Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 22. Obat Penawar


__ADS_3

Jasmine dan Azzura sudah tiba di mansion Keluarga Morris. Joe segera kembali ke mansionnya setelah mengantarkan dua gadis itu. Aiden menyambut kedatangan mereka.


"Selamat datang kembali my queen and my princess," ucap Aiden sambil tersenyum.


"Buang senyummu itu, Aiden bodoh! Mana wanita m*****n itu? Beraninya dia mengataiku j****g!" bentak Azzura dengan wajah memerah.


Glek!!!


Aiden menelan salivanya kasar.


Flashback On


Satu jam sebelumnya, Azzura menghubungi ponsel Aiden. Dia ingin kakaknya itu menjemputnya di bandara. Namun yang mengangkat telponnya adalah Zoya karena Aiden sedang berada di dalam kamar mandi untuk membersihkan sisa percintaan mereka. Zoya mengerutkan dahinya saat melihat nama "My Queen" di layar ponsel Aiden.


"Halo," sapa Zoya ketus.


Azzura tersentak mendengar suara wanita yang mengangkat telponnya dengan nada ketus.


"Halo, ini siapa? Mana Aiden?" tanya Azzura membentak.


"Hei. Kamu itu yang siapa? Ah, aku tahu. Kamu pasti salah satu wanita murahan yang ingin menggoda pacarku, Aiden. Benar kan? Dengar ya Aiden itu hanya milikku, dan jangan coba-coba menggodanya. Aku ini calon istrinya. Paham! Dasar j****g!" ucap Zoya.


Lalu Zoya langsung mematikan sambungan telpon mereka dan memblokir nomor Azzura.


"Lancang!" hardik Aiden yang sudah berdiri di belakang Zoya.


"Beraninya kau mengangkat panggilan masuk di ponselku!" bentak Aiden marah.


"S-sayang. A-aku minta maaf sayang. Tadi ada orang iseng yang menelponmu. Dia wanita murahan yang ingin menggodamu, sayang," ucap Zoya dengan wajah ketakutan.


Aiden langsung merebut ponselnya dan memeriksa  riwayat panggilan masuknya. Aiden langsung membelalakkan matanya saat melihat nama "My Queen" yang belum sempat dihapus oleh Zoya. Tangan Aiden mengepal dan wajahnya memerah.


"Kau bilang yang menelponku tadi adalah wanita murahan?" tanya Aiden dengan tatapan matanya yang mengerikan.


Tubuh Zoya seketika gemetar ketakutan. Zoya menganggukkan kepalanya.


Plak!!!


Aiden memberikan tamparan ke wajah Zoya.


"Me-mengapa kau menamparku?" tanya Zoya tak terima.


Aiden mendorong tubuh Zoya sampai ke tembok. Tangan kanannya mencekik leher Zoya.


"Apa kau tahu j****g? Wanita yang kau sebut murahan itu adalah adikku. Beraninya kau menghina adikku," ucap Aiden sambil menekan leher Zoya.


"Am-ampun. Ampuni aku. Aku tidak tahu. Aku sungguh minta maaf," ucap Zoya sedikit terbata-bata karena kesulitan bernapas.


Aiden melepaskan cekikan tangannya dan menghempaskan tubuh Zoya ke lantai. Zoya pun terbatuk-batuk. Aiden mengambil cek dari dalam saku jasnya dan menuliskan nominal uang yang cukup besar, lalu melemparnya ke wajah Zoya.


"Hubungan kita berakhir sampai di sini. Mulai sekarang jangan pernah muncul lagi di hadapanku, atau kau akan tahu akibatnya," ucap Aiden.


"Tidak! Aku tidak mau," tolak Zoya.


"Aku mencintaimu Aiden. Aku sangat memujamu. Aku minta maaf dan aku mohon jangan tinggalkan aku," mohon Zoya.


Aiden menyunggingkan bibirnya.


"Cinta? Bukan cinta Zoya tapi kepuasan dan harta. Itu yang ada di hati dan otakmu. Hubungan kita dari awal kan memang hanya sebatas memuaskan h****t di atas ranjang. Aku juga menghargaimu dengan harga yang tinggi. Dan sekarang aku sudah tidak membutuhkanmu lagi," tegas Aiden.


