
Jasmine keluar dari ruangan Tuan Frans dengan raut wajah bahagia. Tuan Frans menyukai isi dari makalahnya, dan Jasmine mendapatkan nilai terbaik. Jasmine segera bergegas ke kantin untuk menemui Evan dan Michelle. Ponselnya berdering dan saat melihat siapa yang sedang menghubunginya, senyum Jasmine semakin mengembang.
"Assalamualaikum. Kak Helena," sapa Jasmine.
"Waalaikumsalam. Kau dan Evan di mana sekarang?" sahut Helena.
"Kami masih di kampus, Kak," jawab Jasmine. "Bagaimana kabar kalian?"
"Alhamdulillah kami semua baik, sayang."
"Aunty kami kangen. Cepat jemput kami," terdengar suara Arsyilla yang menggemaskan.
"Cilla? Jemput kalian? Memangnya kalian berada di mana sekarang? Apa kalian berada di Amerika?" tanya Jasmine tak percaya.
"Ya adikku tersayang. Kami masih berada di dalam pesawat, mungkin sekita 1 jam lagi kami tiba di Amerika. Ketiga keponakanmu ini merengek ingin bertemu dengamu," jawab Axel. "Apa kalian bisa menjemput kami di bandara?"
"Tentu saja kami akan menjemput kalian. Aku sangat merindukan kalian. Evan saat ini sedang menemui salah satu klien kami, dan aku sedang menuju ke tempatnya. Setelah urusan kami selesai, kami akan segera ke bandara untuk menjemput kalian," ucap Jasmine.
"Baiklah. Sampai bertemu di bandara," ujar Axel.
"OK. Hati-hati kalian ya. Sampai bertemu nanti," ucap Jasmine dengan penuh semangat.
Panggilan telpon mereka pun terputus. Jasmine mempercepat langkahnya menuju kantin. Tanpa sengaja dia bertabrakan dengan seorang mahasiswi.
Byurr... (Minuman cola yang dibawa mahasiswi itu tumpah dan mengotori baju putih Jasmine)
"M-maafkan aku. Aku tidak sengaja. Ada yang menyandung kakiku tadi," ucap gadis sedikit takut.
"Tidak apa-apa. Ini masih bisa dibersihkan. Lain kali lebih berhati-hatilah," jawab Jasmine.
"Sekali lagi aku minta maaf," ucap gadis itu.
Jasmine hanya mengangguk sambil tersenyum tipis.
"Sebaiknya aku ke toilet dulu untuk membersihkan noda ini," gumam Jasmine.
Saat menuju toilet, Jasmine berpapasan dengan David, pria yang selama ini mengaguminya.
"Hai, Jasmine. Bagaimana kabarmu?" sapa David.
"Cukup baik, terima kasih," jawab Jasmine.
"Sepertinya ketidak beruntungan sedang menghampirimu," ucap David sambil menatap baju Jasmine yang kotor.
"Ya begitulah. Maaf aku harus segera pergi ke toilet," ucap Jasmine sambil mempercepat langkahnya menuju toilet.
David hanya bisa menghela napas saat Jasmine meninggalkannya begitu saja.
"Seandainya aku bertemu dan mengenalmu lebih dulu daripada suamimu, pasti aku yang akan mendapatkanmu," gumam David.
Di dalam toilet, Jasmine berusaha membersihkan bajunya yang kotor namun nodanya sulit untuk dibersihkan. Jasmine membuang napasnya kasar.
"Bagaimana ini nodanya sulit dibersihkan, mana bajuku berwarna putih lagi? Dan aku tidak membawa jaket tadi. Apa aku telpon Evan saja ya, dia kan memakai jaket tadi."
Jasmine hendak mengambil ponsel dari dalam tasnya, tiba-tiba ada tiga orang pria menerobos masuk ke dalam toilet wanita.
