
Mobil sport Aiden tiba di mansion Alvaro. Jasmine segera turun dari mobil bersama Aiden dan masuk ke dalam mansion. Jasmine mengucapkan salam dan hanya William dan Irene yang menjawab salamnya.
"Kenapa sepi sekali Kak Will? Di mana Kak Axel dan Kak Helena?" tanya Jasmine.
"Mereka ada di kamar Tuan Axel. Tuan Axel mengeluhkan sakit kepala sejak tadi siang Nona, dan sepertinya semakin parah. Nona Helena sedang memeriksanya," jawab William.
Jasmine langsung berlari menuju kamar Axel.
"Apa Axel sering merasakan sakit kepala akhir-akhir ini?" tanya Aiden.
"Benar Tuan. Dan semakin hari sakit kepalanya semakin sering muncul," jawab William.
Aiden mengangguk, lalu menyusul Jasmine menuju kamar Axel. Setibanya di depan kamar Axel, Jasmine langsung membuka pintu dengan keras tanpa mengetuknya terlebih dahulu karena khawatir. Jasmine langsung diam membeku di tengah pintu dengan kedua bola matanya membulat sempurna, saat melihat pemandangan intim Axel dan Helena.
Ketika Axel dan Helena menoleh ke arahnya dan mendapatkan tatapan tajam dari kakaknya, Axel, Jasmine langsung meringis dan memamerkan deretan gigi putihnya.
"Sorry. Silakan dilanjutkan lagi," ucap Jasmine sambil menutup kembali pintu kamar dengan perlahan.
Jasmine segera melangkah menjauh dari kamar Axel. Dan melihat Aiden baru saja sampai di lantai kamar Axel.
"Segera pergi dari sini, Kak," seru Jasmine sambil memberikan isyarat meminta Aiden untuk segera menuruni tangga.
Ceklekk...!
Jasmine membalikkan badannya. Helena keluar dari kamar Axel. Aiden berjalan perlahan menuruni tangga. Di bawah tangga sudah ada William dan Irene yang hendak menaiki tangga, namun Aiden menahannya dengan memberi isyarat berhenti.
"Kenapa sudah keluar, Kak?" tanya Jasmine sambil tersenyum.
"I-itu... Kakakmu sudah selesai makan. Dan dia menyuruhmu untuk segera menemuinya sekarang juga," ucap Helena sedikit tergagap dengan wajah menahan malu.
"Baiklah. Aku ke sana sekarang," ucap Jasmine.
Helena hanya mengangguk. Jasmine berjalan melewati Helena, dan sebelum masuk ke kamar Axel dia membalikkan badannya lagi menghadap Helena yang berjalan menjauh.
"Kak Helena!" seru Jasmine.
Helena berhenti dan memutar badannya.
"Iya, ada apa?" tanya Helena.
"Aku minta maaf ya. Gara-gara aku, kalian gagal membuatkan keponakan untukku," ucap Jasmine sambil tersenyum.
"M-maksudmu?" tanya Helena.
"Itu," ucap Jasmine sambil jari telunjuknya menunjuk baju kemeja Helena yang 3 kancing bawahnya sudah terbuka dan memamerkan perut putih dan mulus Helena.
Helena melihat ke arah yang ditunjukkan Jasmine. Seketika matanya terbelalak saat melihat bajunya yang sudah terbuka di bagian bawahnya. Helena segera membalikkan badan dan berlari menuju kamarnya. Jasmine berusaha menahan tawanya, lalu mengetuk pintu dan masuk ke dalam kamar Axel. Sedangkan Aiden, William dan Irene yang mendengar pembicaraan mereka langsung mengambil langkah seribu menuju ruang tamu.
"Apa kau dengar tadi Will?" tanya Irene sambil tersenyum.
"Tentu saja. Telingaku masih sehat," jawab William sambil terkekeh.
"Sepertinya sebentar lagi kita tidak hanya menjadi asisten pribadi Tuan Axel, tapi juga calon baby sitter," ucap Irene.
Aiden dan William terkekeh. Dalam hati, mereka merasa bahagia akhirnya Axel bisa membuka hatinya kembali untuk Helena. Sedangkan di dalam kamarnya, Helena terus memberikan umpatannya kepada Axel.
"Axel s***n! Dia benar-benar membuatku malu," umpat Helena.
Helena menaruh nampan yang dia bawa tadi ke atas nakas, lalu duduk di atas ranjang. Helena menyentuh bibirnya dan mengingat c**m*n mereka tadi. Darah Helena langsung berdesir dan jantungnya kembali berdebar-debar.
