Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 38. Selamat Tinggal


__ADS_3

Sepulang kerja, Axel dan Helena berjalan sambil terus bergandengan tangan mengelilingi mall M2. Keduanya berencana menonton di bioskop, namun diurungkan karena tidak ada film yang menarik.


"Bagaimana harimu? Apa menyenangkan?" tanya Axel.


Helena mengangguk.


"Sangat menyenangkan. Aku melakukan tugasku kembali sebagai dokter dan bisa membantu banyak orang," jawab Helena dengan wajah ceria.


"Bagaimana dengan harimu?" tanya Helena.


"Cukup menyenangkan," jawab Axel singkat.


Helena menengadahkan kepalanya untuk melihat wajah suaminya.


"Ada apa? Apa ada masalah lagi di Alvaro Group?" tanya Helena.


"Tidak," sahut Axel.


"Lalu?" Helena semakin penasaran.


Axel mendekatkan wajahnya.


"Karena seharian ini tidak ada kamu di sampingku," ucap Axel.


Helena memalingkan wajahnya untuk menutupi pipinya yang mulai merona. Axel terkekeh melihat ekspresi istrinya itu.


Helena melihat Marco yang sedang berjalan sendirian dengan raut wajah kusam dan lelah.


"Marco," ucap Helena.


Axel tersentak dan melihat ke arah pandangan Helena. Axel mendengus kesal.


"Marco!" panggil Helena.


Marco menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Axel dan Helena.


Saat ini mereka bertiga duduk satu meja di sebuah cafe yang ada di mall tersebut.


"Bagaimana kabar kalian? Aku dengar kalian pergi berbulan madu," tanya Marco.


"Kabar kami baik. Dan ya kami baru pulang dari acara bulan madu," jawab Helena.


Marco tersenyum.


"Aku senang mendengarnya. Aku doakan semoga kalian selalu bahagia bersama dan tidak terpisahkan lagi," ucap Marco tulus.


Axel mencoba mencari kebohongan dari diri Marco, namun dia tak menemukannya. Axel melihat ketulusan di mata Marco. Hati Axel sedikit lega.


"Apa kau sudah menemukan anak kandungmu?" tanya Helena.


Marco menggeleng.


"Belum. Aku sempat mendatangi penthouse, tempat tinggal orang yang mengadopsi anakku. Tapi tempat itu kosong karena mereka sedang pergi ke luar negeri. Dan tidak ada yang tahu mereka pergi ke mana," jawab Marco dengan raut wajah sedih.


Helena menghela napas. Helena merasa iba pada Marco.


"Xel. Seberapa hebat anak buah keluarga Alvaro?" tanya Helena.


"Tentu saja tidak perlu diragukan lagi kehebatan mereka. Mengapa kau bertanya seperti itu?" tanya Axel dengan perasaan yang mulai tidak enak.


"Aku mohon bantu Marco menemukan anaknya," mohon Helena dengan wajah memelas.


Axel mengerutkan dahinya.


"Tidak perlu, Helen. Aku tidak ingin menyusahkan kalian. Aku akan berusaha mencarinya sendiri," ucap Marco tak enak hati.


Wajah Helena semakin memelas.


Axel menghela napas kasar.


"Baiklah aku akan membantunya. Puas?" ucap Axel sedikit kesal.


"Terima kasih suamiku," ucap Helena sambil memeluk Axel.


Marco membuang muka. Tidak bisa dipungkiri jika masih ada rasa cemburu dihatinya meskipun dia sudah mengikhlaskan Helena bersama Axel.


"Petunjuk apa yang kau miliki tentang anakmu itu? Supaya bisa mempermudahkan anak buahku untuk menemukannya," tanya Axel pada Marco.


"Aku hanya tahu nama pasangan suami istri itu dan alamat penthousenya. Informasi detailnya aku tidak ada," jawab Marco.


"Berikan padaku. Sekecil apapun bisa menjadi petunjuk," ucap Axel.


"Baiklah. Terima kasih banyak atas bantuan kalian," ucap Marco haru.


Axel hanya mengangguk.


Hati Marco senang sekali, namun tak selang berapa lama pandangan matanya kembali nanar saat mengingat kesalahannya di hotel malam itu. Marco masih belum menemukan wanita yang tidur dengannya.


