
Sinar mentari pagi yang hangat mulai menelusuk masuk ke dalam kamar Axel dan Helena. Axel dan Helena menginap di The Dolder Grand Hotel, salah satu hotel termewah yang ada di kota Zürich. Terlihat Helena sedang duduk sambil bermalas-malasan di atas sofa panjang yang empuk, setelah dia menghabiskan hidangan sarapannya.
Axel ikut naik ke atas sofa dan memeluk Helena dari belakang. Dengan nakalnya, Axel mulai menc**m leher jenjang Helena yang masih penuh dengan bekas stempel cintanya, sedangkan tangan Axel mulai bergerilya menjelajah.
"Xel, hentikan!" protes Helena.
Axel berhenti sambil tersenyum melihat wajah Helena ditekuk.
"Ada apa, El? Mengapa wajahmu ditekuk seperti itu?" tanya Axel lembut.
"Badanku lelah sekali. Sejak kemarin kau telah menyentuhkan sampai puluhan kali. Aku sampai susah untuk berjalan sekarang," ucap Helena kesal.
"Apalagi kau sering meminta gaya men*******g. L-Na sampai sakit dan perih," keluh Helena.
Axel mengingat kembali saat keduanya sedang memadu kasih, dan untuk pertama kalinya dia mencoba gaya men*******g.
"Apa yang kau lakukan, Xel?" protes Helena saat Axel membalikkan tubuhnya.
"Kita coba gaya baru, El," ucap Axel penuh semangat.
X-Lo menyapa L-Na dari b*****ng.
"Sstttt... sakit, Xel," keluh Helena.
"Tahan sebentar El, rasa sakitnya hanya sebentar. Aku janji," ucap Axel.
Axel menepati ucapannya. Rintihan sakit Helena berubah menjadi d*****n yang terus mengalun indah di telinga Axel.
Axel tersenyum bahagia saat mengingatnya. Gaya itu menjadi salah satu gaya favorit Axel saat bertempur.
"Rasa sakitnya kan tidak sebanding dengan rasa n*km*tnya, El. Benarkan?" goda Axel.
"Tapi pinggangku rasanya mau patah, Xel. Badanku pegal-pegal semua," ucap Helena sambil mengerucutkan bibirnya.
Tok... Tok... Tok...
Axel segera bangkit untuk membukakan pintu.
"Selamat pagi Tuan. Saya mengantarkan pesanan Anda. Mereka berdua dari klinik kecantikan terbaik di kota ini," ucap Tania.
"Bagus. Suruh mereka masuk," perintah Axel.
Ada dua orang wanita paruh baya masuk ke dalam kamar Axel.
"Permisi, Tuan," ucap mereka.
Axel hanya mengangguk.
Helena melihat dua orang wanita masuk dan berdiri di hadapannya.
"Selamat pagi, Nyonya," sapa dua wanita itu ramah.
"Selamat pagi," jawab Helena.
Axel berdiri di samping Helena.
"Siapa mereka, Xel?" tanya Helena bingung.
"Mereka adalah orang yang akan memanjakan tubuhmu," jawab Axel lembut sambil mengelus rambut Helena.
Helena menyerngitkan dahinya tak mengerti.
"Nyonya-nyonya, tolong manjakan tubuh istri saya. Berikan pijatan, pelayanan dan perawatan terbaik untuknya dari ujung rambut sampai ujung kaki," ucap Axel.
Helena membulatkan matanya.
"Siap Tuan. Kami pasti akan memberikan pelayan terbaik untuk istri Anda. Kami pastikan Tuan dan Nyonya tidak akan kecewa," ucap salah satu dari kedua wanita itu.
"Apa kau senang?" tanya Axel pada Helena.
"Sangat. Terima kasih ya, Xel. Aku tidak menyangka jika kau akan membawakan orang dari klinik kecantikan ke sini untukku," ucap Helena haru sambil memeluk Axel.
"Ucapan terima kasihnya nanti malam saja. Berikan aku servis terbaikmu nanti malam," bisik Axel.
Wajah Helena langsung merona dengan mata membulat. Axel terkekeh melihatnya.
