
Jasmine baru saja keluar dari ruangan manager JA, bersama Yudistira. Vira langsung menghampiri keduanya.
"Ada apa sayang? Mengapa jalanmu terburu-buru seperti itu?" tanya Yudistira.
"Kak Jasmine, Tuan Evan memintamu untuk segera ke ruangannya. Perwakilan dari Tompson Corp. sudah datang," ucap Vira.
"Benarkah? Wow, tepat waktu sekali. Sepertinya kita mendapatkan klien yang bagus," sahut Jasmine.
Vira hanya memaksakan senyumnya.
"Mengapa wajahmu terlihat tidak senang, Vira? Apa ada masalah?" tanya Jasmine.
"Tidak ada, Kak. Hanya saja klien kita ini seorang wanita yang cantik, tinggi dan berkelas," jawab Vira.
"Lalu?"
"Ya tidak ada. Vira merasa tidak nyaman saja jika wanita itu berdua saja dengan Tuan Evan," jawab Vira sambil menggaruk pelan kepalanya.
Jasmine dan Yudistira terkekeh. Yudistira mengusap kepala Vira dengan lembut.
"Kau tidak perlu khawatir, Kak Evan tidak akan pernah tergoda wanita lain. Dia sudah cinta mati sama Kak Jasmine, bahkan dibalsem biar awet seperti mumi," ucap Yudistira yang membuat Vira membulatkan matanya.
"Kalian berdua kalau mau bermesraan jangan di sini, nanti saja di rumah. Aku mau menemui Evan dan klien cantik dulu," ucap Jasmine sambil berjalan meninggalkan Yudistira dan Vira yang tersipu malu.
Jasmine langsung masuk ke dalam ruangan, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu karena itu juga ruangan kerjanya. Jasmine melangkahkan kakinya menghampiri Evan yang sedang fokus membaca berkas dan seorang wanita berambut pirang yang duduk di depannya. Michelle terkejut dengan kedatangan Jasmine tanpa permisi terlebih dahulu dan dia merasa terganggu.
"Evan. Sepertinya kau harus mendisiplinkan anak buahmu ini. Dengan tidak sopannya dia masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu," ucap Michelle dengan tatapan sinis.
Jasmine langsung menoleh ke arah Michelle yang duduk di depan Evan.
"Evan, sejak kapan aku menjadi anak buahmu?" tanya Jasmine tanpa mengalihkan pandangannya dari Michelle sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Evan pun tersentak mendengar suara istrinya yang sudah berada di sampingnya.
"Kau sudah datang. Maaf aku terlalu fokus membaca berkas tadi, sehingga tidak menyadari kedatanganmu. Kenalkan ini Michelle Tompson, direktur dari Tompson Corp. yang ingin bekerja sama dengan Javander Architecture. Michelle ini salah teman kuliahku dulu."
Michelle mengembangkan senyuman di bibirnya.
"Dan Michelle, kenalkan ini Jasmine, istriku sekaligus owner Javander Architecture," ucap Evan dengan lantang yang membuat senyuman Michelle seketika luntur.
"Istri? Owner?" seru Michelle.
"Benar Nona Tompson, aku Jasmine, istri dari Tuan Evander sekaligus owner dari JA," sahut Jasmine sambil tersenyum bangga.
"Kami membangun Javander Architecture bersama, dan nama Javander merupakan gabungan dari Jasmine-Evander. Kami berdua adalah owner dari JA," terang Evan.
Michelle berusaha menghilangkan raut terkejut di wajahnya dan tersenyum. Michelle langsung berdiri dan mengulurkan tangannya.
"Senang berkenalan denganmu, Jasmine. Namaku Michelle," ucap Michelle.
Jasmine menyambut uluran tangan Michelle. "Senang juga berkenalan denganmu."
"Mau tersenyum semanis apapun, kau tetap tidak akan bisa menjadi topeng yang menutupi wajah aslimu," batin Jasmine.
Jasmine langsung duduk di samping Evan, sedangkan Michelle kembali duduk di tempatnya.
"Sudah berapa lama kalian menikah?" tanya Michelle.
"Hampir tiga bulan," jawab Evan.
"Itu artinya kalian masih pengantin baru. Aku ucapkan selamat untuk kalian berdua," ucap Michelle.
"Terima kasih," jawab Evan dan Jasmine.