"Tapi setidaknya, berikan aku satu benihmu sebagai pengganti dirimu," ucap Zoya.


"Jangan konyol! Aku akui, aku memang pria b******k. Tapi, aku tidak sudi anakku lahir dari rahim wanita murahan sepertimu. Aku peringatkan sekali lagi. Jangan pernah muncul di hadapanku lagi!" ucap Aiden, lalu melangkahkan kakinya keluar dari apartemen Zoya.


Zoya marah besar. Dia berteriak sambil melempar semua barang yang ada di apartemennya.


Flashback Off


"Kakak mohon jangan marah, my queen. Kakak minta maaf karena saat kau telpon tadi, kakak sedang berada di kamar mandi," mohon Aiden sambil memegang tangan Azzura.


Azzura segera menghempaskan tangan Aiden.


"Mana dia sekarang? Aku ingin memberikan pelajaran padanya. Akan kurobek mulutnya yang menjijikkan itu!" teriak Azzura.

__ADS_1


"Dia tidak ada di sini, queen. Kakak sudah memutuskan hubungan dengannya. Kakak sudah memberikan tamparan dan ancaman padanya. Kakak mohon tenangkan dirimu," ucap Aiden dengan nada lembut.


Jasmine duduk dengan santainya di atas sofa sambil menyaksikan drama pertengkaran kakak beradik itu.


Azzura memejamkan matanya sambil menghela napas panjang.


"Baiklah. Aku memaafkanmu sekarang. Tapi, awas saja kalau kau masih berhubungan dengan j****g itu. Aku pasti akan memotong anacondamu itu, lalu kujadikan camilan untuk anjing kesayangan Grandpa, si Foxy!" ancam Azzura.


Aiden membelalakkan matanya.


"Kakak janji. Kakak tidak akan berhubungan lagi dengan wanita itu," ucap Aiden sambil memamerkan deretan giginya yang putih bersih.


"Aku pegang janjimu," ucap Azzura.


Azzura segera melangkah pergi menuju kamarnya, karena hatinya masih panas. Dia ingin berendam air hangat untuk meredakan emosinya. Aiden menjatuhkan tubuhnya di samping Jasmine dan menghela napas lega. Jasmine pun menertawakannya. Tak selang berapa, tawanya pun berhenti.


"Bagaimana, Kak? Apa orang tua Patrick sudah tiba di London?" tanya Jasmine sambil berbisik.


"Kau tidak perlu khawatir. Mereka berada di bawah pengamanan pasukan Pangeran Aaron saat ini. Philipe bilang orang tua Patrick sudah berada di rumah sakit tempat Patrick dirawat," jawab Aiden.


Jasmine menganggukkan kepalanya dan hatinya pun merasa lega.


"Permisi, Tuan. Ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda," lapor salah satu penjaga mansion.


"Siapa?" tanya Aiden.


"Selamat sore, Tuan Aiden dan Nona Jasmine," sapa seorang pria paruh baya bermata sipit keturunan Tionghoa muncul dari luar pintu.


"Dokter Zheng?" seru Aiden.


"Selamat sore dokter. Mari silakan duduk," ucap Jasmine sambil tersenyum.


Dokter Zheng pun duduk di sofa yang berada di seberang Jasmine dan Aiden.


"Kau boleh pergi sekarang," ucap Aiden kepada penjaganya.


"Aku yang mengundang dokter Zheng ke sini, Kak," ucap Jasmine.


"Bukankah kuliahmu sudah selesai, princess. Lalu untuk apa kau membutuhkan bantuan dokter Zheng lagi?" tanya Aiden.


"Sebenarnya aku membutuhkan bantuan dokter Zheng bukan hanya untuk menyelesaikan tugas kuliahku saja, tapi ada hal yang jauh lebih penting dari itu," jawab Jasmine.


Aiden mengerutkan dahinya.


"Sebaiknya kita ke ruangan pribadiku sekarang," ucap Aiden.


Aiden, Jasmine dan dokter Zheng segera berpindah ke ruang pribadi Aiden agar pembicaraan mereka tidak sampai didengar oleh orang lain.


