Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 32. X-Lo Merindukan L-Na


__ADS_3

Helena menggeliat. Tubuhnya terasa remuk sekali. Helena merasa geli bercampur nikmat, dengan bibirnya mulai mengeluarkan suara lucknutnya. Helena membuka matanya perlahan, namun di detik selanjutnya kedua matanya membulat sempurna. Helena melihat Axel sedang asyik melahap dan memainkan kedua choco chipnya dengan rakus.


"Xel! Apa yang kauhhh lakukan? Mmmmhhh," tanya Helena sambil menahan d*s*h*nnya.


Axel tak menjawab dan hanya tersenyum sambil melanjutkan aktifitasnya. Kedua tangan Helena mencengkeram kain seprei dan mulutnya terus meracau.


"Henti.. kan, Xel. A..ku harus membuat...kan sarapan... untukmuhhhh...a**hh," ucap Helena sambil mend***h.


Axel menghentikan aksinya, dan langsung naik ke atas tubuh Helena.


"Ini menu sarapanku pagi ini, El," ucap Axel dengan tatapan nakalnya.


Axel langsung melahap dan mel***t bibir Helena, sedangkan tangannya terus berselancar. Tubuh Helena semakin terbakar. Helena mengangkat dan membuka kedua kakinya lebar dengan sendirinya. Axel tersenyum bahagia. Tak butuh waktu lama, Axel langsung memimpin olah raga panas mereka di pagi menjelang subuh ini.


Axel menjatuhkan tubuhnya yang bersimbah keringat di atas tubuh Helena.


"Terima kasih, El," lirih Axel.


Helena memejamkan matanya menikmati gelombang kenikmatan yang baru saja diraihnya sambil mengatur napasnya.


"Apa masih sakit?" tanya Axel lembut.


"Sedikit," jawab Helena.


"Itu artinya harus lebih sering lagi supaya tidak sakit lagi," ucap Axel dengan menggoda.


Helena langsung membelalakkan matanya. Helena merasakan sesuatu di bawah sana mulai membengkak lagi.


"Sudah cukup, Xel. Tubuhku serasa remuk semua. Pinggangku rasanya mau patah. Segera cabut senjatamu itu, sebelum dia mengamuk lagi. Aku tidak sanggup," ucap Helena kesal.


Axel tersenyum. Dia bangkit dan mencabut senjatanya perlahan, lalu menusukkannya lagi.


"A**hhh..," d*s*h Helena.


"Axel!" bentak Helena.


Axel tertawa dan mencabut senjatanya dengan sempurna, lalu merebahkan tubuhnya di samping Helena.


Helena berusaha untuk bangun meskipun tubuhnya terasa lemas sekali. Dia ingin segera membersihkan tubuhnya.


"Kau mau ke mana?" tanya Axel.


"Aku mau ke kamar mandi, tubuhku terasa lengket sekali. Sebentar lagi adzan subuh akan berkumandang," jawab Helena sambil menarik selimut sampai ke atas untuk menutupi tubuh polosnya.


"Tunggu sebentar," ujar Axel.


Axel langsung bangun dan mengambil boxernya. Axel masuk ke dalam kamar mandi dan menyiapkan air hangat di dalam bath tub. Axel kembali berjalan mendekati ranjang. Dia menarik selimut yang menutupi tubuh Helena.


"Axel!" teriak Helena.


"Untuk apa ditutupi lagi. Aku sudah melihat semuanya," ucap Axel.


Helena mendengus kesal.


Axel langsung mengangkat tubuh Helena dan meletakkannya secara perlahan di dalam bath tub.


"Berendamlah supaya tubuhmu kembali segar. Tidak perlu membuatkan sarapan, nanti William yang akan memesankannya untukku. Dan kau tidak perlu bekerja. Aku akan meminta ijin kepada Oma Narita. Kau istirahat saja di rumah," cerocos Axel.


"Apa? Aku kan sudah mengambil cuti lama kemarin. Masak hari ini ijin lagi," protes Helena.


"Coba lihat tubuhmu. Terlalu banyak stempel di setiap jengkalnya. Apa kau mau memamerkannya pada orang lain?" ledek Axel.


Helena membelalakkan matanya. Tubuhnya sudah seperti kulit macan tutul. Helena menatap Axel tajam dan mendengus kesal. Axel terkekeh.


"Aku kembali ke kamar dulu. Aku akan mengatakan pada Bu Sari untuk membuatkan sarapan untukmu dan membawanya ke kamar," ucap Axel.


Helena hanya mengangguk. Axel menc**m kepala Helena, lalu pergi keluar dari kamar mandi.


Helena menghela napas panjang.


"Aku benar-benar sudah lepas segel," gumam Helena sambil memejamkan matanya menikmati air hangatnya.


