
Brakk....!
Nyonya Dilara tersentak saat pintu apartemen dibuka dengan keras lalu dibanting oleh Meira. Meira memasuki apartemen dengan wajah marahnya.
"Hooaahh...!!!" teriak Meira.
"Meira! Apa-apaan kau ini?" bentak Nyonya Dilara.
"Aku sedang marah Mommy. Aku benci sekali dengan wanita itu. Rasanya aku ingin menyobek mulutnya dan menginjak kepalanya. Kalau perlu tubuhnya aku potong-potong," jawab Meira.
Meira memotong-motong apel yang ada di atas meja dengan pisau untuk melampiaskan kemarahannya. Nyonya Dilara ngeri melihat ekspresi putrinya.
"Kendalikan dirimu. Siapa yang kau maksud, Meira?" tanya Nyonya Dilara.
Meira berhenti memotong dan melempar pisau itu ke atas piring apel.
"Siapa lagi kalau bukan Nona Alvaro, wanita yang dipacari oleh Evan itu, Mommy," jawab Meira dengan wajah kesalnya.
Nyonya Dilara menyerngitkan dahinya.
"Bukankah Tuan Kareem sudah mengatur agar kau bisa makan siang bersama Evan?" ujar Nyonya Dilara.
"Itu benar, Mom. Tuan Kareem ingin menggagalkan rencana Evan yang akan makan bersama Jasmine. Saat aku sedang berduaan dengan Evan, Jasmine datang bersama saudaranya yang sama menyebalkan."
"Apa Mommy tahu apa yang dia katakan padaku? Wanita itu memintaku menjadi anjing penjaga untuk menjaga Evan dari para wanita penggoda. Bahkan saudaranya itu mengataiku mirip seekor anj*ng herder milik kenalan mereka," ucap Meira sambil menangis dengan cengengnya.
"Kurang aj*r! Beraninya wanita itu menyamakan putriku yang cantik ini dengan anj*ng herder!" ucap Nyonya Dilara tak terima.
"Hatiku sakit, Mom. Harga diriku serasa diinjak-injak," keluh Meira sambil memeluk ibunya.
"Kau jangan menangis sayang. Nanti kecantikanmu luntur," ucap Nyonya Dilara berusaha menenangkan Meira.
Meira mengusap air matanya.
"Dan yang lebih parah lagi Mom. Hiks... Evan mengabaikanku selama kami makan. Aku terus mengajaknya bicara dan bercerita panjang lebar, tapi Evan tak menganggapku sama sekali. Aku seakan berbicara dengan tembok. Hatiku benar-benar sakit Mom. Saat kami sedang makan, tiba-tiba Evan mendapat telpon dan meninggalkanku begitu saja. Bisa-bisanya dia mengabaikan wanita secantik dan seseksi diriku yang menjadi rebutan para pria berkelas," ucap Meira.
Nyonya Meira mengelus bahu putrinya.
"Oh putriku sayang. Malang sekali nasibmu. Tapi kau tenang saja, kita akan membalas wanita sok pintar itu. Dan Mommy pastikan Evan akan menjadi milikmu," ucap Nyonya Meira.
"Iya Mom. Aku harus membalas wanita itu," sahut Meira.
"Mommy ingat. Besok adalah hari ulang tahun pernikahanTuan Farhat. Keluarga Sahir akan merayakannya di sebuah restoran di salah satu hotel berbintang. Mereka pasti akan mengundang Jasmine. Dan berita baiknya, Tuan Kareem juga mengundang kita berdua. Ini kesempatan kita untuk membalas wanita Alvaro itu. Meskipun dia berasal dari keluarga Alvaro, jika Tuan Kareem masih memihak kita maka kesempatanmu bersama Evan terbuka lebar," cerocos Nyonya Dilara.
Wajah sedih Meira langsung berubah cerah.
"Selain itu, Mommy juga ingin membuat perhitungan kepada istri Tuan Farhat yang sok cantik itu," tambahnya dengan wajah penuh kebencian.
"Mommy masih menyimpan dendam pada Nyonya Diah karena Tuan Farhat mencintainya dan lebih memilih menikahinya dari pada Mommy. Kasihan sekali mendiang Daddyku, Mom," ucap Meira dengan santainya.
...***...
"Pagi semuanya," ucap Jasmine memasuki ruang makan di mansion Tuan Zayn.
"Pagi kesayangannya, Papa," sahut Tuan Zayn.
