Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Chapter 37. Perang Dimulai


__ADS_3

"Apa ponsel itu jauh lebih menarik dariku, suamiku?" tanya Helena dengan manjanya.


Axel mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Helena.


Glek!!!


Axel meneguk salivanya kasar dengan mata terbelalak. Ponselnya pun jatuh dari tangan Axel. Helena tersenyum nakal.


Dengan perlahan Helena naik ke atas ranjang dan merangkak naik ke atas tubuh Axel dengan gerakan er***s. Jantung Axel berdebar semakin kencang saat menatap dua b**h yang menggantung dan bergoyang dengan indahnya mendekat padanya. Helena duduk di pangkuan Axel.


"Apa kau senang sayang?" bisik Helena.


Axel mengangguk. Lidahnya terasa kelu.


"Malam ini biarkan aku yang memimpin. Aku akan memanjakan dan mem**skanmu sayang," ucap Helena dengan nada er***snya.


Axel tersenyum bahagia.


"As your wish, my queen," ucap Axel sambil meremas p*****l Helena.


Tanpa menunggu waktu lama, Helena langsung memberikan serangan mematikannya, membuat Axel benar-benar dimanjakan. Helena melucuti pakaian Axel satu persatu sampai tak bersisa. Axel menyentuh baju haram Helena, dan dengan satu tarikan baju saringan tahu itu terbelah menjadi dua.


Helena menc**m bibir Axel dengan rakusnya. Saat L-Na menyapa X-Lo, e*****n terus keluar dari bibir Axel. Keduanya terus berpacu dengan peluh yang terus mengalir sampai mendapatkan puncak ken*k**t*n bersama.


Helena menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Axel, dan napas keduanya terengah-engah.


"Kau luar biasa sekali sayang. Terima kasih," ucap Axel sambil tersenyum puas.


"Siapa yang sudah mengajarimu menjadi liar seperti ini, El?" tanya Axel sambil mengatur napasnya.


Helena mengangkat wajahnya dan tersenyum.


"Ibu mertuaku tersayang," jawab Helena.


"Mama?" tanya Axel tak percaya.


Helena mengangguk.


"Saat kita tiba di Indonesia nanti, aku akan langsung bersujud dan mencium kaki Mama sebagai ucapan terima kasihku," ucap Axel sambil tertawa


Helena terkekeh.


"Aku sudah berbaik hati memberikan kesempatan padamu untuk beristirahat malam ini. Tapi kamu sendiri yang menawarkan diri. Kamu tahu kan kalau aku tidak akan cukup hanya dengan satu ronde saja," ucap Axel dengan tatapan nakalnya.


"Aku tahu," lirih Helena sambil menggigit bibir bawahnya.


Axel langsung mengangkat tubuh Helena dan merubah posisi mereka, Helena berada di bawah tanpa melepaskan penyatuan X-Lo dan L-Na. Tak mau menunggu jeda lebih lama lagi, Axel melanjutkan pertempuran ke ronde-ronde selanjutnya.


Di hari-hari selanjutnya, Axel membawa Helena menikmati keindahan beberapa negara di benua Eropa secara bergantian. Axel juga mengajak Helena menikmati Aurora Borealis (fenomena cahaya yang menyala-nyala pada lapisan ionosfer bumi) di Islandia.


Keduanya menghabiskan waktu hampir 1 bulan lamanya berkeliling Eropa. Akhirnya, Axel dan Helena sepakat untuk kembali ke Indonesia dan mengakhiri perjalanan bulan madu mereka. Helena sangat memahami jika suaminya memiliki tanggung jawab yang besar sebagai CEO dari perusahaan Alvaro Group.


Setibanya di Indonesia, Axel langsung membawa Helena pulang ke mansion Alvaro. Seluruh keluarga besar Alvaro menyambut kedatangan mereka dengan penuh kebahagiaan.


"Assalamualaikum, semuanya," salam Axel dengan raut wajah bahagia.


"Waalaikumsalam," jawab Tuan Alex dan Nyonya Savira.


"Bagaimana kabar Opa dan Oma?" tanya Helena.


"Alhamdulillah kami baik, Nak," jawab Nyonya Savira. "Kalian sendiri bagaimana? Lancar bulan madunya?"


