Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Season 2. Jasmine dan Kisah Cintanya 39 (Seperti Membeli Kacang)


__ADS_3

Pramudya masih setia dengan mata membulat sempurna seraya memandangi ruang kerja yang ukurannya cukup luas dengan interior terkesan mewah dan perabot kantor yang tidak bisa dikatakan murah.


Pada saat dia tiba di Alvaro Group, Axel tidak bisa menemuinya karena ada pertemuan penting dengan klien di luar kantor. Darren yang telah diberi tugas sebelumnya, langsung mengantarkan Pramudya ke ruang kerja yang akan dia tempati nantinya. Dan di sinilah Pramudya saat ini dengan wajah terbengong.


"Pram."


"Pram!" panggil Darren sambil mengoyangkan bahu Pramudya.


Pramudya pun tersentak karena terkejut.


"I-iya, Tuan Darren," sahut Pramudya.


Darren tidak bisa menahan tawanya melihat ekspresi Pramudya.


"Maaf Tuan. Saya terlalu terpana melihat ruang kerja yang luar biasa ini. Apakah ini ruang kerja Tuan Axel?" tanya Pramudya.


Darren tertawa lagi, membuat Pramudya semakin bingung.


"Ini bukan ruangan CEO, tapi ini adalah ruangan Office Manager," jawab Darren.


"Oh!" cengo Pramudya sambil menganggukkan kepalanya.


"Dan kau yang akan menempati ruangan ini, Pram," ujar Darren.


"Apa Tuan?!"


"Ya. Mulai hari kau akan menempati posisi sebagai Office Manager di Alvaro Group."


"S-saya menjadi Office Manager?" tanya Pramudya tak percaya.


Darren mengangguk.


"Satu jam lagi akan dilakukan rapat besar, dan Tuan Axel akan memperkenalkan dirimu sebagai Office Manager yang baru kepada seluruh staf karyawan," terang Darren.


Pramudya tidak menyahut lagi dan terlihat termenung.


"Ada apa, Pram? Apa kau tidak senang dengan posisi ini?" tanya Darren.


"Tidak Tuan. Saya sangat senang dan bersyukur. Hanya saja saya tidak mengerti mengapa Tuan Axel menempatkan saya di posisi setinggi ini. Saya merasa tidak pantas. Pengalaman kerja saya sebelumnya kan hanya sebagai pegawai biasa, Tuan," jawab Pramudya.


"Kau kemarin kan sudah berhasil menyelesaikan tantangan yang diberikan oleh Tuan Axel dengan sangat baik. Apa kau tahu mengapa aku mengatakan "sangat baik"?"


Pramudya menggelengkan kepalanya.


"Kau berhasil membuat kami terkesan. Bahkan Tuan Smith secara terang-terangan menginginkanmu untuk menjadi anak buahnya. Tapi, Tuan Axel menolaknya."


Pramudya membelalakkan matanya lagi.


"Kita memang tidak boleh tinggi hati, tapi jangan sampai rendah diri. Kau itu memiliki potensi yang besar, Pram. Tingkatkan kepercayaan dirimu, namun tetaplah rendah hati," ucap Darren.


Rapat besar pun digelar. Dengan bangganya, Axel memperkenalkan Pramudya sebagai Office Manager yang baru kepada seluruh karyawan Alvaro Group. Pramudya merasa senang mendapatkan sambutan yang baik dari para rekan kerjanya.


"Terima kasih banyak Tuan Axel, saya tidak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikan Anda dan keluarga Anda," ucap Pramudya.


"Bekerjalah dengan baik dan bantu kami membuat Alvaro Group semakin berjaya," jawab Axel.


"Saya berjanji Tuan. Saya akan berusaha untuk melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini," ujar Pramudya.


Axel hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.


"Nantinya kau juga akan mengikuti kursus beberapa bahasa asing. Menguasai bahasa Inggris saja tidaklah cukup, karena Alvaro Group sudah merambah dunia bisnis di benua Asia, Eropa, Australia, Amerika dan kami baru saja membuka cabang di benua Afrika. Kau juga akan mendapatkan fasilitas rumah dan mobil dari perusahaan. Kau akan mendapatkan bonus dari hasil kerjamu kemarin yang telah berhasil membuat Tuan Smith tanpa ragu menandatangani surat kontrak kerjasama," terang Axel.


Pramudya benar-benar mendapatkan kejutan yang luar biasa hari ini. Dia tidak tahu kebaikan apa yang pernah dia lakukan sebelummya, sehingga Tuhan sangat baik kepadanya.


"Terima kasih, Tuan," ucap Pramudya dengan mata yang berkaca-kaca karena haru.


"Sama-sama, Pram."


"Oh ya, aku hampir lupa. Nanti malam keluarga Paman Rino dan keluarga Alvaro akan datang ke rumah kontrakan kalian. Kami ingin melamar adikmu Vira untuk Yudistira," ucap Axel.


