
Marco sedang menunggu namanya dipanggil untuk diinterview. Tidak sedikit orang yang mengajukan lamaran kerja ke AH Corps. Marco sempat rendah diri karena banyak diantara pesaingnya yang usianya masih muda dan lulusan universitas bergengsi.
"Dulu, saat seusia mereka aku sudah memimpin perusahaan keluargaku. Aku bisa langsung menempati posisi CEO, karena aku adalah anak dari pemilik perusahaan. Dan sekarang, aku harus berjuang sendiri *supaya aku bisa diterima sebagai pekerja di perusahaan orang lain*," batin Marco sambil tersenyum tipis.
Pintu ruangan interview terbuka dan keluarlah salah satu pelamar pria dengan wajah pucat. Hal yang sama juga terjadi pada beberapa pelamar lain, bahkan ada salah seorang diantara mereka keluar dengan tubuh gemetar.
Marco menyerngitkan dahinya. Tiba-tiba jantungnya berdebar-debar, teringat dengan ucapan Axel. Marco mengambil ponselnya dan melihat foto keluarga kecilnya yang dia jadikan wallpaper.
"Aku tidak boleh menyerah," lirihnya.
"Tuan Marco Austin, sekarang giliran Anda. Silakan masuk ke dalam ruangan."
Marco segera berdiri dan sebelum memasuki ruangan dia melafalkan doa lalu melangkahkan kakinya dengan mantap.
Glek...
Tubuh Marco seakan membeku saat berhadapan langsung dengan orang-orang hebat yang akan mewawancarai dirinya secara langsung. Di depan Marco telah duduk berjejer para petinggi Alvaro Group yaitu Tuan Alexander, Tuan Zayn dan Tuan Vero. Dan satu orang lagi yang membuat Marco semakin gugup, dia adalah Tuan Narendra, ayah dari Helena dan mantan ayah mertua Marco.
"Apa kakak yakin, Marco akan lolos seleksi?" tanya Hans sambil tersenyum tipis.
"Kau itu sedang bertanya atau mencibir, Hans?" sahut Axel.
Keduanya sedang berada di ruang CEO. Axel dan Hans menempati ruangan CEO yang sama, namun dipisahkan oleh skat pembatas dengan pintu penghubung. Tapi jangan salah meskipun ruang kerja mereka menjadi satu, namun ruangan itu cukup luas yang bisa menampung 15 - 20 orang karyawan sekaligus.
"Aku tidak bermaksud mencibir, hanya tidak terlalu yakin saja. Karena Marco akan berhadapan dengan Daddyku yang masih menyimpan dendam padanya," ucap Hans.
"Ya, anggap saja ini sebagai ajang pembalasan dendam. Ayah mertua bisa melampiaskan kekesalahan yang sudah beliau pendam sejak lama," ujar Axel dengan santainya.
Hans tertawa. "Kau sungguh keterlaluan, Kak. Sebelumnya kau terlihat kasihan padanya, sekarang kau merasa senang karena dia akan dibantai secara massal."
Axel hanya menyunggingkan bibirnya sambil menatap làyar monitor yang cukup besar dan menampilkan rekaman kamera CCTV di ruangan wawancara. Benar apa yang dikatakan Hans, Marco dicerca dengan berbagai pertanyaan dari para executor itu. Axel dan Hans tidak bisa menahan tawa mereka melihat wajah Marco yang memucat dan mengeluarkan keringat dingin.
"Kalian benar-benar keterlaluan," seru Helena yang masuk ke dalam ruangan bersama baby Triplets.
"Halo, sayangku dan para permata hati Daddy. Mengapa kalian tidak mengucapkan salam?"
"Kami sudah mengucapkan salam tadi, tapi Daddy dan Uncle tidak dengar karena suara tawa kalian yang sangat keras," jawab Arsyilla.
"Benarkah? Daddy minta maaf ya," ucap Axel sambil mencium ketiga anaknya secara bergantian.
"Daddy sama uncle lihat apa?" tanya Arshaka.
"Oh itu, namanya kegiatan wawancara kerja," jawab Hans.
"Daddynya Deniz mau bekerja sama Daddy dan uncle?" tanya Arkana.
"Benar sayang."
"Baguslah," sahut Arkana.