"Baik sekali Oma," jawab Axel tegas.


Tuan Alex dan Nyonya Savira tertawa, sedangkan Helena tersenyum malu.


Zayn dan Aline segera pulang ke mansion Alvaro untuk menemui anak dan menantu mereka.


"Kenapa sudah pulang? Katanya kalian mau berbulan madu sampai cucu Papa dan Mama lahir," goda Zayn.


"Maunya sih begitu, Pa. Tapi istriku ini khawatir uangku habis jika tidak segera kembali bekerja," jawab Axel.


Helena memberikan pelototan matanya.


"Bercanda sayang," ucap Axel sambil memeluk pinggang Helena.


Axel berjongkok di hadapan ibunya, Aline, lalu mencium kaki ibunya. Aline membelalakkan matanya, terkejut tiba-tiba putranya mencium kakinya. Dan semua yang berada di sana pun dibuat terkejut. Kemudian Axel bangun dan memeluk ibunya.


"Terima kasih ya, Ma, sudah memberikan petuah yang baik untuk Helena," ucap Axel pelan.


"Sama-sama, Nak. Semoga kalian selalu bahagia," ucap Aline terkekeh.


"Apa kau menyukainya?" ledek Aline.


"Amat sangat sekali," jawab Axel.


Ibu dan anak itu pun tertawa dan membuat orang lain bingung.


"Opa doakan semoga kalian segera mendapatkan keturunan, biar bisa main sama Opa dan Oma. Kami merindukan kehadiran bayi di mansion ini," ucap Tuan Alex.


"Aamiin, Opa," ucap Helena sambil memaksakan senyumnya.

__ADS_1


Dalam hati Helena merasa tidak enak kepada orang-orang terkasih yang ada di hadapannya saat ini, karena belum bisa memenuhi keinginan mereka untuk mengandung dan memiliki anak bersama Axel.


Axel melihat ke arah Helena dan menyadari apa yang saat kini Helena rasakan. Axel tahu jika Helena masih meminum obat yang Helena ketahui sebagai obat pencegah kehamilan. Axel paham jika Helena belum ingin memiliki anak saat ini, karena Helana masih belum percaya sepenuhnya pada dirinya. Masih ada Marissa di dalam hubungan mereka.


Axel dan Helena menginap di mansion orang tua Axel. Axel yakin jika Marissa masih mengawasi mansionnya. Axel tidak ingin keselamatan Helena terancam.


"Aku harus segera menyelesaikan masalahku dengan Marissa. Aku tidak ingin kehilangan Helena lagi. Aku akan menghadapi Marissa besok dengan sosok Axel yang sebenarnya," gumam Axel sambil mengeraskan rahangnya.


Keesokan harinya Axel dan Helena kembali dengan kesibukan mereka. Axel mengantarkan Helena ke rumah sakit, bahkan sampai ke dalam ruangan barunya. Selama perjalanan dari lobby sampai ruangannya, Helena mendapatkan ucapan selamat datang dari teman-teman kerjanya dan para karyawan yang ada di rumah sakit. Dokter Narita juga memberikan pelukan selamat datang kepada Axel dan Helena.


Reymond dan Aisya mengucapkan selamat datang kepada Helena.


"Selamat datang kembali teman baikku, yang sekarang sudah menjadi bosku," ucap Aisya sambil terkekeh.


"Terima kasih Aisya. Tapi kita masih tetap berteman baik, kan? Aku tetaplah seorang dokter di sini sama seperti kalian," ucap Helena.


"Sampai kapanpun kau akan tetap menjadi teman baikku, Nyonya Muda Alvaro," ucap Aisya menggoda.


Helena memeluk Aisya.


"Selamat datang Helen. Aku doakan semoga kegiatan bulan madu panjangmu membuahkan hasil. Jika tidak, itu artinya suamimu ini pria yang lemah karena tidak sanggup membuat perutmu menggelembung. Dan kau bisa segera mendatangiku. Aku siap menerimamu," ucap Reymond yang sengaja menggoda Axel.


"Jaga bicaramu dokter! Kami pria Alvaro adalah pria tangguh bukan pria lemah sepertimu," sahut Axel kesal.


