
Berlin, Jerman
Cahaya keemasan sang surya perlahan meredup di ufuk barat kota Berlin. Terlihat Aiden sedang memasuki salah satu club malam terbesar di ibukota negara Jerman tersebut. Aiden ada janji temu dengan salah satu rekan bisnis Red Dragon. Dengan mengenakan setelan kemeja dan jas hitamnya, Aiden semakin menebarkan aura ketampanan dan maskulinnya bak dewa Yunani.
Sejak menginjakkan kakinya di dalam club, Aiden sudah menjadi pusat perhatian dan incaran para wanita. Aiden memberikan ekspresi datar dan tatapan dinginnya. Saat sedang berjalan menuju tempat pertemuan, ada seorang wanita yang berjalan terburu-buru dan menabraknya.
"Auh... Maaf aku tidak sengaja," ucap wanita itu sambil mengambil tasnya yang terjatuh.
"Emily," seru Aiden.
Wanita itu adalah Emily, sahabat Helena. Emily menengadahkan wajahnya.
"Aiden," seru Emily.
Aiden memperhatikan penampilan Emily dari atas ke bawah. Saat ini Emily mengenakan dress warna hitam yang panjangnya selutut, dengan potongan dada yang cukup rendah dan bagian punggungnya terbuka lebar. Emily terlihat sangat cantik dan seksi.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Aiden.
"Aku sedang menghadiri birthday party salah satu teman SMAku," jawab Emily. "Dan kau sendiri. Apa yang kau lakukan di sini? Ah, jangan-jangan kau mau mencari mangsa ya."
Aiden mendengus kesal.
"Apa serendah itu kau menilaiku?" ucap Aiden kesal.
"Aku ada pertemuan penting dengan salah satu rekan bisnisku," tambahnya.
Emily hanya mengangguk. Emily terlihat tidak nyaman dengan pandangan para lelaki yang ada di club itu, yang seakan ingin menerkamnya. Aiden pun menyadarinya.
"Mengapa kau datang ke tempat ini dengan berpakaian seperti ini?" tanya Aiden.
"Sebenarnya ini adalah dress code yang diberikan oleh temanku saat aku tiba di sini," jawab Emily.
"Apa kau merasa nyaman?" tanya Aiden lagi.
Emily menggeleng.
"Aku merasa tidak nyaman. Bukan pertama kalinya aku mendatangi sebuah club. Tapi aku tidak pernah memakai pakaian sependek dan seterbuka ini sebelumnya," ucap Emily sambil memaksakan senyumnya.
Aiden menghela napas. Aiden membuka jasnya dan memakaikannya ke tubuh Emily. Emily tersentak.
"Apa yang kau lakukan Aiden? Bukankah kau ada pertemuan yang penting? Mengapa kau berikan jasmu padaku?" tanya Emily.
"Aku hanya melepas jasku, bukan semua bajuku. Tak masalah aku menghadirinya dengan memakai kemeja dan celana saja. Aku tetap terlihat tampan dan mempesona," ucap Aiden dengan sombongnya.
Emily memberikan cibiran.
"Pakailah. Setidaknya bisa sedikit menutupi bagian tubuhmu yang tereksplor. Jangan lupa keluarkan sifat bar-barmu itu, supaya tidak ada pria yang berani mengganggumu," ucap Aiden.
Emily tersenyum.
"Terima kasih Aiden," ucap Emily.
"Sama-sama," jawab Aiden.
"Oh iya, aku ingin memberitahumu jika Axel sudah menemukan Helena. Mereka berada di Amerika sekarang. Dan kabar bahagianya Helena saat ini sedang hamil bayi kembar tiga," ucap Aiden.
Emily menutup mulutnya tak percaya. Dalam hati dia sangat bahagia.
"Syukurlah Helena dan ketiga calon bayinya sudah ditemukan. Aku sangat bahagia dan lega," ucap Emily.
"Baiklah. Aku pergi dulu, klienku pasti sudah menunggu," ucap Aiden sambil melangkah pergi meninggalkan Emily.
Emily juga melangkah pergi menuju VIP room tempat diadakannya birthday party. Di dalam ruangan itu sudah hadir lima orang wanita, teman SMA Emily dengan dress code yang sama.
