Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 54. Lamaran Marco


__ADS_3

Tiga hari telah berlalu, Marco masih menunggu jawaban dari Putri. Dokter masih menyarankan Putri untuk dirawat di rumah sakit karena kandungannya cukup lemah. Sedangkan Bella sudah dibawa ke Amerika dua hari yang lalu.


Setiap hari Marco selalu mengawasi Putri dari jauh. Marco juga setiap hari membawakan makanan, susu dan vitamin untuk Putri yang dititipkan kepada Tuan Frans. Dan akhirnya Tuan Frans mengatakan jika Putri ingin bertemu dengannya.


Terlihat sekali suasana canggung menyelimuti Marco dan Putri yang sedang duduk berdua di taman rumah sakit.


"Kau harus tahu Marco. Aku terjerat masalah dengan keluarga Dawson dan Alvaro karena kebohongan yang telah aku lakukan pada mereka selama ini. Aku tidak akan lepas dari hukuman nantinya. Itu artinya aku akan masuk penjara untuk menebus semua kesalahanku," ucap Putri.


Marco sudah mengetahuinya, karena sebelumnya dia telah diberitahu oleh Axel dan Helena.


"Ya aku tahu. Aku akan tetap menerimamu," sahut Marco.


Putri menatap Marco tak percaya.


"Sudah pernah aku katakan padamu, tidak ada manusia yang sempurna di dunia ini. Dengan mempertanggung jawabkan perbuatan yang telah kita lakukan, kita bisa menjadi orang yang lebih baik lagi," ucap Marco.


"Kau juga pasti tahu jika aku memiliki dua orang anak. Satu anak angkatku, Deniz, dan satu lagi anak kandungku yang masih belum ketemu. Tapi kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan membebanimu untuk merawat mereka nantinya," tambah Marco.


"Kau mungkin bisa menerimaku. Bagaimana dengan keluargamu?" tanya Putri.


Marco menghela napas panjang.


"Apapun keputusan mereka, aku akan tetap bertanggung jawab dan menikahimu," jawab Marco tegas.


"Tapi tidak ada cinta di antara kita. Bagaimana kita bisa membangun suatu pernikahan? Aku juga nantinya pasti akan membuatmu malu karena memiliki istri seorang narapidana," ucap Putri.


"Pertama, aku tidak peduli meskipun kau menjadi narapidana. Kau tetaplah ibu dari anakku."


"Kedua, aku akan berusaha membuatmu jatuh cinta padaku dan akan kita jalani pernikahan ini dengan baik dan penuh kebahagiaan. Dan jika kau gagal, kau boleh melakukan apapun yang kau inginkan nantinya," ucap Marco tanpa keraguan.


Putri menatap lekat mata Marco, dan hanya ketulusan yang ada di sana. Putri terdiam.


"Aku tidak akan memaksamu, tapi setidaknya ijinkan aku untuk dekat dengan anakku yang sedang kau kandung. Aku tidak ingin dia kehilangan sosok ayahnya. Sebaiknya aku mengantarmu kembali ke kamar, kau harus banyak beristirahat," ucap Marco sambil berdiri.


"Kapan?" tanya Putri.


"Haahhh!" seru Marco tak mengerti.


Putri menatap wajah Marco.


"K-kapan kita akan menikah? Karena aku harus segera kembali ke Amerika untuk mempertanggung jawabkan kesalahanku," ucap Putri.


Marco melebarkan matanya.


"Apa itu artinya kau bersedia menikah denganku?" tanya Marco tak percaya.


Putri mengangguk.


"Ya," jawab Putri singkat.


Marco tersenyum bahagia. Kemudian dia berjongkok di hadapan Putri.


"Secepatnya kita akan menikah. Dan aku juga akan ikut ke Amerika bersamamu," ucap Marco.


Putri tersenyum tipis dan mengangguk. Marco membawa Putri kembali ke kamarnya. Marco memberitahu Tuan Frans jika Putri sudah bersedia untuk menikah dengannya. Marco akan mengurus semua persiapan pernikahan mereka yang akan dilakukan secara sederhana sesuai keinginan Putri. Mereka akan melangsungkan pernikahan di Jerman agar karena mengurusi dokumen pernikahannya lebih mudah karena Marco berwarga kenegaraan Jerman.


"Papa bahagia sekali, Nak. Papa yakin Marco adalah pria yang baik. Papa juga sudah meminta ijin kepada dokter dan para anak buah keluarga Alvaro untuk membawamu pulang dan beristirahat di rumah. Itupun jika kau setuju. Nantinya ada Bu Farah yang membantu Papa untuk merawatmu," ucap Tuan Frans.