"Mengapa Axel menciumku? Apa dia mulai memiliki perasaan untukku?" tanya Helena pada dirinya sendiri.
Helena menggelangkan kepalanya.
"Tidak mungkin! Axel sangat mencintai Marissa. Tidak mungkin dia memiliki perasaan untukku. Aku tidak boleh terbawa perasaan," gumam Helena sambil tersenyum hambar.
"Mengapa kau lakukan ini padaku, Xel? Aku takut jika aku jatuh cinta padamu. Karena aku tidak ingin merasakan sakit hati yang teramat saat kita berpisah nanti," ucap Helena sambil meneteskan air mata.
Helena segera menghapus air matanya.
__ADS_1
"Kau tidak boleh lemah, Helena. Ingat tujuan utamamu, kau harus mengembalikan Axel menjadi Axel yang dulu, sahabat kecilmu," tegas Helena.
Helena segera bangkit dan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Di dalam kamar Axel, Jasmine berjalan perlahan mendekati ke arah Axel.
"Duduk!" perintah Axel dengan wajah kesalnya.
Jasmine pun duduk agak jauh dari Axel.
"Mengapa sekarang mengetuk pintu dulu sebelum masuk, sedangkan tadi kau langsung membanting pintu? Mengacau saja kau ini?" tanya Axel kesal.
"Aku... Aku minta maaf, Kak," ucap Jasmine penuh sesal.
"Apa? Aku tidak dengar. Kepalaku sakit, bicaralah yang jelas. Duduk sini!"
Axel meminta Jasmine untuk duduk di sampingnya. Jasmine pun menurut dan berpindah duduk di samping Axel, namun masih ada jarak diantara mereka. Axel geram melihatnya, dan langsung menarik tangan Jasmine agar duduk lebih dekat dengannya. Jasmine tersentak.
"Kau bilang apa tadi?" tanya Axel.
"A-aku minta maaf. Aku tidak bermaksud mengganggu keromantisan kalian," ucap Jasmine sambil menunduk.
Axel mendengus kesal.
"Apa sebenci itu kau pada kakakmu ini? Sampai saat berbicara kau tidak mau melihat wajahku," ucap Axel lembut.
Jasmine langsung mengangkat wajahnya dan menatap wajah Axel. Terlihat tatapan penuh kerinduan dari keduanya.
"Aku tidak membencimu. Tapi aku sangat merindukanmu, Kak," ucap Jasmine dengan bulir air mata yang mulai jatuh dari pelupuk matanya.
Axel tersenyum, lalu merentangkan kedua tangannya. Jasmine langsung memeluk Axel dan menangis di dalam pelukan kakaknya.
"Kakak yang seharusnya minta maaf karena kakak pernah berbuat kasar padamu, bahkan kakak sampai memusuhimu. Kakak minta maaf ya adikku sayang," ucap Axel yang ikut menangis, lalu mencium pucuk kepala adiknya.
Jasmine mengangguk.
"Aku sudah memaafkan kakak," ucap Jasmine sambil sesenggukan.
"Sudah jangan menangis lagi. Kakak berjanji mulai saat ini, apapun masalah diantara kita, apapun perbedaan yang kita miliki, kakak tidak akan pernah berbuat kasar lagi padamu dan kakak tidak akan pernah memusuhimu lagi. Kakak sangat menyayangimu. Kakak tidak mau kehilangan adik terbaik sepertimu," ucap Axel.
Jasmine menganggukkan kepalanya. Lalu wajah Axel berubah dingin lagi.
"Tapi, kalau kau mengacau lagi seperti tadi, kakak berhak marah padamu," ucap Axel dingin.
Jasmine terkekeh.
"Aku benar-benar minta maaf, Kak. Aku tadi sangat ketakutan setelah Kak William bilang kakak sakit. Aku langsung berlari ke sini," ucap Jasmine.
"Ya mana aku tahu kalau orang sakit itu masih kuat untuk bermesraan apalagi membuat calon anak. Salah kakak juga, kenapa pintunya tidak dikunci," ucap Jasmine membela diri.
"Dasar. Sudah salah, masih mencoba membela diri," ucap Axel sambil terkekeh.
"Bagaimana keadaan kakak sekarang? Apa kepala kakak masih sakit?" tanya Jasmine khawatir.
"Iya masih sakit. Apalagi karena ulahmu tadi, membuat sakit kepalaku bertambah," ucap Axel.
Jasmine mencibirnya.
"Iya iya aku salah. Terus apa yang harus aku lakukan untuk menebus kesalahanku? Apa aku harus memohon kepada Kak Helena supaya menemanimu tidur di sini untuk melanjutkan kemesraan yang tadi tertunda?" tanya Jasmine menggoda.
