
"Kak Evan," panggil Yudistira.
Evan menghentikan langkahnya saat akan menaiki anak tangga. Dia menghela napas panjang begitu melihat Yudistira berjalan menghampirinya dengan tumpukan berkas yang ada di tangannya.
"Oh Yudi, please! Letakkan saja berkas itu di ruang kerjaku," keluh Evan.
"Tapi Kak, berkas ini akan dijadikan bahan rapat besok pagi dan aku membutuhkan tanda tangan CEO JA," jawab Yudistira.
"Aku tahu. Besok pagi-pagi sekali akan aku baca dan tanda tangani. Aku sedang sibuk sekarang," ucap Evan.
"Memangnya kakak sibuk apa? Ini kan sudah malam. Apa kalian mau keluar?" tanya Yudistira.
"Aku tidak mau keluar, tapi mau masuk ke dalam kamar. Aku amat sangat sibuk sekali malam ini. Aku ingin mencari pahala malam Jum'at sebanyak-banyaknya," jawab Evan sambil tersenyum.
Yudistira langsung cemberut dan mendengus kesal.
"Bisa dipastikan besok pagi berkas-berkas ini tidak akan mendapatkan tanda tanganmu, Kak!" ketus Yudistira kesal.
"Kalau begitu, tunda saja rapatnya. Gampang kan?" sahut Evan sambil menaiki tangga dengan langkah cepat meninggalkan Yudistira begitu saja.
Yudistira masuk ke dalam ruang kerja Evan dan meletakkan berkas-berkas itu di atas meja. Setelah itu dia keluar dan menyalakan televisi di ruang keluarga.
Evan membuka pintu kamarnya dengan kasar karena terlalu semangat. Evan tidak melihat Jasmine, dan dia yakin jika Jasmine pasti berada di ruang ganti untuk berganti baju. Evan pun segera menuju kamar mandi. Begitu keluar dari kamar mandi, Evan dibuat ternganga dengan pemandangan menakjubkan di atas ranjang.
Glek... Glek... (Evan meneguk salivanya kasar berkali-kali)
Mata Evan tak kuasa berkedip menatap Jasmine yang tidur dengan pose menggoda dalam balutan baju haram yang sangat tipis dan menerawang berwarna hitam.
"Mau sampai kapan kau akan diam mematung di sana," ucap Jasmine kesal.
Evan tersentak, lalu berjalan dan melompat naik ke atas ranjang.
"Evan! Apa kau tidak bisa pelan-pelan dan bersikap romantis?" teriak Jasmine.
"Maaf sayang. Kau benar-benar membuatku terbakar sekarang," jawab Evan dan meraup bibir Jasmine yang menggoda.
Jasmine tidak bisa menolak karena luma tan bibir Evan telah membuatnya meleleh dan ikut terbakar gai rah. Suara cecapan saling bersahutan dari bibir keduanya. Jasmine semakin melenguh saat bibir Evan sudah berpindah di salah satu squisynya dan satu tangan Evan di squisy yang lain.
"Evan...," rengek Jasmine membuat Evan tersenyum nakal.
Dengan satu tarikan baju ha ram Jasmine sudah terkoyak dan dibuang sembarangan. Jasmine hendak protes namun dengan cepat Evan membungkam bibirnya lagi.
"Syuutttt!!! Akan aku belikan lagi yang lebih bagus dan lebih banyak lagi, sayang," ucap Evan.
"Baiklah, tapi model yang terbaru," sahut Jasmine.
"As you wish, my love" bisik Evan sambil satu tangannya menarik segitiga bermuda yang masih melekat di tubuh Jasmine.
Dengan cepat Evan melepas semua kain yang ada di tubuhnya lalu mengungkung tubuh Jasmine. Jasmine mendorong tubuh Evan ke belakang dan mengganti posisi mereka.
"Malam ini, aku yang akan memimpin, my king," bisik Jasmine sambil menggigit telinga Evan.
Evan benar-benar mendapatkan service yang luar biasa dari istri tercintanya. Setiap hentakan yang diberikan oleh Jasmine membuat Evan serasa melayang di atas awan.
"Ohhh...Kau sungguh luar biasa, sayang," ucap Evan sambil melenguh membuat Jasmine tersenyum senang.
Evan memegang ping gang Jasmine, lalu menekannya dengan kuat dari bawah.
"Apa yang kau lakukan sayang? Mmhh..," tanya Jasmine.
"Aku tidak ingin kau kelelahan sayang. Karena masih banyak sesi yang akan kita lakukan nantinya," jawab Evan sambil tersenyum nakal.
Tekanan dan tusu kan Evan semakin cepat dan dalam membuat pertahanan Jasmine melemah. Diiringi lenguhan keras, akhirnya keduanya mencapai puncak bersama-sama. Jasmine menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Evan dengan napas terengah-engah.
"Terima kasih, my sunshine," ucap Evan sambil mengelus bahu Jasmine dengan lembut dalam pelukannya.