Axel tersenyum mendengar respon dari anak sulungnya itu. Dari ketiga anak kembarnya, Arkana yang memiliki tingkat kepekaan yang luar biasa dan bisa menilai seseorang dengan baik.
"Daddy, tolong panggilkan uncle Mark. Cilla ingin diajari lagi membuat mainan dari kertas lipat. Mommy sudah membelikan banyak kertas lipat tadi," mohon Arsyilla.
"Siap, my princess." Axel segera meminta Mark datang ke ruangannya.
Tak lama kemudian Mark datang dan membawa baby Triplets ke ruang bermain yang telah disiapkan oleh Axel untuk mereka yang berada di samping ruang kerjanya. Helena menjatuhkan pinggulnya di samping Axel. Dengan cepat Axel melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya dan menariknya mendekat.
"Kau terlihat lelah sekali, sayang. Apa baby Triplets telah merepotkanmu tadi?" tanya Axel.
"Tidak juga. Mereka hanya minta diantarkan ke toko buku. Sejak semalam, Arsyilla merengek untuk dibelikan kertas lipat berwarna warni. Dia sangat antusias belajar membuat kerajinan dari origami. Arkana dan Arshaka membeli buku dongeng baru dan buku bahasa Jepang," jawab Helena.
"Kan bagus jika mereka memiliki rasa ingin tahu mereka yang besar untuk belajar hal-hal baru," ucap Axel.
Helena mengangguk.
__ADS_1
"Apa kakak sedang sakit? Kakak terlihat lesu sekali. Atau jangan-jangan calon adiknya Triplets mau launching?" tanya Hans antusias.
"Apa benar jika kau sedang hamil sekarang?" sahut Axel yang tak kalah antusiasnya.
Helena mendengus kesal. "Apa kau lupa jika aku masih menggunakan alat kontarsepsi?"
"Ya siapa tahu jika Tuhan telah berkehendak, apapun bisa terjadi."
"Tapi sayangnya Tuhan masih belum berkehendak. Aku sedang datang bulan sekarang," ucap Helena kesal.
Wajah Axel berubah lesu. "Itu artinya aku harus libur panjang. Betapa menderitanya diriku."
Helena semakin kesal dibuatnya. Axel langsung gelagapan. Di masa seperti itu perasaan Helena pasti sangat sensitif dan tidak baik-baik saja.
"Sayang, jangan marah ya. Aku hanya bercanda, jangan diambil hati, please. Aku akan memesankan teh cammomile hangat untuk meredakan sakit perutmu," bujuk Axel.
Wajah Helena masih masam, dia benar-benar merasa kesal karena perutnya memang terasa sakit ditambah dengan ucapan Axel yang menyebalkan.
"Ayolah, jangan marah. Aku minta maaf. Sini aku peluk."
Helena langsung memeluk suaminya, meskipun perasaannya masih kesal.
"Apa benar kau hanya bercanda?" tanya Helena.
"Benar sayang. Ya meskipun aku agak kecewa, tapi sedikit," jawab Axel.
Helena mengurai pelukan mereka, namun Axel segera menarik tubuhnya lagi. "Aku kecewa karena aku belum bisa mencoba kamar baru yang telah aku siapkan jika ada hal yang amat sangat urgen yang harus kita lakukan."
Helena menyerngitkan dahinya tak mengerti. Axel tersenyum sambil menunjukkan sebuah pintu yang tak lain adalah pintu kamar yang berada di ruangan itu. Helena melebarkan matanya. Helena tahu betul apa maksud dari dibuatnya kamar khusus itu.
"Bisa-bisanya kau membuat kamar khusus di kantormu. Kau benar-benar nakal." Helena mencubit perut datar Axel sambik tersenyum malu.
"Tentu saja sayang. Itu sangat penting untuk menciptakan surganya kita." Axel langsung meraup bibir Helena dengan rakusnya sampai terdengar cecapan-cecapan yang absurb.
"Berisik! Sebaiknya kau kembali ke ruanganmu, Hans," sahut Axel kesal karena aktivitasnya terganggu.
"Ini kan juga ruanganku," protes Hans.
"Terserah kau saja. Itu juga bagus untukmu untuk belajar. Kami akan mendemonstrasikannya secara langsung di depanmu. Jadi ketika kau menikah nanti, kau sudah cukup mahir meskipun masih amatiran," ucap Axel dengan santainya.
