
Jasmine sedang membaca data tentang Pramudya dan Vira, serta orang-orang terdekat mereka. Pramudya Putra Wirata (26) dan Devira Putri Wirata (18), merupakan anak yatim piatu. Kedua orang tua mereka telah meninggal 10 tahun lalu karena menjadi korban kecelakaan pesawat. Pramudya harus bekerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dan adiknya. Kakak beradik itu juga berhasil melanjutkan pendidikan mereka melalui jalur beasiswa.
Pramudya merupakan lulusan sarjana teknik di universitas D dan saat ini bekerja sebagai karyawan di PT. Hutama, salah satu perusahaan konstruksi. Sedangkan Vira baru saja lulus SMA. Vira bekerja paruh waktu sebagai pelayan restoran dan kafe sejak SMA. Vira memiliki seorang teman bernàma Adinda, teman SMA-nya. Saat ini Pramudya menjalin hubungan dengan Paramitha Dewi Hutama, putri dari pemilik perusahaan tempat Pram bekerja.
"Apa ada info penting lagi, Yud?" tanya Jasmine.
"Gadis bernama Vira itu sering menjadi korban pembulian di sekolahnya karena telah masuk ke sekolah elit di kota ini melalui jalur beasiswa. Tidak ada yang mau berteman dengannya karena dia dari keluarga miskin. Satu-satunya teman yang dia miliki hanyalah gadis yang bernama Adinda," jawab Yudistira.
Ponsel Jasmine berdering. Tak lama kemudian, Jasmine dan Yudistira segera bergegas ke rumah sakit. Dokter Nabila memberitahu jika Vira hilang kendali, dia mencabut jarum infusnya lalu menusuk tubuhnya beberapa kali.
"Jasmine," panggil Evan yang sudah tiba di rumah sakit lebih dulu.
"Bagaimana keadaan gadis itu?" tanya Jasmine.
"Aku belum tahu, aku juga baru datang," jawab Evan lembut.
Dokter Nabil keluar. Jasmine dan Evan segera menghampirinya.
"Kondisi Vira semakin memburuk. Dia mengalami depresi berat dan apa yang dilakukannya bisa mengancam nyawanya. Dia membutuhkan perawatan yang lebih baik dan juga psikiater," ucap dokter Nabila.
Wajah Jasmine dan Evan semakin tegang.
"Di mana kakaknya?" tanya Jasmine.
"Pram ada di dalam sedang menemani Vira bersama Adinda," jawab dokter Nabila.
Jasmine langsung masuk ke dalam ruangan, diikuti oleh Evan dan dokter Nabila. Pram yang diliputi amarah langsung berdiri dan hendak menghajar Evan. Dengan cepat Evan menangkis pukulannya dan mencekal tangannya.
"Barengsek! Lepaskan tanganku!" bentak Pramudya.
"Apa dengan menghajarnya akan membuat adikmu langsung sembuh dengan seketika?" tanya Jasmine dingin.
Dokter Nabila dan Adinda segera menarik tubuh Pramudya menjauh dari Evan.
"Kita bawa adikmu ke Jakarta. Keluargaku mempunyai rumah sakit dengan peralatan yang jauh lebih lengkap, pengawasan yang ketat dan juga psikiater handal. Bagaimana? Apa kau setuju?" ucap Jasmine tanpa basa basi.
"Apa tujuanmu sebenarnya? Apa kau ingin melenyapkan adikku?" tanya Pramudya.
"Picik dan sempit sekali otakmu. Tujuanku adalah ingin menolong adikmu dan segera menyelesaikan masalah ini. Aku memang terlahir dari keluarga kaya, tapi keluargaku bukan orang rendahan dengan otak tak guna," jawab Jasmine dingin.
"Kalau menurutku sebaiknya kau terima tawaran Nona Jasmine, Pram, demi kesembuhan Vira," ujar dokter Nabila.
Pramudya masih diam dan berpikir.
"Kau tidak perlu khawatir, penyelidikan tentang kasus adikmu akan tetap berlanjut dan kita akan mendapatkan kebenarannya. Apakah Evan pelakunya atau bukan. Dan kau tidak memikirkan biaya pengobatan adikmu," terang Jasmine.