"Aku sudah membaca berkas yang kau bawa, Michelle. Menurut aku konsepnya yang kalian siapkan sudah bagus dan aku juga sudah mempunyai gambaran untuk bentuk bangunannya. Tapi aku juga harus meminta pendapat Jasmine," ucap Evan sambil menyerahkan berkas itu kepada Jasmine.
__ADS_1
Jasmine membaca berkas itu dengan teliti sebelum mengambil keputusan.
"Konsepnya cukup menarik dan tidak ada masalah," ucap Jasmine.
"Cih, hanya itu yang bisa dia katakan. Apa yang Evan lihat dari wanita seperti ini. Aku yakin dia hanya modal tubuh saja, tanpa otak," ejek Michelle dalam hati.
"Oh ya Evan, kau bertemu dengan Michelle saat menempuh pendidikan sarjana apa master?" tanya Jasmine.
"Saat menempuh pendidikan master. Kebetulan kami mengambil jurusan yang sama," jawab Evan.
"Itu benar sekali. Kami juga dekat, benar kan Evan? Aku dan Evan selalu berada dalam kelompok dan mengerjakan tugas bersama. Bahkan banyak mahasiswa yang menganggap kami ini sepasang kèkasih. Dan kami lulus dengan nilai yang bagus dan masuk 10 besar." Michelle bercerita dengan bangganya.
"Luar biasa. Pantas saja kamu terlihat sangat berkelas," puji Jasmine.
"Terima kasih. Dan aku cukup terkejut, ternyata Evan juga seorang arsitek dengan karya luar biasa," ucap Michelle.
"Evan dulu menempuh kuliah double degree dan mendapatkan dua gelar sarjana sekaligus, bisnis dan arsitektur," terang Jasmine. "Kalau boleh tahu kamu mendapatkan gelar master di usia berapa tahun?"
"Mm... Masih cukup muda ya, 26 tahun. Dan Jasmine, kalau boleh tahu apa gelarmu?" tanya Michell dengan senyum meremehkan.
"Aku? Aku bergelar master," jawab Jasmine.
"Benarkah?"
Evan yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.
"Benar, Jasmine bergelar master. Dia lulusan dari Oxford University dengan nilai terbaik, di usianya belum genap 22 tahun, karena bulan depan istriku yang paling cantik ini baru akan berulang tahun yang ke 22," jawab Evan sambil tersenyum dan mencium tangan Jasmine di depan Michelle.
Hati Michelle semakin terbakar melihat kemesraan suami istri itu.
"Jadi, Jasmine mendapatkan gelar masternya di usia 21 tahunan. Bagaimana mungkin?" tanya Michelle.
"Tentu saja mungkin. Karena Jasmine adalah wanita yang cerdas. Sejak duduk di bangku SD, Jasmine selalu mengikuti program akselerasi. Kenangan yang tak kan pernah aku lupakan, saat Jasmine berusia 13 tahun dia kelas 3 SMP. Di tahun yang sama aku kelas 3 SMA diusia 18 tahun. Kami berdua sama-sama mengikuti lomba sains se-Indonesia. Dan lomba itu dimenangkan oleh Jasmine, sehingga aku harus rela memberikan gelar juara bertahanku kepada lawanku yang usianya 5 tahun lebih muda dariku," cerita Evan sambil mengumbar senyumannya dan menatap Jasmine tanpa henti.
"Ekhm! Sebaiknya kita akhiri pertemuan kali ini. Dan untuk pertemuan selanjutnya kita akan menandatangi kontrak kerjasama, aku akan menghubungimu lagi, Evan," ucap Michelle menahan kesal.
Mereka saling berjabat tangan, kemudian Michelle segera keluar dari ruangan itu dengan wajah kesalnya. Sedangkan Evan menarik tubuh Jasmine dan mendudukkannya di pangkuannya. Jasmine melingkarkan kedua tangannya di leher Evan. Sedangkan Evan memeluk Jasmine dengan posesif.
"Sepertinya kau sudah membuat kesal calon klien kita, My King," ucap Jasmine.
"Benarkah? Memangnya apa yang sudah aku lakukan? Sejak tadi aku bersikap baik padanya, malah sangat baik sampai aku berdongeng dan berbagi kisah kita dengannya," jawab Evan dengan santainya.
Jasmine terkekeh. "Suamiku memang yang terbaik. Semoga mentalnya masih kuat."
"Tentu saja, istriku adalah yang paling utama bagiku. Tak kan kubiarkan siapapun membuat hatimu kesal, apalagi sampai menyakiti hatimu, My Sunshine. You are my everything," ucap Evan dengan lembut.
