelek kau bilang? Ini gambar animasi yang bagus sekali. Apa kau seorang animator?" tanya Jasmine.


"Bukan. Aku hanya menggambar sebagai hobby saja untuk menghilangkan rasa kebosanan dan di saat ada waktu senggang," jawab Putri.


"Kau dulu mengambil jurusan design grafis, bukan?" tanya Helena.


Putri mengangguk.


"Apa kau mau menjadi Animator dan Video Editor di perusahaanku?" tanya Jasmine.


"A-apa kau bilang? Menjadi Animator dan Video Editor?"


Putri tak percaya namun juga bahagia. Namun kebahagiaannya tak bertahan lama.


"Ada apa? Apa ada masalah?" tanya Jasmine yang memyadari perubahan wajah Putri.


Putri menggeleng.


"Itu adalah pekerjaan yang sangat bagus. Aku juga sangat berterima kasih karena kau telah berbaik hati menawariku untuk bekerja di perusahaanmu. Tapi, suamiku tidak mengijinkanku untuk bekerja. Ketiga anak kami masih sangat membutuhkanku," jawab Putri.


Jasmine tersenyum.


"Kau membuatku terkesan, Put. Kau sangat mengutamakan keluargamu," ucap Jasmine.


"Tentu saja. Aku tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang telah Tuhan berikan padaku merasakan memiliki sebuah keluarga. Dan aku tidak ingin anak-anakku kehilangan kasih sayang seorang ibu," ucap Putri sambil tersenyum getir.


"Kau ibu yang baik, Putri. Aku bangga padamu," ucap Helena sambil menyentuh bahu Putri.


"Terima kasih. Aku juga telah banyak belajar darimu Helen," ucap Putri.


Jasmine terlihat sedang memikirkan sesuatu.


"Bagaimana jika kita menjalin hubungan kerja sama saja? Kami akan mengontrakmu untuk menjadi Animator dan Video Editor untuk Javander Architecture. Kau bisa bekerja dari rumah sehingga kau bisa tetap mengurus dan menjaga anak-anakmu. Kau juga tidak perlu untuk datang ke kantor. Kau hanya akan datang jika kami membutuhkanku di dalam rapat yang melibatkan pekerjaanmu. Bagaimana?"


"Itu bagus sekali, tapi aku akan meminta ijin suamiku terlebih dahulu," ucap Putri.


"Tentu saja. Kau bisa membicarakannya dengan Marco dan mempertimbangkannya," sahut Jasmine.


Bersambung ....


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel author lainnya:


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. I'm The Unstoppable Queen


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖

__ADS_1


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2