
"Apa maksud ucapanmu itu, Meira?" tanya Nyonya Gulya penasaran.
"Seperti yang telah aku katakan tadi, Grandpa Kareem sampai saat ini belum sadarkan diri dan kondisinya sangat kritis," jawab Meira.
Meira menghela napas panjang.
"Semua ini terjadi karena wanita yang bernama Jasmine, kekasih Evan. Wanita itu berhasil memprovokasi Tuan Farhan dan Evan. Dia juga telah membuat mereka bertengkar hebat dengan Grandpa Kareem sehingga mengalami serangan jantung."
Nyonya Gulya dan Selma terkejut.
"Apa kau yakin?" tanya Selma tak percaya.
Meira tersenyum.
"Aku mendengarnya sendiri saat wanita itu mengatakan bahwa dia menyesal telah membuat Grandpa Kareem mengalami serangan jantung. Dan aku juga tahu jika ucapannya itu hanya pura-pura saja di depan Evan. Aku yakin hati wanita itu sangat senang saat ini karena tidak akan ada lagi yang menghalangi hubungannya dengan Evan. Grandpa Kareem tidak menyukai wanita itu dan menolak hubungan mereka. Karena Grandpa Kareem sudah memilihku untuk menjadi calon istri Evan," jawab Meira dengan bangganya.
Nyonya Gulya berjalan sambil mengepalkan tangannya. Dia tidak akan memaafkan orang yang telah membuat ayahnya jatuh sakit. Mereka bertiga sudah tiba di ruang ICU. Nyonya Gulya dan Selma semakin mempercepat langkah mereka.
"Kakak," panggil Nyonya Gulya.
"Gulya, Selma. Bagaimana kalian bisa berada di sini?" tanya Tuan Farhan heran.
"Kami sengaja datang menyusul Papa ke Indonesia. Dan saat kami tiba di mansion, para pelayan mengatakan jika Papa jatuh sakit, jadi kami segera datang ke sini," jawab Nyonya Gulya sambil menangis.
Tuan Farhan langsung memeluk adiknya dan berusaha menenangkannya. Meira segera duduk di samping ibunya sambil tersenyum licik.
"Bagaimana kondisi Papa?" tanya Nyonya Gulya yang masih terisak.
"Papa masih belum sadarkan diri. Kita berdoa semoga Papa bisa segera sadar," ucap Tuan Farhan.
"Bibi Gulya," seru Evan.
Nyonya Gulya segera menolehkan kepalanya dan melihat Evan berjalan ke arah mereka sambil berdampingan dengan seorang wanita cantik.
"Pasti wanita ini yang menyebabkan Papaku mengalami serangan jantung."
Wajah Nyonya Gulya mengeras dan menatap Jasmine dengan tajam. Dengan cepat, dia menghampiri Evan dan Jasmine. Jasmine memberikan senyumannya kepada Nyonya Gulya, namun Nyonya Gulya langsung mengangkat tangannya dan hendak menampar wajah Jasmine. Meira melebarkan matanya sambil tersenyum.
"Bibi/Gulya!" teriak Evan dan Tuan Farhan.
Jasmine terkejut dan langsung menutup matanya. Jasmine tidak merasakan apa-apa dan segera membuka matanya lagi. Jasmine terkejut melihat Axel yang sudah berdiri di hadapannya dan menahan tangan Nyonya Gulya.
"Kakak," lirih Jasmine.
Axel menghempaskan tangan Nyonya Gulya dengan kasar.
"Jangan coba-coba menyentuh dan menyakiti adikku," ucap Axel dingin.
"Minggir. Jangan menghalangiku untuk memberi pelajaran kepada wanita tak tahu diri ini," bentak Nyonya Gulya.
"Gulya!"
Tuan Farhan segera menarik Nyonya Gulya sedikit menjauh dari Jasmine.
"Apa yang kau lakukan? Mengapa kau ingin menyakiti Jasmine?" tanya Tuan Farhan.
"Mengapa kakak masih bertanya? Wanita ini yang sudah membuat kakak dan Evan bertengkar dengan Papa, sehingga Papa mengalami serangan jantung. Dan aku ingin memberikan pelajaran padanya," jawab Nyonya Gulya penuh emosi.
"Ini tidak seperti yang bibi pikirkan," ucap Evan.
"Diam kau Evan. Jangan coba-coba membelanya," bentak Nyonya Gulya.
"Mom, tenangkan dirimu," bujuk Selma sambil memegang tangan ibunya.
Tuan Farhan mengusap wajahnya kasar.
"Siapa yang sudah memberitahumu?" tanya Tuan Farhan.
__ADS_1
"Meira, calon istri Evan yang sudah memberitahu dan menjelaskan semuanya padaku. Benar kan, Meira?" ujar Nyonya Gulya.