"Hai, Emily. Mengapa kau lama sekali? Dan untuk apa juga kau memakai jas ini?" tanya Judith, teman SMA Emily yang saat ini sedang berulang tahun.
"Aku hanya merasa lebih nyaman memadukan pakaian ini dengan jas. Selamat ulang tahun ya Judith. Ini hadiah kecil dariku," ucap Emily sambil memberikan kotak hadiah kecil kepada Judith.
"Terima kasih. Apa boleh aku buka sekarang?" tanya Judith dengan ekspresi sedikit meremehkan hadiah yang ada di tangannya.
"Silakan," sahut Emily.
Judith langsung membuka hadiahnya, dan betapa terkejutnya dia saat melihat gelang bertabur permata yang sangat indah dan pastinya harganya tidaklah murah. Judith langsung memakai gelang itu dengan rona wajah bahagia.
"Terima kasih, Em. Ini indah sekali," ucap Judith.
Emily hanya mengangguk dan tersenyum. Tak lama kemudian masuklah empat orang pria ke dalam ruangan itu. Emily mengenali mereka.
"Hai Emily. Kau terlihat luar biasa cantik malam ini," sapa salah satu pria itu dengan tatapan memujanya.
"Hai juga Jasper," jawab Emily.
Jasper adalah teman sekolah Emily. Jasper sudah lama tertarik pada Emily dan selalu berusaha mendekatinya, namun Emily selalu mengabaikannya.
"Kau mau minum apa Em? Bir?" tanya Judith.
"Tidak. Orange jus saja," jawab Emily.
"Apa kau yakin? Ini pestaku Em. Ayo kita bersenang-senang," ucap Judith.
"Aku sedang tidak ingin mabuk malam ini karena masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan nanti," ucap Emily.
"Baiklah, as your wish honey," ucap Judith.
Judith tersenyum sambil memberikan lirikannya pada Jasper.
__ADS_1
Acara dilanjutkan dengan acara tiup lilin dan pemotongan kue. Emily dan teman-temannya menikmati pesta kecil itu dengan dentuman musik disco yang keras membuat mereka berjoget ria. Sedangkan Emily tetap duduk dengan tenang di atas sofa.
Tak lama kemudian, minuman mereka pun datang.
"Guys... Aku ke toilet dulu ya. Ayo Stefanie temani aku ke toilet," ucap Judith.
Judith dan Stefanie segera keluar dari ruangan itu. Kemudian diikuti oleh ketiga teman wanita yang lain. Jasper mengambil minumannya dan duduk di samping Emily. Jasper meneguk minumannya. Emily mengambil orange juice dan meneguknya perlahan. Jasper tersenyum sambil menyeringai.
Aiden sudah duduk di bar. Dia memesan vodca pada bartender. Seorang wanita seksi dengan pakaian ketatnya duduk di samping Aiden.
"Hai, boleh kenalan. Aku Celine," ucap wanita yang bernama Celine itu.
"Aiden," jawab Aiden singkat.
Celine sengaja mendekatkan posisi duduknya dengan Aiden. Bahkan tubuhnya semakin merapat pada tubuh kekar Aiden.
"Apa kau sendirian, tampan?" tanya Celine sambil menggesekkan gunung kembarnya yang hampir tumpah dari wadahnya itu ke lengan Aiden.
"Ya, seperti yang kau lihat," jawab Aiden dingin.
Celine merasa kesal karena diabaikan oleh Aiden.
Entah mengapa Aiden sedang tidak berg****h. Sejak tadi di dalam otaknya selalu memikirkan Emily. Perasaan Aiden tidak tenang.
"Apa kau yakin Judith, kita akan meninggalkan Emily sendirian bersama Jasper dan teman-temannya? Aku takut dia kenapa-kenapa," tanya Stefanie.
"Tentu saja. Aku ingin memberi pelajaran kepada wanita sombong itu. Sejak dulu aku benci sekali padanya. Dia selalu pamer barang-barang mahal dan branded. Aku benci dia selalu menjadi idola para siswa di sekolah," ucap Judith dengan ekspresi penuh kebencian.
"Aku juga sudah meminta pelayan memasukkan obat perangsang ke dalam minuman Emily. Jasper memberiku black card untuk kita shopping sepuasnya. Dan biarkan Jasper menikmati tubuh Emily sampai dia puas," ucap Judith sambil tertawa.
