
"Apa?!" seru Helena.
"Grandpa dan Opa Alex mau menjodohkan Helena dengan Axel? Kenapa Grandpa? Itu tidak mungkin. Axel sudah memiliki tunangan yang sangat dia cintai," tanya Helena.
"Tunangan Axel meninggal karena mengalami kecelakaan di Amerika, Helen. Dan sejak saat itu, Axel berubah menjadi manusia berhati dingin. Opa Alex berharap dengan kalian menikah, Axel bisa kembali menjadi Axel yang dulu. Grandpa juga ingin sekali melihat kalian bersama," jawab Tuan Haris.
"Kami tidak saling mencintai, Grandpa," lirih Helena.
"Tapi kau menyayangi Axel kan?" tanya Tuan Haris.
Helena terdiam dengan raut wajah sedih.
"Grandpa tahu kalau sangat menyayangi Axel. Meskipun hubungan kalian saat ini merenggang. Grandpa yakin kau bisa membuat Axel kembali menjadi Axel yang dulu," ucap Tuan Haris.
"Lalu jika Helena tidak berhasil bagaimana, Grandpa?" tanya Helena.
"Grandpa yakin kamu pasti bisa. Dan jika kamu menikah dengan Axel, Grandpa berjanji akan melakukan perawatan di Amerika sampai sembuh," jawab Tuan Haris sambil tersenyum.
"Apa itu benar, Grandpa? Grandpa bersedia melakukan perawatan Amerika sampai sembuh?" tanya Helena tak percaya.
"Grandpa janji," jawab Tuan Haris meyakinkan.
Helena senang sekali kakeknya mau dirawat di Amerika. Tapi hatinya bimbang apa Axel akan bersedia menikah dengannya yang sudah berstatus janda.
"Apa kau khawatir Axel akan menolak perjodohan ini karena kau berstatus janda?" tanya Tuan Haris lembut.
Helena mengangguk.
"Kau tidak perlu khawatir, Opa Alex akan berusaha meyakinkan Axel," ucap Tuan Haris.
"Apa jadinya jika pernikahan itu terjadi karena terpaksa dan tanpa cinta, Grandpa?" ucap Helena sambil membuskan napas berat.
"Grandpa yakin rasa cinta itu perlahan akan tumbuh di hati kalian seiring dengan berjalannya waktu."
"Bagaimana Helen? Apa kau bersedia?" tanya Tuan Haris.
"Apapun akan Helena lakukan selama Grandpa bersedia melakukan perawatan di Amerika," jawab Helena.
Tuan Haris tersenyum bahagia.
...*****...
Axel mengetuk pintu kamar kedua orang tuanya. Tak lama ayahnya, Zayn, membukakan pintu. Zayn masih memberikan tatapan dingin pada putranya itu.
"Axel ingin meminta maaf kepada Papa dan Mama," ucap Axel.
Zayn menghela napas panjang.
"Masuklah," perintah Zayn.
Axel segera masuk ke dalam kamar. Dilihatnya ibunya, Aline, sedang duduk sambil bersandar di atas ranjang. Axel langsung duduk di samping ibunya.
"Mama, Axel minta maaf karena telah menyakiti perasaan Mama. Tapi Mama kan tahu Axel mencintai Icha. Bagaimana mungkin Axel bisa menikahi wanita lain?" ucap Axel.
"Mau sampai kapan kau akan menanti orang yang telah tiada? Dan mau sampai kapan kau hidup dalam kebencian dan niat balas dendam?" tanya Aline.
Axel terdiam.
"Mama sangat merindukan putra Mama yang dulu, yang hangat dan penuh kasih sayang."
"Dan kau harus ingat jika kita memiliki banyak hutang budi kepada Tuan Haris dan keluarganya," tutur Aline sambil meneteskan air mata.
Hati Axel sakit melihatnya. Dia terdiam sambil merenung. Selama ini ibunya selalu mengikuti apapun keinginannya. Bahkan saat Icha hadir di keluarga mereka, ibunya menerimanya dengan tangan terbuka. Ibunya selalu mendukung semua yang menjadi impian dan keinginannya. Axel menghela napas panjang.
"Apakah dengan Axel menikahi Helena, Mama akan merasa bahagia?" tanya Axel.
__ADS_1
"Mama ingin melihatmu bahagia. Mama ingin kau mempunyai seorang wanita yang akan selalu mendampingimu. Dan hati Mama memilih Helena," jawab Aline.
Axel terdiam lagi.
"Axel akan menerima perjodohan ini dan menikah dengan Helena," ucap Axel.
Zayn dan Aline terkejut dan menatap Axel tak percaya.
"Axel serius Pa, Ma. Axel akan menikahi Helena. Tapi, dengan syarat," ucap Axel.