Axel mengecup pucuk kepala Helena, lalu melangkah pergi keluar dari kamar. Sedangkan Helena langsung menikmati pelayanan dari klinik kecantikan yang memanjakan tubuhnya.
"Bagaimana Will? Apa ada perkembangan? Bicara santai saja, Will," tanya Axel kepada William melalui panggilan video.
"Semua berjalan sesuai rencana. Marissa sangat ketakutan. Saat ini dia sudah kembali ke apartemen. Marissa mengecek di setiap sudut ruangan untuk memastikan tidak ada kamera yang terpasang di sana," jawab William sambil terkekeh.
"Bagus. Terus saja kirimkan video itu padanya. Juga foto-foto mesranya bersama Javier yang dikirimkan oleh Jasmine. Aku yakin dia pasti akan semakin ketakutan dan berusaha menghilangkan barang bukti," sahut Axel sambil menyeringai.
"Setiap hari Marissa memata-matai mansion kalian. Dia bahkan seperti orang gila mencari di mana keberadaanmu dan Helena," ucap William.
"Apa ada hal yang mencurigakan?" tanya Axel lagi.
"Kemarin Marissa terlihat menghubungi seseorang menggunakan ponselnya yang lain. Sayangnya kami belum berhasil meretas ponsel itu," jawab William.
"Aku yakin tidak lama lagi, orang yang berada di belakang Marissa pasti akan menunjukkan batang hidungnya. Tetaplah waspada. Jangan sampai kalian terkecoh, karena orang itu pasti licik sekali," ucap Axel.
"Tentu saja, kami akan selalu waspada."
"Bagaimana dengan bulan madu kalian? Semuanya lancar tanpa hambatan kan?" tanya William dengan nada menggoda.
"Tidak perlu dipertanyakan lagi. Bahkan hari ini Helena sampai kesulitan saat berjalan," ucap Axel dengan bangganya.
__ADS_1
William tertawa.
"Jangan terlalu kasar, Xel. Kasihanilah istrimu itu," ucap William.
"Ya mau bagaimana lagi, dia sudah menjadi canduku," sahut Axel santai.
"Baiklah kalau begitu, silakan dilanjutkan acara siram menyiramnya. Jika ada info terbaru, aku akan langsung menghubungimu," ucap William.
"Terima kasih, Will," ucap Axel.
Axel segera mengakhiri panggilan video mereka. Kemudian Axel mencari informasi tentang Javier Alonso. Axel tersenyum senang saat mengetahui kekacauan yang ada terjadi di JA Cooperation dan beberapa casino milik Javier.
"Adikku memang luar biasa," puji Axel dengan bangga.
...*****...
Di lorong sebuah bangunan apartemen mewah yang ada di ibukota, terlihat Marco sedang berjalan dengan gontai. Sebelumnya Marco mendapatkan informasi tentang orang yang telah mengadopsi putrinya tinggal di penthouse yang ada di sana.
Saat Marco tiba di sana, ternyata penthouse itu kosong. Pemilik penthouse sedang melakukan perjalanan ke luar negeri. Harapan Marco untuk bertemu putrinya pun pupus kembali.
Marco tidak sengaja menabrak seseorang pria.
"Maafkan saya Tuan. Saya tidak sengaja," ucap Marco sambil sedikit menunduk.
"Marco?!" seruan dari pria itu.
Marco menengadahkan wajahnya.
"Jacob?" sahut Marco.
"Iya ini aku Jacob. Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau juga tinggal di sini?" tanya pria yang bernama Jacob.
Jacob adalah salah satu teman kuliah Marco.
"Tidak. Ceritanya panjang," jawab Marco.
"Kalau begitu ikutlah denganku. Kau terlihat kacau sekali," ajak Jacob.
Marco pun menerima ajakan temannya itu.
"Mengapa kau mengajakku ke sini?" tanya Marco yang saat ini berada di sebuah club.
Marco merasa kurang nyaman berada di tempat seperti itu, mengingatkannya dengan kesalahan satu malamnya bersama Sherly.
