Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Season 2. Jasmine dan Kisah Cintanya 4 (The Greatest Gift)


__ADS_3

Hari ini Jasmine mulai belajar bekerja di Alvaro Group sebagai salah satu asisten Axel. Irene yang akan membimbingnya, karena Axel dan William harus pergi ke Bandung untuk menghadiri pertemuan penting. Irene merasa takjub akan kecerdasaan Jasmine. Dengan satu kali arahan, Jasmine sudah bisa melakukan pekerjaannya dengan baik.


"Nona, siang ini kita ada jadwal pertemuan dengan Nagasaki Group di restoran hotel XXX," ucap Irene.


"Baiklah, Kak. Kita ke sana sekarang. Dan setelah pertemuan itu selesai kita bisa langsung makan siang," ujar Jasmine.


Irene mengangguk.


Ting... (Ada pesan masuk ke ponsel Jasmine)


Jasmine tersenyum sumringah saat mengetahui nama Evan♥️ di layar ponselnya.


E : "Semangat bekerjanya ya princess. I know that you'll do your best."


J : "I will...🥰"


E : "Hari ini ada jadwal meeting dengan klien ya. Ingat! Selalu jaga pandangan matamu. Aku tidak ingin semakin banyak pria yang ingin bersaing denganku.😤"


J : "🤣🤣🤣"


E : "😡"


J : "Kamu tenang saja, mataku masih suka melihat wajah tampan bule Turki."


E : "😍😍😍"


J : "Tapi aku juga belum tahu, klien yang mau aku temui ini seperti apa? Siapa tahu dia bule Turki yang lain.😍🤣"


E : "Biarkan Kak Irene saja yang datang. Kau tetap tinggal di Alvaro Group. 😤😤😤"


J : "Jangan mudah marah, nanti cepat tua. Aku tidak suka dengan pria yang tua..🤭"


E : "😊"


J : "Bagus. Aku lebih suka melihatmu tersenyum. Baiklah, sudah waktunya aku berangkat. Jangan lupa makan ya. Dan berdoalah semoga klienku kali ini bukan bule Turki.😁"


E : "🤲 Princessku juga jangan lupa makan. 😘"


"Hufftt... Aku kan jadi tidak tenang sekarang. Bagaimana jika benar klien yang akan Jasmine temui itu pria keturunan Turki?" ucap Evan kesal.


Evan menghubungi asistennya.


Tok...Tok...


"Masuk!" seru Evan.


Seorang pria berperawakan tinggi dengan wajah asli pribumi, melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Evan.


"Sandy. Apa kita ada pertemuan penting siang ini?" tanya Evan kepada asisten sekaligus sekretarisnya yang bernama Sandy.


"Tidak ada. Kita ada jadwal pertemuan penting besok pagi, Tuan," jawab Sandy.


"Bagus. Kalau begitu, aku pergi dulu. Jika ada sesuatu yang penting, hubungi aku," ucap Evan.


"Apa Tuan tidak ingin saya antarkan?" tanya Sandy.


"Tidak perlu. Aku bawa mobil sendiri saja," jawab Evan sambil tersenyum.


Sandy pun menganggukkan kepalanya. Evan segera melangkahkan kakinya meninggalkan ruangannya menuju mobilnya yang terparkir di tempat khusus petinggi Sahir Cooperation.


Evan senang karena sudah mengambil keputusan yang tepat untuk mengikuti saran calon kakak iparnya, Axel. Sebelumnya Axel menyarankan agar Evan memilih seorang pria untuk menjadi asisten dan sekretarisnya. Dulu Evan pernah memiliki sekretaris wanita bernama Dena. Dena selalu berusaha untuk menarik perhatiannya, dengan segala tingkahnya yang membuat Evan jengkel. Akhirnya Evan memecatnya dan menggantinya dengan Sandy.


Saat masih dalam perjalanan menuju hotel XXX, Jasmine mendapatkan telpon dari Axel.


"Assalamualaikum, Kak," ucap Jasmine.


"Waalaikumsalam. Kakak hanya ingin memberitahumu jika hari ini kita ada pertemuan penting dengan salah satu klien, Tuan Kimura," ucap Axel.


"Aku sudah tahu, Kak. Saat ini aku dan Kak Irene sedang dalam perjalanan ke hotel XXX," sahut Jasmine.


