
Helena dan Irene kembali ke tempat Axel dan William menunggu.
"Maaf membuatmu menunggu lama," ucap Helena.
"Tidak masalah. Kita pulang sekarang," jawab Axel.
"Tunggu Helena. Ini untukmu," seru Reymond sambil menyerahkan paper bag kepada Helena.
"Ini coklat Belgia yang aku beli khusus untukmu. Kau sangat menyukai coklat kan?" ucap Reymond.
Wajah Helena berbinar.
"Terima kasih banyak, Rey. Dari mana kau tahu kalau aku suka coklat?" tanya Helena setelah menerima paper bag itu.
"Sama-sama. Aku tahu semua hal yang kau sukai Helena. Baiklah, aku duluan ya. Sampai jumpa lagi besok," ucap Reymond.
"Hati-hati," sahut Helena.
Hati Axel semakin dongkol. Reymond benar-benar menepati ucapannya yang ingin merebut Helena.
"Ayo kita pulang sekarang," ucap Axel kesal sambil menarik tangan Helena.
"Pelan-pelan, Axel," ucap Helena.
William dan Irene hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan bos mereka.
Sepanjang perjalanan, Helena menikmati coklat yang diberikan oleh Reymond sambil tersenyum bahagia. Axel yang kesal langsung merampas paper bag yang berisi banyak coklat itu dan melemparnya ke pangkuan Irene. Irene terkejut.
"Hei. Apa yang kau lakukan? Itu coklatku," protes Helena.
"Jangan makan coklat terlalu banyak. Aku tidak mau para kolegaku mengejekku karena istriku tak bisa menjaga berat badan dan bentuk tubuhnya. Lagipula kau itu harus berbagi dengan orang lain. Di sini ada Irene dan William. Berbagilah dengan mereka," sewot Axel.
Helena melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah kesal.
"Aku akan berbagi, tapi kan tidak harus semuanya, Xel. Lagi pula aku tidak secepat itu akan berubah menjadi gemuk hanya karena memakan coklat-coklat itu. Itu kan coklat Belgia yang tidak mudah didapatkan di negara ini," ucap Helena kesal.
"Irene cari dan pesankan coklat terbaik Belgia dan dari negara lain penghasil coklat terbaik untuk istriku. Dan pastikan hari ini sudah berada di mansionku. Kirimkan private jet untuk mengambil coklat itu jika mereka tidak bisa mengirimkannya dengan cepat. Kalau perlu beli beserta pabriknya sekalian," perintah Axel.
William membelalakkan matanya.
"Siap Tuan," jawab Irene.
"Bagaimana? Apa kau senang sekarang? Kau itu punya suami yang alhamdulillah rejekinya mengalir terus dengan lancar. Jika kau menginginkan sesuatu kau tinggal bilang. Aku masih sanggup memenuhi semua keinginanmu," ucap Axel.
"Pokoknya hari ini harus sudah ada coklatnya. Kalau kau bohong, maka aku akan memintanya lagi pada Rey," ujar Helena.
"Apa kau dengar itu Irene?" seru Axel.
"Iya Tuan," jawab Irene.
Axel tersenyum penuh kemenangan. Lalu dia mendekatkan wajahnya ke wajah Helena. William yang melihatnya dari kaca spion menjadi kurang fokus menyetir.
"Kau mau apa?" tanya Helena dengan mata terbelalak.
Jantung Helena berdetak kencang, khawatir jika Axel akan menciumnya lagi.
"Kau pakai parfum apa sekarang? Mengapa baunya tidak enak?" tanya Axel.
"A-aku memakai parfum seperti yang biasanya aku pakai. Hidungmu saja yang bermasalah atau kau memang belum membersihkan kotoran yang ada di dalamnya," jawab Helena jengkel.
Axel segera menarik tubuhnya dan menegakkan kembali tubuhnya dengan wajah dingin.
Mobil mereka memasuki mansion. Helena segera turun dari mobil dan masuk ke dalam mansion dengan wajah kesalnya. Sedangkan Axel masih setia dengan duduknya.
"Apa Helena bertemu dengan seseorang saat di toilet tadi, Irene?" tanya Axel.
"Tidak ada Tuan. Tapi Nona Helena sempat bertabrakan dengan seorang wanita tadi," jawab Irene.
Axel menyunggingkan bibirnya.
"Marissa sudah kembali dan dia sudah berani mendekati Helena," ucap Axel.
"Maksud Tuan?" tanya William.
"Wanita yang bertabrkan dengan Helena itu pasti adalah Marissa. Bau parfum Marissa menempel di baju Helena. Kalian harus bersiap dan pastikan keselamatan istriku," ucap Axel.
"Baik Tuan," jawab William dan Irene.
...*****...