Helena membuka matanya.


"Tapi, kami sama-sama tidak memakai pengaman. Itu artinya ada kemungkinan aku bisa hamil anak Axel," ujar Helena sambil menyentuh perut datarnya.


"Tidak. Aku tidak boleh hamil dulu, sebelum aku tahu bagaimana perasaan Axel yang sebenarnya. Apalagi masih ada Marissa di antara kami. Aku tidak mau jika nantinya anakku menjadi korban dari hubungan kami," tegas Helena.


Selesai membersihkan tubuhnya, Helena segera memakai baju dan beribadah subuh. Helena mengambil ponselnya dan memesan obat pelebur sp*rm* secara online.


Axel keluar dari mansion, dan William sudah menunggu di dalam mobil. Axel melihat Bu Sari mengambil bungkusan yang dikirimkan oleh kurir.


"Bungkusan apa itu, Bu?" tanya Axel.


"Ini obat pesanan Nona Helena, Tuan," jawab Bu Sari.


Axel hanya mengangguk, lalu masuk ke dalam mobil. William melajukan mobilnya.


"Memangnya Nona Helena sedang sakit, Tuan?" tanya William.


"Iya," jawab Axel.


"Sakit apa?" tanya William lagi.


"Tidak tahu," jawab Axel singkat sambil senyum-senyum sendiri.

__ADS_1


William menyipitkan matanya.


Axel penasaran. Dia mengambil ponselnya dan menyadap ponsel Helena. Axel mencari tahu tentang obat yang dipesan Helena.


Wajah Axel memerah menahan marah saat mengetahui obat yang dibeli oleh Helena.


Axel mengepalkan tangannya dan meninju kursi di depannya, membuat William tersentak dan menginjak rem mendadak.


"Apa-apaan kau ini Axel?" teriak William, menghilangkan sikap sopannya.


"Aku kesal," jawab Axel.


"Cepat lajukan lagi mobilnya!" perintah Axel.


William langsung melajukan mobilnya dengan kencang. Suasana di Alvaro Group terasa begitu mencekam sejak Axel memasuki lobby perusahaan dengan wajah dinginnya.


Aiden baru datang dari Jerman. Dia langsung menemui Axel di ruangannya.


"Mengapa wajahmu muram seperti itu?" tanya Aiden.


Axel tak menjawab hanya mendengus kesal.


"William sudah cerita padaku jika semalam Marissa menjebakmu dengan obat perangsang. Pergi ke mana kau semalam?" tanya Aiden.


Wajah muram Axel berubah cerah.


"Pulang ke mansion," jawab Axel sambil tersenyum.


Aiden membelalakkan matanya.


"Apa kau sudah melepas keperjakaanmu?" teriak Aiden.


"Kecilkan suaramu. Apa kau ingin memberitahu semua orang?" ucap Axel kesal.


Aiden tertawa.


"Akhirnya anacondamu menemukan sarangnya. Bagaimana rasanya? Nikmat?" goda Aiden.


"Sangat. Apalagi sarangnya masih bersegel," ucap Axel sambil tersenyum miring.


"What?! Maksudmu Helena masih perawan?" tanya Aiden tak percaya.


"Iya," jawab Axel.


"Bagaimana mungkin?" seru Aiden.


Axel hanya mengangkat kedua bahunya.


"Yang penting aku yang membuka segelnya," jawab Axel santai.


"Jadi, kalian sudah melakukan ritual malam pertama," seru William yang tiba-tiba masuk.


William segera menutup pintunya.


"Seperti yang sudah kau dengar," ucap Axel sambil tersenyum bangga.


"Itu artinya tak lama lagi ada yang akan memanggilku dengan sebutan uncle," goda Aiden.


Wajah Axel seketika berubah muram dan dingin.


"Itu tidak mungkin Aiden. Helena tidak ingin hamil anakku. Dia meminum obat pencegah kehamilan," ucap Axel dingin.


Aiden menghela napas panjang.


"Apa kau sudah jujur pada Helena, tentang perasaanmu padanya?" tanya Aiden.


Axel menggeleng.


"Aku yakin Helena mengambil keputusan itu karena Helena tidak yakin jika kau benar-benar mencintai dan menginginkannya, bukan hanya tubuhnya," ceramah Aiden.


"Kau bilang Helena membeli obat pencegah kehamilan. Mengapa kau tidak meminta bantuan ahli pembuat obat?" tanya William.


Axel mengerutkan dahinya tak mengerti.


"Untuk membuatkan obat penyubur yang bentuk, warna dan baunya sama persis dengan obat yang diminum Helena," terang Helena.


"Itu ide yang brilliant!" seru Aiden.


"Kau benar-benar genius, Will," ucap Axel dengan wajah berbinar.