"Oh, syukurlah. Kakak tenang. Kakak yakin jika kau bisa melakukan pertemuan ini dengan baik," ucap Axel.


"Kakak tenang saja. Aku tidak akan mengecewakanmu," ujar Jasmine.


"Sebentar, William ingin bicara denganmu," sahut Axel.


"Halo, Nona," ucap William.


"Ya, Kak Will. Ada apa?" tanya Jasmine.


"Tolong tanyakan pada Irene, apakah dia sudah makan? Tapi pagi karena terburu-buru, kami tidak sempat sarapan. Irene mempunyai riwayat penyakit maag akut. Aku khawatir jika penyakitnya itu akan kambuh," jawab William dengan nada khawatir.


"Kak Irene. Kak William tanya apakah kakak sudah makan tadi? Kak William khawatir jika sakit maag kakak akan kambuh," tanya Jasmine pada Irene.


"Tolong sampaikan, aku sudah makan roti di kantor tadi. Dan setelah selesai bertemu klien, kita akan makan siang," jawab Irene.


"Kak William dengar sendiri, kan?" tanya Jasmine pada William yang ada di seberang telpon.


"Syukurlah, aku jadi tenang sekarang. Terima kasih, Nona," ucap William.


"Sama-sama, suami bucin akut," jawab Jasmine sambil tertawa dan memutuskan panggilan telpon mereka.


Irene tersenyum mendengarnya. Irene bahagia karena memiliki suami yang sangat sayang dan perhatian padanya. Tak lama kemudian, mobil mereka memasuki kawasan hotel XXX. Jasmine dan Irene segera turun dari mobil, lalu menemui klien penting yang berasal dari negeri sakura, Tuan Kimura.


Pertemuan Jasmine dengan Tuan Kimura berjalan dengan baik. Keduanya mendapatkan kesepakatan kerja bagi kedua perusahaan mereka. Tuan Kimura sangat terkesan pada saat Jasmine menjelaskan semua program kerjasama yang diajukan oleh Alvaro Group.


"Anda sungguh luar biasa, Nona Muda Alvaro. Meskipun usia Anda masih muda dan belum berpengalaman, tetapi Anda mempunyai kemampuan yang tak perlu diragukan lagi sebagai seorang Alvaro. Saya sangat senang perusahaan kami bisa bekerja sama dengan perusahaan keluarga Anda," ucap Tuan Kimura.


"Terima kasih Tuan. Anda terlalu memuji," ucap Jasmine dengan sopan.


Tuan Kimura segera meninggalkan hotel XXX, karena dia harus ke bandara dan melakukan penerbangan ke negaranya, Jepang.

__ADS_1


"Kakak, kita makan di restoran ini saja ya. Menu makanannya cukup enak di sini," usul Jasmine.


"Baiklah, Nona. Tapi saja ijin ke toilet sebentar ya," jawab Irene.


"Silakan, Kak," sahut Jasmine.


Irene segera pergi ke toilet untuk memuntahkan apa yang ada di dalam perutnya. Sebenarnya sejak tadi dia menahan gejolak di perutnya. Penyakit maagnya kambuh, perutnya terasa perih dan membuatnya merasa mual.


"Hufftt... Maagku benar-benar kambuh. Aku harus segera minum obat sebelum semakin parah. Aku tidak boleh membuat Nona Jasmine dan William khawatir," gumam Irene sambil mengusap keringat dingin di wajahnya.


Irene mengambil botol obat maagnya. Lalu segera meneguk obat yang berbentuk cair itu. Setelah itu dia segera membersihkan mulutnya dan melangkah keluar meninggalkan toilet. Saat akan kembali ke meja yang telah mereka pesan, Irene tidak sengaja bertabrakan dengan gadis muda yang seumuran Jasmine.


"Aarrgghh...," pekik gadis itu.


Gadis itu menatap Irene dengan kesal.


"Di mana kau letakkan matamu itu? Beraninya kau menabrakku! Kalau jalan itu hati-hati!" bentak gadis itu.


"Mengapa kau harus marah? Yang matanya sibuk ke layar ponsel kan dirimu, itu artinya kau yang salah," sahut Irene.


"Beraninya kau menyalahkanku!" bentak gadis itu lagi.