Meira dan Nyonya Dilara membelalakkan mata mereka.
"Apa benar yang dikatakan oleh Gulya, Meira?" tanya Tuan Farhan dingin.
"I-itu, anu...," gagap Meira.
"Jawab Meira!" bentak Tuan Farhan.
"Beraninya kau membentak putriku, Farhan!" bentak Nyonya Dilara tak terima.
"Aku mendengarnya sendiri saat Jasmine menangis dan mengatakan bahwa dia menyesal telah membuat Grandpa Kareem sakit dan tak sadarkan diri. Dan dia juga mengakui jika semua yang terjadi adalah kesalahannya," ucap Meira.
"Kau itu tidak tahu apa-apa, jadi jangan sok ikut campur, Meira," ucap Evan dengan wajah marahnya.
Meira mulai ketakutan dan bersembunyi di belakang ibunya.
"Tuan Farhan. Segera selesaikan kesalahpahaman ini, sebelum saya sendiri yang turun tangan," tegas Axel.
Tuan Farhan mengangguk.
"Ayo Gulya, ikut aku. Akan kujelaskan semuanya padamu."
Tuan Farha menarik Nyonya Gulya menjauh. Axel menatap Meira dan ibunya dengan tajam. Tubuh Meira seketika langsung menggigil.
"Perasaan ini sama seperti saat aku bertemu dengan ketiga iblis kecil itu. Jangan-jangan....!" batin Meira membulatkan matanya dan semakin ketakutan saat menyadari kemiripan wajah Axel dengan Triplets A.
"Beraninya kau mengatakan ketiga anakku dengan sebutan iblis!" ucap Axel dengan wajah dinginnya.
"A-apa? Bagaimana dia bisa mengetahuinya?" gumam Meira.
"Apa maksudmu Tuan Alvaro?" tanya Nyonya Dilara yang juga ikut ketakutan.
"Kalau aku mau, aku bisa meratakan The Demir Cooperation dengan satu perintah saja. Beraninya kau memfitnah adik kesayanganku!" ucap Axel.
"Saya minta maaf Tuan. Bukan maksud putriku yang dengan sengaja memfitnah adik Anda. Coba tanyakan kepada adikmu, apakah yang diucapkan putriku itu memang benar atau tidak," ucap Nyonya Dilara yang berusaha membela Meira.
Axel langsung menatap ke arah Jasmine dan Evan.
"Memang benar apa yang dikatakan oleh Meira," ucap Jasmine.
"Anda dengar sendiri kan. Jadi putriku tidak salah," ujar Nyonya Dilara.
"Tapi Meira tetap salah. Dia tidak tahu duduk masalah yang sebenarnya dan membuat bibiku menjadi salah paham," sahut Evan.
Axel mengambil ponselnya dan menghubungi William.
"Will, cari tahu siapa saja klien Alvaro Group yang juga bekerja sama dengan The Demir Cooperation. Katakan kepada mereka jika masih ingin bekerja sama dengan Alvaro Group, maka mereka harus memutuskan kerja sama dengan The Demir Cooperation, begitu juga sebaliknya," ucap Axel, lalu memutuskan panggilan telponnya.
Wajah Nyonya Dilara seketika memucat. Nasib perusahaan keluarganya benar-benar di ambang kebangkrutan. Sedangkan Meira terus menunduk tanpa berani menatap ke arah Axel.
"Ini hanya peringatan kecil dariku. Jika kalian masih berulah, akan kukacaukan sistem perusahaan kalian dan kuhancurkan sampai tak bersisa," ucap Axel dengan santainya.
Nyonya Dilara dan Meira segera pergi dari sana. Mereka takut jika Axel akan benar-benar menghancurkan perusahaan mereka. Sedangkan Tuan Farhan mengajak Nyonya Gulya duduk di taman rumah sakit.
"Kau salah paham Gulya. Apa yang kau dengar itu tidak seperti yang kau pikirkan. Jasmine tidak bersalah, dia anak yang baik," ucap Tuan Farhan.
Nyonya Gulya hanya dan menunggu penjelasan dari kakaknya.
"Jasmine adalah seorang keturunan dari keluarga Alvaro. Dan Papa kita memiliki masa lalu yang buruk dengan Tuan Alexander Alvaro, kakek Jasmine."
"Keluara Alvaro? Maksud kakak pemilik perusahaan besar Alvaro Group?" tanya Nyonya Gulya.
"Benar. Mereka adalah pemilik Alvaro Group," jawab Tuan Farhan.
Tuan Farhan menceritakan semua permasalahan yang terjadi mulai dari cerita masa lalu antara Tuan Kareem dan Tuan Alex, yang dampaknya harus mereka rasakan sampai saat ini, termasuk penolakan Tuan Kareem terhadap hubungan Evan dan Jasmine. Nyonya Gulya melebarkan matanya tak percaya. Selama ini dia tidak tahu tentang masa lalu ayah mereka.