"Sekarang jelaskan hal penting apa yang tidak aku ketahui," ucap Aiden.


"Sebelumnya saya ingin menyerahkan ini kepada Nona Jasmine," ucap dokter Zheng.


"Apa itu?" tanya Aiden.


"Bubuk obat penawar, Tuan," jawab dokter Zheng.


"Apa? Obat penawar?" seru Aiden tak mengerti.


Jasmine tersenyum bahagia saat menerima obat penawar yang terbungkus rapat dalam botol.


"Apa obat penawar ini sudah diuji cobakan dokter?" tanya Jasmine.


"Sudah Nona. Bukan hanya pada sesekor tikur percobaan, tapi juga pada manusia. Dan obat penawar ini terbukti ampuh dan aman," jawab dokter Zheng.


"Tolong jelaskan ada apa semua ini? Dan ini obat penawar apa?" tanya Aiden yang sudah sangat penasaran.


Jasmine tersenyum.


"Apa Kakak pikir, orang segenius Kak Axel tiba-tiba berubah menjadi bodoh dan otaknya menumpul, hanya gara-gara jatuh cinta kepada seorang wanita?" tanya Jasmine.


Aiden membelalakkan matanya dan mencerna ucapan Jasmine.


"Maksudmu, terjadi sesuatu pada diri Axel?" tebak Aiden.

__ADS_1


Jasmine mengangguk.


"Dari awal aku sudah curiga saat melihat dan merasakan perubahan sikap Kak Axel sejak menjalin hubungan dengan Marissa. Aku pun melakukan penyelidikan dengan bantuan Opa Alex, karena Opa juga merasakan hal yang sama. Dan saat Marissa pindah ke apartemen, itu menjadi kesempatan bagiku agar lebih leluasa untuk mencari tahu tentangnya. Suatu ketika, aku menyamar menjadi salah satu cleaning service yang membersihkan apartemen, di saat Marissa sedang bekerja."


"Aku masuk ke dalam kamarnya dan memeriksa barang-barangnya. Aku tidak menemukan apapun, sampai aku melihat botol kecil berisi serbuk berwarna putih dan tidak berbau. Aku mengambil sedikit serbuk putih menggunakan kertas tissue. Lalu aku mengembalikan bubuk itu ke tempat semula. Setelah aku tiba di Jerman, aku langsung menemui dokter Zheng dan meminta beliau untuk meneliti serbuk putih yang aku temukan di apartemen Marissa," terang Jasmine.


"Lalu, serbuk apa itu?" tanya Aiden.


"Itu adalah semacam serbuk yang mirip racun arsenik, Tuan. Salah satu racun yang cukup berbahaya. Namun, setelah saya teliti serbuk itu bisa melemahkan kinerja otak manusia jika dikonsumsi sedikit demi sedikit. Efek lainnya akan menyebabkan emosi si pengkonsumsi menjadi tidak stabil dan mudah untuk dikendalikan oleh orang lain," jawab dokter Zheng.


"Itu artinya Marissa sengaja memberikan serbuk itu kepada Axel, supaya dia bisa mengendalikan Axel. Dan Axel tanpa sadar telah mengkonsumsi serbuk itu sejak bersama Marissa," ucap Aiden.


"Tidak, Kak. Aku yakin sebelum Kak Axel bertemu dan mengenal Marissa, serbuk itu sudah masuk ke dalam tubuh Kak Axel sehingga Kak Axel dengan mudahnya mempercayai semua ucapan Icha. Karena serbuk itu tidak berbau dan tidak berasa, jadi bisa dicampur dengan makanan dan minuman apapun. Pastinya masuk ke dalam tubuh Kak Axel dengan cara seperti itu," sahut Jasmine.


"Dan bukan hanya itu saja. Efek buruk selanjutnya adalah jika si pengkonsumsi berhenti mengkonsumsi serbuk itu dalam jangka waktu cukup lama, secara perlahan dia akan merasakan sakit kepala. Dan semakin lama sakit kepala itu akan sering muncul, bahkan bisa menyebabkan deman. Jika dugaan saya benar, saat ini Tuan Axel pasti sudah merasakan efek yang satu ini," tambah dokter Zheng.