"Apa syarat yang kau berikan?" tanya Zayn.
"Axel akan menikahi Helena dengan syarat jangan pernah ada yang mencampuri urusan rumah tangga Axel nantinya," jawab Axel.
"Papa dan Mama akan memenuhi permintaanmu, selama kau tidak menyakiti Helena," ucap Zayn.
"Mama setuju dengan ucapan Papamu. Kami tidak akan mencampuri urusan rumah tangga kalian," ucap Aline.
"Terima kasih Papa, Mama," ucap Axel.
Aline bahagia sekali. Dia langsung memeluk putra kesayangannya itu.
...🌹🌹🌹🌹🌹...
Keluarga Hermawan menyambut kedatangan keluarga Alvaro dan Hadinata dengan penuh kebahagiaan. Hari ini Axel dan Helena akan melakukan ijab qobul yang nantinya akan mengikat dua anak manusia itu menjadi sepasang suami istri. Narendra dan Charlotte menyambut dengan memberikan pelukan sebuah keluarga kepada Zayn dan Aline, calon besan mereka. Helena sudah siap dengan gaun berwarna putih dan riasan yang membuatnya menjelma menjadi secantik bidadari di dalam kamar.
"Hai, calon kakak iparku. Apa kabar?" sapa Jasmine saat masuk ke dalam kamar Helena.
Helena terkejut tapi juga bahagia.
"Jasmine? Kapan kau kembali ke Indonesia? Kakak merindukanmu sayang," tanya Helena.
Keduanya pun saling berpelukan untuk meluapkan rasa rindu mereka.
"Kemarin aku baru tiba dari Jerman, Kak, bersama Kak Aiden," jawab Jasmine sambil tersenyum.
"Iya tidak apa-apa, Kak. Aku mengerti saat itu kakak sedang menghadapi masalah besar dalam rumah tangga kakak. Hans sudah menceritakan semuanya padaku," ucap Jasmine.
"Aku senang akhirnya kakak yang menjadi istrinya Kak Axel, sekaligus menjadi kakak iparku. Tapi, apa Kak Helena tahu jika Kak Axel sudah berubah sekarang. Kak Axel yang sekarang adalah pria yang berhati dingin, sejak peristiwa yang menimpa Icha dulu. Di dalam hatinya hanya ada kebencian dan balas dendam. Dan Kak Axel juga menyimpan dendam pada Kakak," terang Jasmine.
Helena terkejut. Dia membulatkan kedua bola matanya.
"Axel menyimpan dendam padaku? Memangnya kesalahan apa yang telah aku perbuat?" tanya Helena tak mengerti.
"Karena Kak Helena dulu memutuskan persahabatan Kakak dengan Kak Axel demi mantan suami Kakak itu, si Marco," jawab Jasmine.
"T-tapi...," ucap Helena namun terpotong.
"Helena sayang, aku keluar. Acara ijab qobulnya akan segera di mulai," panggil Charlotte.
"I-iya Mom," jawab Helena.
Jantung Helena berdetak kencang seperti genderang mau perang. Helena keluar dari kamar didampingi oleh Charlotte dan Jasmine. Di luar kamar sudah ada Narendra dan adik Helena, Hans.
"Wah, apa ini bidadari yang turun dari langit, Jasmine? Cantik sekali," goda Hans.
Wajah Helena seketika merona. Jasmine dan Hans pun tidak bisa menahan tawa mereka.
"Hans, sudah. Jangan kau goda kakakmu seperti itu," seru Narendra.
"Ayo sayang. Daddy akan mengantarkanmu. Daddy berdoa semoga ini menjadi pernikahan terakhirmu dan semoga kamu akan selalu berbahagia," ucap Narendra.
"Terima kasih, Daddy," ucap Helena sambil memeluk ayahnya.
Sang calon mempelai pengantin wanita memasuki ruangan. Semua yang hadir di sana terpana melihat kecantikan Helena, kecuali Axel. Karena Axel tidak melihat ke arah Helena sedikit pun. Setelah Helena duduk di samping Axel, penghulu segera memulai acara ijab qobulnya. Dan dengan satu tarikan napas, Axel berhasil mengucapkannya dengan lancar. Tak lama terdengar seruan kata sah dari para saksi yang menandakan bahwa Axel dan Helena sudah sah menjadi suami istri, dan membuat haru bahagia semua anggota keluarga. Tuan Alex dan Tuan Haris saling berpelukan dengan raut bahagia. Lalu keduanya menandatangi buku pernikahan mereka. Setelah itu Axel dan Helena mendapatkan ucapan selamat dari keluarga dan para tamu yang hadir.