"Apa yang kau pikirkan? Ada masalah apalagi?" tanya Helena.


Marco tersentak dari lamunannya. Sejujurnya Marco merasa malu untuk menceritakannya. Tapi saat ini dia butuh teman bicara.


Marco menarik napas panjang sebelum menjawab.


"Aku... Aku telah membuat kesalahan besar untuk kedua kalinya," jawab Marco.


Helena menyerngitkan dahinya.


"Jangan bilang kalau kau mabuk dan meniduri seorang wanita lagi," tebak Helena.


Marco mengangguk pasrah.


Terlihat Helena berusaha menahan marahnya.


"Kau benar-benar bodoh Marco! Bukan maksudku ingin mencampuri urusan pribadimu. Tapi masalah anakmu belum selesai, dan sekarang kau membuat masalah lagi. Bagaimana kalau wanita itu hamil seperti Sherly dulu? Apa kau tahu siapa dia?" ucap Helena sambil memaki.


"Temanku telah mencampurkan minuman beralkohol ke dalam minumanku. Aku sudah berusaha menghindari hal buruk itu. Tapi Tuhan berkehendak lain. Wanita itu menerobos masuk ke dalam kamarku. Dan selanjutnya kau pasti sudah tahu. Aku melakukannya dalam keadaan mabuk. Saat aku bangun wanita itu sudah pergi," terang Marco.

__ADS_1


"Kau benar-benar pria berotak udang," maki Helena.


Marco mengangguk.


Ingin sekali Axel tertawa saat ini, tapi takut istrinya marah.


"Baiklah aku pergi dulu. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih banyak atas bantuan kalian," ucap Marco.


"Baiklah," sahut Helena.


Axel hanya menganggukkan kepalanya.


Marco segera pergi keluar dari cafe.


Axel terkejut mendapatkan tatapan tajam dari Helena.


Glek..!


"Ada apa? Mengapa kau menatapku seperti itu?" tanya Axel.


"Aku benci pria yang tidak setia. Dan aku tidak sudi berbagi pria dengan wanita lain," ucap Helena tajam.


Axel menghela napas panjang.


"Aku kan sudah bilang, hatiku memilihmu. Hanya kau wanita yang ada di hidupku, El. Kau satu-satunya wanita yang aku sentuh. Kau yang pertama dan terakhir bagiku. Aku janji. Lagipula sudah tidak ada lagi Marissa yang akan mengganggu kita," ucap Axel.


"Aku pegang janjmu. Jika aku mengetahui kau berbohong, maka saat itu aku akan pergi jauh darimu sampai kau takkan bisa menemukanku," ucap Helena.


"Tidak akan. Aku tidak akan membiarkan kau pergi dari hidupku," sahut Axel.


"Kita lihat saja nanti," ucap Helena dengan wajah dinginnya.


Axel segera membawa Helena pergi dari cafe untuk mengganti suasana hati Helena yang terlihat sedang tidak baik.


Ada seulas senyum tersungging di bibir seorang wanita yang duduk tak jauh dari meja Axel-Helena. Wanita itu terus memandangi kepergian Axel.


"Benar-benar pria Alvaro. Anak genius, hebat dan tampan sepertimu seharusnya terlahir dari rahimku, Axel. Bukan dari rahim wanita rendahan seperti Aline yang tak lebih dari anak hasil perselingkuhan," ucap wanita itu.


Putri menyamar sebagai petugas kebersihan untuk mengelabuhi anak buah Axel. Putri mendatangi sebuah rumah yang cukup besar namun terkesan lama tidak ditempati.


Tok... Tok... Tok... (Putri mengetuk pintu.)


Pintu rumah itu terbuka dan muncullah seorang wanita patuh baya berdiri di hadapannya.


"Mama," ucap Putri senang.


Putri langsung masuk dan memeluk wanita itu penuh kerinduan. Namun wanita itu hanya diam tanpa ekspresi.


"Sudah lepaskan, Putri. Jangan seperti anak kecil," ucap wanita itu kesal, lalu melangkah menuju sofa.


Putri sedikit kecewa dengan respon ibunya itu.