Kembalinya Helena bekerja di rumah sakit disambut bahagia oleh Aisya dan para staff yang lain, tak terkecuali oleh Reymond. Reymond sudah menyiapkan buket bunga yang diletakkannya di meja kerja Helena.
"Buket bunga," gumam Helena.
"Itu buket bunga dariku. Tolong diterima. Dan ini coklat untukmu. Aku tahu suami bekumu itu pasti memgambil coklat yang telah kuberikan kemarin," ujar Reymond sambil meletakkan beberapa bungkus coklat di meja Helena.
"Terima kasih banyak, Rey," ucap Helena.
__ADS_1
"Sama-sama. Dan selamat bekerja dokter cantik," ucap Rey dan dijawab anggukan dari Helena.
Helena senang sekali bisa menjalani rutinitasnya kembali. Sesaat sebelum pulang, Helena menghampiri Aisya di ruangannya. Helena meletakkan paper bag pemberian Reymond di atae meja.
"Aisya, apa kau mau coklat?" tanya Helena.
"Mau," sahut Aisya sambil membuka paper bag itu.
"Eh, bukankah ini coklat pemberian dokter Rey? Kemarin dokter Rey membagikannya juga kepafa kami," tanya Aisya.
"Iya. Tapi suamiku sudah membelikan banyak coklat untukku. Ini untukmu saja ya," jawab Helena.
"Wah, terima kasih Helena," ucap Aisya.
"Sama-sama. Kalau begitu aku pulang dulu ya. Assalamualaikum," pamit Helena.
"Walaikumsalam," jawab Aisya.
...*****...
Axel keluar dari VVIP room di sebuah restoran Jepang, setelah melakukan pertemuan dengan kliennya bersama William.
Prang!!!
Tiba-tiba ada seorang pria, salah satu pelanggan restoran sedang marah dan membanting gelas ke lantai.
"It's show time, Will," ucap Axel.
Axel dan William menyeringai.
"Di mana matamu? Beraninya kau menumpahkan minumanku!" bentak pria itu pada seorang pelayan.
"Maafkan saya Tuan. Saya tidak sengaja," mohon pelayan itu sambil membungkuk.
"Maaf kau bilang?" pria itu.
Pria itu menarik dagu si pelayan dan melihat wajahnya.
"Ternyata kau cantik juga. Baiklah aku akan memaafkanmu, asal kau mau melayani dan memuaskanku," ucap pria itu dengan wajah mesumnya.
"Tidak!" bentak pelayan itu.
"Lancang! Beraninya wanita rendahan sepertimu membentakku!" bentak pria itu sambil mengangkat tangannya hendak menampar.
"Berhenti!" terdengar suara bariton Axel.
"Siapa kau? Jangan ikut campur!" bentak si pelanggan restoran tadi.
"Aku tidak mau ikut campur, tapi aku tidak suka ada pria yang bersikap kasar kepada seorang wanita," ucap Axel dingin.
Begitu mendengar suara Axel, pelayan itu langsung membalikkan badannya dan berhadapan langsung dengan Axel.
"Axel?" seru pelayan itu terkejut.
"Icha? K-kau Icha?" sahut Axel.
"Iya Axel. Ini aku Marissa, Ichamu," jawab pelayan itu yang tak lain adalah Marissa.
"K-kau masih hidup?" tanya Axel dengan raut wajah bahagia bercampur rindu.
Marissa mengangguk, dan langsung memeluk Axel. Marissa bahagia sekali, setelah sekian lama dia bisa memeluk pria yang dia cintai.
"Aku merindukanmu, Axel. Aku takut jika aku tidak bisa bertemu denganmu lagi," pekik Marissa sambil terisak.
Axel mengurai pelukan mereka. Kedua tangan Axel menakup wajah Marissa.
"Aku bahagia sekali bisa melihatmu lagi. Aku pikir aku sudah kehilanganmu, Icha," ucap Axel penuh haru, bahkan sampai menitikkan air mata.
"Hentikan! Wanita ini masih ada urusan denganku. Dia harus bertanggung jawab atas kecerobohannya!" bentak pelanggan pria tadi.
Axel melepaskan takupan wajah Marissa, lalu menatap pria itu dengan tajam.
"Will, urus pria ini!" perintah Axel.
"Baik Tuan," jawab William.
Axel menarik tangan Marissa dan pergi dari tempat itu.
"Apa segini cukup untuk mengganti kerugian yang disebabkan oleh wanita tadi?" William menyerahkam sebuah cek dengan nominal yang tidak sedikit.
Pria itu membelalakkan matanya. Dia langsung mengambil cek dari tangan William.
"Kau ke mana saja, Cha? Aku pikir kau sudah meninggal, karena aku melihat dengan mata kepalaku sendiri mobil yang kau tumpangi saat itu tertabrak dan jatuh ke jurang," tanya Axel saat keduanya berada di dalam mobil.