Gadis itu hendak menampar wajah Irene, namun tangannya ditahan oleh Jasmine.


"Dasar sampah masyarakat, kau yang salah karena matamu yang jereng itu. Masih mau menyalahkan orang lain," bentak Jasmine sambil menghempaskan tangan gadis itu.


"Kau! Beraninya kau membentakku! Kau tidak tahu siapa diriku. Haaahhh!" gadis sombong itu terus membentak.


"Aku tidak tahu, dan aku tidak mau tahu. Peduli amat siapa dirimu. Mau anak presiden atau raja sekalipun, jika salah ya harus meminta maaf," ucap Jasmine kesal.


"Sudahlah Nona. Abaikan saja, namanya juga gadis labil," ucap Irene.


"Apa kau bilang?" teriak gadis itu, lalu mendorong tubuh Irene dengan kuat.


Irene pun jatuh di atas lantai, lalu pingsan. Jasmine dan gadis itu langsung terkejut.


"Cih! Dasar lemah. Didorong seperti itu saja langsung pingsan," ejek gadis itu.


Jasmine yang geram, langsung menjambak rambut gadis sombong itu.


"Aarrgghh!" pekik gadis itu.


Jasmine langsung mendorong gadis itu sampai jatuh tersungkur di atas lantai. Jika bukan karena melihat kondisi Irene, Jasmine pasti sudah menghajar gadis super sombong itu.


"Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum kesabaranku habis!" bentak Jasmine.


Gadis itu langsung pergi terbirit-birit. Jasmine mendekati Irene dan mencoba membangunkannya.


"Kak Irene, bangun!" panggil Jasmine.


Irene tak kunjung bangun. Jasmine yang cemas langsung mengambil ponselnya. Beruntung Evan sedang menelponnya.


"Halo, Evan. Kau di mana?" tanya Jasmine cemas.


"Aku ada di restoran hotel. Kau cepatlah datang ke sini. Kak Irene pingsan," jawab Jasmine.


"Baiklah, aku akan segera ke sana," sahut Evan.


Evan segera menuju restoran hotel XXX. Saat melihat Jasmine, Evan langsung berlari menghampirinya.


"Jasmine, bagaimana keadaan Kak Irene?" tanya Evan.


"Kak Irene masih belum sadarkan diri. Sebaiknya kita segera membawanya ke rumah sakit," jawab Jasmine.


Evan langsung membopong tubuh Irene dan meletakkannya dengan hati-hati ke dalam mobil. Setelah itu, Evan melajukan mobilnya dengan kencang. Saat tiba di rumah sakit, Helena sudah menyambut kedatangan mereka di ruang IGD. Jasmine sudah menghubungi Helena sebelumnya.


Helena segera memeriksa kondisi Irene.


"Tekanan darahnya rendah sekali," ucap Helena cemas.


"Kak William tadi bilang, jika Kak Irene memiliki penyakit maag akut. Dan tadi pagi Kak Irene terlambat makan," ucap Jasmine.


Helena memeriksa denyut nadi Irene kembali.


"Aarrgh!" pekik Irene yang mulai sadar.


Tangan Irene memegang kepalanya yang masih terasa sakit.


"Syukurlah kau sudah sadar Irene," ujar Helena.


"Apa yang terjadi padaku?" tanya Irene.


"Kakak tadi pingsan. Aku dan Evan membawa kakak ke rumah sakit Kak Helena," jawab Jasmine dengan wajah cemas.


"Terima kasih Jasmine," ucap Irene.


"Sama-sama, Kak," jawab Jasmine.


"Irene, apa kau masih melakukan treatment yang aku sarankan dulu?" tanya Helena.


Irene mengangguk.


"Dan bagaimana dengan jadwal menstruasimu?" tanya Helena lagi.


"Sejak remaja, jadwal menstruasiku tidak lancar setiap bulannya," jawab Irene. "Apa ada masalah?"


"Tidak. Tapi sebaiknya kita lakukan pemeriksaan lebih lanjut," jawab Helena sambil tersenyum.


Irene hanya mengangguk dan memaksakan senyumannya. Dalam hati Irene merasa sangat takut. Helena membawa Irene ke ruangan dokter Zahra. Dokter Zahra yang sebelumnya sudah dihubungi oleh Helena, menyambut kedatangan mereka. Jasmine dan Evan menunggu di luar ruangan.