__ADS_1
"Oleh sebab itulah aku sangat marah kepada Papa. Karena Papa memendam rasa iri hati yang luar biasa kepada Tuan Alex, yang menyebabkan timbulnya rencana perjodohan yang ayah siapkan untuk kita. Aku beruntung karena dulu aku berani menolak perjodohan itu. Tapi hatiku sakit saat melihat apa yang kau alami di dalam pernikahanmu, Gulya. Seandainya Papa tidak berkeras menjodohkanmu dengan pria brengsek itu, kau pasti akan hidup bahagia saat ini bersama pria yang kau cintai dan tidak hidup menderita."
"Begitu juga dengan Mama kita. Mama tidak perlu hidup dalam bayang-bayang wanita lain yang menjadi cinta pertama Papa," ujar Tuan Farhan sambil meneteskan air mata.
Nyonya Gulya langsung memeluk kakaknya. Mereka berdua tahu bagaimana kehidupan yang dijalani oleh ibu mereka. Wanita yang selalu berusaha menyenangkan hati suami yang dicintainya, meskipun harus merubah jati dirinya. Dan Nyonya Kareem akan kembali menjadi dirinya sendiri saat bersama kedua buah hatinya.
"Tapi sekarang kakak menyesal. Seharusnya aku bisa lebih mengontrol emosiku dan tidak mengabaikan penyakit jantung yang Papa derita selama ini. Aku minta maaf, Gulya," ucap Tuan Farhan penuh sesal.
"Sudahlah Kak. Kakak jangan terus menerus menyalahkan diri kakak. Aku juga sudah memaafkan Papa. Yang paling penting saat ini kita berdoa dan berusaha untuk kesembuhan Papa. Semoga Papa bisa segera sadar," ujar Nyonya Gulya.
Tuan Farhan dan Nyonya Gulya sudah kembali. Axel terus mendampingi adiknya karena tidak ingin siapapun sampai menyakiti Jasmine. Nyonya Gulya berjalan mendekati Jasmine, membuat Jasmine sedikit canggung. Nyonya Gulya mengulurkan tangannya.
"Aku minta maaf Jasmine. Maafkan atas segala ucapan dan sikap kasarku tadi padamu," ucap Nyonya Gulya penuh sesal.
Jasmine menyambut uluran tangan Nyonya Gulya sambil tersenyum.
"Tidak masalah, Nyonya. Semua itu hanyalah kesalahpahaman," ucap Jasmine.
"Jangan panggil Nyonya. Panggil saja bibi seperti Evan," ujar Nyonya Gulya.
Jasmine mengangguk lalu memeluk Nyonya Gulya. Evan dan kedua orang tuanya, juga Selma tersenyum bahagia. Sedangkan Axel tetap diam dengan wajah datarnya.
"Saya juga meminta maaf kepada Anda, Tuan Alvaro, karena tadi saya telah membentak Anda," ucap Nyonya Gulya kepada Axel.
"Nevermind. Yang penting sudah tidak ada lagi kesalahpahaman di antara kita," jawab Axel sambil tersenyum tipis.
Pintu ruangan Tuan Kareem terbuka dan keluarlah Helena bersama Darrel dan dokter Dirga. Semuanya langsung mendatangi ketiga dokter itu.
"Dokter, bagaimana keadaan Papa saya?" tanya Tuan Farhan.
"Kondisi Tuan Kareem masih tetap sama seperti sebelumnya dan belum sadarkan diri," jawab dokter Dirga.
Tuan Farhan dan Nyonya Gulya saling berpegangan tangan untuk saling menguatkan.
"Apa yang harus kami lakukan? Apa kami harus membawanya untuk berobat ke luar negeri?" tanya Nyonya Gulya.
"Dalam kondisi seperti ini, tidak dimungkinkan untuk membawa Tuan Kareem pergi ke luar negeri, Nyonya," jawab Helena.
"Lalu apa yang harus kami lakukan? Mengapa Papaku masih belum sadar?" cerca Nyonya Gulya.
"Sepertinya pasien yang enggan untuk bangun Tuan, Nyonya. Kita harus bisa membangkitkan semangat hidupnya, agar pasien mau membuka matanya lagi. Kalian bisa masuk secara bergantian dan ajaklah pasien mengobrol. Kalian bisa menceritakan kenangan indah tentang kebersamaan kalian," terang dokter Dirga.
"Kami akan berusaha melakukan semampu kami, dokter," ucap Tuan Farhan penuh semangat.
Tuan Farhan segera menghapus air matanya dan segera bersiap untuk menggunakan APD, karena Tuan Farhan menjadi orang pertama yang menemui Tuan Kareem di dalam ruangannya.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
__ADS_1
Terima kasih🙏🥰