Stefanie dan teman-teman Judith tersenyum senang saat melihat black card yang ada di tangan Judith. Seketika rasa iba mereka kepada Emily menguap.
Aiden mendengar percakapan Judith dan teman-temannya. Dia langsung berdiri dan membuat Celine tersentak. Aiden melangkahkan kakinya mengejar Judith.
"Tunggu!" seru Aiden sambil menarik tangan Judith.
Judith tersentak dan membalikkan badannya.
"Dasar br........," umpatan Judith berhenti saat melihat ada pria setampan dewa Yunani yang menarik tangannya.
"Oh, hai tampan. Apa kau ingin berkenalan denganku?" tanya Judith.
"Tunjukkan padaku di ruangan mana Emily berada?" tanya Aiden dengan tatapan dinginnya.
Judith membulatkan matanya.
"E...emily siapa? Aku tidak kenal," elak Judith.
Aiden memegang wajah Judith dan menekan rahangnya dengan kuat. Judith meringis kesakitan.
"Tunjukkan di mana ruangan Emily, atau aku patahkan rahangmu dan membuatmu cacat seumur hidup!" ancam Aiden.
"B-baiklah. Akan aku antarkan, tapi lepaskan dulu," ucap Judith.
"Jalan sekarang!" bentak Aiden sambil mencengkeram lengan Judith kuat.
Judith mengantarkan Aiden menuju ruangan VIP tempat diadakannya acara tadi, sedangkan teman-temannya sudah lari ketakutan keluar dari club.
"Ini ruangannya," tunjuk Judith saat berada di depan pintu.
"Buka!" perintah Aiden.
Judith mencoba membuka pintu tapi tak bisa.
"Dikunci," ucap Judith.
Aiden menendang pintu itu dengan keras sampai pintu itu patah dan rusak. Aiden masuk ke dalam ruangan itu dan menarik tubuh Judith ikut masuk ke dalam. Terlihat Jasper dan teman-temannya sedang berusaha melecehkan Emily.
Aiden naik pitam. Aiden mendorong tubuh Judith sampai membentur dinding. Aiden menarik tubuh Jasper dan teman-temannya. Aiden menghajar mereka sampai babak belur dan memohon ampun.
Emily menangis sambil menutupi tubuhnya menggunakan jas Aiden. Jasper dengan sengaja merobek baju Emily, sehingga tubuhnya terlihat hampir polos.
Setelah puas menghajar para pria b******k itu, Aiden segera menghampiri Emily.
"Emily. Apa kau tidak apa-apa?" tanya Aiden.
Emily mengangkat wajahnya dan melihat wajah Aiden.
"Aiden." Emily langsung memeluk Aiden dan semakin menangis.
"Tenanglah. Ada aku di sini," ucap Aiden.
Aiden melihat kondisi Emily. Aiden segera membuka kemejanya dan memakaikannya pada tubuh Emily, sedangkan jasnya digunakan untuk menutup tubuh bagian bawah Emily. Aiden mengangkat tubuh Emily dan menggendongnya menuju mobilnya.
Aiden mendudukkan Emily di kursi dengan perlahan. Lalu Aiden segera melajukan mobilnya. Emily merasa gelisah. Tubuhnya kepanasan dan mulai berkeringat, padahal AC mobil Aiden sudah menyala.
"Ada apa denganmu, Em?" tanya Aiden yang melihat Emily terus menggeliat seperti cacing kepanasan.
"Badanku terasa panas Aiden," jawab Emily.
Aiden membelalakkan matanya. Aiden ingat ucapan Judith pada teman-temannya jika minuman Emily diberi obat perangsang.
"S**t!" umpat Aiden.
Emily semakin menjadi. Dia membuang jas Aiden dan membuka kancing kemejanya satu persatu karena kepanasan. H****tnya meningkat seketika saat menatap wajah tampan dan tubuh kekar Aiden.
__ADS_1
Emily yang sudah terpengaruh obat dengan beraninya menyentuh dan merayu Aiden. Emily berusaha untuk menerkam Aiden. Aiden segera menginjak rem dan menepikan mobilnya.
Emily semakin bersemangat menggoda Aiden. Emily berusaha untuk menc**mnya.