"Mengapa kalian masuk ke sini? Ini toilet wanita. Kalian salah tempat," bentak Jasmine.
"Kami tidak salah tempat cantik. Memang ini tempat tujuan kami untuk bersenang-senang dengan wanita cantik sepertimu," jawab salah seorang pria dengan wajah mesumnya.
Jasmine menarik salah satu ujung bibirnya. "Apa kalian tidak salah sasaran?"
"Tentu saja tidak. Hanya satu wanita di tempat ini yang memiliki wajah secantik dirimu, membuatku tidak sabar untuk mencicipimu," ujar pria yang lain sambil berjalan mendekati Jasmine.
Saat pria itu mencoba menyentuh pipi Jasmine, dengan cepat Jasmine menangkis tangannya.
"Ohh, galak juga. Sangat menarik," ucap pria itu sambil terkekeh.
Dua orang pria lagi mendekat dan berusaha memegangi kedua tangan Jasmine, namun Jasmine tidak tinggal diam. Jasmine memberikan pukulannya ke wajah dan tubuh mereka bergantian. Ketiga pria itu semakin bringas, mereka tidak segan-segan balik menyerang Jasmine. Satu pria merampas tas Jasmine, lalu mengambil ponselnya dan membantingnye ke lantai.
"Kurang *j*r! Beraninya kau merusak ponselku! Siapa kalian sebenarnya?" teriak Jasmine.
"Kau tidak perlu tahu siapa kami. Kalian berdua, cepat ikat tangannya!"
Dua pria berusaha menyerang Jasmine kembali. Saat mereka sedang beradu pukul, David masuk ke dalam toilet.
"Berhenti! Siapa kalian? Menjauhlah darinya!" bentak David.
__ADS_1
"Cih, seekor lalat mau mencoba menganggu kesenangan kita," ejek mereka.
"Apa kau baik-baik saja, Jasmine?" tanya David.
"Menurutmu?" jawab Jasmine kesal.
David langsung melangkah maju dan berusaha membawa Jasmine pergi dari sana, namun ditahan oleh salah satu dari ketiga pria itu. Perkelahian pun berlanjut menjadi dua lawan tiga. Ketiga pria itu kuwalahan melawan Jasmine dan David, karena keduanya ahli dalam ilmu beladiri. Merasa posisi mereka terancam, salah seorang pria mengambil pisau lipat dari dalam sakunya. Pria itu mendekati Jasmine dan ingin melukainya dari belakang.
Zrasshhh...
"Arrgghh!!!"
Jasmine langsung menoleh ke belakang dan melihat David terduduk di lantai dengan bahu terluka akibat terkena sayatan pisau yang sebenarnya diarahkan kepadanya. Ketiga pria tak dikenal itu langsung melarikan diri.
"Apa kau baik-baik saja? Apa kau terluka?" tanya David khawatir.
"Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu, karena kau yang terluka bukan aku," ucap Jasmine.
Jasmine segera membantu David berdiri dan membawanya keluar dari toilet. Sebelumnya dia mengambil ponselnya yang tergeletak di lantai. Jasmine mencoba menyalakan ponselnya, tapi gagal. Ponselnya benar-benar telah rusak. Jasmine terlihat kesal sekali.
"Aku akan mengantarkmu ke klinik dekat kampus. Kau masih bisa berjalan kan? Aku akan membantumu," ujar Jasmine sambil memapah David.
Security kampus yang melihat David terluka, segera membantu dan mengantarkan ke klinik.
Sedangkan di kantin kampus, Evan terlihat gelisah karena Jasmine tak kunjung datang, ponselnya juga tidak bisa dihubungi.
"Evan, aku sudah menandatangi kontrak kerjasama kita. Semoga kedua perusahaan kita bisa bekerjasama dengan baik," ucap Michelle setelah dia menandatangani surat kontrak kerjasama mereka dan menyerahkan berkas itu kepada Evan.
"Ya," jawab Evan singkat.