"Jika kau setuju, sekarang juga kita berangkat," tambahnya.
"Aku setuju tapi kau harus ikut Nabila. Saat ini Vira hanya mau menurut padamu, aku mohon," ucap Pramudya.
"Kak Pram benar. Vira hanya mau mendengarkan Kak Nabila," sahut Adinda.
"Tapi bagaimana dengan pekerjaanku di sini? Jika aku pergi, maka aku juga harus mengajukan resign," jawab Nabil dengan raut wajah bingung.
Pramudya tidak bisa berkata-kata lagi, karena Nabila menjadi tulang punggung keluarganya. Jika Nabila tidak bekerja, maka dia tidak bisa menghidupi ibu dan adiknya.
"Dokter Nabila tidak perlu khawatir. Anda akan menjadi dokter pribadi Vira selama di sana, dan pastinya tetap mendapatkan gaji bahkan lebih besar dari gaji Anda selama bekerja di rumah sakit ini," ucap Jasmine.
Setelah Pram meyakinkannya, dokter Nabila pun setuju untuk ikut ke Jakarta. Mereka segera terbang ke Jakarta menggunakan private jet. Setibanya di Jakarta, Vira segera dibawa ke rumah sakit milik Helena. Tim medis sudah siap menyambut kedatangan mereka. Pramudya dan Nabila tercengang melihat kemegahan rumah sakit yang jauh lebih besar dan modern dari rumah sakit di tempat asal mereka. Vira segera di bawa ke sebuah ruangan dan diberikan perawatan.
"Perkenalkan ini adalah dokter Risa, salah satu dokter di rumah sakit ini sekaligus psikiater yang akan menangani pasien nantinya," ujar Helena.
__ADS_1
"Saya Pram, kakak pasien. Dan ini teman saya Nabila, dokter yang menangani adik saya selama di Batam," sahut Pramudya.
Pramudya dan Nabila diantarkan ke ruangan Vira dan beristirahat di ruangan Vira. Helena menempatkan Vira di ruangan VVIP sesuai keinginan Jasmine, sehingga Pramudya dan Nabila bisa beristirahat dengan baik untuk sementara waktu. Anak buah Axel sedang menyiapkan sebuah rumah untuk mereka tinggali selama di Jakarta. Helena meminta Evan untuk pulang bersama Sandy, dan memberikan ruang kepada Jasmine.
"Apa mereka sudah pulang, Kak?" tanya Jasmine yang sedang duduk di sofa bersama Yudistira, di ruangan Helena.
"Evan dan Sandy sudah pulang. Sebaiknya kalian juga pulang. Semua orang di rumah mencemaskan kalian, terutama kamu Jasmine," jawab Helena.
Jasmine mengangguk. Jasmine dan Yudistira segera kembali ke mansion Alvaro.
"Bagaimana Yudi?" tanya Jasmine saat keduanya sedang dalam perjalanan menuju mansion.
"Mangsa sudah masuk perangkap, Kak. Dan wanita yang bernama Gina juga sudah berada di markas," jawab Yudistira.
Jasmine menyunggingkan bibirnya.
"Istirahatkan dulu badanmu, Yud, dan persiapkan dirimu untuk besok," ucap Jasmine.
"Dengan senang hati Kak. Aku sudah lama tidak olah raga dan meregangkan otot-ototku," jawab Yudistira sambil tersenyum lebar.
***
"Kalian bilang sudah mendapatkan buktinya. Mengapa kalian membawaku ke tempat ini? Kalian mau menipuku!" protes Pramudya dengan sedikit berteriak saat tiba di markas Alvaro.
"Bisakah kau kecilkan suaramu. Telinga kami masih normal, tidak perlu berteriak," bentak Bima.
"Tenangkan dirimu, Bim. Dia tamu kita," ucap Jasmine.