"Bu Farah itu siapa Pa?" tanya Putri.


"Bu Farah itu istri Papa. Dia wanita yang baik dan penyayang. Papa yakin kau akan suka dengannya. Bu Farah sudah lama ingin bertemu denganmu, namun dia tidak ingin menganggu waktu kebersamaan kita, sehingga dia tidak pernah datang kemari," jawab Tuan Frans.


"Apa nantinya aku tidak akan merepotkan kalian? Maksudku, aku tidak ingin keluarga Papa bermasalah karena kehadiranku," ucap Putri.


Tuan Frans tersenyum.

__ADS_1


"Tentu saja tidak Nak. Kami sangat bahagia dengan kehadiranku di dalam keluarga kami. Farah pasti juga akan sangat bahagia," ucap Tuan Frans.


"Tuhan tidak memberikan kami rejeki anak selama kami menikah, Nak. Sehingga pada saat Papa melihatmu waktu kecil dulu, Papa memohon pada mamamu, Bella, untuk memberikanmu pada Papa. Tapi mamamu menolak dengan alasan tidak bisa hidup tanpamu," terang Tuan Frans.


"Papa sangat menyesal mengapa dulu tidak memperjuangkanmu," tambah Tuan Frans dengan penuh sesal.


"Sudahlah Pa. Jika Papa dan istri Papa tidak keberatan dengan keberadaanku, aku mau pulang ke rumah Papa. Dan setelah aku dan Marco menikah, aku akan segera pergi ke Amerika. Aku ingin menebus semua dosa-dosaku, Pa," ucap Putri.


Frans mengangguk dan memeluk putrinya dengan tangis haru.


Keesokan harinya Putri diijinkan pulang dan masih diharuskan untuk beristirahat total. Anak buah Rino mengawal mereka sampai rumah. Anak buah Rino juga terus mengintai dan mengawasi rumah keluarga Tuan Frans.


"Assalamualaikum, Ma," salam Tuan Frans.


"Waalaikumsalam," terdengar sahutan dari dalam rumah.


Seorang wanita cantik dan memakai hijab keluar dari dalam rumah tersebut. Terlihat wanita itu seumuran dengan Bella, ibu Putri. Farah langsung salim kepada suaminya.


"Apa ini yang namanya Putri, Pa? Wah cantik sekali. Dia mewarisi wajah tampanmu," ucap Nyonya Farah.


"Putri, kenalkan ini Farah, istri Papa," ucap Tuan Frans.


"Saya Putri, Nyonya. Senang bertemu dengan Anda," ucap Putri sopan dan salim pada Nyonya Farah.


Nyonya Farah tersenyum.


"Jangan panggil Nyonya dan bicara terlalu formal. Kau bisa memanggilku Ibu, tapi jika kau keberatan kau bisa memanggilku Tante. Kita sekarang adalah keluarga, Putri," ucap Nyonya Farah, kemudian memeluk Putri.


Putri hanya mengangguk.


"Sebaiknya kita masuk dan makan. Aku sudah menyiapkan makanan untuk kalian," ajak Nyonya Farah.


Mereka segera masuk ke dalam rumah dan menuju ruang makan. Putri membulatkan matanya saat melihat ada banyak makanan yang sudah tersaji di meja makan.


"Semuanya ini, Tante yang masak? Mm... maaf tidak apakan jika aku memanggil dengan sebutan Tante?" tanya Putri.


"Tante Farah senang sekali saat tahu kau akan pulang ke rumah ini, Nak. Dia sengaja menyiapkan semua ini untuk menyambut kedatanganmu," ucap Tuan Frans.


"Semoga kau menyukainya," ucap Nyonya Farah.


"Terima kasih banyak Tante. Aku sangat menyukainya," ucap Putri sambil tersenyum.


"Kalau begitu kau harus makan yang banyak ya, supaya bayimu bisa tumbuh dengan sehat," ujar Nyonya Farah.


Putri menangguk sambil tersenyum. Tuan Frans tersenyum bahagia melihat istri dan anaknya bisa akrab.


...*****...


Marco memboyong Putri dan Deniz ke Jerman. Tuan Frans dan istrinya, beserta paman dan bibi Marco juga ikut ke Jerman.


"Papa tidak setuju kau menikah dengan wanita yang tak jelas asal usulnya itu!" bentak Tuan Husein, ayah Marco.


"Asal usul Putri jelas. Aku tahu siapa orang tuanya," ucap Marco.


"Mama juga tidak setuju. Mama tidak sudi mempunyai menantu seorang calon narapidana. Mama tidak merestui pernikahan kalian," sahut Nyonya Miranda, ibu Marco.