Reymond hanya memberikan cibiran. Tak lama kemudian Reymond tertawa dan melangkah pergi mengabaikan wajah Axel yang memerah karena marah. Reymond puas melihat wajah kesal Axel. Aisya juga permisi untuk melanjutkan pekerjaannya.


Axel langsung menutup pintu ruangan Helena.


"Kau jangan dekat-dekatnya. Aku tidak suka," ucap Axel cemberut.


Helena hanya memutar bola matanya malas.


"Ayolah, Xel. Kontrol cemburumu itu. Aku yakin Rey tidak akan macam-macam. Dia hanya menggodamu," ucap Helena.


Axel masih setia dengan wajah kesalnya. Helena melingkarkan kedua tangannya di pinggang seksi Axel.


"Sebaiknya suamiku ini segera berangkat ke kantor dan bekerja keraslah. Karena istrimu ini sudah tidak sabar untuk menghambur-hamburkan uangmu lagi," ucap Helena sambil tersenyum miring.


Axel terkekeh. Rasa kesalnya seketika menguap.


"Siap, ratuku! Aku akan bekerja keras untukmu dan calon-calon anak kita nanti. Tapi sebelum berangkat aku ingin mendapatkan vitaminku dulu," ucap Axel.


Axel menarik dagu Helena dan meraup bibir Helena dengan lembut. Axel mengerang dan melepaskan tautan bibir mereka, karena X-Lo bangun dan membuat celananya sesak.


Helena tak bisa menahan tawanya.


"Baiklah, aku berangkat kerja dulu. Nanti pulangnya aku jemput," ujar Axel.


"Assalamualaikum, istriku," ucap Axel.


"Waalaikumsalam, suamiku. Hati-hati ya," jawab Helena.


Axel segera keluar dari rumah sakit dan masuk ke dalam mobil, dengan William dan Irene sudah menunggu di kursi depan.


"Kita berangkat ke kantor, Tuan?" tanya Irene.


"Tidak! Kita ke apartemen Marissa. Kita akhiri drama ini. Dan kita mulai peperangan," jawab Axel.


"Tapi orang yang bekerja sama dengan Marissa belum muncul," sahut William.


"Aku yakin dia akan segera menampakkan dirinya saat Marissa sedang kalut dan rapuh," tegas Axel dengan wajah dinginnya.


William mengangguk setuju. William segera melajukan mobil mereka.


Marissa mendengar bel apartemennya berbunyi. Marissa segera membukakan pintu. Marissa terkejut dan bahagia bukan kepalang saat mengetahui Axel datang dan berdiri di hadapannya.


"Axel!" seru Marissa.


Marissa langsung berlari dan hendak memeluk Axel, namun gerakannya terhenti karena Irene menghalanginya.


"Minggir kau! Lepaskan aku! Kau pikir siapa dirimu?" bentak Marissa.


Irene semakin mengeratkan cekalan tangannya.


"Irene! Bawa wanita ini masuk!" perintah Axel.


"A-axel!" Marissa tak percaya Axel menatapnya dingin.


Irene menarik Marissa masuk ke dalam apartemen. Axel dan William juga melangkah masuk ke dalam apartemen. Axel duduk di sofa dan William berdiri di sampingnya. Irene melepaskan cekalannya.


"Ada apa ini, Axel?" tanya Marissa tak mengerti.


"Duduk!" bentak Axel.


Marissa terkejut dan langsung duduk.


"Will!" seru Axel.


William langsung mengeluarkan map dari dalam tas kerjanya dan menyerahkannya pada Axel. Axel melihatnya sekilas, lalu melemparnya tepat di depan Marissa.


"Apa ini?" tanya Marissa.

__ADS_1


"Silakan dibuka," ucap Axel.


Marissa membuka map itu dan melihat apa yang ada di dalamnya. Matanya membulat dan wajahnya mulai memucat.


"A-apa ini, Axel? Aku tidak mengerti," ucap Marissa sambil tersenyum untuk menutupi kegugupannya.


"Sudah jelas sekali. Itu adalah pesan yang dikirimkan kepada Helena beberapa tahun yang lalu menggunakan nomor ponselku sehingga membuat hubungan kami hancur," ujar Axel.


"T-tapi apa hubungannya denganku, Axel?" tanya Marissa pura-pura tidak mengerti.