"N-nanti malam Tuan?"


"Ya, nanti malam," jawab Axel.


Pramudya tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Setelah Vira menikah, segeralah kau pindah dan menempati rumah barumu. Dan jauh lebih baik jika kau mengajak serta dokter Nabila untuk tinggal bersamamu supaya kau tidak kesepian," tambah Axel.


Napas Pramudya terasa tercekat.


"T-tinggal bersama. Itu tidak mungkin Tuan. Kami memang bersahabat, tapi kami tidak memiliki hubungan keluarga. Tidak baik jika pria dan wanita tinggal bersama tanpa adanya suatu ikatan," ujar Pramudya.


"Makanya segera kau ikat dan halalkan!" seru William dan Darren bersamaan membuat Pramudya tersentak.


"Mengapa semua orang ingin aku menikah dengan Nabila?" batin Pramudya.


"Karena kami juga ingin melihatmu bahagia. Dan kalian berdua terlihat serasi. Jangan sampai kau menyesal saat melihat dokter Nabila bersanding dengan pria lain. Menikah dengan sahabat sendiri itu tidaklah buruk, malah sangat menyenangkan," ucap Axel sambil tersenyum.


Pramudya terkejut dan hanya bisa terdiam.


"Itu benar, Pram. Darrel pernah bercerita padaku jika beberapa dokter pria muda yang ada di rumah sakit tertarik dengan dokter Nabila. Siapa cepat dia dapat. Terlihat sekali jika dokter Nabila itu menyukaimu. Tapi jika kau tetap diam lempeng seperti itu besar kemungkinan hati dokter Nabila akan berbelok kepada pria yang sudah pasti bisa memberikan cinta kepadanya," ucap Darren.


Pramudya memikirkan semua perkataan dari Axel dan Darren. Tapi dirinya masih belum yakin dan takut jika Nabila menolaknya sehingga membuat hubungan persahabatan keduanya menjadi renggang.


William menepuk bahu Pramudya. "Jangan berkecil hati, Bro. Percaya dirilah dan raih kebahagiaanmu."


Pramudya menngangguk pelan sambil tersenyum.


Pada malam harinya, Pramudya dan Nabila menyambut kedatangan keluarga Tuan Rino dan keluarga Alvaro. Keduanya bak sepasang suami istri yang sedang menyambut keluarga calon besan mereka. Vira terlihat sangat cantik dengan dress panjang serta menggunakan jilbab.


"Baiklah, karena Yudistira dan Vira sudah setuju untuk menikah maka pernikahan mereka akan digelar dalam waktu tiga hari lagi," ucap Tuan Rino.


Pramudya, Nabil dan Vira terkejut. Pasalnya tiga hari itu sangatlah cepat, dan mereka belum mempersiapkan apapun. Pramudya terlihat resah.


"Apa itu tidak terlalu cepat Tuan?" tanya Pramudya.


"Tidak Pram. Kalian tidak perlu cemas dengan urusan KUA dan persiapan pernikahan lainnya. Cukup persiapkan persyaratan untuk mendaftarkan pernikahan, Yudistira besok yang akan mengurusnya," jawab Tuan Rino.


Pramudya menatap ke arah Vira dengan sorotan mata yang seolah menanyakan kesiapan Vira. Vira mengangguk mantap.


"Baiklah Tuan, kami setuju," ucap Pramudya.


Yudistira tersenyum sambil menatap ke arah Vira yang menunduk malu.


"Oh ya, apakah Dokter Nabila sudah punya kekasih atau calon suami?" tanya Nyonya Aline tiba-tiba.


"Belum, Nyonya," jawab Nabila sambil tersenyum malu.


"Oh ya? Nabila kan cantik, sayang sekali jika tidak ada pria yang mendekat," ucap Nyonya Aline.


"Siapa bilang tidak ada Ma? Asal Mama tahu, Nabila ini telah membuat beberapa dokter pria muda di rumah sakit saling bersaing untuk mendapatkan hatinya," sahut Helena.


Hati Pramudya terasa nyut-nyut mendengar ucapan Helena.


"Sebelumnya kami minta maaf jika pertanyaan kami membuatmu tidak nyaman Nabila. Langsung pada intinya saja ya, apakah Nabila bersedia menikah dengan Pramudya?" tanya Tuan Alex.


Pramudya dan Nabila sangat terkejut. Nabila langsung menatap ke arah Pramudya dan membuat Pramudya menjadi salah tingkah.


"Maafkan kami Pram, kami tidak bermaksud lancang dan mencampuri urusan pribadimu. Sebab kami sudah terlalu gemas padamu," ucap Axel sambil menunjukkan kepalan tangannya yang kuat.