"Ini adalah tempat di mana kita melupakan masalah dan mendapatkan kesenangan," jawab Jacob.
"Kau mau minum apa?" tanya Jacob.
"Honey lemon saja," jawab Marco.
Jacob hanya menganggukkan kepalanya. Jacob berdiri dan menuju bar untuk memesan minuman. Kemudian kembali duduk bersama Marco.
"Aku sedang mencari anak kandungku. Istriku menukar bayi kami dengan bayi yang lain. Informasi yang aku terima, orang yang membawa anakku tinggal di penthouse itu," terang Marco.
"Kau sendiri. Apa yang kau lakukan di negara ini?" tanya Marco.
"Aku sedang melakukan perjalanan bisnis," jawab Jacob.
Tak lama kemudian pelayan mengantarkan minuman ke meja mereka.
Jacob langsung meneguk minuman jenis wisky sambil matanya mencari mangsa, wanita yang akan diajaknya ONS.
Marco pun meneguk minumannya. Tiba-tiba kepala Marco terasa berat.
"S**l! Apa yang kau masukkan ke dalam minumanku ini, Jacob?" tanya Marco.
Jacob terkekeh.
"Kau tidak perlu khawatir. Apapun itu tidak akan membahayakanmu tapi akan membantumu untuk bersenang-senang," jawab Jacob.
"Kau benar-benar br*****k Jacob!" umpat Marco.
Marco langsung berdiri dan melangkah keluar dari club.
"Hei, Marco. Kau mau ke mana? Ayo kita bersenang-senang," teriak Jacob.
Marco mengabaikan teriakan Jacob. Marco terus berjalan sambil memegang kepalanya yang semakin pusing.
"Aku tidak bisa membawa mobil dalam keadaan seperti ini. Sebaiknya aku mencari hotel di dekat sini," gumam Marco.
Marco langsung memesan kamar hotel. Setelah mendapatkan kunci, Marco langsung menuju kamarnya. Begitu tiba di kamarnya, Marco langsung masuk ke dalam kamar. Saat akan menutup pintu, tiba-tiba ada seorang wanita menerobos masuk dan menutup pintu kamar Marco.
"Hei, siapa kau? Apa yang kau lakukan di kamarku?" bentak Marco.
"Aku merindukanmu sayang. Hiikk... Aku menginginkanmu malam ini," racau wanita itu yang sedang dalam keadaan mabuk.
Wanita itu memeluk tubuh Marco.
"Lepaskan!" hardik Marco yang berusaha melepaskan pelukan wanita itu.
Bukannya mendengarkan Marco, wanita itu malah dengan beraninya menc**m bibir Marco. Marco membelalakkan matanya. Wanita itu mendorong tubuh Marco sampai jatuh di atas ranjang.
"Kau!" pekik Marco.
Wanita itu langsung naik ke atas tubuh Marco dan terus melancarkan aksinya. Marco yang terpengaruh minuman bercampur alkohol tadi, tubuhnya langsung memanas akibat aksi gila wanita itu. Akhirnya kesalahan satu malam pun terjadi lagi untuk kedua kalinya.
Marco masih tertidur dengan lelapnya setelah beberapa kali melakukan olah raga panas semalam.
__ADS_1
"Aku harap kau tidak akan pernah mengingatku dan semoga kita tidak akan pernah bertemu lagi," ucap wanita yang telah bergulat panas dengan Marco.
Setelah mengenakan pakaiannya kembali, wanita itu segera keluar dari kamar sebelum Marco bangun.
Beberapa jam kemudian, Marco membuka matanya secara perlahan. Matanya terbelalak melihat tubuh polosnya tanpa sehelai kain pun. Marco langsung duduk, dia berusaha mengingat kejadian semalam.
Marco membulatkan matanya. Marco ingat jika semalam dia tidur dengan seorang wanita. Namun Marco tidak tahu siapa wanita itu. Marco tidak bisa melihat wajahnya karena kondisi kamar yang gelap.
Marco memukul dahinya.
"Dasar Marco bodoh!" umpat Marco pada dirinya sendiri.