Tak lama kemudian sebuah mobil memasuki halaman markas Alvaro. Turunlah Evan, Sandy dan Candrama. Evan tersenyum bahagia begitu melihat Jasmine yang sudah menunggu kedatangan mereka. Evan segera menghampirinya. Semalam, Evan telah menghubungi Jasmine dan memberitahu bahwa dia mendapatkan petunjuk yang bisa dijadikan bukti. Jasmine pun menyuruhnya untuk datang ke markas Alvaro.
"Terima kasih my sunshine, karena sudah mau melihat petunjuk yang aku dapatkan," ucap Evan dengan rona wajah bahagia.
Jasmine hanya mengangguk dan tetap terkesan dingin, membuat senyum Evan terasa hambar.
"Ah ya. Karena saya juga telah mendapatkan petunjuk dan semoga bisa memperkuat bukti Tuan Evan," jawab Candrama.
Keduanya saling melempar senyuman dan otomatis membuat hati Evan terasa terbakar. Namun dia berusaha untuk tetap tenang karena tidak ingin salah bersikap yang nantinya hanya akan membuat Jasmine semakin membencinya. Jasmine segera mempersilakan mereka masuk ke dalam aula markas.
"Bukti apa yang ingin kau tunjukkan?" tanya Pramudya tidak sabar.
Sandy mengeluarkan flashdisk, lalu menancapkan ke laptop yang sudah disediakan dan terhubung dengan LCD Proyektor. Sandy menampilkan salinan rekaman CCTV di hotel tempat kejadian.
"Dari rekaman ini pada pukul 21.02 waktu setempat, terlihat Tuan Evan berjalan sedikit sempoyongan dan masuk ke dalam kamar 126. Saat itu Tuan Evan sedang dalam kondisi tidak baik, karena merasakan kepalanya sakit dan pusing. Di sini juga terlihat kamar 126 tidak dikunci saat Tuan Evan memegang knop pintu, pintunya langsung terbuka," terang Sandy.
"Itu artinya memang dia yang sudah menodai adikku," sahut Pramudya.
"Biarkan saya menyelesaikan penjelasan saya dulu," ucap Sandy.
Pramudya langsung diam dan melipat kedua tangannya di depan dada.
"Setelah kami periksa kembali, ternyata rekaman CCTV ini sudah direkayasa. Kami menemukan kejanggalan. Ada rekaman yang telah sengaja dihapus antara pukul 17.58 sampai 20.43. Ini buktinya kalian bisa lihat sendiri rekaman CCTV pada pukul 17.58 kemudian langsung berlanjut pada pukul 20.43. Pertama kali kita memeriksanya, kita hanya fokus pada gambar videonya dan tidak memperhatikannya lebih detail pada waktunya."
Sandy melanjutkan dengan hasil rekaman CCTV di depan lift yang ada di lobby hotel.
"Pada saat Tuan Evan akan memasuki lift, terlihat ada beberapa pria yang keluar dari lift. Kemungkinan besar, salah satu diantara mereka adalah pelaku yang sebenarnya. Pelaku keluar dari kamar 126 tanpa mengunci pintu dan segera pergi meninggalkan hotel. Kami sudah berusaha memeriksa rekaman CCTV yang ada di lift, dan hal yang sama terjadi. Rekaman itu telah direkayasa dan ada rekaman yang sudah dihapus pada pukul yang sama dengan rekaman yang ada di lantai kamar 126."
"Saya yakin Tuan Evan dijebak dan dibuat sakit kepala dengan sengaja, sehingga dia bisa membuat kesalahan dengan salah masuk kamar," ucap Sandy.
Semua terdiam dan menghela napas panjang.
"Dan bukti apa yang Tuan Candrama temukan?" tanya Yudistira memecah keheningan.
__ADS_1
"Bukti yang saya temukan tidak jauh berbeda dengan yang mereka temukan. Saya mendapatkan rekaman CCTV yang ada di dalam lift yang sempat disalin oleh pihak hotel. Dan semoga bisa membantu," jawab Candrama sambil menyerahkan flashdisk kepada Sandy.
Sandy segera memutar rekaman CCTV itu. Terlihat ada lima orang pria yang berada di dalam lift, dan tiga diantaranya berasal dari lantai lima di mana kamar 126 berada. Dan waktu menunjukkan pukul 20.43.