"Ma..." ucap Putri terpotong.


"Mama sudah tahu semua. Axel kembali kepada wanita itu dan meninggalkanmu. Dan Axel juga mengetahui kebohonganmu," jawab ibu Putri.


"Apa yang harus aku lakukan, Ma? Aku tidak ingin kehilangan Axel," rengek Putri.


Hati Putri terasa sakit sekali mendengar ucapan ibunya. Jauh di lubuk hatinya, Putri merindukan kehangatan kasih sayang ibunya.


"Putri minta maaf, Ma. Putri telah mengecewakan Mama," mohon Putri sambil berlutut di hadapan ibunya.


Ibu Putri menghela napas panjang.


"Bangunlah!"


"Mama punya rencana yang bagus untukmu. Kali ini kau tidak boleh gagal lagi," ucap ibu Putri.


Putri mengangguk senang. Dia langsung bangkit dan duduk di samping ibunya.


...*****...


Helena keluar dari mobilnya. Hari ini dia pergi ke rumah sakit tanpa diantarkan suaminya, karena Axel sudah berangkat pagi-pagi sekali ke Bandung. Ada pertemuan penting yang harus dia hadiri.


Helena berjalan meninggalkan parkiran.


"Helena," panggil seseorang.


Helena menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah orang yang memanggilnya.


"Marissa?" seru Helena.


"Bisa kita bicara sebentar. Ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu," ucap Putri dengan nada memohon.


Helena dan Putri berada di sebuah cafe yang letaknya tak jauh dari rumah sakit.


"Apa yang ingin kau sampaikan, Marissa? Atau Putri? Axel sudah memberitahuku. Bukankah kau dan suamiku sudah tidak ada urusan lagi? Untuk apa kau menemuiku?" tanya Helena dingin.


Putri menatap Helena dengan tatapan sedihnya.


"Aku tahu Helena. Aku mau minta maaf padamu atas semua sikapku padamu selama ini," ucap Putri.


"Aku tahu Axel sudah memilihmu. Jujur hatiku sakit sekali, tapi aku mencoba untuk menerimanya. Aku berencana untuk pergi menjauh dari kalian. Tapi...," ucapan Putri terputus.


Putri memejamkan matanya, dan bulir air mata mulai menetes perlahan.


Helena menyerngitkan dahinya.


"Tapi apa?" tanya Helena.


Putri menyeka air matanya.


"Tapi aku tidak bisa pergi dari Axel saat ini," jawab Putri sambil terisak.


Wajah Helena mengeras menahan marah.


"Beraninya kau bicara seperti itu? Dasar wanita tidak tahu malu," hina Helena.

__ADS_1


Helena sudah tidak bisa menahan emosinya.


Putri mengambil sebuah amplop dan menyerahkan kepada Helena.


"Apa ini?" tanya Helena.


"Kau buka dan lihatlah sendiri," jawab Putri pelan.


Helena mengambil amplop itu dan membukanya. Mata Helena membulat saat melihat hasil USG atas nama Putri. Helena tahu jika hasil USG itu menunjukkan bahwa ada calon bayi di dalam tubuh Putri.


"Apa maksud dari hasil USG ini?" tanya Helena.


"Aku hamil, Helena," jawab Putri.


"Aku hamil anak Axel," tegas Putri.


Jderrr!!!


Helena membelalakkan matanya.


"Omong kosong apa ini? Beraninya kau mencoba membohongiku? Suamiku adalah pria setia. Dia tidak pernah menyentuh wanita lain selain diriku," ucap Helena tak percaya.


"Aku tahu kau tidak akan pernah percaya padaku. Tapi, kau bisa melihat dan membuktikannya sendiri apakah aku berbohong atau tidak," ucap Putri sambil menyerahkan sebuah flashdisk kepada Helena.


"Aku minta maaf, aku terpaksa memberitahu kenyataan ini padamu. Aku memang bersalah, tapi tidak dengan bayiku. Aku hanya tidak ingin anakku nantinya bernasib seperti diriku yang tidak pernah mendapatkan kasih sayang seorang ayah."


"Tapi jika Axel nantinya tidak mengakui dan menerimanya, aku tidak akan mempertahannya. Biarlah dia kembali kepada Tuhan dari pada merasakan penderitaan menjadi anak yang tak diharapkan," ucap Putri.