"Opa, Oma," teriak Triplets A.
Tuan Zayn langsung berdiri dari duduknya, lalu merentangkan kedua tangannya. Arkana, Arshaka dan Arsyila langsung berlari ke dalam pelukannya.
"Oh cucu-cucu Opa sudah tampan dan cantik. Hmm... Wangi lagi," ucap Tuan Zayn.
"Tentu saja Opa, kami kan sudah mandi," sahut Arsyila dengan comelnya.
"Arkana, Arshaka dan Arsyila, ayo naik ke kursi kalian. Oma akan menyiapkan sarapan kesukaan kalian," ucap Nyonya Aline.
"Yei... Nasi goreng seafood ya Oma. Slepp.... Pasti lezat," teriak Arshaka kegirangan.
Tuan Zayn dan Jasmine membantu Triplets A untuk duduk di kursi mereka.
"Di mana Daddy dan Mommy kalian?" tanya Tuan Zayn.
"Tadi setelah kami mandi, Daddy merengek minta dimandikan juga sama Mommy. Daddy mandinya lama sekali Opa. Bahkan sampai kami selesai memakai baju bersama Bu Sari, Daddy masih belum selesai," celoteh Arsyila.
Tuan Zayn dan Jasmine melebarkan mata mereka.
"Akhirnya kami turun dulu ke sini karena kami merasa lapar," tambah Arkana.
"Dasar mereka berdua. Bisa-bisanya melakukan hal itu, di saat ketiga anak mereka sudah bangun," gerutu Tuan Zayn.
Tuan Zayn mengambil cangkir tehnya.
"Buah jatuh kan tidak jauh dari pohonnya, Pa. Dulu Papa dan Mama juga sering melakukan hal seperti itu. Bahkan hampir setiap pagi, Jasmine dan Kak Axel harus sarapan terlebih dahulu. Karena Papa dan Mama sibuk di dalam kamar mandi," celetuk Jasmine.
"Uhuk... Uhuk...," Tuan Zayn tersedak.
Wajah Nyonya Aline langsung memerah karena malu.
"Pelan-pelan minumnya, Pa," ucap Jasmine sambil terkekeh.
"Memangnya apa yang dilakukan Opa dan Oma di dalam kamar mandi sampai membuat Daddy dan aunty harus sarapan berdua saja?" tanya Arshaka dengan wajah polosnya.
__ADS_1
Tuan Zayn, Nyonya Aline dan Jasmine membelalakkan mata mereka.
"Jasmine," gerutu Tuan Zayn.
Jasmine meringis.
"Ekhm... " Tuan Zayn mendehem, bingung harus menjawab apa.
"Mm... Itu karena tubuh Opa banyak kumannya, jadi mandinya harus lama," jawab Nyonya Aline sambil memaksakan senyumnya.
"Ih Opa jorok," seru Arsyila.
"Tapi kan itu dulu. Karena Opa harus bekerja keras untuk Oma, Daddy dan aunty kalian," ucap Tuan Zayn sambil tersenyum.
"Oh iya. Opa kan orang hebat. Berarti tubuh Daddy juga banyak kumannya karena Daddy sama seperti Opa, Daddy suka bekerja," ujar Arshaka.
"Benar sekali. Daddy kalian bekerja sangat keras untuk Mommy, Arkana, Arshaka dan Arsyila," ucap Tuan Zayn sambil tersenyum dengan wajah lega.
"Pagi semuanya," sapa Axel yang baru datang sambil menggandeng tangan Helena.
Helena segera membantu ibu mertuanya menyiapkan sarapan pagi mereka.
"Wah, anak-anak Daddy sudah duduk manis di tempatnya. Kalian pasti sudah lapar ya."
"Tentu saja, Dad. Kami kan lelah menunggu Daddy yang sedang dimandikan Mommy, lama sekali," jawab Arkana dengan wajah dinginnya.
Axel langsung membulatkan matanya. Tuan Zayn dan Jasmine menahan tawa mereka. Sedangkan wajah Helena sudah merona karena malu.
"Mm... Daddy minta maaf ya sayang. Daddy janji, lain kali tidak akan membuat kalian menunggu lama," ucap Axel sambil tersenyum kikuk.
"Sudah-sudah, sekarang waktunya kita makan. Nanti nasi gorengnya dingin lo," ujar Nyonya Aline.
