Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 45. Keluarga Alvaro Tidak Menerima Wanita Berhati Iblis


__ADS_3

Axel, Helena beserta rombongan pamit kepada Granny Martha. Sebelum kembali ke Indonesia, mereka ingin mengunjungi Granpa Haris dan Grandma Sasmitha di Minnesota.


"Granny, Helena, Axel dan yang lain pamit dulu ya. Helena ucapkan terima kasih banyak karena Granny sudah bersedia menerima kehadiran Helena. Terima kasih Granny selalu memberikan dukungan dan nasihat pada Helena. Maafkan jika selama ini Helena sudah merepotkan Granny," ucap Helena sambil menitikkan air mata.


Granny Martha langsung memeluk Helena.


"Sama-sama sayang. Kamu kan cucu Granny yang paling cantik. Granny senang sekali dengan kehadiranmu dan juga adikku Hans di sini. Granny jadi tidak merasa kesepian," ucap Granny Martha.


Helena mengurai pelukan mereka.


"Granny kembali ke Paris saja. Mommy pasti akan sering menjenguk dan menemani Granny, sehingga


Granny tidak kesepian lagi," ucap Helena.


Granny Martha tersenyum.


"Lalu bagaimana dengan nasib mansion dan peternakan Granny di sini?" tanya Granny sambil tersenyum.


Helena terdiam, dia tak bisa berkata-kata lagi.


"Kamu tenang saja sayang. Granny memiliki banyak sahabat yang sudah seperti keluarga di sini. Granny tidak akan sangat kesepian dengan adanya mereka. Kamu harus ingat untuk selalu menjaga kesehatanmu dan para calon bayimu. Ingat pesan Granny, jangan pernah melakukan kesalahan yang sama dengan pergi meninggalkan suamimu. Jika ada masalah, bicarakan baik-baik, cari kebenarannya dulu. Granny yakin sekali jika suamimu, Axel, sangat menyayangimu," ucap Granny Martha.


"Granny tidak perlu khawatir, Axel pastikan Helena tidak akan kabur lagi dari sisi Axel. Axel akan selalu menjaga Helena dan anak-anak kami karena Axel sangat menyayangi Helena dan tidak bisa menjalani hidup ini tanpanya," ucap Axel sambil memeluk pinggang istrinya.


Grannya Martha tersenyum bahagia.


"Hans janji Granny, Hans akan berkunjung ke sini lagi saat kuliah Hans tidak terlalu padat," seru Hans.


"Tentu saja sayang. Pintu mansion ini akan selalu terbuka untukmu dan kalian semua. Jasmine dan Evan juga mampirlah ke sini saat kalian berada di Amerika," ujar Granny Martha.


"Terima kasih banyak Granny. Jasmine pasti akan mengunjungi Granny setiap Jasmine datang ke negara ini," ucap Jasmine sambil memeluk Granny Martha.


Setelah berpamitan, Axel dan rombongan segera berangkat menuju bandara dan melakukan penerbangan menuju Minnesota. Kedatangan mereka disambut dengan bahagia oleh Tuan Haris dan Nyonya Sasmitha.


Kebahagiaan Tuan Haris dan istrinya semakin bertambah saat mengetahui Helena sedang mengandung dan calon bayinya ada tiga. Tuan Haris dan Nyonya Sasmitha tiada hentinya mengucapkan rasa syukur.


Saat ini, Axel dan Helena sedang duduk di taman mansion. Jasmine dan Evan berjalan mendekat, lalu duduk di kursi yang ada di seberang Axel.


"Kak. Evan akan kembali ke New York. Keluarganya saat ini berada di sana," ucap Jasmine sedikit ragu.


"Lalu?" tanya Axel penuh selidik.


"Mmm... Apa aku boleh ikut? Keluarga Evan ingin bertemu denganku, begitu juga denganku ingin bertemu dengan mereka," mohon Jasmine dengan wajah memelas.


"Baiklah," jawab Axel.


Jasmine dan Evan senang sekali, ternyata tidak terlalu sulit meminta ijin pada Axel dan tidak seperti yang mereka khawatirkan.


"Tapi, Hans wajib ikut bersama kalian," lanjut Axel.


Wajah Jasmine berubah muram.


"Mengapa Hans harus ikut juga?" protes Jasmine.


"Supaya kalian aman dan tidak macam-macam," sahut Hans yang ikut bergabung dengan mereka.


"Hans ikut denganmu atau kau tidak berangkat sama sekali," tegas Axel.


Jasmine membuang napas dengan kesal.


"Bagaimana menurutmu Evan?" tanya Jasmine sambil melihat ke arah Evan yang duduk di sampingnya.


"Aku sih tidak masalah. Aku tidak keberatan jika Hans ikut bersama kita. Keluargaku pasti merasa senang," jawab Evan.