"Tinggalkan wanita yang bernama Putri itu, dan menikahlah dengan Salsabilla, putri dari rekan bisnis Papa, pemilik Perusahaan Minyak yang ada di Perancis," ucap Tuan Husein.


Kebetulan Putri berada di mansion ayahnya saat ini. Marco berlutut di hadapan kedua orang tuanya.


"Marco mohon Ma, Pa. Restui pernikahan Marco dengan Putri. Dia sedang hamil anak Marco," mohon Marco.


"Apa? Dia hamil? Itu artinya dia sama buruknya dengan Sherly mantan istrimu yang j****g itu," ucap Nyonya Miranda.


"Tidak Ma. Dia tidak seperti Sherly. Aku mohon berikanlah restu pada kami," mohon Marco lagi sambil menangis.

__ADS_1


"Kak, aku mohon berikanlah restu pada mereka. Aku tahu Marco salah, tapi ijinkan dia memperbaiki kesalahannya," ucap bibi Marco, Nyonya Amira, adik dari Nyonya Miranda.


Tuan Husein mengusap wajahnya dengan kasar.


"Papa benar-benar kecewa padamu, Marco. Kau satu-satunya putra yang Papa miliki yang akan menjadi penerus di perusahaan keluarga Austin. Sedangkan adikmu, Mischa, hanyalah anak perempuan."


"Baiklah. Papa akan merestui pernikahan kalian. Tapi mulai detik ini kau dicopot dari jabatanmu sebagai CEO di Royal Company dan jangan pernah masuk ke dalam kediaman keluarga Austin lagi selama kau masih bersama wanita itu. Untuk Royal Company nantinya terpaksa akan Papa serahkan kepada adikmu, Mischa dan suaminya," ucap Tuan Husein.


Marco membulatkan matanya.


"Papa!" seru Nyonya Miranda.


"Papa tidak ingin dibantah. Kau tetap kami anggap sebagai anak, tapi kau tidak punya hak atas semua harta di keluarga Austin. Papa akan mencabut semua fasilitas yang perusahaan berikan padamu. Kecuali mansionmu ini, karena itu dibeli dari hasil jerih payahmu sendiri," ucap Tuan Husein.


"Bagaimana Marco?" tanya Tuan Husein dengan wajah datarnya.


Marco merenung. Tak lama kemudian Marco menatap ayahnya.


"Marco setuju, Pa. Selama kalian masih menganggapku sebagai anak dan merestui pernikahanku dengan Putri. Terima kasih banyak Pa, Ma," ucap Marco.


"Kami merestui, tapi kami tidak akan menghadiri pernikahan kalian," ucap Tuan Husein.


"Miranda, kita kembali ke mansion kita sekarang juga. Kita sudah tidak ada keperluan lagi di sini," perintah Tuan Husein.


Nyonya Miranda pun harus menurut.


"Mama harap kau akan berubah pikiran, Marco. Menikahlah dengan Salsabilla. Papamu pasti akan mengembalikan semuanya padamu, jabatan dan segala fasilitasnya," bujuk Nyonya Miranda sambil memeluk putranya.


Marco mengurai pelukan mereka dan tersenyum.


"Marco tetap pada keputusan Marco, Ma. Marco mohon berikan restu dan doa Mama kepada kami," jawab Marco.


"Mama harus jaga diri Mama dan Papa baik-baik ya. Marco sayang Papa dan Mama. Salam untuk Mischa dan suaminya," ucap Marco.


Nyonya Miranda mengangguk, kemudian berpamitan pada adik dan adik iparnya.


"Mir, aku titip anakku ya. Tolong gantikan posisiku dan suamiku sebagai walinya Marco," ucap Nyonya Miranda.


"Apa kakak yakin tidak ingin mendampingi Marco?" tanya Nyonya Amira.


"Kau lihat sendiri kan bagaimana reaksi kakak iparmu. Aku tidak ingin membuatnya semakin naik darah. Aku mohon pada kalian berdua, jadilah walinya Marco," jawab Nyonya Miranda sambil berlinang air mata.


"Kakak tidak perlu khawatir, kami pasti akan mendampingi Marco dan menjadi walinya," jawab Tuan Lukman, suami Nyonya Amira.


"Miranda, cepatlah!" teriak Tuan Husein.


Nyonya Miranda segera melangkahkan kakinya menuju suaminya yang sudah menunggu di depan pintu. Marco mendekat dan salim kepada ayahnya. Tuan Husein dan Nyonya Miranda segera pergi meninggalkan mansion Marco dan kembali ke mansion keluarga Austin.


Bersambung....


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖

__ADS_1


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2