Mereka semua makan dengan lahapnya. Nasi goreng seafood buatan Nyonya Aline selalu menjadi favorit di keluarga Tuan Zayn.
"Kalian bertiga sudah tampil memukau sekali. Memangnya Triplets A mau kemana? Mau ikut Mommy ke rumah sakit?" tanya Jasmine.
"No. Kami mau ikut Daddy dan aunty ke kantor," jawab Arkana.
"Serius?" seru Jasmine.
Triplets A mengangguk secara bersamaan.
"Tumben," ucap Jasmine.
"Arsyila bilang ada hama yang ingin mengganggu Daddy," ucap Arshaka.
"Hama?" ucap Jasmine bingung.
Semua karyawan Alvaro Group memberikan hormat kepada para petinggi perusahaan yang baru saja tiba bersama Triplets A. Semua orang dibuat terpesona dengan penampakan rupawan Triplets A dan tingkah mereka yang menggemaskan. Axel membawa ketiga anaknya masuk ke dalam ruangannya.
"Baguslah. Sepertinya mereka tidak suka menyia-nyiakan waktu," jawab Axel. "Apa Pipi Vero juga akan ikut meeting?"
Darren mengangguk.
"Pipi akan ikut meeting bersama kita," jawab Darren.
"Baiklah kita segera ke ruang meeting sekarang."
"Sayang, Daddy pergi rapat dulu bersama uncle Darren. Kalian bermain saja di sini," ucap Axel dengan lembut.
"Kami mau ikut Daddy. Ayo Kak," seru Arsyila.
Arkana, Arshaka dan Arsyila langsung berjalan menuju ruang meeting mendahului Axel dan Darren.
"Apakah tidak apa-apa jika mereka ikut, Kak?" bisik Darren.
"Kau tenang saja. Ketiga anakku bisa membawa diri. Meskipun usia mereka baru 2 tahun, tapi cara berpikir mereka lebih dewasa," jawab Axel.
Axel, Darren, dan Triplets A memasuki ruang meeting. Jasmine dan Tuan Vero sudah berada di dalam ruangan. Perwakilan dari perusahaan SAB Group adalah putri dari pemilik perusahaan, Caroline Baheer. Caroline terus mengumbar senyumnya saat melihat Axel datang. Jasmine langsung memutar bola matanya malas, bukan hanya karena sikap Caroline tapi juga penampilannya. Caroline memakai baju kerja yang super ketat, sehingga menampilkan lekukan tubuhnya dan dua aset besarnya yang hampir tumpah dari tempatnya.
"Jadi ini hamanya," batin Jasmine.
Axel segera duduk di kursi kebesarannya, dan Triplets A mengambil posisi duduk di samping kanan dan kirinya.
"Kami ucapkan selamat datang kepada Nona Caroline Baheer, selaku manager utama dari SAB Group," ucap Darren memulai kegiatan meeting mereka.
"Saya perkenalkan, beliau adalah Tuan Axello Zyan Alvaro, CEO Alvaro Group dan Tuan Xavero Firdaus Alvaro selaku direktur utama Alvaro Group."
"Senang sekali, akhirnya saya bisa bertemu langsung dengan para petinggai Alvaro Group, terutama sang CEO yang terkenal hebat dan sangat tampan," ucap Caroline sambil tersenyum.
Axel mendengus kesal melihat tatapan memuja Caroline. Triplets A menatap Caroline dengan tajam. Caroline yang merasa ditatap pun menampilkan senyumnya.
"Wah lucu sekali mereka. Apa ini ketiga anak kembar Tuan Axel? Benar-benar mewarisi ketampanan Tuan Axel," puji Caroline.
Caroline langsung berdiri dan mendekati Arsyila.
"Halo anak cantik," sapa Caroline sambil mengelus pipi mulus Arsyila.
Krasss!!
"Aarrgghh!!" teriak Caroline.
__ADS_1
Arsyila menggigit jari telunjuk Caroline. Semua yang ada di ruangan itu dibuat terkejut.
"Maafkan putriku, Nona. Dia tidak terbiasa berdekatan dengan orang baru," ucap Axel dengan datar.
Caroline tersenyum sambil menahan rasa sakit. Caroline segera kembali duduk di tempatnya. Meeting pun segera dimulai. Sepanjang meeting berlangsung, tatapan mata Caroline tidak pernah beralih dari wajah tampan Axel. Arkana, Arshaka dan Arsyila memberikan tatapan tajam mereka sambil mendengus kesal.