"Sama-sama, my king," jawab Jasmine sambil menyandarkan kepalanya di atas dada bidang Evan.
"Kita lanjut sesi kedua sayang. Aku ingin mendapatkan pahala yang banyak," ucap Evan sambil menyeringai.
Jasmine meneguk salivanya. "Oooh, OK. As you wish, my king. Malam ini kau bebas melakukan apapun yang kau inginkan, karena kau telah berhasil menghalau serangan dari wanita ular. Dan itu membuat hatiku sangat bahagia."
Tak lama kemudian, Evan mengubah posisi mereka. Tanpa berpikir panjang, Evan langsung mel umat bibir Jasmine dengan rakus dan memulai sesi percin taan panas mereka selanjutanya.
__ADS_1
Di ruang keluarga, Yudistira berkali-kali mengganti channel televisi tapi tidak ada yang membuatnya tertarik. Akhirnya Yudistira pun mematikan televisi itu dengan kesal.
"Dasar Kak Evan, senangnya memanas-manasiku. Untung saja kamar mereka ada di lantai atas, tidak berdampingan dengan kamarku. Meskipun kamar mereka kedap suara, tapi tetap saja bisa membuat otakku travelling ke mana-mana," gerutu Yudistira.
"Lebih baik aku main ponsel saja. Tapi di mana ya ponselku?"
Yudistira mencari ponselnya di saku celana dan sofa, tapi tidak ada.
"Sepertinya aku tinggal di kamar tadi."
Yudistira langsung beranjak menuju kamarnya. Saat masuk, pecahayaan di kamarnya remang-remang.
"Eh, mengapa lampunya sudah remang? Apa Vira sudah tidur ya? Mungkin dia kelelahan," gumam Yudistira.
Namun saat melihat ke tempat tidur, tidak ada Vira di sana. Yudistira pun mencari ponselnya.
"Sayang? Kau di mana? Apa kau tahu di mana ponsel Mas?" tanya Yudistira sedikit berteriak.
"Ini Mas," ucap Vira pelan sambil menyodorkan ponsel ke hadapan Yudistira.
Yudistira langsung mengambil ponselnya. "Terima kasih, say....."
Ucapan Yudistira terhenti dengan mulut menganga. Yudistira membelalakkan matanya melihat pemandangan luar biasa di hadapannya. Vira berdiri di hadapannya dengan balutan lingerie merah yang diberikan oleh Jasmine. Wajah Vira memerah karena malu, tapi dia berusaha menahannya. Vira tersenyum melihat saliva Yudistira yang hampir menetes.
"Mas, air liurnya mau tumpah loh," ucap Vira membuat Yudistira tersadar dan mengelap bibirnya.
Yudistira menjadi salah tingkah.
"S-sayang. Mengapa kau memakai baju seperti ini?" tanya Yudistira sambil menahan kedua matanya agar tidak jelalatan kemana-mana menatap setiap jengkah tubuh Vira yang sangat menggoda itu.
"Karena aku ingin menyenangkan hati suamiku tercinta," ucap Vira dengan lembut.
Glek... (Yudistira menelan salivanya kasar)
"T-tapi sayang. J-jika kau berpakaian seperti ini, bisa meruntuhkan pertahananku," ucap Yudistira dengan wajah memelas.
Vira tersenyum lembut dan dengan beraninya mengalungkan kedua tangannya ke leher Yudistira, membuat tubuh keduanya saling bersentuhan. Seketika tubuh Yudistira serasa di sengat aliran listrik.
Yudistira masih terdiam karena keterjutannya. Vira pun melepaskan tautan bibir keduanya.
"Apa Mas tidak suka? Apa karena aku sudah...." tanya Vira sedikit kecewa.
Yudistira membulatkan matanya. Kedua tangannya menakup wajah Vira.
"Tidak sayang. Bukan seperti itu. Mas hanya tidak ingin kau melakukannya karena terpaksa. Mas masih bisa menahannya sayang, dan Mas tidak ingin sampai menyakitimu," jawab Yudistira dengan suara lembut.
"Vira sudah siap, Mas. Vira juga ingin memiliki Mas seutuhnya," ucap Vira meyakinkan.
Yudistira tersenyum bahagia. Yudistira menuntun Vira ke tempat tidur dan mendudukkannya di atas ranjang.
"Tunggu sebentar ya, sayang," ucap Yudistira lalu berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Yudistira tiada henti mengulum senyum bahagianya. Dia segera menggosok gigi dan membersihkan diri. Dia ingin melakukannya untuk pertama kali dalam keadaan bersih. Yudistira tidak ingin dirinya hanya dilayani oleh Vira, tapi dia juga ingin melayani Vira.
Setelah selesai, Yudistira segera keluar dari kamar mandi dan berjalan mendekat ke arah Vira. Vira menunduk, dia terlihat sangat gugup dan jantungnya terus berdegup dengan kencang. Ada rasa takut dan khawatir jika dirinya akan mengecewakan suaminya nanti.