"Bagus sekali, Tuan Candrama. Ini bisa menambah petunjuk kami. Dugaanku salah satu dari ketiga pria itu adalah pelakunya," ucap Sandy.
"Terima kasih Tuan Candrama telah ikut bersusah payah membantu saya mengumpulkan bukti," ucap Evan.
"Sama-sama, Tuan. Saya yakin sekali bahwa Tuan Evan tidak bersalah dan ada orang yang sengaja ingin menjebak untuk menjatuhkan Anda. Anda tidak perlu sungkan. Selama saya bisa membantu, saya pasti berusaha untuk membantu," jawab Candrama.
"Kalau boleh tahu, bagaimana Anda bisa seyakin itu, Tuan Candrama?" tanya Jasmine.
"Karena selama ini saya mengenal Tuan Evan adalah pria yang baik. Tuan Evan selalu bersikap profesional. Apalagi saat berada di pesta Tuan Subrata, Tuan Evan tidak meminum minuman berakohol atau minuman berwarna apapun itu. Tuan Evan hanya meminum air putih, seperti biasanya saat melakukan pertemuan. Jadi tidak mungkin jika Tuan Evan dalam keadaan mabuk saat itu," jawab Candrama.
"Luar biasa sekali kecerdasan Anda, Tuan Candrama," puji Jasmine sambil tersenyum.
Candrama tersenyum dengan wajah tersipu malu. Evan menyerngitkan dahinya lalu tersenyum tipis.
"Tuan Candrama memang luar biasa. Tapi saya penasaran sekali, bagaimana Tuan Candrama bisa tahu jika saya hanya minum air putih saja pada malam itu? Seingat saya, Anda pergi ke toilet sebelum saya mengambil minuman dan pada saat saya hendak meninggalkan ruang pesta, Anda belum kembali dari toilet," tanya Evan sambil tersenyum.
Candrama seketika menjadi gelagapan. Terlihat dia sedang memikirkan sesuatu. Jasmine menyeringai.
"Akhirnya otakmu sudah kembali, Evan," batin Jasmine.
"I-itu pada saat saya kembali dari toilet, saya menemui klien yang lain dan memperhatikan Anda dari jauh," jawab Candrama gugup.
"Sepertinya Tuan Candrama sudah jatuh hati pada Tuan Evan, saat jauh pun masih sempat memperhatikan," ucap Bima dengan nada mengejek.
Keringat dingin mulai keluar dari pori-pori wajah dan tubuh Candrama. Yudistira berdiri dan menancapkan sebuah flashdisk ke laptop.
"Ini akan menjawab pertanyaan kita semua."
Video yang muncul di layar proyektor adalah rekaman CCTV di tempat pesta Tuan Subrata. Dan lebih tepatnya fokus video itu tertuju pada Candrama. Candrama membelalakkan matanya dan membuatnya semakin gugup. Terlihat Candrama berjalan bukan ke arah toilet, namun menemui seorang pelayan. Candrama menyuruh pelayan itu memasukkan sebutir obat ke dalam gelas yang berisi air putih. Candrama memberikan amplop putih kepada pelayan itu, dan tak lama kemudian pelayan itu menghampiri Evan. Sesuai dengan perkiraannya, Evan mengambil segelas air putih itu lalu meminumnya.
"Barengsak!"
Bugh... bugh...
Evan mengarahkan pukulannya ke wajah Candrama dengan wajahnya yang sudah diliputi amarah.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
(Assalamualaikum readers. Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. Author ingin mengucapkan "Happy Eid Mubarok" Minal Aidzin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir & Batin kepada readers semua🙏🙏🙏 Author juga minta jika sering telat up karena kesibukan di real life yang masih berbau lebaran. Tapi author selalu berusaha untuk up setiap hari dan terkadang harus bersabar menunggu review yang terkadang lebih lama dari biasanya dari platform, sehingga episode terbaru baru bisa muncul di hari berikutnya. Terima kasih atas semua dukungan readers selama ini. Love u all😘🥰)
Baca juga novel author lainnya:
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
__ADS_1
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