Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 7. Rencana Perjodohan


__ADS_3

Satu bulan pasca bercerai, Helena diwisuda dan mendapatkan gelar sarjana kedokterannya bersama Emily. Narendra dan Charlotte menghadiri wisuda putri mereka bersama Hans, adik Helena. Keluarga Emily baik dari ayah atau ibunya juga hadir.


Kemudian Helena ikut Tuan Haris dan Nyonya Sasmitha tinggal di Indonesia. Tuan Haris memiliki riwayat penyakit jantung. Kesehatan Tuan Haris menurun saat mengetahui masalah rumah tangga Helena yang berakhir dengan perceraian. Dokter menyarankan agar Tuan Haris melakukan perawatan ke rumah sakit di Amerika karena dokter dan perlengkapan medisnya lebih baik dan canggih. Namun, Tuan Haris menolak. Beliau ingin melakukan perawatan di Indonesia saja. Helena merasa sedih, dan memutuskan ikut ke Indonesia supaya bisa membantu merawat kakeknya.


Helena bekerja di rumah sakit milik dokter Narita. Helena sudah bekerja selama tiga bulan. Helena berusaha membuka lembaran baru hidupnya di tempat yang baru dan dia sangat menikmati profesinya sebagai seorang dokter. Di rumah sakit, Helena mendapatkan sahabat baru, dokter Aisya. Helena dan Aisya pertama kali bertemu saat mendaftar di rumah sakit tersebut. Keduanya menjalani serangkaian tes masuk bersama, sehingga membuat keduanya menjadi akrab.


Kesehatan Tuan Haris menurun kembali dan harus dirawat di rumah sakit. Tuan Alex yang mendengar kabar buruk itu segera menjenguk Tuan Haris di rumah sakit bersama Nyonya Savira. Kedatangan Tuan Alex dan Nyonya Savira disambut dengan hangat oleh Tuan Haris dan Nyonya Sasmitha.


"Bagaimana keadaanmu, Haris?" tanya Tuan Alex sambil duduk di kursi sebelah ranjang Tuan Haris.


"Ya beginilah Alex. Maklumlah sudah tua," jawab Tuan Haris sambil terkekeh.


"Suamiku selalu menjawab seperti itu jeng Savira setiap ditanya. Dokter sudah menyarankan untuk melakukan perawatan ke Amerika, tapi dia tidak mau," adu Nyonya Sasmitha.


"Yang sabar ya jeng. Ayo suamiku coba kau bujuk sahabat baikmu ini. Karena kalian berdua kan sama-sama keras kepala," ucap Nyonya Savira.


Tuan Alex dan Tuan Haris tertawa. Pintu kamar inap Tuan Haris terbuka, Helena masuk sambil membawa nampan berisi makanan dan obat.


"Grandpa sudah waktunya makan dan minum obat," seru Helena.


Helena terkejut, ternyata ada Tuan Alex dan Nyonya Savira juga.


"Wah, ada Opa Alex dan Oma Savira," ucap Helena senang.


"Pantas saja kau betah tinggal di rumah sakit, Haris. Ternyata yang merawat dokter secantik ini," goda Tuan Alex.


Helena segera meletakkan nampan tersebut di atas nakah, lalu langsung salim dan mencium punggung tangan Tuan Alex dan Nyonya Savira. Nyonya Savira langsung memeluk Helena.


"Bagaimana kabarmu Helena sayang?" tanya Nyonya Savira.


"Alhamdulillah baik Oma. Bagaimana kabarnya Opa dan Oma, juga semua anggota keluarga Alvaro?" jawab Helena.


"Alhamdulillah kami baik sayang," jawab Nyonya Savira.


Helena tersenyum.


"Oma turut bersedih ya sayang, atas apa yang terjadi dengan pernikahanmu. Kamu harus tetap semangat. Oma berdoa semoga kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik dan bisa membahagiakanmu kelak," ucap Nyonya Savira.


"Aamiin. Terima kasih Oma," jawab Helena.


Mereka pun mengobrol cukup lama, sambil Helena menyuapi Tuan Haris dan memastikannya meminum obatnya.


"Jam istirahat Helena sudah habis. Helena kembali bekerja dulu ya, Grandpa, Grandma, Opa Alex dan Oma Savira," ucap Helena.


"Baiklah, Nak. Yang semangat bekerjanya ya," ucap Nyonya Savira.


"Pasti Oma," kata Helena sambil berpelukan dengan Nyonya Savira.


Kemudian Helena segera keluar dari ruangan itu dan kembali bekerja.