__ADS_1
Sebelum diadakannya resepsi pernikahan, kedua mempelai diberi waktu untuk beristirahat. Helena segera kembali ke kamarnya untuk berganti baju, sedangkan Axel lebih memilih untuk mengobrol dengan Aiden dan para pria yang lain. Jasmine masuk ke dalam kamar Helena.
"Maaf kak. Apa aku menganggu waktu istirahatmu?" tanya Jasmine.
"Tentu saja tidak. Kemarilah," jawab Helena.
Helena dan Jasmine duduk di atas ranjang.
"Ada yang ingin aku sampaikan Kak. Kak Helena nantinya harus banyak bersabar ya, karena Kak Axel pasti akan berusaha menyusahkan Kakak. Aku berharap semoga Kakak bisa membuat kakakku kembali seperti dulu lagi. Aku sangat merindukan Kak Axel, aku merindukan kasih sayang kakakku," ucap Jasmine sambil menangis.
Helena langsung memeluk Jasmine untuk menenangkannya.
"Kakak tidak bisa janji, Jasmine. Tapi kakak akan berusaha untuk membuat Axel kembali seperti dulu. Kamu bantu dengan doa ya sayang," ucap Helena menenangkan.
Jasmine tersenyum sambil menganggukkan kepalanya. Setelah cukup lama berbincang, Jasmine segera keluar dari kamar Helena, agar Helena bisa beristirahat. Jasmine berjalan melewati taman dan dia berpapasan dengan kakaknya, Axel.
"Apa kau sudah puas sekarang? Helena sudah menjadi kakak iparmu? Kau sudah bahagiakan melihatku menderita," ucap Axel dengan nada menyindir.
Sebenarnya Jasmine enggan bertengkar dengan kakaknya, apalagi di hari yang bahagia ini.
"Iya, aku sangat bahagia. Aku mendapatkan kakak ipar yang baik hati. Bukan wanita yang penuh teka teki," ucap Jasmine sambil tersenyum tipis.
Axel memajukan tubuhnya mendekati Jasmine.
"Jangan harap kau akan melihat dia bahagia menikah denganku. Aku akan membuatnya menderita," bisik Axel, lalu melenggang pergi meninggalkan Jasmine begitu saja.
"Aku tahu Kak, apa yang ada di otakmu. Tapi aku tidak akan membiarkan semua rencana jahatmu berhasil. Akan aku buktikan bahwa wanita yang kau cintai itu tidaklah lebih dari sampah. Dan di saat kau mengetahuinya, aku harap Kak Helena masih berada di sampingmu," gumam Jasmine.
Pada malam harinya acara pesta pernikahan Axel dan Helena digelar dengan sangat mewah dan meriah, berbeda jauh dengan acara pernikahan Helena dulu dengan Marco. Axel dan Helena terlihat bak raja dan ratu yang sangat tampan dan cantik. Keduanya terlihat sangat serasi. Helena berusaha untuk tersenyum bahagia, meskipun suaminya selalu bersikap dingin padanya. Bahkan Axel tidak mengajaknya berbicara sama sekali.
Setelah pesta selesai, Axel dan Helena pulang ke mansion pribadi milik Axel. Tuan Alex sudah menyiapkan kamar pengantin di hotel A1, namun Axel menolak. Saat ini, Axel dan Helena duduk di ruang keluarga. Masuklah William ke dalam ruangan itu sambil membawa sebuah map.
"Permisi, Tuan. Ini yang Anda minta," ucap William sambil menyerahkan map itu kepada Axel.
Axel segera mengambil map yang diberikan William lalu melemparnya ke atas meja.
"Cepat kau tanda tangani surat ini!" bentak Axel kepada Helena.
Helena tersentak.
"Surat apa ini?" tanya Helena.
"Surat perjanjian pernikahan kita," jawab Axel dingin.
"S-surat perjanjian?" ucap Helena tak mengerti.
"Surat perjanjian yang menyatakan bahwa pernikahan kita hanya akan berlangsung selama 6 bulan. Asal kau tahu saja, aku menikahimu hanya karena ingin membalas budi kebaikan keluargamu dulu padaku dan Mamaku. Jika bukan karena hal itu, aku tidak akan sudi menikahimu," ucap Axel sinis.
Hati Helena serasa tertusuk. Dia meremas kuat gaunnya. Helena menghela napas perlahan agar dirinya tetap tenang.
"Dan satu hal lagi. Jangan pernah mengharapkan cinta dariku. Karena sampai kapanpun, cintaku hanya untuk Marissa," tegas Axel.
Baca juga baca novel pertama author :
"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"
Jangan lupa selalu dukung author dengan :
💫Tinggalkan comment
💫Tinggalkan like
💫Tinggalkan vote
💫Klik favorite
__ADS_1
Terima kasih🙏🥰