Jasmine langsung menci um bibir Evan dengan lembut, dan di detik-detik selanjutnya ci uman keduanya berubah menjadi lu matan dengan dua lidah tak bertulang yang saling membelit. Saat keduanya mulai kehabisan napas, barulah tautan keduanya terlepas. Jasmine menyandarkan kepalanya dengan manja di bahu Evan.
Evan menghela napas panjang. "Rasanya aku ingin segera pulang ke mansion."
"Memangnya kenapa sayang? Apa kamu sakit?" goda Jasmine sambil menci umi leher Evan.
"Aku mohon hentikan sayang. Aku bisa gila. Kau merasakan di bawah sana sudah sangat mengeras," lirih Evan sambil berusahan menahan hawa panas yang mulai menguar dari dalam tubuhnya.
Jasmine tak bisa menahan tawanya dan segera bangkit dari pangkuan Evan.
"Sabar suamiku sayang. Nanti malam aku akan memberikan special service untukmu," ucap Jasmine.
"Aku akan sangat menantikannya sayang," sahut Evan.
Keduanya segera kembali ke meja kerja masing-masing untuk melanjutkan pekerjaan, agar tidak sampai ada kata lembur. Bagi Evan dan Jasmine, kata lembur hanya boleh dilakukan di rumah, lebih tepatnya di dalam kamar pribadi mereka.
Evan, Jasmine, Yudistira dan Vira sudah duduk di ruang makan untuk menikmati hidangan makan malam mereka.
"Maaf Tuan dan Nona, ada tamu yang sedang menunggu di ruang tamu," lapor Nyonya Matilda.
__ADS_1
"Tamu? Siapa?" tanya Jasmine.
"Saya juga tidak tahu Nona. Baru pertama kali ini saya melihatnya. Dia seorang wanita dan mengatakan ingin bertemu Tuan Evan," jawab Nyonya Matilda.
"Seorang wanita?" seru Yudistira dan Vira.
Jasmine menghela napas panjang. "Sepertinya teman kuliahmu itu belum menyerah, suamiku."
Evan mendengus kesal dan segera pergi menuju ruang tamu.
"Michelle?" seru Evan.
"Oh hai Evan," jawab Michelle dengan raut wajah senang.
"Ada apa kau datang ke sini? Dan dari mana kau tahu di mana kami tinggal?" tanya Evan sedikit kesal.
"Tidak sulit untuk mendapatkan alamat tempat tinggalmu. Aku tadi dari toko kue, dan melihat kue red velvet ini. Aku ingat sekali jika kau sangat menyukai kue red velvet ini, jadi aku mampir ke sini dan memberikannya langsung kepadamu," ucap Michelle sambil memberikan kue red velvet kepada Evan.
"Terima kasih. Sebenarnya, ini bukan kue favoritku. Aku dulu senang memakannya agar aku selalu teringat dengan Jasmine saat kami jauh. Kue ini adalah kue kesukaan Jasmine. Sekali lagi terima kasih," ucap Evan.
Raut wajah Michelle seketika berubah setelah mendengar ucapan Evan.
"Oh seperti itu. Lalu di mana Jasmine?" tanya Michelle.
"Dia ada di dalam, lebih tepatnya sedang menungguku di dalam kamar. Dan aku minta maaf karena aku tidak bisa meninggalkannya terlalu lama," jawab Evan dengan raut wajah tidak enak.
Michelle tahu apa maksud perkataan Evan. "S**l! Baru jam segini mereka sudah mau olahraga panas."
"Baiklah kalau begitu aku permisi pulang. Dan maaf sudah menganggu kesibukan kalian," ucap Michelle.
"Oke. Sekali terima kasib untuk kuenya. Dan hati-hati di jalan," sahut Evan.
Evan segera kembali ke ruang makan, setelah memastikan Michelle sudah keluar dari mansion.
"Kok cepat sekali, Kak. Tamunya tidak diajak makan malam sekalian?" goda Yudistira.
"Tentu saja tidak. Karena aku tidak ingin mengorbankan nafkah batinku," jawab Evan. "Ini ada kue, untuk kalian berdua saja."
"Apa kau tidak ingin mencicipinya sayang? Sepertinya itu enak," pancing Jasmine.
"Nope."
"Aku hanya ingin mencicipimu malam ini dan menagih janjimu tadi siang," bisik Evan yang membuat wajah Jasmine merona.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel author lainnya:
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
__ADS_1
Terima kasih🙏🥰