Jasmine menekuk wajahnya, ternyata jawaban Evan tidak sesuai keinginannya. Jasmine berharap Evan akan menolak dan mencari alasan.


"Jangan ditekuk seperti itu wajahmu. Seharusnya kau bersyukur memiliki pria sebaik Evan. Dia selalu berusaha menjagamu dan tidak pernah mencari kesempatan dalam kesempitan. Seandainya aku ini seorang wanita, aku pasti akan berusaha untuk merebut Evan darimu," ucap Hans.


"Mana mungkin Evan mau dengan orang yang menyebalkan sepertimu? Meskipun kau terlahir sebagai seorang wanita sekalipun," ucap Jasmine kesal.


"Jangan salah, jika aku ini seorang wanita pasti kecantikannya sebelas dua belas dengan Kak Helena. Kami kan berasal dari gen yang sama," cibir Hans.


Jasmine hendak menjawab lagi, namun Evan segera menahannya.

__ADS_1


"Hans apa kau mau berlibur ke New York dan berkencan denganku?" tanya Evan sambil tersenyum.


"Tentu saja, Evan yang tampan. Hansel dengan senang hati menerimanya," jawab Hans dengan suara yang dibuat-buat seperti seorang wanita yang manja.


Axel, Helena dan Evan tertawa terbahak-bahak. Tak lama kemudian Jasmine juga ikut tertawa.


"Baiklah, Hans ikut dengan kami. Tapi Hans harus janji jangan membuat masalah," ucap Jasmine.


"Siap Boss!" seru Hans.


"Bagus. Sebaiknya kalian segera berangkat dan gunakan private jet supaya lebih cepat sampai di New York. Karena besok kita harus segera kembali ke Indonesia. Anak buah Om Rino sudah berhasil menangkap wanita yang bernama Bella itu. Aku sudah tidak sabar ingin memberikan pelajaran padanya," ucap Axel.


"Baiklah, Kak. Kami akan berangkat sekarang juga," ucap Jasmine.


Jasmine, Evan dan Hans pun segera berangkat ke New York untuk bertemu dengan keluarga Evan.


Axel mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video bersama Aiden.


"Di mana Helena dan calon keponakan-keponakanku, Axel?" tanya Aiden.


Aiden antusias sekali setelah Axel memberitahunya jika Helena sudah ditemukan dan saat ini sedang hamil triple baby twins.


"Hallo, uncle Aiden," sapa Helena.


Kemudian Helena mengarahkan kamera ponsel suaminya ke perutnya yang sedikit membuncit.


"Hallo calon keponakan-keponakan Uncle Aiden, satu-satunya uncle tertampan di dunia," sapa Aiden dengan bangganya.


Axel dan Helena terkekeh mendengar ucapan Aiden.


"Helena, aku mohon jangan pergi lagi dari Axel ya. Gara-gara kepergianmu aku dibuat pusing oleh suamimu itu. Aku bahkan sulit menikmati hidupku," mohon Aiden.


Helena mengangguk.


"Aku janji Aiden. Aku tidak akan pernah meninggalkan suamiku lagi. Aku akan selalu bersamanya," ucap Helena sambil tersenyum.


Axel senang sekali mendengarnya, begitu juga dengan Aiden.


"Syukurlah. Aku benci melihat kalian berpisah," ujar Aiden.


"Aku ada janji bertemu dengan seorang klien di sebuah club. Aku sedang bersiap untuk berangkat ke sana," jawab Aiden.


"Baiklah kalau begitu. Semoga pertemuan bisnismu berjalan dengan lancar," ujar Axel.


Aiden mengangguk.


"Terima kasih saudaraku," ucap Aiden.


Panggilan video mereka pun berakhir. Aiden segera masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kencang menuju sebuah club, tempatnya bertemu dengan kliennya.


...*****...


Markas Alvaro


Bella tiada hentinya terus berteriak dan meronta untuk dilepaskan. Mulutnya mengucapkan umpatan dan sumpah serapah pada anak buah Rino. Kaki Bella dirantai supaya dia tidak akan bisa kabur dari sana.


Pintu ruangannya terbuka. Bella menghentikan teriakannya. Rino masuk ke dalam ruangan itu dengan diikuti oleh Zayn dan Aline di belakangnya.


Wajah Bella berubah senang saat melihat Zayn mendatanginya. Namun saat melihat Aline berada di sampingnya, wajah Bella seketika berubah muram.


"Mau apa kalian datang kemari?!" bentak Bella.


"Aku hanya ingin melihat orang yang sudah berusaha menghancurkan keluargaku. Mengapa kau melakukan semua ini Bella? Apa kau ingin membalas dendam padaku atas kejadian malam itu? Bukankah itu semua terjadi karena kesalahan dan kebodohanmu sendiri?" cerca Zayn dengan wajah dinginnya.


