Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 17. Seranjang


__ADS_3

Axel dan Helena tiba di mansion Alvaro. Keduanya sangat terkejut karena kedatangan mereka disambut oleh Vero, Dea, Triple D, dan kedua orang tua Helena, Narendra dan Charlotte. Axel sedikit panik, dia takut jika para orang tua itu mengetahui bahwa Axel dan Helena tidur di kamar yang berbeda. Axel segera memerintahkan William dan Irene untuk menyuruh pelayan memindahkan barang-barang Helena ke dalam kamarnya.


"Assalamualaikum, semuanya," sapa Axel.


"Waalaikumsalam," jawab semua anggota keluarga.


Axel dan Helena segera salim dan memeluk para orang tua itu, beserta triple D (Darren, Darrel, dan Deffan).


"Mengapa kalian tidak memberitahu jika ingin datang ke sini?" tanya Axel.


"Kami kan ingin memberikan kalian kejutan. Kalau kami memberi tahu kalian, bukan kejutan namanya," jawab Darren sambil tertawa.


Semuanya berkumpul dan duduk bersama di ruang keluarga. Axel duduk di samping Helena, dengan tangannya melingkar di pinggang Helena agar terlihat seperti suami istri yang akur dan romantis.


"Kami berencana akan berangkat ke Amerika mengunjungi Grandpa Haris dan GrandMa Sasmitha. Dan sebelum kami berangkat ke sana, kami ingin mengunjungi kalian terlebih dahulu," ucap Vero.


"Bagaimana kabar kalian?" tanya Narendra.


"Alhamdulillah kami baik, Dad. Mommy dan Daddy juga baik kan?" jawab Helena.


"Alhamdulillah kami juga baik, sayang. Hanya saja kami merindukanmu. Kalian kan sudah menikah selama sebulan. Daddy selalu berdoa semoga hubungan kalian selalu harmonis seperti rumah tangga kami," ucap Narendra.


"Aamiin. Terima kasih, Dad," ucap Helena sambil tersenyum.


"Baiklah. Karena ini sudah malam, sebaiknya kita semua istirahat dan mengobrolnya dilanjutkan lagi besok," seru Dea.


"Dea benar. Axel dan Helena juga pasti lelah setelah menghadiri pertemuan dengan Tuan Robinson. Mereka harus menjaga stamina supaya bisa segera memberikan kita cucu yang lucu," goda Charlotte.


Axel dan Helena membulatkan mata mereka. Lalu memaksakan bibir mereka untuk tersenyum. Semua anggota keluarga segera masuk kembali ke kamar mereka masing-masing.


"Malam ini kau tidur di kamarku," bisik Axel saat keduanya berjalan menaiki tangga.


Helena hanya menganggukkan kepala, karena dia merasa tubuhnya sangat lelah dan malas berdebat dengan Axel. Axel dan Helena masuk ke dalam kamar. Helena segera membersihkan diri dan mengganti gaunnya dengan piyama tidur. Setelah Helena keluar, Axel segera masuk ke kamar mandi. Helena melaksanakan ibadah terlebih dahulu sebelum tidur.


Axel keluar dari kamar dengan menggunakan piyama tidurnya.


"Kau tidur di sofa. Aku tidak mau tidur seranjang denganmu," ucap Axel.


"Aku tidak mau, kau saja yang tidur di sofa. Tubuhku terasa lelah sekali dan aku ingin tidur di kasur yang empuk," balas Helena.


"Ini kamarku. Aku yang berhak menentukan!" bentak Axel tak terima.


"Baiklah kalau begitu, sebaiknya aku kembali ke kamarku saja," ucap Helena sambil berjalan menuju pintu.


"Berhenti! Apa kau ingin membuat keluarga kita curiga?" seru Axel.


"Ya mau bagaimana lagi. Kau kan tidak mau kita tidur seranjang, dan aku juga tidak mau tidur di sofa," ucap Helena sambil tersenyum licik.


"Dasar licik! Kau sengaja memanfaatkan keberadaan keluarga kita di sini supaya kau bisa mendekatiku. Dasar wanita ular!" ucap Axel kesal.


"Hahahhaa..." Helena tertawa.


"Memangnya ada ya ular yang secantik diriku? Ular jenis apa?" tanya Helena sambil berkacak pinggang.


"Ular jenis cobra yang selalu siap mengeluarkan bisa beracunnya," jawab Axel.