"Silakan naik dulu ke atas ranjang, Nyonya," ucap dokter Zahra.

__ADS_1


Kemudian dokter Zahra melakukan pemeriksaan menggunakan alat USG.


"Apa dugaanku benar, dokter?" tanya Helena.


"Benar, dokter Helena," jawab dokter Zahra.


"Sebenarnya aku sakit apa, dokter? Apa sakitku parah?" tanya Irene dengan raut wajah takut.


Helena dan dokter Zahra tersenyum.


"Kau memang sakit, Irene. Penyakit maagmu kambuh. Tapi ada hal lain yang terjadi pada tubuhmu," jawab Helena.


Wajah Irene semakin tegang. Dokter Zahra menggunakan alat USG nya kembali.


"Nyonya Irene coba Anda lihat ke layar monitor. Di sana ada titik kecil," ucap dokter Irene.


"Apa itu semacam tumor atau kista?" tanya Irene.


"Bukan Nyonya. Ini adalah calon bayi, Anda. Selamat Nyonya Irene saat ini Anda sedang mengandung dan usia kandungannya baru 4 minggu," ucap dokter Zahra.


Irene membulatkan matanya.


"A-apa? Apa benar aku hamil dokter? Nyonya Helena?" tanya Irene tak percaya.


"Benar Irene, kamu hamil. Selamat ya," ucap Helena.


Irene menangis bahagia bercampur haru. Helena langsung memeluknya.


"Akhirnya semua perjuangan dan kesabaranmu membuahkan hasil, Irene. Sekarang kau hamil dan kalian akan memiliki seorang anak," ucap Helena pelan.


"Terima kasih Tuhan. William pasti sangat bahagia jika dia tahu akan menjadi seorang ayah," ujar Irene sambil terisak.


Axel dan William mempercepat langkahnya saat tiba di rumah sakit. Axel langsung menuju ruangan dokter Zahra, sesuai pesan yang dikirimkan oleh Jasmine.


"Jasmine, Evan," panggil Axel.


"Kakak, Kak Will," sahut Jasmine.


"Di mana Irene? Dan bagaimana keadaannya?" tanya William khawatir.


"Kak Irene masih diperiksa di dalam, ditemani Kak Helena," jawab Jasmine.


Pintu ruangan dokter Zahra terbuka, dan keluarlah Helena.


"Syukurlah kalian sudah datang," ucap Helena saat melihat Axel dan William.


"Bagaimana keadaan Irene, Nyonya?" tanya William.


"Sebaiknya kau masuk ke dalam, Will. Ada yang ingin Irene sampaikan padamu," jawab Helena.


William segera membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan dokter Zahra.


"Silakan masuk, Tuan," ucap dokter William.


"Will," panggil Irene dengan mata yang masih menangis.


William segera menghampiri Irene yang berbaring di atas ranjang. William menggenggam tangan Irene dan menciumnya.


"Sayang, tenanglah. Aku sudah ada di sini. Kau tidak perlu takut," ucap William lembut.


"Istri saya sakit apa dokter?" tanya William.


Irene langsung menarik tangan William dan meletakkan di atas perutnya yang masih datar.


"Apa perutmu sakit, sayang?" tanya William.


Irene menggeleng sambil tersenyum.


"Apa kau tahu Will? Di dalam sini ada calon William junior," ucap Irene.


"Apa?" William terkejut.


"Sebentar lagi kau akan menjadi seorang ayah, Will. Kita akan memiliki anak dan menjadi orang tua," ucap Irene lembut.


"Apa itu benar, dokter? Apa benar istri saya sedang hamil?" tanya William yang masih tak percaya.


"Benar Tuan. Nyonya Irene saat ini sedang mengandung, dan usia kandungannya 4 minggu," jawab dokter Zahra sambil menyerahkan gambar hasil USG.


Tangan William sedikit gemetar saat menerima hasil USG itu. Bulir air matanya pun jatuh tak tertahankan lagi.


"Terima kasih Tuhan, ini adalah anugerah terbaik yang Engkau berikan. Terima kasih sayang. Aku sangat mencintaimu," ucap William lalu mencium kening Irene dengan lembut.


Kedunya pun saling berpelukan dengan perasaan penuh kebahagiaan.


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. I'm The Unstoppable Queen


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2