"Sudah cukup dramamu Marissa. Atau, aku harus memanggilmu dengan nama Putri?" jawab Axel sambil menyeringai.


Tubuh Marissa seketika gemetar ketakutan.


"Tidak mungkin! Tidak mungkin Axel mengetahuinya," batin Marissa.


Axel menarik satu ujung bibirnya ke atas.


"Benar. Aku mengetahuinya," ucap Axel.


Marissa membelalakkan matanya tak percaya.


"Aku mengetahui semuanya jika kau bukanlah Marissa yang asli, tapi wanita yang berpura-pura menjadi Marissa dan menggantikan posisinya. Namamu yang sebenarnya adalah Putri."


"Aku juga tahu kau telah memberiku serbuk putih semacam racun arsenik untuk melemahkan otakku sehingga kau bisa mengendalikanku semaumu."


"Dan aku juga tahu tentang hubungan cintamu dengan pria bernama Javier Alonso." ucap Axel sambil menunjukkan foto-foto mesra Putri dan Javier.


"Benar-benar menjijikkan!" hina Axel.


Marissa (Putri) benar-benar tak bisa percaya jika Axel mengetahui semua rahasianya. Air mata Putri mulai berjatuhan.


"A-aku bisa jelaskan. Itu semua tidak seperti yang kau pikirkan. Semua yang ku lakukan karena aku sangat mencintaimu, Axel. Aku mohon percayalah padaku. Aku juga tahu, jika kau juga mencintaiku," ucap Putri dengan wajah memohon.


"Omong kosong! Tidak ada cinta di antara kita. Yang ada hanya obsesimu dan kebodohanku karena ulahmu. Sejak dulu sampai sekarang, hanya ada satu wanita yang ada di hatiku, yaitu istriku Helena," ucap Axel.


Putri menggelengkan kepalanya tak terima.


"Tidak! Itu tidak benar. Aku yakin sekali kalau kau mencintaiku. Kita sudah bertunangan dan kita akan menikah," elak Putri.


"Aku tidak sudi menikahi wanita m*****n sepertimu," ucap Axel dengan tatapan penuh kebencian.


Tangis Putri semakin pecah.


"Aku berbaik hati menyedekahkan apartemen ini untukmu karena setiap sudut ruangan ini ada bekasmu. Aku tidak sudi memilikinya lagi," ucap Axel dingin.


"Kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Mulai sekarang jangan pernah muncul lagi di hadapanku, istriku dan keluargaku. Jika kau tidak mengindahkannya, aku tidak akan bersikap baik lagi. Aku pastikan akan memberimu pelajaran yang akan kau sesali seumur hidupmu!" ancam Axel.


Axel segera berdiri dan keluar dari apartemen itu. William dan Irene mengikutinya dari belakang.


"Mengapa kita tidak langsung memberinya pelajaran, Tuan?" tanya Irene saat keduanya berada di dalam lift.


"Bersabarlah. Kita tunggu otak dibalik semua ini muncul. Dan aku yakin kurang dari 24 jam, orang itu akan keluar dari persembunyiannya," jawab Axel dengan tatapan tajamnya.


"Perintahkan anak buah kita untuk selalu mengawasi wanita itu!" perintah Axel.


"Baik, Tuan," seru William dan Irene.


Setelah kepergian Axel, Putri mengamuk sejadinya. Dia melempar dan membuang barang-barang yang ada di sana. Putri menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Putri menangis sambil meraung. Dia tidak sanggup kehilangan Axel.


Putri mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Halo, Ma. Axel telah mengetahui segalanya. Axel meninggalkanku," adu Putri.


"Dasar bodoh! Bagaimana dia bisa mengetahuinya? Kau benar-benar bodoh Putri!" umpat seorang wanita dari sebarang telpon.


"Sekarang juga Mama berangkat. Jangan berbuat hal bodoh dan tunggu Mama datang," ucap wanita itu, lalu memutuskan panggilan telpon mereka.


Putri menangis sambil memeluk kedua lututnya.


"Aku membutuhkan pelukan Mama sekarang, bukan umpatan penuh kemarahan," pekik Putri dalam tangisnya.


...🌹🌹🌹...


Perang sudah dimulai😡😠


Baca juga novel pertama author :


"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹

__ADS_1


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2