
"Bagaimana kabarmu?" tanya Yudistira.
"K-kabarku baik, Mas. Mas Yudi sendiri juga bagaimana kabarnya?" Vira balik bertanya.
"Tentu saja baik. Jika tidak baik, mana mungkin aku bisa datang ke sini untuk menemuimu." Jawab Yudistira.
Wajah Vira mulai merona. Vira langsung menundukkan wajahnya karena malu. Saat ini keduanya sedang duduk di teras depan rumah kontrakan yang dulu disiapkan oleh keluarga Alvaro untuk mereka selama Vira dirawat di rumah sakit.
Kesenyapan menyelimuti keduanya.
"Apa kau sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti ujian masuk sekolah tinggi ilmu keperawatan?" tanya Yudistira.
"Alhamdulillah sudah Mas. Aku baru saja selesai merapikan buku yang tadi aku gunakan untuk belajar," jawab Vira.
Yudistira hanya manggut-manggut saja. Sedangkan Vira sering menundukkan wajahnya dengan jantung yang berdebar tak karuan. Yudistira membuang napasnya kasar.
"Aku bukan pria yang suka basa-basi, jadi aku langsung pada intinya," seru Yudistira.
Vira langsung tersentak dan menatap ke arah Yudistira. "A-apa maksud Mas Yudi?"
"Maukah kau menikah denganku?" tanya Yudistira dengan lantang.
"Hah? Apa? Menikah?" Vira sangat terkejut dan serasa terkena serangan jantung.
"Ya menikah. Mungkin ini terkesan mendadak dan terburu-buru, tapi aku tidak bisa memendamnya lagi. Dengarkan aku baik-baik. Aku tidak akan pernah melarangmu untuk meraih apa yang kau citakan selama ini. Setelah menikah kau tetap bisa melanjutkan pendidikanmu dan menjadi seorang perawat. Dan satu lagi, aku tidak akan menuntutmu untuk segera memberikanku anak. Kita bisa menundanya sampai kau menyelesaikan pendidikanmu," ungkap Yudistira panjang lebar tanpa jeda.
Vira terdiam dengan mata terbelalak dan mulut sedikit menganga. Yudistira menarik napas dengan jantung yang masih berdebar kencang. Bukan hal yang mudah baginya untuk mengatakan semua itu.
"A-aku minta maaf," ujar Yudistira pelan.
Vira pun tersadar dan menjadi salah tingkah. Vira menyentuh dadanya dan berusaha menarik napas dengan perlahan supaya dirinya menjadi tenang. Vira memberanikan diri menatap ke arah Yudistira.
"Mengapa Mas mau melakukan semua itu? Aku memang gadis bernasib buruk, tapi bukan berarti aku ingin dikasihani Mas. Aku tahu Mas Yudi adalah pria yang baik dan Mas Yudi tidak perlu melakukan semua itu, menikahiku hanya karena rasa kasihan. Banyak wanita baik dan masih bersih di luar sana yang lebih pantas untuk Mas Yudi," ucap Vira sambil menahan sesak di dadanya.
Hati Yudistira serasa tercubit. Dia menyadari jika dirinya terlalu lepas kontrol sehingga dia mengabaikan perasaan Vira dan membuatnya tertekan.
"Aku minta maaf Vira. Aku terlalu bersemangat, sehingga aku tanpa sadar telah mengabaikan perasaanmu. Aku bahkan tidak tahu bagaimana perasaanmu padaku. Apalagi usiaku jauh lebih tua darimu," ucap Yudistira sedikit terkekeh.
Vira masih terdiam.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud membuatmu tertekan seperti ini. Ini memang terlalu cepat dan mendadak. Aku hanya ingin kau tahu jika aku ingin menikah denganmu bukan karena rasa kasihan, tapi semua itu karena keinginan hatiku. Aku menginginkanmu bukan wanita lain. Aku tidak peduli dengan masa lalumu. Bagiku kau adalah wanita yang baik dan layak untuk dicintai," tambahnya.
Vira membulatkan matanya dan menatap mata Yudistira dengan lekat. Vira tidak melihat kebohongan di sana, tapi sebuah kesungguhan. Sejujurnya hati Vira bahagia mendengar semua pengakuan Yudistira, tapi Vira sadar diri jika dirinya tidak layak untuk pria sebaik Yudistira.
__ADS_1
"Aku tidak akan menuntutmu untuk memberikan jawaban saat ini juga. Aku akan memberikanmu waktu untuk berpikir. Aku tidak akan memaksamu, Vira. Apapun jawaban dan keputusanmu nanti, aku akan menerimanya dengan lapang dada," ucap Yudistira.