William mengangkat wajahnya dengan sombong.


"Kau tinggal menggantin obat pencegah kehamilan Helena dengan obat penyubur kandungan. Kemudian kau tinggal rajin menyirami ladang Helena setiap saat, kapanpun kau mau," ucap Aiden.


Axel tersenyum bahagia.


"Kalau begitu, segera carikan pembuat obat terbaik dan pastikan obat itu sudah siap hari ini!" perintah Axel.


William mendengus kesal dan menekuk wajahnya.


"Jangan ditekuk seperti itu wajahmu. Kau tinggal pilih mobil mana yang kau inginkan sekarang," ucap Axel.


Wajah William berubah cerah.


"Siap, Bos! Sebelum siang saya pastikan obatnya sudah ada di meja Anda," ucap William meyakinkan.

__ADS_1


William berjalan mendekati pintu. Saat akan membuka pintu, William berbalik.


"Tapi obat yang dibeli Helena seperti apa?" tanya William polos.


Axel mendengus kesal.


"Akan aku kirimkan padamu nama obatnya," teriak Axel.


William terkekeh, lalu segera keluar dari ruangan Axel.


...*****...


Axel masuk ke dalam mansion. Ada Bu Sari sedang menyiapkan hidangan makan siang.


"Assalamualaikum, Bu Sari," salam Axel.


"Waalaikumsalam, Tuan," jawab Bu Sari.


"Helena di mana, Bu?" tanya Axel.


"Nona Helena ada dikamarnya Tuan, baru saja selesai merapikan bunga di taman," jawab Bu Sari.


Axel hanya menganggukkan kepalanya. Axel segera menaiki tangga dan menuju kamar Helena. Axel langsung masuk ke dalam kamar dan tidak melihat keberadaan Helena. Axel membuka laci meja rias Helena dan menukar obat Helena.


Axel tersenyum senang.


Axel mendengar suara gemiricik air dari kamar mandi dan melihat baju kotor Helena di keranjang. Axel tersenyum licik. Dia langsung melucuti pakaiannya. Beruntung Helena tidak mengunci pintu kamar mandi, sehingga Axel bisa ikut masuk ke dalamnya.


Helena sedang berada di bawah guyuran air shower dengan posisi membelakangi Axel. Axel memeluk Helena dari belakang.


Helena tersentak saat ada tangan yang melingkar di perutnya.


"Ini aku, El," bisik Axel sambil menc**m dan menj***t leher jenjang Helena.


"Emmmhhh... Xel. Apa yang kau lakukan?" tanya Helena.


Axel membalikkan tubuh Helena untuk menghadapnya.


"X-Lo merindukan L-Na," jawab Axel sambil tersenyum.


"Hah?!" Helena tak mengerti.


Axel tersenyum nakal.


Axel menarik satu tangan Helena dan mengarahkannya untuk menyentuh senjata tempurnya yang sudah berdiri ponggah.


"Ini X-Lo," ucap Axel.


Mata Helena melebar saat menyentuh dan memegang junior Axel secara langsung.


Helena menelan salivanya kasar.


"Pantas saja milikku sakit, karena yang menerobos masuk sebesar dan sepanjang ini," batin Helena.


Kemudian satu tangan Axel menyentuh mahkota Helena.


"Dan ini L-Na," tambah Axel.


Axel langsung mel*h*p bibir Helena. Dan mendapat sambutan dari Helena. Axel mengangkat satu kaki Helena, kemudian X-Lo langsung menyapa L-Na. Akhirnya mereka melakukan pergulatan panas di kamar mandi dengan posisi berdiri.


Satu jam kemudian, Axel sudah meletakkan tubuh Helena yang berbalut handuk di atas ranjang. Axel menarik handuk Helena dan membuangnya sembarang. Axel menuntut haknya lagi dan lagi, dan Helena tak kuasa menolaknya.


Axel menggulingkan tubuhnya di samping Helena setelah mendapatkan pelepasan ketiganya di siang bolong. Sedangkan Helena sudah tak tahu berapa kali dia mendapatkan pelepasan. Kedua napas mereka terengah-engah.


"Terima kasih sayang," ucap Axel sambil menc**m pipi Helena.


"Apa kau meminum obat perangsang lagi, Xel? Kau seperti tidak kenal lelah," tanya Helena dengan napas tersenggal.


Axel tertawa pelan.


"Kau pikir aku kuat karena obat sialan itu. Meskipun tanpa obat aku bisa menggempurmu berkali-kali, El. Bahkan sampai membuatmua tidak bisa berjalan," jawab Axel.


Helena membelalakkan matanya.


...🌹🌹🌹...


Ayo gempur terus, Xel! Biar ladangnya Helena segera tumbuh benih yang genius berkualitas tinggi...🤭✌


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2