Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Season 2. Jasmine dan Kisah Cintanya 53 (Mendrama)


__ADS_3

Evan sudah tiba di restoran tempat diadakannya pertemuan dengan Michelle. Evan melihat Michelle sudah datang dan mengaduk-aduk minumannya dengan wajah cemberut. Evan memang sengaja datang dengan sangat terlambat.


"Michelle," sapa Evan.


"Oh, hai Evan," sahut Michelle dengan wajah berbinar.


"Maaf ya aku datang terlambat, masih ada urusan yang harus aku selesaikan tadi," ucap Evan dengan santainya.


"It's OK. Aku juga baru datang," jawab Michelle. "Kamu kok datang sendiri? Di mana Jasmine? Mm...Apa kalian masih bertengkar?"


Evan tersenyum malas sambil mengangguk pelan.


"Aku minta maaf ya Evan. Gara-gara aku, Jasmine menjadi salah paham."


Michelle menunjukkan raut wajah sedihnya di depan Evan, namun pada kenyataannya hatinya sangat bahagia saat ini. Dengan lancangnya Michelle menyentuh tangan Evan, membuat Evan kesal namun berusaha untuk menahannya.


"Jika kau butuh teman untuk bercerita dan berbagi masalah, aku siap Evan. Kapanpun kau membutuhkanku, aku akan selalu ada untukmu."


Evan segera menarik tangannya, membuat senyum Michelle sedikit menguap.


"Terima kasih, Michelle. Aku tahu kau memang teman yang sangat baik," ucap Evan.


Senyum bahagia Michelle seketika kembali terbit di bibirnya.


"Bukankah kau mengatakan jika Tuan Thompson juga akan mengikuti pertemuan kali ini? Di mana dia?" tanya Evan.


"Oh ya. Daddyku masih dalam perjalanan, sebentar lagi juga tiba," jawab Michelle. "Apa kau ingin minum sesuatu?"


Michelle hendak memanggil pelayan restoran.


"Tidak perlu. Aku sudah membawa air minum sendiri," ucap Evan sambil meletakkan sebotol air mineral di atas meja.


Michelle cukup terkejut.


"Aku terbiasa minum air mineral. Dan ke manapun aku pergi, aku selalu membawa air mineral seperti ini," terang Evan sambil membuka botol air mineral itu yang masih tersegel itu, lalu meminumnya.


Seorang pelayan datang dan memberikan gelas kosong untuk Evan.


"Michelle," panggil pria paruh baya yang baru saja tiba dan berjalan mendatangi meja Michelle dan Evan.


"Daddy," seru Michelle.


"Syukurlah Daddy sudah datang. Kenalkan Dad, ini adalah Evan, CEO dari Javander Architecture."


"Evan."


"Thompson."


"Selain itu Dad, Evan ini juga teman kuliahku. Kami menempuh pendidikan master bersama," tambah Michelle.

__ADS_1


"Benarkah?"


"Benar Dad. Evan ini sangat cerdas. Dulu dia sering mengajariku jika ada materi yang tidak aku mengerti. Benarkan, Evan?"


Evan hanya mengangguk sambil memaksakan senyumnya.


"Anda benar-benar luar biasa, Tuan Evan. Anda adalah pria yang sukses dan telah memiliki perusahaan sendiri di usia muda," puji Tuan Thompson.


"Panggil saja Evan."


"Baiklah, Evan."


"Terima kasih, tapi menurutku Anda terlalu memuji Tuan Thompson. Masih banyak pria hebat di luar sana yang jauh lebih sukses dariku," ucap Evan.


"Ah, kau terlalu merendah Evan. Aku selalu berdoa semoga putriku bisa mendapatkan pria yang hebat sepertimu. Aku pasti akan menjadi ayah mertua yang paling bahagia di dunia ini. Tapi, sayang sekali aku mendengar bahwa kau sudah menikah," kata Tuan Thompson yang mendapat senyuman malu-malu dari Michelle.


"Aku memang sudah menikah," jawab Evan.


"Istrimu pasti sangatlah beruntung telah menikah denganmu," ujar Tuan Thompson dengan nada mencibir.


"Justru sebaliknya. Akulah yang paling beruntung karena Tuhan telah mentakdirkan Jasmine, wanita yang luar biasa untuk mendampingiku," sahut Evan dengan bangganya.