__ADS_1


"Kalau aku ini cobra berarti kamu anaconda. Karena mustahil kan ada ular yang menikah dengan keledai," ucap Helena sambil tersenyum mengejek.


"Kau!" bentak Axel tak terima.


"Sekarang keputusan ada di tanganmu. Kau ijinkan aku tidur di ranjangmu atau aku kembali ke kamarku dan tidur di ranjangku," ucap Helena.


Axel mendengus kesal. Lalu dia mengambil dua guling dan membuat batas di tengah ranjang.


"Kau tidur di sebelah sana dan aku di sebelah sini. Jangan sampai melewati batas guling ini," ucap Axel dengan wajah kesal.


"Baiklah seperti ini lebih baik," ucap Helena senang.


Helena segera naik ke atas ranjang. Dia merebahkan tubuhnya sambil menarik selimut sampai ke leher. Dan tak butuh waktu lama, Helena pun terlelap karena lelah. Selesai beribadah, Axel segera naik ke atas ranjang untuk mengistirahatkan tubuhnya.


Keesokan paginya, Helena merasa sesak. Dia merasakan seperti terhimpit benda besar. Helena juga mencium aroma maskulin yang sangat dikenalnya. Helena membuka matanya perlahan. Matanya pun langsung membola. Helena terkejut melihat tubuhnya yang berada di dalam pelukan Axel. Tangan kekar Axel melingkar sempurna di pinggangnya, sedangkan satu kakinya menghimpit kaki Helena.


Helena bergerak dan berusaha memindahkan tangan Axel dari tubuhnya, namun Axel semakin mengeratkan pelukannya. Helena menghela napas. Dia memandangi wajah tampan Axel yang terlelap. Tiba-tiba perut Helena terasa sakit dan dia merasakan sesuatu yang hangat mengalir dari dalam bagian intimnya.


"Oh tidak. Jangan-jangan tamu bulananku datang," gumam Helena panik.


"Axel! Bangun!" teriak Helena sambil memukul tubuh Axel.


Axel pun tersendak dan keluar dari alam mimpinya.


"Ada apa sih pagi-pagi sudah berteriak?" ucap Axel kesal.


"Buka matamu!" bentak Helena.


Axel segera membuka matanya. Axel pun terkejut melihat posisi mereka saat ini. Dan guling pembatas di antara mereka sudah tak ada. Axel segera menarik tangan dan kakinya, lalu segera duduk dan menjauh dari Helena. Helena juga segera ikut duduk.


"Hei! Buka lebar-lebar matamu itu. Kau yang melewati batas, bukan aku!" bantah Helena.


"Kau jangan coba-coba memutar balikkan fakta ya," ucap Axel tak terima.


Helena mendengus kesal.


"Tuan Axel yang terhormat, mohon gunakan kegeniusan otak Anda. Di kamar ini kan ada kamera CCTV. Bagaimana kalau kita lihat hasil rekamannya? Untuk membuktikan siapa yang melewati batas dan memeluk terlebih dahulu," tantang Helena.


Axel segera mengambil laptopnya dan membuka rekaman CCTV. Mata Axel dan Helena pun membelalak saat melihat mereka berdua yang menendang guling pembatas sampai jatuh dari atas ranjang. Tapi yang mendekat dan memeluk terlebih dahulu adalah Axel. Terlihat sekali Axel memeluk tubuh Helena dengan erat, seolah-olah tubuh Helena itu sebuah guling. Helena pun tertawa puas. Sedangkan wajah Axel memerah karena menahan malu dan marah, dia juga merutuki kebodohannya sendiri.


"Bagaimana? Sudah terbukti bukan jika kau yang lebih dulu mendekat dan memelukku. Atau jangan-jangan memang naluri tubuhmu ya yang ingin sekali menyentuh tubuhku," goda Helena.


"Hanya ada dalam mimpimu," ucap Axel kesal.


Helena tertawa puas. Tiba-tiba perutnya sakit lagi.


"Aarrkkhh!" teriak Helena sambil memegang perutnya.


Axel tersenyum senang melihat Helena sakit perut setelah menertawakannya.


"Itu balasan untukmu karena telah menertawakanku," ejek Axel.


Helena segera bangun. Dia mengambil pembalut dari dalam tasnya dan masuk ke dalam kamar mandi.