"Wanita yang berada di mobil itu bukan aku, tapi wanita yang sengaja Patrick siapkan yang mirip denganku, dan dia memakai cincin pertunanganku. Patrick menculikku dan dia memaksaku untuk menikah dengannya supaya bisa menguasai harta warisan Daddyku," jawab Marissa sambil menangis pilu.
"Lalu bagaimana caranya kau bisa berhasil kabur dari pria br*****k itu?" tanya Axel penasaran.
__ADS_1
"Aku menyamar menjadi salah satu pelayan saat Patrick sedang tidak berada di mansionnya. Dengan beralasan berbelanja keperluan dapur, aku bisa keluar dari mansion itu dan melarikan diri. Aku bekerja sebagai pelayan di sebuah kapal pesiar dan beberapa cafe. Sampai akhirnya aku kembali ke negara ini hanya untukmu," terang Marissa.
Axel menatap Marissa dengan senyum penuh rindu. Axel mengantarkan Marissa pulang ke rumah kontrakan yang saat ini ditempati oleh Marissa. Axel meminta Marissa pindah ke apartemen yang dulu dia tempati. Dengan senang hati Marissa mengiyakan.
William mengantarkan berkas ke mansion Axel.
"Will, mengapa kau datang sendiri? Di mana suamiku?" tanya Helena.
"Um... Itu Nona, Tuan masih ada pekerjaan yang belum selesai. Saya hanya mengantarkan berkas laporan hasil pertemuan dengan klien tadi," jawab William.
Helena melihat ada kegugupan di raut wajah William, dan dia yakin William sedang menyembunyikan sesuatu. Helena merasa ada yang tidak beres. Perasaan Helena tidak tenang.
"Will, tunggu!" Helena menghentikan langkah William.
"Tolong katakan dengan jujur. Di mana suamiku sekarang?" tanya Helena menuntut.
William terdiam, dia bingung harus menjawab apa.
"Will?" panggil Helena.
"Maaf Nona. Tuan sekarang sedang bersama seseorang," jawab William sambil menunduk.
Deg.
"Apa itu Marissa, Will?" tanya Helena.
William mengangguk.
Hati Helena terasa perih dan matanya memanas.
"Baiklah. Kau boleh pergi sekarang, Will," ucap Helena sambil berusaha tersenyum.
"Terima kasih. Selamat malam, Nona," ucap William.
Helena mengangguk. Helena segera masuk ke dalam kamarnya. Air mata yang ditahannya sejak tadi pun tak terbendung lagi. Helena menangis sambil memegangi dadanya.
"Marissa sudah kembali. Apa yang harus aku lakukan?" lirih Helena sambil terisak.
Axel dan William berada di dalam mobil. Sebelumnya Axel sudah membawa Marissa pindah ke apartemen yang dulu pernah dia tempati.
Marissa memintanya untuk tinggal lebih lama, namun Axel menolak. Axel beralasan ada pekerjaan yang harus segera dia selesaikan, dan berjanji besok akan menemuinya lagi.
"Apa Anda baik-baik saja, Tuan?" tanya William khawatir jika Axel terpengaruh oleh Marissa lagi.
Axel tersenyum.
"Kau tidak perlu khawatir. Semua berjalan sesuai skenario kita. Marissa percaya jika aku masih menjadi Axel yang bodoh dan mencintainya," jawab Axel.
William bernapas lega.
"Tuan. Nona Helena tadi menanyakan keberadaan Anda. Awalnya saya menjawab Anda sedang sibuk, namun Nona tidak percaya. Dan akhirnya saya mengatakan jika Anda bersama Marissa," lapor William.
Axel menajamkan matanya.
"Nona terlihat sedih, namun dia berusaha untuk tetap tersenyum," tambah William.
Axel memejamkan matanya.
Tak lama kemudian mobil mereka berhenti di depan masion. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam.
Axel langsung menaiki tangga dan menuju kamar Helena. Pintu kamarnya terkunci, tapi Axel mempunyai kunci cadangannya.
Axel berjalan menghampiri Helena yang sudah tertidur. Axel duduk di pinggir ranjang. Tangannya mengambil beberapa anak rambut yang menutupi wajah cantik Helena. Axel melihat ada bekas air mata.
"Aku minta maaf. Aku terpaksa melakukan ini, El. Maaf jika aku menyakitimu. Bersabarlah sebentar saja. Dan bertahanlah untukku," ucap Axel sambil mengelus kepala Helena lembut.
Axel menunduk dan mencium kening, pipi dan mengecup bibir Helena pelan. Axel tidak ingin Helena sampai terbangun dan menyadari keberadaannya. Lalu dia pergi menuju kamarnya sendiri.
...🌹🌹🌹...
Axel dulu bilang tidak mau, tapi sekarang mulai berani incip-incip...🤭
Baca juga novel pertama author :
"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
__ADS_1
Terima kasih🙏🥰