"Helena anak yang baik. Tapi sayang harus menderita akibat perbuatan Marco," ucap Tuan Haris dengan raut wajah sedih.


"Semua sudah menjadi takdir Tuhan. Nasib cucuku, Axel juga begitu. Sejak kepergian tunangannya, Icha, Axel berubah menjadi sosok yang sangat dingin. Hatinya diliputi kemarahan dan niat balas dendam," ujar Tuan Alex.

__ADS_1


"Bahkan aku seperti tidak mengenali cucuku lagi. Aku sangat sedih. Aku merindukan sosok Axel yang hangat dan penuh kasih sayang," ucap Nyonya Savira sambil terisak.


Nyonya Sasmitha memberikan pelukan untuk menenangkan Nyonya Savira.


"Bagaimana kalau kita jodohkan Axel dan Helena? Bukankah sejak kecil mereka sudah dekat? Ya meskipun saat ini hubungan mereka merenggang. Aku yakin dengan adanya Helena di hidup Axel, dapat merubah Axel seperti dulu lagi. Dan Helena juga bisa segera melupakan masa lalunya yang pahit dari pernikahan pertamanya," usul Tuan Alex.


"Aku setuju saja. Sejak dulu aku memang ingin melihat mereka bersama. Tapi apa mereka mau?" tanya Tuan Haris.


"Benar suamiku. Aku akan sangat bahagia jika melihat Axel dan Helena bersama. Tapi, sebaiknya kita tanyakan dulu apakah mereka setuju atau tidak," saran Nyonya Savira.


"Kau benar istriku. Nanti aku akan bicara dengan Zayn dan Aline. Jika mereka setuju, biar Zayn menyuruh Axel untuk pulang ke Indonesia dan kita tanyakan apakah Axel bersedia atau tidak. Dan kalian juga tanyakan kepada Helena, apakah dia bersedia atau tidak," tutur Tuan Alex.


"Baiklah. Aku berdoa semoga Tuhan memberikan yang terbaik. Aku ingin melihat kedua cucuku itu bahagia. Axel sudah aku anggap seperti cucuku sendiri, sejak dia masih berada dalam kandungan," ucap Tuan Haris dengan raut bahagia.


Sepulang dari rumah sakit, Tuan Alex dan Nyonya Savira langsung mengadakan pertemuan keluarga dengan anak dan menantu mereka. Tuan Alex langsung memberi tahu rencana perjodohan Axel dan Helena, serta tujuan dari perjodohan itu. Zayn dan Aline sangat senang jika Axel dan Helena bisa bersama, karena mereka sudah menganggap Helena seperti putri mereka sendiri. Dan karena Zayn dan Aline sudah sangat mengenal Helena, baik sifat dan cara bersikapnya.


...*****...


Di California, Axel dan William untuk ketiga kalinya mendatangi mansion orang tua Patrick.


"Jika keadatangan Tuan Muda Alvaro ke mansion kami untuk menanyakan di mana keberadaan putra kami, Patrick, jawaban kami tetap sama. Kami tidak tahu. Dan sudah hampir satu tahun kami tidak melihat atau berkomunikasi dengannya," ucap Tuan Harry, ayah Patrick.


"Kalian jangan coba-coba membohongiku! Cepat katakan di mana Patrick!," bentak Axel.


"Kami benar-benar tidak tahu, Tuan. Saya juga merindukan putra saya. Tapi kami tidak tahu di mana dia berada sekarang," ucap Nyonya Melisa sambil menangis.


"Awas saja jika kalian berani menyembunyikan Patrick. Aku bisa dengan mudahnya menghancurkan mansion ini maupun perusahaan Dawson hingga rata dengan tanah," ancam Axel dengan tatapan dinginnya.


Axel dan William segera pergi meninggalkan mansion orang tua Patrick. Nyonya Melisa menangis tersedu. Sampai saat ini keberadaan Patrick masih belum diketahui. Dia sangat merindukan putra semata wayangnya. Tuan Harry memeluk dan berusaha menenangkan istrinya.


Tubuh wanita paruh baya itu sampai kurus karena terus memikirkan putranya.


"Tenanglah sayang. Kita berdoa kepada Tuhan semoga putra kita baik-baik saja," ucap Tuan Harry menenangkan.


"Aku sudah berulang kali memperingatkan Patrick agar tidak berhubungan dengan wanita itu lagi. Kau ingatkan terakhir kali Patrick mencari masalah dengan Marissa, putra kita dipukuli orang tak dikenal sampai tidak sadarkan diri selama hampir satu minggu. Saat itu rasanya aku ingin mati saja dari pada harus melihat putraku terbaring tak berdaya di atas tempat tidur," ujar Nyonya Melisa.


