
Aiden membuka matanya perlahan. Di detik selanjutnya dia membelalakkan kedua matanya.
"Aku di mana?" tanya Aiden saat mengetahui dirinya berada di taman bunga warna warni yang indah.
"Ya Tuhan. Apa Engkau telah membawaku untuk berpulang? Apakah ini di surga?" tanya Aiden tak percaya.
Aiden segera berdiri. Seulas senyum terbentuk di bibirnya.
"Benarkah pendosa sepertiku bisa tinggal di surga?" gumam Aiden.
"Daddy!" terdengar suara panggilan anak kecil.
"Daddy!" panggilnya lagi.
Aiden menyapukan pandangannnya ke seluruh taman. Sampai kedua manik matanya melihat seorang gadis kecil berbaju putih berjalan menghampirinya. Aiden menyerngitkan dahinya.
"Halo, Daddy," sapa gadis kecil itu.
Aiden terpana melihatnya. Gadis kecil itu memiliki kulit putih bersih, berambut cokelat panjang dan wajah yang cantik bercahaya. Saat gadis kecil itu berdiri tepat di depannya, Aiden langsung berjongkok untuk menyamakan tinggi badan mereka.
"Halo, anak cantik. Mengapa kau berada di sini sendirian? Di mana kedua orang tuamu?" tanya Aiden lembut.
Gadis kecil itu tersenyum.
"Aku ke sini ingin bertemu dengan, Daddy," jawab anak itu sambil jari mungilnya menunjuk Aiden.
"Tapi aku bukan Daddymu, cantik," sahut Aiden.
"Apa kau tidak mau menjadi Daddyku?" tanya gadis kecil itu sedih dan ingin menangis.
Aiden melebarkan matanya.
"Hei, cantik. Jangan bersedih seperti itu. Aku mau jadi Daddymu. Jangan menangis ya," jawab Aiden sambil tersenyum menenangkan.
"Terima kasih, Daddy," ucap gadis kecil itu sambil melompat ke dalam pelukan Aiden.
Ada perasaan hangat dan bahagia yang dirasakan oleh Aiden saat ini. Mereka mengurai pelukan keduanya. Kedua tangan mungil gadis itu menakup wajah Aiden.
"Daddyku tampan sekali," puji gadis kecil itu sambil tertawa.
Aiden mencubit pipi gadis itu gemas.
"Apa wajah kita mirip, Daddy?" tanya gadis kecil itu.
Aiden menatap wajah gadis kecil itu dengan lekat. Aiden membulatkan bola matanya. Aiden baru menyadari jika wajah gadis itu mirip sekali dengannya, hanya hidung dan bibirnya yang berbeda. Aiden menyentuh setiap sudut wajah gadis itu.
"Siapa namamu, sayang?" tanya Aiden.
Gadis kecil menggeleng, membuat Aiden menyerngitkan dahinya.
"Apa kau tidak punya nama?" tanya Aiden lagi.
"Aku ingin Daddy yang memberiku nama," pinta gadis kecil itu sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, Daddy tampanmu ini yang akan memberikanmu nama. Karena kau cantik seperti malaikat, Daddy akan memberimu nama Angela."
"Bagaimana? Apa kau suka, sayang?" tanya Aiden.
"Ya Daddy. Angela suka," jawab Angela.
"Mulai sekarang Daddy akan memanggilmu Angela," sahut Aiden.
Angela langsung memeluk Aiden erat.
"Daddy, Angela ingin bermain sama Daddy," pinta Angela.
"Siap, my little angel, Angela," seru Aiden.
Aiden menggendong Angela, dan keduanya pun bermain dengan riang di taman. Mereka bermain berlarian, menangkap kupu-kupu. Bahkan Angela naik ke atas punggung Aiden dan menjadikan Aiden sebagai kuda-kudaan.
Aiden sangat bahagia. Ada ikatan batin yang kuat diantara keduanya. Mereka bermain dan menghabiskan waktu cukup lama. Aiden dan Angela terus mengembangkan senyum dan tawa mereka. Sampai muncullah cahaya putih yang sangat menyilaukan mata.
"Cahaya apa itu?" batin Aiden.