"Aku membuat kesalahan lagi untuk kedua kalinya. Dan kali ini aku tidak tahu siapa wanita itu. Jangan sampai wanita itu menyimpan benihku. Aku tidak ingin ada malaikat kecil lagi yang akan menjadi korban," ucap Marco penuh sesal.
...*****...
Axel dan Helena makan malam romantis di balkon kamar hotel.
"Bagaimana keadaanmu, El? Sudah lebih baik. Pelayanan mereka tidak mengecewakan kan?" tanya Axel.
Helena tersenyum.
"Pelayanan mereka sangat memuaskan. Aku benar-benar dimanjakan. Terima kasih, suamiku," jawab Helena.
"Syukurlah jika kau merasa puas dan senang, istriku," ucap Axel.
Helena tersenyum bahagia mendengarnya.
Axel menghela napas.
"El. Ada yang ingin aku bicarakan," ucap Axel serius.
Helena menghentikan kegiatan makannya dan menatap Axel.
"Ini mengenai Marissa," lanjut Axel.
Napas Helena terasa tercekat, namun Helena berusaha untuk bersikap tenang.
"Satu hal yang harus kau tahu, Marissa sudah tidak berada di hatiku. Sejak awal pun dia tidak pernah tinggal di hatiku. Apa yang aku rasakan padanya adalah sesuatu yang dipaksakan," ujar Axel.
Axel memegang tangan Helena.
"Sejak dulu, dirimulah yang selalu menempati dan memenuhi ruang di hatiku, El," ungkap Axel.
Helena melebarkan matanya. Hatinya menghangat.
"Aku akan mengakhiri hubunganku dengan Marissa sampai ke akarnya. Namun, aku mohon bersabarlah sebentar saja. Bukan karena aku mencintainya, tapi karena ada sesuatu yang harus aku selesaikan sampai akhir."
"Percayalah padaku. Kami pria Alvaro hanya akan setia pada satu wanita. Hatiku telah memilihmu, El. Hanya kau yang akan menjadi ratu dalam hati dan hidupku," ungkap Axel sepenuh hati.
Helena menangis haru. Meskipun Axel tidak mengatakan jika dia mencintai Helena, Helena tetap bahagia. Axel bangkit dari duduknya dan menarik tubuh Helena ke dalam pelukannya.
Setelah selesai makan, keduanya melakukan ibadah bersama. Saat ini keduanya sedang bersantai di atas sofa.
"Malam ini, istirahatkanlah tubuhmu. Aku tidak akan menganggumu. Kau bebas tugas malam ini," ucap Axel sambil memeluk Helena.
Helena tersenyum. Helena melepaskan pelukan Axel.
"Aku ke kamar mandi dulu ya," ucap Helena.
Helena melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Saat berada di dalam kamar mandi, Helena mengeluarkan baju haram yang sebelumnya dia simpan di sana. Helena menggunakan lingerie berwarna hitam dan sangat menerawang.
"Aku berasa memakai saringan tahu," gumam Helena malu saat melihat pantulan dirinya di cermin.
"Aku harus buang rasa maluku," ucap Helena meyakinkan diri.
Helena membuka pintu dengan perlahan. Dia melihat Axel sedang duduk bersandar di atas ranjang sambil memainkan ponselnya. Helena berjalan pelan sehingga Axel tidak menyadari keberadaannya di sana.
"Apa ponsel itu jauh lebih menarik dariku, suamiku?" tanya Helena dengan manjanya.
Axel mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Helena.
Glek!!!
Axel meneguk salivanya kasar dengan mata terbelalak. Ponselnya pun jatuh dari tangan Axel. Helena tersenyum nakal.
...🌹🌹🌹...
Oh No!!! Kenapa dipotong othor???😡😤
(Maafkan jika author baru bisa update 1 eps setiap harinya. Karena kesibukan author di RL. Author ucapkan terima banyak bagi readers yang telah setia menunggu up setiap harinya..🙏🙏🙏🥰)
Baca juga novel pertama author :
"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
__ADS_1
Terima kasih🙏🥰