Selesai membahas rencana kerja sama, mereka segera melakukan tanda tangan kesepakatan kerja sama. Caroline mengambil berkas dari perusahaanya dan mengantarkannya langsung kepada Axel. Saat berada di dekat kursi Axel, Caroline sengaja menjatuhkan berkasnya. Caroline langsung berjongkok untuk mengambil berkas-berkasnya, sehingga asetnya semakin menyumbul.
"Haahhhh...! Panas!" teriak Arshaka yang meminum coklat hangatnya.
Byurrr...
"Aarrghh!" pekik Caroline.
Arshaka menumpahkan minuman coklatnya tepat di wajah dan tubuh Caroline. Wajah Caroline seketika berwarna coklat pekat, begitu juga dengan berkas yang dibawanya.
"Kau!" teriak Caroline.
"Arshaka minta maaf. Aku tidak sengaja," ucap Arshaka dengan wajah memelas.
Axel menatap Caroline dengan tajam membuat Caroline menjadi gugup dan takut.
"Putra saya sudah minta maaf karena dia tidak sengaja, Nona," ucap Axel dingin.
"Ah ya, tidak apa-apa anak manis. Lain kali lebih hati-hati ya," ucap Caroline sambil menahan marahnya.
"Kalau boleh tahu letak toilet di sebelah mana ya? Saya ingin membersihkan diri," tanya Caroline.
"Mari saya antarkan, Nona," jawab Jasmine yang langsung berdiri.
"Untuk berkasnya nanti anak buah saya, Johan, yang akan mencetaknya ulang dan memberikan kepada Anda, Tuan Axel."
Di dalam toilet Caroline mengumpat tiada henti.
"Kurang aj*r! Benar-benar anak si*l*n!" umpat Caroline.
"Bisa-bisanya mereka mempermalukanku seperti ini. Lihat saja, saat aku berhasil mendapatkan ayah mereka, Tuan Axel, aku akan menyiksa mereka dan kalau perlu aku akan membuang mereka bertiga," ucap Caroline kesal.
Caroline segera kembali ke ruang meeting setelah selesai membersihkan dirinya. Caroline menatap sengit ke arah Triplets A. Wajah garang Caroline seketika berubah memucat.
"Ada apa denganku? Dan tatapan macam ini?" batin Caroline sedikit.
Arkana, Arshaka dan Arsyila memberikan tatapan mematikan mereka. Caroline yang merasa tidak nyaman segera pamit dan pergi meninggalkan Alvaro Group bersama asistennya. Jasmine tak bisa menahan tawanya lagi saat melihat Caroline pergi dengan langkah cepat.
Axel memeluk ketiga anaknya.
"Terima kasih anak-anak hebat, Daddy," ucap Axel dan mencium mereka bertiga satu per satu.
Apa yang dilakukan anak-anaknya tadi mengingatkan Axel dengan apa yang dulu pernah dia lakukan untuk menjauhkan ayahnya, Tuan Zayn, dari wanita penggoda.
Ting... (Ada pesan masuk ke dalam ponsel Jasmine)
E : "My sunshine. Jangan lupa nanti datang ke acara perayaan ulang tahun pernikahan Daddy dan Mommy. Maaf aku tidak bisa menjemputmu."
E : "Grandpa mengundang Nyonya Dilara dan Meira. Itu membuatku sangat kesal."
Jasmine mendengus kesal. Lalu melihat ketiga keponakan super hebatnya. Jasmine tersenyum licik.
"Kak, apa aku boleh mengajak Triplets A ke acara perayaan ulang tahun pernikahan Tuan Farhat dan Nyonya Diah?" tanya Jasmine.
"Asal mereka mengijinkan," jawab Axel.
"Tentu saja, Tuan Farhat sangat menyukai Triplets A," sahut Jasmine.
"Arkana, Arshaka dan Arsyila. Kalian mau kan ikut aunty bertemu dengan Grandpa Farhat dan Granny Diah?" tanya Jasmine.
"Mau aunty," jawab mereka bertiga penuh semangat.
Jasmine tersenyum senang.
J : "Kau tenang saja, aku pasti datang. Dengan membawa pasukan Super Triplets A. Sampaikan kepada Mommy agar tidak lupa membawakan obat Grandpa Kareem 😏"
Bersambung ....
🌹🌹🌹
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
__ADS_1
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