
Pramudya dan Nabila shock saat mengetahui Vira tidak berada di kamarnya. Pramudya semakin cemas karena kepergian Vira tanpa sepengetahuan para perawat. Seorang perawat menjelaskan jika sudah memastikan Vira sedang tidur saat dirinya pergi ke kamar mandi. Namun saat perawat itu, kembali Vira sudah tidak ada di ranjangnya. Mereka pun berpencar untuk mencari keberadaan Vira.
"Bagaimana kalau kita periksa rekaman CCTV yang ada di rumah sakit ini? Siapa tahu kita akan mendapatkan petunjuk ke mana Vira pergi," usul Nabila.
"Kamu benar, Nab," jawab Pramudya.
"Ada apa ini? Mengapa kalian terlihat panik sekali?"
"Dokter Helena!" seru Nabila.
Helena datang untuk mengunjungi Vira bersama Jasmine dan Evan. Mereka bertiga terkejut melihat Pramudya dan Nabila yang terlihat panik.
"Vira pergi dari kamarnya dan tidak ada yang tahu di mana keberadaannya. Kami berpencar untuk mencarinya dan kami juga ingin meminta ijin untuk memeriksa rekaman CCTV di rumah sakit ini," terang Nabila.
"Biar aku saja yang memeriksa rekaman CCTVnya," ucap Jasmine sambil mengeluarkan ponselnya.
"Kak Pram!"
Pramudya langsung membalikkan badan saat mendengar suara Vira. Pramudya melihat Vira sedang berjalan ke arahnya bersama Yudistira. Pramudya langsung berlari dan memeluk Vira dengan erat.
"Syukurlah, kau kembali. Kakak takut jika kau pergi meninggalkan kakak. Kamu ke mana saja, Dik? Kakak sangat mencemaskanmu," cerca Pramudya.
"Mm... Vira tadi hanya jalan-jalan untuk mencari udara segar, Kak. Vira minta maaf sudah membuat kakak cemas," jawab Vira.
Pramudya mengurai pelukan keduanya. "Lain kali jika kau ingin jalan-jalan bilang pada kakak. Kakak pasti akan menemanimu. Jangan pergi sendiri lagi dan membuat kakak khawatir."
"Ya, Kak. Vira tidak akan mengulanginya lagi," jawab Vira sambil tersenyum.
Yudistira berdiri di dekat Helena dan berbisik, "Lain kali jangan biarkan gadis ini sendirian, Kak. Pastikan ada keluarga atau perawat yang menemaninya."
Helena mengangguk.
"Di mana kau menemukannya, Yud?" tanya Jasmine.
"Di rooftop," jawab Yudistira. "Aku tidak sengaja melihatnya naik ke atas."
"Terima kasih banyak, Tuan. Anda telah membawa Vira kembali ke sini," ucap Nabila.
"Sama-sama, Dokter," jawab Yudistira.
"Bagaimana keadaanmu, Vira?" tanya Helena saat mereka berada di kamar rawat Vira.
"Keadaan saya sudah jauh lebih baik, dokter. Terima kasih banyak atas bantuan dokter Helena selama ini," jawab Vira.
"Sama-sama, Vira," ucap Helena.
"Vira dan Pramudya, sebenarnya tujuan kedatangan kami ke sini bukan hanya ingin menjenguk Vira," ucap Jasmine.
Pramudya dan Vira terlihat bingung.
"To the point saja. Sebelumnya kami telah melihat dan membaca riwayat pendidikan Vira. Vira adalah salah satu murid berprestasi di sekolahnya dan lulus dengan nilai terbaik. Kami ingin menawarkan beasiswa sehingga Vira bisa melanjutkan pendidikannya," terang Jasmine.
"Beasiswa?" seru Pramudya.
Jasmine mengangguk. Pramudya dan Vira saling berpandangan.
"Tapi Nona, keluarga Anda sudah banyak membantu kami. Bahkan kami masih belum bisa membalasnya," ucap Pramudya tak enak hati.
"Jangan anggap kami sedang berbelas kasihan kepada kalian. Program beasiswa ini bukan pertama kali diadakan oleh perusahaan Alvaro Grouo untuk orang-orang yang kompeten dan berkualitas seperti Vira."
"Dengan melanjutkan pendidikannya, Vira akan memiliki banyak kegiatan di lingkungan yang baru sehingga bisa membuka lembaran baru dan menjadi kesempatan baru untuk memulai hidupnya dengan lebih baik. Selain itu, Vira juga bisa meraih mimpinya menjadi seorang perawat," terang Jasmine.
__ADS_1
Pramudya menatap Vira yang sedang menundukkan kepalanya, memikirkan semua perkataan Jasmine.
"Apa benar kau ingin menjadi perawat, Vira?" tanya Pramudya.
Vira menarik napas panjang lalu mengangguk pelan.
"Apa kau ingin mengambil beasiswa itu?"
Vira mengangkat wajahnya dan menatap wajah kakaknya dengan ragu. "Jika kakak mengijinkan."
"Tentu saja kakak mengijinkan jika itu untuk kebaikan masa depanmu," jawab Pramudya.
Vira tersenyum bahagia. Begitu juga dengan semua orang yang ada di sana. Nabila langsung memeluk Vira.
"Besok anak buah suamiku akan datang ke sini untuk mengurus semuanya. Kalian siapkan semua berkas ijazah dan yang lainnya untuk keperluan pendaftaran," ucap Helena.
"Baik dokter. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih banyak," ucap Pramudya.