"Sayang," panggil Yudistira.
"Ya, Mas," jawab Vira sambil mengangkat wajahnya.
Vira sangat terpesona dengan ketampanan suaminya yang terlihat rapi dan wangi.
"Mas tanya sekali lagi, apa kamu yakin?"
Vira mengangguk. "Yakin, Mas."
Yudistira tersenyum senang. Yudistira melafalkan doa, lalu merebahkan tubuh Vira dengan perlahan. Yudistira mulai menci um dan memberikan sentuhan-sentuhannya dengan lembut agar Vira lebih santai. Bahkan Vira tidak menyadari saat baju haram itu terlepas dari tubuhnya, karena sentuhan-sentuhan lembut Yudistira sangat memabukkan.
Vira mengerjapkan matanya saat menyadari mereka sudah tak berbalut selembar kain pun. Vira meneguk salivanya kasar memandangi tubuh atletis suaminya. Vira tak kuasa menahan des ahannya saat Yudistira mulai memainkan kedua squisynya, membuat Yudistira semakin berga irah.
"Apa kau sudah siap sayang?" tanya Yudistira.
Vira hanya mengangguk, lidahnya terasa kelu untuk menjawab karena napasnya yang mulai terengah. Yudistira menarik tangan Vira dan meletakkannya di bahunya.
__ADS_1
"Jika aku menyakitimu dan kau tak sanggup menahannya, katakanlah sayang. Maka aku akan berhenti," bisik Yudistira.
"Iya, Mas," lirih Vira yang terdengar sangat seksi di telinga Yudistira.
Yudistira memposisikan Raja Phyton di depan pintu sarangnya. Dengan pelan si Raja Phyton menyapa pintu sarang itu, membuat Vira menggeliat. Si Raja Phyton mencoba untuk masuk tapi mengalami kesulitan. Yudistira tetap tidak menyera, berulang kali menerobos masuk dan menekannya sedikit lebih kuat.
Blless...
"Arghh!!!" teriak Vira sambil menggigit bibir bawahnya.
"Ohh... Nik mat sekali sayang," lenguh Yudistira sambil menutup matanya.
Meskipun Vira sudah tak bersegel, tapi sarangnya masih sangat sempit. Raja Phytonnya terasa seperti diremat-remat di dalam sana. Yudistira merasakan tubuh Vira yang mulai tegang. Yudistira berusaha untuk setenang mungkin, agar Vira tidak semakin ketakutan. Yudistira kembali memberikan sentuhan-sentuhannya dengan lembut dan perlahan tubuh Vira semakin releks.
Yudistira bergerak dengan pelan sambil mela hap squisy Vira dengan lembut. Vira yang awalnya kesakitan mulai merasakan kenikmatan bahkan ke enak kan. (🤭)
Yudistira menambah tempo kecepatannya saat merasakan sarang si Raja Phyton semakin basah dan lembab. Kedua tangan Vira meremas bahu Yudistira semakin kuat saat serangan Yudistira semakin menjadi.
"Mas...," rengek Vira.
"Ya sayang," jawab Yudistira tanpa berhenti bergerak.
"Mmhhh... Aku ingin pi pis. Ssttt....," de sah Vira.
"Jangan ditahan sayang. Keluarkan. Mas juga sudah hampir keluar sayang," jawab Yudistira dengan penuh semangat.
Yudistira semakin mempercepat tempo hentakan dan tusu kannya membuat kamar itu dipenuhi suara-suara lucknut mereka. Keduanya melenguh dengan sangat keras saat meraih puncak kenik matan bersama-sama.
"Terima kasih sayang," ucap Yudistira sambil mengecup kening Vira.
Yudistira memeluk tubuh Vira dengan erat di dalam selimut.
"Terima kasih kembali, Mas," jawab Vira.
"Maaf ya, Mas tadi menyakitimu."
Vira mengangkat wajahnya dan menatap wajah tampan suaminya yang terlihat sangat puas.
"Mengapa Mas minta maaf? Yah memang awalnya terasa sakit, tapi setelahnya sakitnya hilang dan berubah jadi nikmat, Mas," jawab Vira sedikit malu.
Yudistira tersenyum senang. "Apa sayang mau mengulanginya lagi?"
Vira mengangguk, membuat Yudistira girang bukan kepalang. Tak butuh waktu lama, Yudistira melanjutkan sesi olah raga panas mereka.
"Akhirnya, aku bisa mencari pahala malam Jum'at juga. Bukan hanya Kak Evan," ucap Yudistira yang membuat Vira tidak bisa menahan tawanya.
"Benar kata Kak Evan, rapat besok pagi sebaiknya ditunda saja."
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
(Semoga readers senang dan senyum2 setelah baca episode kali ini 🤭🤭🤭)
Baca juga novel author lainnya:
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰
__ADS_1