"Daddy, sudah waktunya Angela pergi. Terima kasih banyak Daddy sudah mau menerima Angela dan memberikan nama untuk Angela. Angela sangat menyayangi Daddy. Angela mohon temukan mereka. Mereka berdua sangat membutuhkan Daddy. Mereka juga sangat menyayangi Daddy seperti Angela menyayangi Daddy," ucap Angela sambil tersenyum dan mencium pipi kanan dan kiri Aiden.
"Mereka siapa?" tanya Aiden tak mengerti.
"Tidak sayang. Daddy mohon jangan tinggalkan Daddy. Daddy sangat menyayangi Angela. Jangan pergi sayang."
Aiden terus memeluk Angela sambil meneteskan air mata. Tapi cahaya putih itu seakan menarik Angela sehingga terlepas dari pelukan Aiden.
"Angela sayang. Daddy mohon jangan tinggalkan Daddy," teriak Aiden sambil berusaha mengejar Angela.
"Selamat tinggal Daddy. Angela sayang Daddy," ucap Angela sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.
Sebelum Angela menghilang, Angela memberikan ciuman jauh kepada Aiden. Dan di detik selanjutnya, Angela benar-benar menghilang dibawa cahaya putih tadi.
"Angela! Angela!" Aiden terus berteriak dan menangis.
"Angela!" teriak Aiden saat bangun di kamarnya.
Jantung Aiden berdetak kencang dengan napas ngos-ngosan. Aiden melihat sekelilingnya, dan menyadari jika saat ini dia berada di kamar apartemen pribadinya seperti sebelumnya. Dan saat ini suasana sudah pagi.
"Apa itu tadi hanya mimpi?" gumam Aiden.
Aiden merasakan wajahnya basah. Dia menyeka air matanya.
__ADS_1
"Tapi mengapa terasa nyata?" tanyanya pada diri sendiri.
"Apa maksud semua ini, Tuhan?"
Aiden menangis, dalam hati dia sangat merindukan Angela yang baru dikenalnya. Aiden segera beranjak dari tempat tidur dan membersihkan diri supaya hatinya lebih tenang.
...****...
Emilya dan Neil keluar dari rumah sakit. Mereka menuju tempat sebuah tempat pemakaman. Emily dan Neil memakamkan bayi Emily di dekat makam kakek dan nenek mereka. Emily meminta bantuan kepada seorang pendeta untuk membacakan doa.
Pada batu nisan bayi itu, Emily menuliskan nama A&E. Emily berjongkok dengan perlahan supaya bisa lebih dekat dengan makam anaknya.
"Sayang. Mommy sengaja menempatkan kamu di dekat great grandpa dan great granny supaya kamu tidak kesepian. Mommy sangat menyayangimu. Mommy minta maaf, jika Mommy belum bisa menjagamu dengan baik. Engkau adalah salah satu malaikat kecil Mommy. Selalu jaga Mommy dan saudaramu dari atas sana. I love you, my little angel," ucap Emily, kemudian mencium batu nisan anaknya.
Emily berdiri dengan dibantu oleh Neil.
"Kita berangkat sekarang, Kak," ucap Neil.
Emily mengangguk.
"Selamat tinggal malaikat kecil, Mommy. Nanti Mommy akan kembali menemuimu bersama saudaramu," ucap Emily sambil menitikkan air mata.
Emily dan Neil segera meninggalkan area pemakaman. Keduanya pergi menuju bandara dan terbang meninggalkan negara Jerman.
...*****...
Aiden berjalan di lorong rumah sakit. Tanpa sengaja, dia bertemu dengan sahabatnya saat sekolah dulu.
"Samantha!" panggil Aiden.
"Oh, hai Aiden. Mengapa kau berada di sini? Apa kau sakit?" sahut dokter Samantha.
"Well, aku baru saja memeriksakan diriku. Puji syukur semua baik-baik saja," jawab Aiden.
"Syukurlah aku senang mendengarnya. Memangnya apa yang kau rasakan?" tanya dokter Samantha.
"Semalam tiba-tiba jantungku terasa sakit sekali," jawab Aiden.
"Apa kau semalam minum-minuman berakohol?" tanya dokter Samantha menginterogasi.
Aiden mengangguk sambil tersenyum kikuk.
"Sebaiknya kau kurangi mengkonsumsi minuman berakohol, demi kesehatan tubuhmu," cerca dokter Samantha.
"Akan aku usahakan," jawab Aiden sambil tersenyum.
Dokter Samantha memutar bola matanya.