Michelle terlihat kesal mendengar Evan yang memuji Jasmine di depannya.


"Lalu, di mana istrimu sekarang? Mengapa dia tidak menemanimu?" tanya Tuan Thompson.


Evan menghela napas. "Jasmine tidak ikut. Dia berada di rumah sekarang."


"Bagaimana bisa? Memangnya apa yang sudah kau lakukan sayang?" tanya Tuan Thompson.


"Beberapa hari yang lalu, aku mengalami musibah. Kepalaku tertimpa papan nama restoran yang jatuh. Evan yang baik hatinya menolongku dan membawaku berobat ke klinik kampus. Di sana kami tidak sengaja bertemu dengan Jasmine. Jasmine pun salah paham, lalu terpiculah pertengkaran diantara mereka."


"Aku benar-benar merasa bersalah, Dad," ujar Michelle.


"Oh, sweety. Itu kan murni bukan kesalahpahaman. Jangan bersedih karena kesalahan yang tidak kau lakukan," ucap Tuan Thompson sambil memeluk Michelle.


"Cih, aku muak dan mual sekali melihat drama ini," batin Evan sambil menghadap ke samping.


Tatapan Evan tertuju pada sosok bidadari yang telah memenuhi seluruh ruang di hatinya. Yups, Jasmine juga datang ke restoran itu. Dia duduk di salah satu meja yang ada di pojok restoran bersama Helena. Jasmine mengerlingkan mata kanannya sambil tersenyum manis, lalu memberikan ci uman jauh untuk Evan. Hati Evan langsung berbunga-bunga.


"Manisnya my sunshine. Jika bukan karena aku sedang harus beracting, jika bukan karena kami sedang di tempat umum, dan lagi-lagi jika bukan karena ada baby twins di dalam perutnya, pasti saat ini aku tidak akan membiarkan Jasmineku turun dari ranjang pertempuran kami, sedikitpun."


Wajah Evan terlihat merana.


"Hei boy. Mengapa wajahmu terlihat sedih? Jangan menjadi pria yang lemah hanya karena seorang wanita. Seharusnya istrimu memahami yang namanya profesional kerja. Apa yang terjadi antara kau dan Michelle kan hanya saling tolong menolong saja. Untuk menjadi istri dari pria hebat sepertimu, seharusnya wanita itu mempunyai tingkat kecerdasan yang tinggi, bukan tingkat kecemburuannya," cerocos Tuan Thompson.


Darah Evan seketika mendidih begitu mendengar Tuan Thompson merendahkan istrinya. Evan langsung memegang gelas yang ada di hadapannya dan hendak melemparkannya ke wajah Tuan Thompson.


"Evan!" seruan seseorang yang suaranya sudah sangat Evan kenali.

__ADS_1


Evan pun mengurungkan niat jahatnya.


"Kakak sudah datang," ucap Evan sambil tersenyum.


Axel berjalan dengan gagahnya ke arah Evan, membuat Michelle terpana. Axel duduk di kursi samping Evan.


"I-ini siapa, Evan?" tanya Michelle.


"Kenalkan Kak, ini Tuan Thompson, pemilik Thomson Corp. Dan di sampingnya adalah putrinya, Michelle Thompson."


Tuan Thompson dan Michelle tersenyum.


"Mengapa Evan memanggilnya kakak? Apa dia adalah kakaknya Evan?" Michelle bertanya-tanya dalam hatinya.


"Tuan Thompson dan Michelle, kenalkan dia adalah Tuan Axello Zyan Alvaro."


"Alvaro?!" seru Tuan Thompson.


"Benar Tuan, dia adalah CEO dari Alvaro Group," jawab Evan.


Tuan Thompson dan Michelle terbelalak.


"Senang bertemu dengan Anda Tuan Alvaro," ucap Tuan Thompson dengan wajah berbinar dan mengulurkan tangannya.


Begitu juga dengan Michelle. Tiada henti dia mengagumi wajah tampan Axel.


"Senang juga bertemu dengan Anda, Tuan Thompson," jawab Axel sambil menjabat tangan Tuan Thompson.


Bersambung ....


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel author lainnya:


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. I'm The Unstoppable Queen


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2