Hans membuang napasnya kasar. "Mengapa kalian tidak melakukannya di kamar khusus saja? Kalian itu menodai kejernihan mata suciku."
"Betul juga. Ayo sayang, kita memera wani kamar baru kita," ajak Axel.
Axel dan Helena segera beranjak menuju kamar khusus. "Makanya segera cari pasangan, supaya kau tidak terus-menerus mengenaskan seperti itu ketika melihat orang sedang bermesraan."
"Sudah pergi sana. Dasar bawel!" teriak Hans.
Hans memijit pelipisnya sambil memejamkan mata. Tak lama kemudian, kedua matanya terbuka kembali.
"Sial! Mengapa wajahnya sering muncul akhir-akhir ini? Mengesalkan!" gerutu Hans.
Siang harinya, Marco tiba di rumah dengan langkah gontai. Putri segera membuatkan minuman untuk suaminya. Marco menjatuhkan tubuhnya di atas sofa.
"Ini suamiku. Minumlah dulu," ucap Putri sambil menyerahkan secangkir teh hangat.
"Terima kasih, sayang. Anak-anak di mana?"
"Papa dan Ibu membawa mereka jalan-jalan di sekitar sini," jawab Putri. "Bagaimana dengan interviewnya? Apakah berjalan dengan lancar?"
Marco menghela napas panjang.
"Sepertinya tidak berjalan dengan baik ya. Tidak apa-apa sayang, mungkin memang belum rejekinya kita. Kamu jangan patah semangat ya," ucap Putri menenangkan.
Marco mengulum senyumnya. "Terima kasih Tuhan, Engkau telah memberikan istri terbaik untukku."
__ADS_1
Putri tersipu malu. Marco merapikan anak rambut Putri yang menutupi wajahnya lalu menggenggam tangan Putri.
"Alhamdulillah, aku diterima kerja di sana, sayang," ucap Marco.
Putri membulatkan matanya. "Apa kau serius, suamiku?"
Marco mengangguk. " Aku Serius. Mereka menjadikanku manager di perusahaan itu."
Putri tersenyum bahagia sambil menangis haru. Putri berhambur ke dalam pelukan suaminya.
"Alhamdulillah, selamat suamiku."
"Terima kasih sayang. Semua berkat doamu juga."
Marco mengurai pelukan mereka dan mencium kening Putri dengan lembut.
"Tapi mengapa kau pulang dengan wajah lesu?" cerca Putri.
Marco menghela napas pelan. "Karena interview kali ini merupakan interview terberat dalam hidupku. Ada empat executor sekaligus yang harus aku hadapi."
"Executor?"
Marco mengangguk. "Tuan Alexander Alvaro, Tuan Zaidan Malik Alvaro, Tuan Xavero Firdaus Alvaro, dan Tuan Narendra Arshaka Hermawan, ayah Helena."
Putri membelalakkan matanya. "Aku tidak bisa membayangkan jika berada di posisimu, suamiku."
Marco terkekeh. "Maka dari itu tenagaku terasa terkuras dalam seketika. Saat pertama masuk ruangan, jantungku terasa mau lepas begitu mendapatkan tatapan tajam dan dingin dari empat pasang mata."
Putri tidak bisa menahan tawanya. Dia bisa membayangkan jika suaminya itu pasti berwajah pucat dan mengeluarkan keringat dingin.
"Untuk tawaran yang diberikan oleh Jasmine, apa kau akan menerimanya?" tanya Marco.
Tawa Putri langsung berhenti. "Bagaimana menurutmu, suamiku?"
"Aku terserah padamu sayang. Jika kau menyukai pekerjaan itu, aku tak masalah. Tapi dengan syarat kau jangan sampai kelelahan karena harus menjaga anak-anak sambil bekerja," ucap Marco.
Putri tersenyum senang. "Terima kasih, suamiku. Aku berjanji, aku akan membagi waktuku dengan baik untuk bekerja dan untuk anak-anak."
"Jangan lupa juga, bagi waktumu untukku," protes Marco.
"Tentu saja. Bukankah kau sudah mempunyai waktu khususmu," sahut Putri sambil tersipu malu membuat Marco gemas.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel author lainnya:
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰
__ADS_1