"Dokter Samantha," tegur seorang perawat.
"Dokter Samantha, Anda mendapatkan pesan dari pasien yang semalam dirawat di kamar VVIP. Nona itu mengucapkan terima kasih banyak atas bantuan Anda," ucap seorang perawat.
"Apa Nona itu sudah keluar dari rumah sakit? Apa keadaannya sudah benar-benar membaik? Bahkan jahitan bekas operasi diperutnya masih basah," tanya dokter Samantha.
"Nona itu mengatakan jika dia baik-baik saja. Dia juga mengatakan kalau dia adalah seorang dokter, sehingga bisa merawat lukanya sendiri," jawab si perawat.
Aiden hanya diam sambil mendengarkan.
"Apa yang dikatakannya memang benar. Saya sudah memeriksa datanya. Dia adalah salah satu dokter sukarelawan yang dikirim ke Italia, dokter Emily," ucap dokter Samantha.
Aiden membelalakkan matanya.
"Emily? Apa benar namanya Emily?" tanya Aiden penasaran.
Dokter Samantha terkejut dibuatnya.
"Kau pergilah dan lanjutkan tugasmu," ucap dokter Samantha kepada si perawat.
"Apa kau mengenalnya?" tanya dokter Samantha.
"Tunggu sebentar," jawab Aiden.
Aiden mengambil ponselnya dan membuka foto Emily.
"Apa benar, Emily yang ini?" tanya Aiden sambil memperlihatkan foto Emily.
"Kau benar," jawab dokter Samantha.
"Apa hubunganmu dengannya? Apa dia salah satu wanitamu?" tanya dokter Samantha penuh selidik.
"Dia bukan salah satunya. Dia adalah wanitaku," tegas Aiden.
Dokter Samantha menghela napas panjang.
"Ikut ke ruanganku," seru dokter Samantha.
Aiden mengikuti dokter Samantha masuk ke dalam ruangannya dengan penuh semangat.
"Duduklah," perintah dokter Samantha.
Aiden dan dokter Samantha duduk di atas sofa yang ada di ruangan itu.
"Sekarang katakan di mana Emily, Samantha. Aku mohon," ucap Aiden dengan tatapan memohon.
"Apa kau ayah dari bayi yang sedang dikandungnya, Aiden?" tanya dokter Samantha.
Aiden melebarkan matanya tak percaya.
__ADS_1
"Em-Emily hamil. Apa benar dia sedang hamil sekarang?" tanya Aiden tak percaya.
"Benar. Emily sedang hamil," jawab dokter Samantha.
Aiden sangat bahagia, dia sampai menitikkan air mata bahagia bercampur haru.
Dokter Samantha membulatkan matanya, baru kali ini dia melihat sisi diri Aiden yang seperti ini.
"Aiden pasti sangat mencintai wanita ini," batin dokter Samantha.
"Terima kasih, Tuhan," ucap Aiden tulus.
"Lebih tepatnya, Emily hamil anak kembar. Tapi, semalam dia mengalami kontraksi dan pendarahan hebat. Salah satu janinnya tidak bisa diselamatkan, dan dengan berat hati kami melakukan tindakan operasi untuk mengeluarkannya," terang Samantha.
"Apa? Apa kau bilang? Emily kehilangan satu bayinya? Itu artinya aku juga kehilangan satu bayiku? Mengapa kalian tidak berusaha menyelamatkannya?" tanya Aiden sambil membentak.
Sedangkan air matanya terus mengalir.
"Kami minta maaf Aiden. Jantung salah satu janin kalian berhenti berdetak dan tubuhnya sudah tidak bergerak lagi. Aku ikut bersedih, Aiden," ucap dokter Samantha.
"Mengapa kau tidak memberitahuku jika kau hamil, Emily? Aku pasti akan menikahimu. Dan kita besarkan kedua anak kita bersama," ucap Aiden dengan penuh penyesalan.
"Sebaiknya kau segera mencarinya, Aiden. Emily saat ini bersama dengan adiknya yang bernama Neil. Keduanya sudah keluar dari rumah sakit tadi pagi dengan membawa jenazah janin kalian," ucap dokter Samantha.
Aiden segera menyeka air matanya.
"Kau benar Samantha. Terima kasih banyak kau telah merawat Emily dan bayi kami. Aku pergi dulu," ucap Aiden.