Axel menyentik dahi adiknya.
"Aukh! Sakit Kak," teriak Jasmine.
"Makanya kalau mau bicara dipikir dulu," ucap Axel.
Axel menyentuh dagunya sambil memikirkan sesuatu.
"Sepertinya aku ingin minum teh aroma jasmine buatan adikku. Aku sudah lama sekali tidak menikmatinya," ucap Axel sambil tersenyum.
__ADS_1
"Siap Bos! Akan kubuatkan sekarang juga," seru Jasmine penuh semangat.
Jasmine segera berdiri dan berlari menuju dapur. Sebelumnya dia mengambil tasnya dulu.
"Yes! Ini kesempatanku untuk memasukkan obat penawar ini ke dalam tubuh Kak Axel," gumam Jasmine sambil menuang obat penawar ke dalam teh buatannya lalu mengaduknya perlahan.
Setelah selesai, Jasmine segera mengantarkan teh aroma jasmine kepada kakaknya.
"Huwalaaa... Teh aroma jasmine spesial racikan Princess Jasmine sudah siap. Selamat menikmati, Tuan," ucap Jasmine dengan raut wajah bahagia.
"Terima kasih. Suatu kehormatan bagi saya bisa menikmati teh racikan dari seorang princess," ucap Axel sambil tertawa.
Axel segera meminum tehnya. Terlihat sekali Axel sangat menikmati teh buatan Jasmine, membuat Jasmine tersenyum senang. Bahkan Axel langsung menghabiskannya.
"Benar-benar nikmat," puji Axel.
"Apa kau menambahkan sesuatu di dalamnya?" tanya Axel penuh selidik.
Ekspresi wajah Jasmine langsung berubah. Dia bingung juga takut jika Axel menyadari ada sesuatu yang dicampurkan ke dalam tehnya.
"Ti-tidak ada, Kak. A-aku tidak menambahkan apa-apa. Aku membuatnya seperti biasanya. Atau sekarang kakak ikut aku ke dapur dan akan kubuatkan lagi, supaya kakak tahu caraku meraciknya dan yakin kalau aku tidak mencampurkan apapun ke dalamnya," terang Jasmine sedikit tergagap.
Axel menyunggingkan bibirnya membentuk senyuman.
"Aku tahu. Santai saja, aku hanya mengodamu. Mengapa kau sampai tergagap seperti itu?" goda Axel.
Jasmine menghela napas lega.
"Kakak? Mengapa kau menakutiku seperti itu?" ucap Jasmine manja.
Axel tertawa melihat ekspesi adiknya.
"Aku hanya bercanda. Kita kan sudah lama tidak bercanda seperti ini," ucap Axel.
"Aku senang Kakak kembali seperti dulu lagi. Aku harap Kakak jangan sampai berubah lagi ya. Aku sangat menyayangimu, Kak," ucap Jasmine.
Axel langsung memeluk adiknya.
"Aku juga sangat menyayangimu, adikku," ucap Axel.
"Sebaiknya kakak istirahat sekarang, supaya kakak cepat sembuh. Aku akan menemui Kak Aiden di bawah. Tadi Kak Aiden yang mengantarkanku ke sini," ucap Jasmine.
"Baiklah. Sampaikan salamku untuk Aiden dan katakan padanya aku baik-baik saja. Dia tidak perlu khawatir. Aku aka menemuinya besok," ucap Axel.
Jasmine mengangguk, lalu berdiri dan keluar dari kamar Axel. Setelah Jasmine keluar, Axel bangkit dan berdiri di depan kaca. Axel mengambil suatu benda dari dalam laci meja yang berada di bawah kaca.
"Kau tenang saja adikku sayang. Aku tidak akan berubah menjadi bodoh lagi. Aku, Axello Zyan Alvaro telah kembali. Tidak akan kubiarkan siapapun, bahkan Marissa sekalipun mengendalikan hidupku lagi."
Axel mengangkat botol yang sama persis dengan botol obat penawar yang diberikan dokter Zheng kepada Jasmine. Axel menyeringai dengan wajah evilnya.
"I'm back."
...🌹🌹🌹...
Welcome back Axel...👏👏🤩
By the way... Axel dapat botol itu dari mana ya? 🤔
Baca juga novel pertama author :
"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"
Jangan lupa selalu dukung author dengan :
💫Tinggalkan comment
💫Tinggalkan like
💫Tinggalkan vote
__ADS_1
💫Klik favorite
Terima kasih🙏🥰