Pramudya meneguk salivanya kasar dan tersenyum kikuk. Nabila langsung menunduk, perasaannya bercampur aduk saat ini. Darren memberi isyarat kepada Pramudya.


"Nabila!" panggil Pramudya.


"Ya."


Nabila langsung mengangkat wajahnya dan menatap Pramudya dengan serius. Pramudya berusaha mengeluarkan semua keberaniannya. Jantungnya berdetak dengan kencang seperti genderang mau perang.


"Ekhm!"


"A-apakah kau mau menikah denganku?" tanya Pramudya tanpa basa-basi.


Nabila terbelalak. Dia tidak menyangka pria yang selama ini diam-diam dia cintai secara mendadak melamarnya di depan banyak orang.


"Tergantung," jawab Nabila.


"Tergantung?" cengo Pramudya.


"Ya tergantung. Apakah kau sudah move on dari mantan pacarmu?" sahut Nabila.


"Tentu saja sudah," ucap Pramudya.

__ADS_1


"Kalau begitu segera kau mintakan diriku kepada Ibuku," tegas Nabila.


Ketegasan Nabila membuat keluarga Alvaro dan Tuan Rino terkesan.


"Baiklah. Nanti akan aku mintakan dirimu kepada Ibumu. Aku harap kau bisa sabar menunggu, karena aku...," ucapan Pramudya terpotong.


"Tidak perlu menunggu saat kau mendapatkan waktu untuk cuti kerja. Sebentar lagi calon ibu mertuamu datang. Kau bisa segera melamar Nabila," potong Axel.


"Apa?!" seru Pramudya dan Nabila.


Tak lama kemudian, sebuah mobil berwarna hitam memasuki halaman rumah. Dari dalam mobil turunlah seorang wanita paruh baya dan seorang remaja laki-laki. Nabila langsung bergegas keluar. Dia sangat bahagia bertemu dengan dua orang yang sangat dia rindukan. Nabila langsung salim dan memeluk ibunya dengan erat, begitu juga adiknya.


Nabila membawa masuk ibu dan adiknya ke dalam rumah dan memperkenalkan mereka kepada keluarga Alvaro dan keluarga Tuan Rino. Tanpa harus menunggu lama, Pramudya segera melamar dan meminta Nabila kepada ibu dan adiknya. Ibu dan adiknya Nabila pun langsung setuju, karena mereka sudah mengenal Pramudya dengan baik.


"Lalu kapan kalian akan menikah?" tanya Ibu Nabila.


"Pram usahakan secepatnya, Bu," jawab Pramudya.


"Bagaimana kalau kalian menikah di hari yang sama dengan Yudi dan Vira?" tanya Tuan Zayn.


"Itu terlalu cepat, Tuan," jawab Pramudya dan Nabila bersamaan.


"Kami masih harus mendaftarkan pernikahan kami ke KUA dan mempersiapkan banyak hal," tambah Pramudya.


"Bagaimana Rino?" tanya Tuan Zayn.


"Tidak menjadi masalah Tuan. Sama seperti Yudi dan Vira. Pram dan Nabila tinggal menyiapkan segala persyaratannya. Besok kami akan mendaftarkan dua pernikahan sekaligus di hari yang sama," jawab Rino.


Pramudya dan Nabila meneguk saliva mereka kasar.


"Bagaimana Pram, Nabila? Apakah masih ada yang menghambat rencana pernikahan kalian?" tanya Axel.


"T-tidak ada Tuan," jawab keduanya.


"Itu artinya kalian setuju menikah tiga hari lagi."


"Kami setuju, Tuan," seru Pramudya.


Ibu dan adik Nabila pun setuju dengan rencana pernikahan Pramudya dengan Nabila yang akan digelar tiga hari lagi.


"Apa aku sedang bermimpi, Pram?" bisik Nabila.


"Entahlah Nab, rasanya aku sedang berkhayal," sahut Pramudya.


"Apakah semua orang kaya memang seperti itu? Mereka merencanakan pernikahan seperti ingin membeli kacang saja," bisik Nabila lagi.


Pramudya menghela napas panjang.


"Apapun itu kita syukuri saja semua kebaikan Tuhan ini. Yang penting kita bisa segera halal menjadi suami istri," jawab Pramudya sambil tersenyum.


Wajah Nabila langsung merona karena malu bercampur bahagia. Akhirnya Tuhan mengabulkan doanya selama ini dan tak lama lagi dia akan menikah dengan pria yang dia cintai dan dia harapkan selama ini. Rona kebahagiaan juga nampak di wajah Vira. Vira sangat bahagia kakaknya akan menikah dan memiliki pendamping hidup, sehingga kakaknya tidak akan kesepian ketika mereka berpisah nantinya.


Bersambung ....


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel author lainnya:


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. I'm The Unstoppable Queen


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰

__ADS_1


__ADS_2