Aiden segera menghubungi anak buahnya untuk mencari Emily. Mereka meretas rekaman CCTV di rumah sakit. Terlihat Emily keluar dari rumah sakit bersama seorang pria dengan membawa kotak kecil di tangannya.
"Tuan, dari hasil penyelidikan kami. Setelah dari rumah sakit, mereka pergi ke suatu tempat pemakaman. Akan kami kirimkan alamatnya," lapor anak buah Aiden.
Tanpa menunggu lama, Aiden segera menuju tempat pemakaman itu dan mencari lokasi pemakaman keluarga Emily. Langkah Aiden terhenti saat melihat makan kecil yang tanahnya masih basah diantara kedua makam besar. Aiden menghampiri makam kecil itu dengan tubuh gemetar.
Aiden menjatuhkan tubuhnya ke atas tanah dan membaca nama di batu nisan itu, A&E (Aiden&Emily). Aiden menangis sejadinya sambil mencium batu nisan itu.
"Halo sayang. Ini Daddy sayang. Maafkan Daddy yang terlambat menemukan kalian," ucap Aiden dalam tangisnya.
Kemudian Aiden teringat dengan mimpinya semalam.
"Apa kau Angela? Malaikat kecil Daddy, sayang. Jadi kau datang ke mimpi Daddy untuk menemui Daddy semalam. Terima kasih, engkau mau menemui Daddy dalam mimpi," ucap Aiden sambil tersenyum.
Aiden menyeka air matanya.
"Engkau sudah tenang di sisi Tuhan. Daddy janji sayang. Daddy akan menemukan Mommy dan saudaramu. Bantu Daddy ya sayang. Doakan Daddy dari sana, semoga Daddy bisa segera menemukan mereka," ucap Aiden, lalu mencium batu nisan anaknya.
"Daddy pergi dulu, sayang. Daddy akan membawa Mommy dan saudaramu ke sini."
Aiden segera meninggalkan tempat pemakaman itu. Dia harus segera menemukan Emily dan calon bayi mereka. Aiden mendapatkan telpon lagi dari anak buahnya.
"Tuan, security di perusahaan Morris mengatakan jika kemarin ada seorang wanita sedang mencari keberadaan Anda. Dia mengatakan namanya Emily. Dan security itu memberitahu jika Anda sedang tidak berada di kantor dan akan menghadiri sebuah pesta di gedung Joe Dream pada malam harinya. Kami sudah memeriksa rekaman CCTV di gedung tersebut. Dan benar wanita itu sempat berada di dalam ruangan pesta," lapor anak buah Aiden.
"Segera kirimkan rekaman CCTV itu padaku!" perintah Aiden.
Aiden menepikan mobilnya, kemudian mengambil laptop di kursi belakang untuk memeriksa rekaman CCTV itu.
"Jadi benar wanita yang tadi malam aku kejar itu dirimu, Em. Mengapa kau melarikan diri dariku?" gumam Aiden.
Aiden melihat jika Emily berlari sambil menangis. Kemudian memundurkan pemutaran rekaman itu dan melihat pertama kali Emily masuk ke dalam ruangan pesta. Terlihat perut Emily sedikit membuncit di balik gaun putihnya.
Terlihat Emily berjalan dan hendak menghampirinya. Namun, Emily menghentikan langkahnya tepat di dekat meja Cassandra dan teman-temannya. Kemudian Emily memutar badannya dan pergi meninggalkan ruangan pesta.
"Cassandra?" seru Aiden.
"Apa bualan yang dibuat oleh Cassandra yang membuat Emily pergi sambil menangis? Sial!" teriak Aiden.
Aiden mengambil ponselnya dan menghubungi anak buahnya.
"Tangkap wanita yang bernama Cassandra, yang semalam datang ke pesta bersamaku. Bawa dia ke markas kita!" perintah Aiden.
"Jika benar kau yang sudah membuat wanitaku menangis dan membuatnya kehilangan salah satu bayi dalam kandungannya. Aku tidak akan tinggal diam, Cassandra."
"Nyawa dibalas dengan nyawa!" ucap Aiden dengan tatapan membunuhnya.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
(Maafkan 1 eps. dulu ya. Suhu tubuh meningkat lagi readers🙏)
Baca juga novel pertama author :
"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰
__ADS_1