"Emily, hentikan! Sadarlah Em," bentak Aiden.
Emily seakan menulikan telinganya. Emily semakin menjadi. Tubuh Aiden mulai terbakar karena sentuhan Emily dan melihat pemandangan dua buah yang bergantung dengan indahnya di depan matanya. Aiden berusaha menekan h****tnya. Dengan terpaksa Aiden memukul tengkuk belakang Emily sedikit keras.
Emily pingsan di pelukannya.
"Haaahhh!!! Menyusahkan sekali," teriak Aiden.
"Tahan Aiden, jangan sampai tergoda. Jangan sampai kau menyentuhnya atau Helena akan memberikan suntikan mati padamu," Aiden bermonolog.
Aiden segera melajukan mobilnya menuju apartemen pribadinya, karena tidak tahu tempat tinggal Emily. Setibanya di apartemen, Aiden menggendong tubuh Emily dan meletakkannya perlahan di atas ranjang. Kemudian Aiden menyelimuti dan menutup tubuh Emily.
Aiden segera melepas bajunya dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan meredam h****tnya.
Helena terus berusaha menghubungi ponsel Emily, namun tidak diangkat.
"Mengapa Emily tidak menjawab telponku ya, Xel?" tanya Helena sambil duduk di atas ranjang.
"Mungkin Emily sedang sibuk atau sedang istirahat, El. Di Jerman pasti sudah malam sekarang. Sebaiknya kita istiŕahat," jawab Axel.
Helena menganggukkan kepalanya dan meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Tapi aku menginginkan sesuatu suamiku," ucap Helena manja.
"Apa yang kau inginkan, El? Aku pasti akan mendapatkannya untukmu," tanya Axel.
Helena tersenyum, lalu duduk di pangkuan suaminya.
"Aku ingin kamu mengunjungi Baby Triplets. Mereka merindukan kunjungan Daddynya," bisik Helena.
Axel merekahkan senyumannya.
"Dengan senang hati ratuku," ucap Axel sambil menc**m bibir Helena lembut.
Axel merebahkan tubuh Helena perlahan.
"Hai Baby Triplets, Daddy akan mengunjungi kalian," bisik Axel sambil menc**m perut Helena.
"Sepertinya siang ini akan menjadi siang yang panas di Minnesota, El," ucap Axel dengan tatapan menggodanya.
Helena terkekeh.
Tak butuh waktu lama, baju mereka sudah terlepas dengan sempurna. Axel memberikan sentuhan yang memabukkan di setiap jengkal tubuh Helena dan membuat bibir Helena terus men****h.
"Xel. Aku mohon. A**hhh!" lenguh Helena merengek.
Axel tersenyum. Dengan segera Axel memenuhi keinginan istri tercintanya itu. Axel mempertemukan X-Lo dengan L-Na secara perlahan. Axel benar-benar memanjakan istrinya, sampai Helena mendapatkan pelepasannya terlebih dahulu. Dan tak lama kemudian Axel menyusulnya dan membuang lahar panasnya di luar.
Axel menjatuhkan tubuhnya di samping Helena. Keduanya berusaha mengatur napas mereka.
"Mengapa kau mengeluarkannya di luar, Xel?" tanya Helena.
Axel memiringkan tubunnya, kemudian mengangkat kepalanya dan menyangganya menggunakan tangan kanannya.
"Kau kan dokter, pasti lebih tahu dan paham dariku, El. Bukankah s**** cukup berbahaya bagi kandungan yang masih muda, bisa menyebabkan kontraksi. Apa aku benar?" ucap Axel.
Helena mengangguk.
"Tapi kau jadi tidak terpuaskan sayang," ucap Helena.
Axel terkekeh.
"Aku tetap p**s sayang. Kesehatan dan keselamatanmu beserta ketiga anak kita jauh lebih penting, El. Kalian adalah segala-galanya untukku," ucap Axel lembut.
"Terima kasih," ucap Helena sambil memeluk suaminya.
"Aku yang berterima kasih karena kau telah bersedia menjadi pendamping hidupku, El," ucap Axel.
Keduanya pun tidur siang dengan saling berpelukan dan tubuh yang polos di balik selimut.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel pertama author :
"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰
__ADS_1