Vira tetap diam dan tak menjawab. Yudistira berdiri dari duduknya.
"Minggu depan aku akan pergi ke Amerika dan tinggal di sana dalam waktu lama," ujar Yudistira.
Vira membelalakkan matanya.
"Berapa lama?" tanya Vira dengan bibir sedikit bergetar.
"Berapa lamanya aku tidak tahu pasti. Aku akan melanjutkan pendidikan S2-ku di sana dan menjadi asisten Nona Jasmine dan Tuan Evan selama mereka tinggal di sana. Karenanya aku memberanikan diri untuk mengungkapkan isi hatiku padamu. Aku ingin membawamu ikut bersamaku." jawab Yudistira.
"Sekali lagi aku minta maaf atas keegoisanku. Aku pergi dulu. Assalamualaikum."
"Wa-waalaikumsalam," jawab Vira sambil menahan air matanya yang hendak jatuh.
Vira menatap nanar kepergian Yudistira. Setelah Yudistira pergi, Vira langsung masuk ke dalam rumah dan tak lupa mengunci pintu. Vira berlari ke dalam kamarnya dan menumpahkan air matanya di sana.
"Mengapa hatiku terasa sakit saat mengetahui Mas Yudi akan pergi, Ya Tuhan?" lirihnya sambil terisak.
Tangan Vira menyentuh dadanya yang terasa sakit. Vira menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang dan terus menangis.
Di tempat lain, Pramudya harus berjuang keras untuk mendapatkan kontrak kerja sama Alvaro Group dengan klien yang berasal dari Norwegia. Pramudya bersyukur dia bisa berbahasa Inggris, sehingga dia bisa menjelaskan program yang diajukan oleh pihak Alvaro Group dengan baik. Sedangkan Axel, William dan Darren hanya diam saja sambil memperhatikan presentasi yang dibawakan oleh Pramudya.
Tuan Smith tidak menjawab pertanyaan Pramudya dan malah menatap ke arah Axel.
"Dari mana Tuan Axel mendapat orang seperti dia?" tanya Tuan Smith menggunakan bahasa Jerman dan Pramudya sama sekali tidak mengerti.
"Apa ada masalah, Tuan?" Axel balik bertanya.
"Tentu saja tidak. Saya bersedia menukar kontrak kerja sama ini dengannya," jawab Tuan Smith.
"Sayangnya perusahan kami tidak bisa menerima tawaran Anda, Tuan," tolak Axel sambil tersenyum.
Tuan Smith tertawa. "Pantas saja Alvaro Group bisa maju dengan pesat karena kalian mempunyai orang-orang yang luar biasa."
"Jadi, apakah Tuan akan menyetujui rencana kerja sama kita atau tidak?" tanya Axel sambil tersenyum.
"Hanya orang bodoh yang melewatkan kesempatan emas ini," jawab Tuan Smith sambil menandatangani kontrak kerja sama itu.
Pramudya sangat bahagia akhirnya dia berhasil menyelesaikan tantangan yang diberikan oleh Axel. Namun dia berusaha untuk menahannya. Tuan Smith berjabat tangan dengan Axel, William dan Darren. Terakhir dia menjabat tangan Pramudya.
"Jika suatu saat nanti Alvaro Group tidak membutuhkanmu lagi, kau bisa datang kepadaku. Pintu perusahaanku terbuka lebar untukmu," ucap Tuan Smith dalam bahasa Inggris.
__ADS_1
"Hah," pekik Pramudya bingung.
Lalu Parmudya hanya bisa tersenyum untuk menutupi keterkejutannya.
"Bagus sekali Pram. Kau melakukannya dengan sangat baik. Besok pagi, temui aku di Alvaro Group," ucap Axel.
"Baik, Tuan. Terima kasih banyak. Saya pasti akan menemui Anda besok pagi. Sekali lagi terima kasih, Tuan," ujar Pramudya dengan hati bahagia.
Axel hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Apa kau tidak ingin tahu posisi apa yang akan kau tempati nantinya?" tanya Darren.
Pramudya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Tidak, Tuan. Apapun posisi yang akan Tuan Axel berikan, saya akan menerimanya," jawab Pramudya.
"Sampai bertemu lagi besok pagi, Pram," ucap Axel, lalu pergi meninggalkan restoran bersama William dan Darren.
"Alhamdulillah, akhirnya aku mendapatkan pekerjaan. Aku harus segera pulang dan memberitahu kabar baik ini kepada Vira dan Nabila," gumam Pramudya sambil berjalan meninggalkan restoran itu dengan penuh semangat.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel author lainnya:
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰
__ADS_1