Helena masih setia dengan diamnya. Helena tetap menolak untuk percaya.


"Aku tidak akan pernah percaya dengan semua bualanmu itu," ucap Helena dingin.


"Kau buktikan saja sendiri. Setelah itu terserah padamu untuk percaya padaku atau tidak."


"Aku pergi dulu. Terima kasih telah meluangkan waktumu," ucap Putri.


Putri segera beranjak pergi meninggalkan Helena sendirian. Saat berada di luar cafe, Putri bertemu dengan Reymond.


"Hai," sapa Reymond.


Reymond mengerutkan dahinya. Dia ingat wanita yang berada di hadapannya itu adalah kekasih Axel dulu.


"Aku tahu kau menyukai Helena. Apa kau ingin merebut Helena dari Axel? Aku bisa membantumu," ucap Putri sambil tersenyum jahat.


Reymond menatap Putri tajam.


"Jangan coba-coba memprovokasiku. Aku memang menyukai Helena. Tapi aku bahagia saat melihat dia bahagia bersama suaminya," ucap Reymond.


"Meskipun suaminya selalu menyakiti hatinya? Pikirkan ucapanku ini, sebaiknya kau segera rebut Helena dari Axel sebelum Helena semakin terluka," ucap Putri.


Putri melangkah pergi meninggalkan Reymond yang masih terdiam.


Helena tetap tidak percaya. Dengan ragu dia mengambil flashdisk itu. Helena segera beranjak dan melangkahkan kakinya menuju rumah sakit.


Saat tiba di ruangannya, Helena langsung menyalakan laptopnya dan memasukkan flashdisk itu ke tempatnya. Helena menarik napas panjang sebelum membuka file yang tersimpan dalam flashdisk.


Tangan Helena menggerakkan mouse untuk mengarahkan pointer dan membuka file itu. Helena membelalakkan matanya. Terpampang foto-foto mesra Axel bersama Putri. Hati Helena terasa perih sekali. Selain foto-foto juga ada sebuha video. Dengan sedikit gemetar Helena mengklik video tersebut.


Video itupun diputar. Helena membulatkan matanya. Video itu memperlihatkan pria berwajah Axel dengan wanita yang tak lain adalah Putri, sedang bercinta dan memadu kasih layaknya hubungan suami istri. Bulir-bulir air mata Helena jatuh tak tertahankan.


Helena menutup laptopnya dengan keras. Helena merasakan hatinya seperti diiris-iris. Dia tidak sanggup untuk terus menonton video itu.


"Mengapa, Xel? Mengapa kau tega mengkhianatiku. Kau bilang hanya aku satu-satunya wanita dalam hidupmu," ucap Helena dalam isak tangisnya.


Tangan Helena menyentuh dadanya yang terasa sesak.


"Kau mengingkari janjimu, Xel. Kau jahat," ujar Helena.


Helena segera menghapus air matanya. Lalu mengambil flashdisk dan tasnya. Helena segera keluar dari ruangannya dengan terburu-buru.


Helena melajukan mobilnya menuju mansion Axel. Helena mengemasi barang-barangnya. Helena mengambil poselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo. Tolong bawa aku pergi dari sini. Bawa aku pergi jauh dari Axel," mohon Helena sambil terisak.


"Apa kau yakin?" tanya seseorang dari seberang telpon.


"Aku yakin. Selamatkan aku," jawab Helena.


"Baiklah. Matikan ponselmu dan segera pergi ke bandara. Anak buahku akan menjemputmu," ucap orang itu.


Helena segera mematikan ponselnya. Dia menulis surat untuk Axel dan meletakkannya di atas bantal Axel. Helena meletakkan flashdisk tadi di dalam laci.


Helena segera pergi ke bandara.


"Nona Helena. Tuan meminta kami untuk membawa Anda pergi dari sini," ucap seorang pria.


"Baiklah," jawab Helena.


Helena segera menaiki sebuah private jet yang membawanya pergi meninggalkan Indonesia.


"Selamat tinggal, Xel," lirih Helena sambil menangis.


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖

__ADS_1


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2