"Itu hukuman bagi istri yang durhaka pada suaminya!" teriak Axel puas.

__ADS_1


Axel membulatkan matanya saat melihat ada bercak darah di atas kasur. Axel yakin itu pasti darah Helena.


"Akh! Sial! Beraninya dia mengotori ranjangku," teriak Axel kesal.


Axel dan Helena sudah duduk tenang sambil menikmati hidangan sarapan bersama keluarga mereka. Helena sengaja memasak rendang kesukaan Axel dan Vero, dan sop iga kesukaan Daddynya. Dan seperti biasa, Axel memakannya dengan lahap. Emosinya yang tadi sempat memuncak karena perdebatan tadi pagi, berangsur menurun. Axel juga tidak ingin keluarganya merasa curiga dengan hubungan mereka.


"Kami akan terbang ke Amerika siang nanti dengan menggunakan private jet keluarga Alvaro, Axel," ucap Vero.


"Baiklah Pi, nanti aku dan Helena akan mengantar kalian ke bandara," ucap Axel.


"Apa kalian ada rencana pertemuan lagi nanti malam?" tanya Dea.


"Tuan Robinson mengundang kami di acara pembukaan hotel baru miliknya, sore ini. Dan beliau juga memberikan voucher menginap gratis di hotelnya," jawab Axel.


"Bagus juga, menikmati suasana hotel baru sekalian berbulan madu," goda Dea.


Axel dan Helena hanya memberikan senyuman manis mereka.


Saat ini, Axel dan seluruh keluarganya sudah berada di bandara.


"Daddy, Mommy. Kalian hati-hati ya. Helena titip salam ya untuk Grandpa, Grandma dan Hans," ucap Helena.


"Tentu saja sayang. Nanti akan Mommy sampaikan," ucap Charlotte sambil memeluk dan mencium pipi Helena.


Begitu juga dengan Narendra. Narendra bahagia melihat kedekatan putri dan menantunya itu. Dan terlihat rumah tangga mereka baik-baik saja.


"Pipi, Mimi dan triple D juga hati-hati ya. Kabari kami jika kalian sudah tiba di sana. Salam untuk Grandpa dan Grandma," ucap Axel.


"Tentu saja, sayang," jawab Dea sambil memeluk Axel.


"Oh iya, besok adikmu Jasmine, akan kembali ke Jerman. Pipi harap kalian bisa segera memperbaiki hubungan kalian. Kalian itu bersaudara. Jangan sampai hanya karena perbedaan pendapat dan salah paham membuat kalian jadi bermusuhan. Apa kau tidak kasihan melihat orang tuamu bersedih? Apa kau tega terus membuat Mamamu, Aline, menangis setiap memikirkan kalian berdua?" ucap Vero.


"Axel mengerti Pi. Axel akan berusaha memperbaikinya," jawab Axel.


"Kau harus meminta maaf padanya atas tamparan yang telah kau berikan. Bukan tubuhnya yang sakit, tapi hatinya. Satu-satunya kakak yang dia miliki dengan tega melakukan hal itu. Asal kau tahu, adikmu sampai mengambil cuti kuliah selama 1 semester hanya untuk membantumu untuk mencari kebenaran tentang kematian Marissa dan mencari keberadaan sepupu Marissa yang bernama Patrick itu. Beruntung di semester ini dia bisa menyelesaikan skripsi dan ujian akhirnya dengan baik, dan tinggal menunggu hari kelulusan," tutur Vero.


Axel terdiam dan merenungi semua yang dikatakan oleh Vero. Di dalam lubuk hatinya yang terdalam, sejujurnya Axel juga sangat merindukan adik kesayangannya itu. Dia ingin sekali memeluk adiknya. Dia bertekad akan memperbaiki hubungan mereka. Axel tidak ingin melihat orang tuanya sedih lagi.


Setelah berpamitan, keluarga Vero dan keluarga Narendra masuk ke dalam pesawat. Dan tak lama kemudian, pesawat itu pun lepas landas dan terbang meninggalkan bandara. Axel dan Helena segera kembali ke mansion untuk bersiap menghadiri acara pembukaan "Robinson's Hotel & Resort".


...🌹🌹🌹...


Baca juga baca novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author dengan :


💫Tinggalkan comment


💫Tinggalkan like


💫Tinggalkan vote


💫Klik favorite

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2