"Jasmine belum datang ya? Apa kau sudah mencoba menghubunginya?" tanya Michelle.
"Aku sudah menghubunginya mulai tadi, tapi ponselnya tidak aktif," jawab Evan.
"Mm... Evan, sekali lagi aku minta maaf ya, karena sebelumnya aku sudah berusaha mendekatimu. Aku benar-benar merasa malu, terutama pada Jasmine," ucap Michelle.
"Bukankah sudah kukatakan, aku memaafkanmu dan kita tidak perlu mengungkitnya lagi, Michelle."
Saat keduanya baru tertemu tadi, Michelle sudah meminta maaf dan mengatakan jika dia sangat menyesal. Evan pun juga sudah memaafkannya.
"Maaf Michelle, aku harus pergi untuk mencari Jasmine. Aku sangat mencemaskannya," ucap Evan sambil berdiri dan mengambil berkas-berkasnya.
Keduanya berjalan keluar dari kantin. Saat berada di luar, ada seorang pria yang sedang mengganti papan nama kantin yang lama dengan papan kayu yang baru. Naas, papan itu miring dan jatuh tepat di atas kepala Evan. Michelle yang mengetahuinya langsung mendorong Evan, sehingga papan kayu itu mengenai kepala Michelle.
Evan terkejut saat Michelle mendorongnya, dan semakin terkejut saat melihat Michelle terjatuh di lantai dengan pelipisnya mengeluarkan darah segar.
"Michelle, bangunlah. Apa kau baik-baik saja?" tanya Evan.
"Aku baik-baik saja, Evan. Tapi kepalaku terasa sakit sekali," jawab Michelle sambil merintih kesakitan.
"Terima kasih, Michelle. Kau sudah menyelamatkanku," ucap Evan.
"Aku minta maaf Nona, karena kecerobohanku kau jadi celaka dan terluka," ucap pria yang hendak memasang papan kayu itu.
"Lain kali kau harus lebih hati-hati lagi," ucap Evan.
"Baik, Tuan. Sebaiknya kita segera bawa Nona ini ke klinik supaya lukanya bisa segera diobati," jawab pria itu.
Evan langsung menggendong tubuh Michelle dan memasukkannya ke dalam mobil, lalu pergi ke klinik terdekat.
"Pergilah, Jasmine. Suamimu pasti sedang mencarimu sekarang," ucap David saat dirinya dinaikkan ke atas bangkar oleh perawat.
"Tidak. Sebelum aku memastikan mau baik-baik saja. Aku tidak akan pergi. Aku akan menghubungi Evan nanti," ucap Jasmine.
David mengambil ponselnya dan membuka kunci layarnya, lalu memberikannya kepada Jasmine.
"Ini, gunakan ponselku untuk menghubungi suamimu. Dan aku minta tolong, hubungi temanku, Shane. Cari saja namanya di kontakku," ucap David sebelum dia dibawa masuk ke ruang IGD.
Jasmine segera mengambil ponsel David. Jasmine mengetik nomor ponsel Evan dan menghubunginya. Jasmine mencoba beberapa kali, namun Evan tidak mengangkat panggilannya.
"Kamu di mana Evan?" ucap Jasmine.
Akhirnya Jasmine menghubungi teman David yang bernama Shane. Jasmine menjelaskan kondisi David saat ini dan meminta Shane untuk segera datang ke klinik. Seorang perawat keluar dari ruang IGD.
"Apakah kau kekasih pria yang bernama David itu?" tanya perawat itu.
"Bukan. Kami hanya teman satu kampus," jawab Jasmine. "Bagaimana keadaannya?"
__ADS_1
"Lukanya cukup dalam, namun dokter sudah menghentikan pendarahannya. Dokter sedang menjahit lukanya agar bisa segera menutup," terang perawat itu.
"Syukurlah. Terima kasih banyak," ucap Jasmine.