Tuan Harry semakin erat memeluk istrinya dan ikut menangis.


Axel duduk di kursi belakang dengan wajah menahan marah. Dia marah sekali karena dia gagal lagi menemukan keberadaan Patrick melalui orang tuanya Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ada panggilan dari ayahnya, Zayn.


"Halo, ada apa Pa?" tanya Axel.


"Sudah cukup waktumu berburu Axel. Sekarang juga pulang ke Indonesia. Ada yang ingin kami bicarakan denganmu. Dan Papa tidak menerima penolakan," jawab Zayn.


"Baiklah, Axel pulang," ucap Axel.


Axel dan William segera terbang ke Indonesia. Setibanya di Indonesia, mereka segera menuju mansion Alvaro. Zayn dan Aline sudah menunggu kedatangan Axel. Aline sangat bahagia saat melihat putranya, dia langsung lari dan memeluk putra yang sangat dia rindukan itu. Semua berkumpul di ruang keluarga, di sana sudah ada Tuan Alex, Nyonya Savira, Vero dan Dea.


"Apa yang ingin Papa bicarakan dengan Axel?" tanya Axel secara langsung.


"Baiklah, Opa akan langsung pada intinya. Kami sepakat berencana untuk menjodohkanmu dengan Helena," ucap Tuan Alex.


"Apa?!" teriak Axel sambil berdiri.

__ADS_1


"Ini gila. Mana mungkin kalian akan menjodohkanku dengan istri orang?" tanya Axel tak percaya.


"Helena sudah bercerai dengan mantan suaminya. Dia sudah bukan istri orang lain lagi," jawab Tuan Alex.


Axel terkejut. Tak lama Axel tertawa hambar.


"Lalu? Kenapa aku harus menikahinya?" tanya Axel lagi.


"Haris sedang sakit keras. Dan kami ingin melihat kau dan Helena menikah dan hidup bersama," jawab Tuan Alex.


"Papa dan Mama setuju?" tanya Axel kepada kedua orang tuanya.


"Papa dan Mama tidak ada masalah. Helena adalah wanita yang baik, kami sudah sangat mengenalnya sejak dia masih kecil," jawab Zayn.


Axel tak terima, dia sangat marah.


"Apa di dunia ini tidak wanita lajang lagi sampai aku harus menikahi seorang janda, barang bekas pria lain?!" teriak Axel penuh emosi.


"Axel!" bentak Tuan Alex.


Plak!!!


Aline menampar wajah putranya dengan keras.


"Jaga bicaramu, Axel. Mama dan Papa tidak pernah mengajarkanmu berbicara kasar seperti itu. Jika kau tidak bersedia, kau bisa menolaknya tanpa harus menghina Helena seperti itu. Apa kau lupa semua kebaikan keluarga Hermawan pada kita dulu? Bahkan sejak kau masih dalam kandungan Mama.Mama sangat kecewa padamu," ucap Aline marah.


Aline langsung meninggalkan ruangan itu sambil menangis.


"Luar biasa sekali, Axel!" ucap Zayn dengan raut wajah kecewa dan tatapan menahan marah.


Zayn segera mengejar istrinya. Axel tertegun, hatinya sakit melihat ibunya sedih. Axel juga melihat raut wajah kecewa dari Opa, Oma, Pipi dan Miminya. Bahkan Dea tak bisa menahan tangisnya saat Axel merendahkan keponakannya. Dea segera mengajak Vero untuk kembali ke mansion mereka.


"Apa hatimu senang sekarang? Kau sudah menyakiti hati banyak orang. Kami berencana menjodohkan kalian, tapi kami tidak akan memaksa. Keputusan ada di tanganmu. Opa benar-benar sudah tidak mengenali siapa dirimu. Icha benar-benar sudah membuatmu berubah," ucap Tuan Alex.


Tuan Alex melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu. Axel memandang ke arah Omanya.


"Maaf Axel, kali ini Oma benar-benar kecewa padamu," ucap Nyonya Savira.


Axel berteriak lalu meremas rambutnya kasar. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Rasa marah, kesal, benci dan menyesal bercampur menjadi satu dalam hatinya.


Baca juga baca novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author dengan :


💫Tinggalkan comment


💫Tinggalkan like


💫Tinggalkan vote


💫Klik favorite

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2