Jasmine dan Aiden membelalakkan mata mereka.


"Saya sudah membuatkan obat penawarnya, seperti yang telah berada di tangan Nona Jasmine. Obat penawar itu terbuat dari tumbuhan yang bernama Pteris vittata atau nama lainnya pakis rem China. Tanaman ini memiliki kemampuan yang unik yaitu bisa menyerap racun arsenik. Tuan Axel harus mengkonsumsinya secara sedikit demi sedikit, sama seperti saat dia mengkonsumsi serbuk racun itu. Namun obat penawar ini bekerja lebih cepat dibandingkan cara racun itu bekerja." Dokter Zheng menjelaskan.


Jasmine termenung, dia memikirkan bagaimana caranya dia memberikan obat penawar itu kepada kakaknya. Sedangkan saat ini hubungan mereka sedang tidak baik.


"Apa yang kau pikirkan, princess?" tanya Aiden membuat Jasmine tersentak.


"Kakakmu sekarang berada di Jerman. Axel dan Helena saat ini tinggal di mansion Alvaro. Sebaiknya kau pulang ke sana sebelum mereka kembali ke Indonesia," ucap Aiden.


"Tapi aku bingung Kak. Bagaimana caranya aku memberikannya kepada Kak Axel?"


Jasmine menghela napas berat.


"Berbaikanlah dengannya. Aku yakin sekali kalau Axel itu sangat menyayangimu, hanya saja egonya terlalu tinggi untuk meminta maaf. Secepatnya Axel harus mengkonsumsi obat penawar ini, sebelum terjadi sesuatu yang lebih buruk," tutur Aiden.


"Tuan Aiden benar, Nona. Jangan sampai efek buruk dari racun itu semakin parah nantinya. Tubuh Tuan Axel bisa semakin melemah secara perlahan," ucap dokter Zheng.


"Baiklah. Aku ikuti saran kalian. Aku juga ingin kakakku cepat sembuh dan terbebas dari racun terkutuk itu," ucap Jasmine.


"Dan sebelum wanita ular itu hadir kembali ke dalam hidup kakakku," tambah Jasmine.


"Apa maksudmu?" tanya Aiden tak mengerti.


"Aku sudah menemukan bukti dan jejak Marissa. Benar dugaanku selama ini jika dia masih hidup dan memalsukan kematiannya. Saat ini Marissa menjalin hubungan dengan seorang pengusaha kaya raya yang memiliki beberapa perusahaan dan casino di beberapa tempat di Amerika, yang berasal dari Meksiko, Javier Alonso," jawab Jasmine.


Lalu Jasmine mengeluarkan beberapa foto yang diambilnya dari beberapa rekaman CCTV di beberapa bandara dan foto kebersamaan Javier dan Marissa yang tersimpan di akun media sosial Javier yang telah diretas oleh Jasmine. Aiden membulatkan matanya. Wanita yang bersama pria yang bernama Javier itu memanglah Marissa.


"Apa kau yakin wanita ini akan kembali?" tanya Aiden.


"Tentu saja. Tujuannya selama ini adalah Kak Axel dan keluarga Alvaro. Tapi aku masih belum tahu siapa Marissa sebenarnya dan mengapa dia mengincar keluarga Alvaro," jawab Jasmine.


"Nona harus segera memberikan obat penawar itu kepada Tuan Axel, sebelum wanita itu datang dan memberikan serbuk racun yang sama ke dalam tubuh Tuan Axel," ujar dokter Zheng.


"Tentu saja dokter. Apapun akan saya lakukan agar penawar racun ini masuk ke dalam tubuh kak Axel. Terima kasih banyak dokter atas semua bantuan dan usaha Anda," ucap Jasmine.


"Sama-sama, Nona," jawab dokter Zheng.


Tak lama kemudian, Tuan Zheng mohon ijin untuk kembali ke kediamannya.


...🌹🌹🌹...


Berhasilkah Jasmine memberikan obat penawar itu?🤔


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author dengan :


💫Tinggalkan comment


💫Tinggalkan like


💫Tinggalkan vote


💫Klik favorite

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2