"Sebaiknya kita bersihkan dan obati lukamu," ucap perawat itu sambil memperhatikan wajah Jasmine yang tadi sempat terkena pukulan.
Jasmine mengangguk. Selesai lukanya dijahit dan dibersihkan, David diperbolehkan untuk pulang dan melakukan rawat jalan.
"Tunggulah di sini. Aku akan mengambil obatmu terlebih dahulu," ucap Jasmine sambil membantu David duduk di kursi tunggu, tak jauh dari ruang IGD.
"Terima kasih banyak, Jasmine. Maaf aku sudah merepotkanmu," ujar David.
Jasmine hanya menyunggingkan bibirnya, lalu menuju apotek klinik untuk menebus obat David. Setelah itu dia segera kembali ke tempat David dan memberikan obat itu. Jasmine memutuskan untuk menemani David menunggu kedatangan Shane.
"Dokter! Dokter!" terdengar suara teriakan Evan sambil menggendong Michelle di dalam pelukannya.
Seorang dokter dan perawat segera mendatangi keduanya.
"Segera bawa pasien ke ruang IGD," ucap sang dokter.
Evan segera meletakkan Michelle di atas bangkar. Dokter segera memeriksa kepala Michelle.
"Lukanya tidak terlalu parah, hanya saja akibat benturan itu pasien merasakan sakit kepala. Saya akan membalut lukanya," terang sang dokter.
"Terima kasih, dokter," ucap Evan.
Dokter segera membalut luka Michelle. Evan membantu Michelle berjalan keluar dari ruang IGD. Michelle terlihat lemah dan memeluk tubuh Evan dengan sangat erat. Apa yang mereka lakukan saat ini tertangkap oleh mata tajam Jasmine.
"Evan!" seru Jasmine.
Evan terkejut dan menghentikan langkahnya.
"Jasmine."
David melihat ke arah Evan yang sedang memeluk tubuh Michelle dengan erat. Evan menatap tidak suka ke arah David yang duduk di samping Jasmine.
"Ada apa Evan?" tanya Michelle dengan manjanya sambil memegangi kepalanya yang sakit.
Dengan perlahan Evan mendudukkan Michelle di kursi. Evan memperlakukan Michelle dengan sangat lembut. Lalu dia menghampiri Jasmine.
"Apa yang kau lakukan di sini? Dan apa yang kalian lakukan?" tanya Evan dan Jasmine bersamaan.
Keduanya saling memberikan tatapan dingin.
"Tunggu. Kau jangan salah paham, Evan. Jasmine tadi hanya menolongku yang sedang terluka. Jangan berpikir macam-macam." David mencoba menjelaskan.
"Apa tidak ada orang lain lagi, sampai harus kau yang mengantarkan pria ini ke sini?" tanya Evan menahan marah.
"David terluka karena dia berusaha menyelamatkanku. Maka dari itu aku yang membawanya ke klinik ini. Lalu kau sendiri? Apa yang kau lakukan sampai kau harus memeluk Michelle seerat itu?" cerca Jasmine.
"Aku juga sedang menolongnya. Kepalanya terluka juga 'karena dia berusaha menyelamatkanku," ketus Evan.
Jasmine tersenyum hambar. "Harus ya kau sampai memeluknya seerat itu?"
"Badannya lemah dan kepalanya sedang sakit. Aku hanya membantunya berjalan. Lalu, kau sendiri mengapa terus bersama pria ini? Dia sudah diobati kan dan dia terlihat baik-baik saja. Dan mengapa ponselmu tidak bisa dihubungi? Berkali-kali aku mencoba menghubungimu tapi ponselmu tidak bisa dihubungi sama sekali. Apa kau tahu betapa cemasnya aku?" ucap Evan sambil berteriak.
Ada bibir yang tersenyum tipis saat menyaksikan pertengkaran Evan dan Jasmine.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel author lainnya:
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
__ADS_1
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