Aline menggenggam tangan suaminya untuk menenangkan.


"Cih!" desis Bella saat melihat kemesraan Zayn dan Aline.


"Kejadian malam terkutuk itu telah menghancurkan hidupku dan keluargaku. Karirku hancur, begitu juga dengan karir ayahku. Skandal itu telah membuat ayahku dipecat dan mengalami serangan jantung. Ayahku mengalami stroke dan tak lama kemudian meninggal."


"Ibuku bunuh diri karena tidak sanggup hidup miskin dan menahan malu. Aku telah kehilangan kedua orang tuaku dalam waktu yang singkat. Lalu, penderitaanku semakin bertambah saat aku dinyatakan hamil dan mengandung seorang bayi. Hidupku hancur seketika. Aku harus mengandung anak dari pria yang tidak aku cintai. Dan Frans menolak untuk mengakui bayi yang ku kandung sebagai anaknya," terang Bella sambil menangis.


Bella menatap dingin ke arah Zayn dan Aline.

__ADS_1


"Seandainya pada malam itu kau yang tidur denganku, semua kemalangan dan penderitaan ini tidak akan pernah terjadi padaku. Pasti saat ini aku yang telah memberikanmu keturunan dan kita hidup bahagia," ucap Bella sambil tersenyum.


Di detik selanjutnya wajahnya berubah dengan penuh kebencian saat menatap Aline.


"Seharusnya malam itu kau bersamaku, Zaidan, bukan bersama wanita m*****n ini, yang tak lain adalah anak haram hasil dari perselingkuhan ayahnya!" ucap Bella sambil berteriak dan menjulurkan jari telunjuknya ke arah Aline.


"Lancang!" bentak Zayn penuh emosi.


"Beraninya kau menghina istriku!"


"Rino! Beri dia pelajaran!" perintah Zayn.


Plak!!! Plak!!! (Rino menampar wajah Bella dengan keras sekali)


"Arrggghh!!" teriak Bella.


Sudut bibir Bella terluka dan mengeluarkan sedikit darah.


Cuhhh... (Bella meludah ke lantai)


"Pengecut sekali kau! Mengapa kau menyuruh anak buahmu untuk menamparku? Mengapa bukan dirimu sendiri?" tanya Bella.


"Karena aku tidak sudi menyentuh kulit wanita lain selain istriku, apalagi wanita j****g sepertimu," ucap Zayn dengan wajah evilnya.


Aline semakin erat memegang tangan suaminya. Aline menatap Bella.


"Mengapa kau harus menyalahkanku, Bella? Gara-gara perbuatan jahatmu yang telah memberikan obat lucknut itu, mempertemukanku dengan pria yang sekarang menjadi suamiku. Peristiwa malam itu juga membuatku menderita Bella. Hidupku juga hancur," ucap Aline.


"Karena seharusnya akulah yang menjadi istri dan Nyonya Zaidan Maliq Alvaro, bukan dirimu," jawab Bella sambil menyentuh bibirnya yang terluka.


"Hanya ada dalam mimpimu!" ucap Zayn.


"Mengapa kau memilih wanita ini daripada diriku, Zaidan?" tanya Bella.


"Aline adalah satu-satunya wanita yang aku inginkan. Wanita yang berhati malaikat, bukan wanita berhati iblis. Keluarga Alvaro tidak sudi menerima wanita berhati iblis sepertimu!" seru Zayn.


"Rino. Berikan wanita ini 20 cambukan karena telah berani menghina Nyonya Zaidan Maliq Alvaro!" perintah Zayn.


"Suamiku," protes Aline.


"Aku mohon sayang. Kali ini jangan memohon untuknya. Hukuman yang dia dapatkan saat ini tidak sebanding dengan perbuatan jahat yang telah dia lakukan," ucap Zayn.


Aline pun diam. Dia tidak ingin berdebat dengan suaminya yang sedang dalam keadaan emosi.


"Ayo istriku, kita pergi dari sini. Di sini terlalu banyak aura kegelapan yang tidak baik untukmu," ucap Zayn sambil menuntun Aline keluar dari ruangan Bella.


"Aku sudah mengatakan padamu untuk menghemat tenagamu, sebelum kau mendapatkan hukuman dari orang-orang yang telah kau sakiti," ucap Rino sambil tersenyum miring.


Bella mendengus kesal saat Zayn, Aline dan Rino keluar dari ruangannya.


"Sial! Aku benar-benar tidak bisa melepaskan diri dari mereka. Aku tidak bisa meminta bantuan kepada siapapun. Aku bisa gila jika terus berada di tempat ini," ucap Bella kesal.


Bersambung ....


...🌹🌹🌹...


Bella... Bella... sudah ditolak mentah-mentah masih ngarep. Ditaruh di mana urat malumu itu.😤😤😤


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2