"Sama-sama. Sebaiknya Vira istirahat sekarang supaya bisa segera sembuh dan siap memulai belajarnya," ujar Helena.
Helena, Jasmine, Evan dan Yudistira pun segera pamit.
"Mas Yudi," panggil Vira.
Yudistira langsung berhenti dan membalikkan badannya.
"Ya?"
"Terima kasih banyak, Mas," ucap Vira sambil tersenyum malu.
"Sama-sama," jawab Yudistira sambil tersenyum tipis, lalu keluar dari kamar Vira.
"Mas Yudi," goda Jasmine menirukan suara Vira saat mereka berada di dalam lift.
"Cie... Mas Yudi. Sejak kapan dipanggil Mas-Mas? Kelima adikmu saja memanggil kakak bukan Mas," ucap Evan yang ikut meledek.
Yudistira tidak menjawab dan mengabaikannya, membuat Jasmine dan Evan tidak bisa menahan tawa mereka.
"Sudah cukup, kalian berdua jangan menggoda Yudi terus. Kasihan. Lihat wajahnya yang ditekuk seperti itu," celetuk Helena.
Jasmine dan Evan langsung terdiam.
"Terima kasih, Kak. Kak Helena memang yang terbaik," ucap Yudistira sambil menatap sinis ke arah Jasmine dan Evan.
"Tentu saja. Kau juga yang terbaik karena kau telah mengantarkan berkas pentingku tepat waktu dan menemukan Vira di waktu yang tepat. Terima kasih banyak ya, Mas Yudi," ucap Helena sambil tersenyum.
Tawa Jasmine dan Evan seketika pecah kembali, membuat Yudistira semakin kesal.
"Baiklah Kak, kami pergi dulu ya," ucap Jasmine sambil memeluk Helena saat berada di lobby rumah sakit.
"Kalian hati-hati, ya," jawab Helena.
"Ya, Kak. Assalamualaikum," jawab Evan.
"Waalaikumsalam."
Jasmine dan Evan berjalan menuju mobil mereka, sedangkan Yudistira masuk ke dalam mobil yang dia bawa tadi.
"Hati-hati, Mas Yudi," teriak Jasmine.
"Ya. Hati-hati juga, Mbak Jasmine," sahut Yudistira dengan logat dibuat medok, lalu melajukan mobilnya.
__ADS_1
Jasmine dan Evan segera masuk ke dalam mobil mereka.
"Kau ingin pergi ke mana, my sunshine?" tanya Evan sambil melajukan mobilnya dengan perlahan.
"Mm... Aku ingin melihat penthousemu," jawab Jasmine.
"Bukan penthouseku sayang, tapi penthouse kita. Baiklah aku akan membawamu ke sana dan kita akan menginap di sana malam beberapa hari. Aku ingin berbulan madu di bawah hamparan kerlap kerlip bintang malam ini," ucap Evan sambil tersenyum penuh arti.
"Di bawah hamparan bintang? Apa maksudmu Evan?" tanya Jasmine tak mengerti.
Evan hanya mengerlingkan mata nakalnya tanpa menjawab, membuat Jasmine kesal karena penasaran. Jasmine melipat kedua tangannya di depan dada sambil mengerucutkan bibirnya.
"Jangan manyun seperti itu, aku jadi tidak tahan untuk menghisapnya," goda Evan.
Jasmine tak menjawab dan semakin kesal.
"Jika aku mengatakannya sekarang bukan kejutan lagi namanya, cintaku. Sabar ya," ucap Evan dengan lembut.
Jasmine membelalakkan matanya dengan mulut menganga saat melihat kejutan yang dikatakan Evan sebelumnya. Penthouse yang Evan beli berada di lantai paling atas, dengan ukuran yang cukup luas dan penataan ruangan yang luar biasa. Namun, yang membuat Jasmine takjub adalah kamar yang terletak di lantai atas dengan atap yang bisa dibuka dan dilapisi dengan kaca riben yang sangat tebal sehingga mereka bisa tidur sambil menatap keindahan langit.
"Apa kau menyukainya, sayang?" bisik Evan dengan kedua tangannya melingkar di perut Jasmine.
"Ini luar biasa sekali, Evan," jawab Jasmine sambil tersenyum bahagia.
"Aku tidak sabar menunggu malam tiba," lirih Evan sambil mencium leher Jasmine perlahan.
"Mmhh... Mengapa harus menunggu malam datang?" tanya Jasmine dengan suara yang mulai serak.
Evan tersenyum. "Kau benar, sayangku. Mengapa harus menunggu datangnya malam."
Evan memutar badan Jasmine sehingga keduanya saling bertatapan. Tanpa menunggu lama, Evan langsung meraup bibir ranum Jasmine dan mela hapnya dengan rakus. Pasangan pengantin baru itupun memulai kegiatan bulan madu mereka dan membuat udara pada siang hari itu terasa semakin panas.
Evan menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh Jasmine dengan bersimbah keringat dan napas terengah-engah. Evan menarik tubuh Jasmine ke dalam pelukannya.
"Terima kasih, my sunshine. Aku sangat mencintaimu," ucap Evan sambil menge cup kening Jasmine penuh cinta.
"Aku juga mencintaimu, my Evan," jawab Jasmine.
Keduanya pun langsung terlelap setelah melakukan olah raga panas beberapa kali dengan saling berpelukan.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
(Author ucapkan terima kasih banyak kepada readers yang setia menunggu kelanjutan cerita novel author🙏🙏🙏🥰🥰🥰)
Baca juga novel author lainnya:
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
__ADS_1
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