Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku

Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil)Ku
Season 2. Jasmine dan Kisah Cintanya 33 (Rencana Evan dan Jasmine)


__ADS_3

Jasmine berdiri memandangi derasnya air hujan dari balik kaca riben besar yang ada di suite tempatnya menginap, sambil memeluk tubuhnya sendiri merasakan udara yang semakin dingin. Jasmine dan Evan terpaksa membatalkan semua rencana jalan-jalan yang semula sudah mereka rencanakan. Keduanya memutuskan untuk tetap tinggal di kamar hotel, karena hujan turun dengan desarnya sejak pagi.


Evan mendekat dan memeluknya dari belakang. Evan mencium bahu Jasmine dan menghirup aroma tubuhnya yang sudah menjadi candu baginya.


"Apa kau merasa bosan?" tanya Evan.


Jasmine menggeleng. Dia menoleh sambil tersenyum.


"Aku tidak bosan. Aku hanya sedang menikmati pemandangan hujan yang ada di luar sana, yang telah membuat udara menjadi dingin sekali," jawab Jasmine.


"Apakah penghangat ruangannya tidak bekerja dengan baik?"


"Penghangat ruangannya baik-baik saja. Hanya saja udaranya memang terasa sangat dingin," ucap Jasmine sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Evan.


"Bagaimana kalau kita buat udara dingin ini menjadi panas?" usul Evan dengan senyum nackalnya.


Jasmine menyerngitkan dahinya. Tanpa aba-aba, Evan langsung mel umat bibirnya. Kedua tangan Jasmine berpegangan pada bahu Evan agar tubuhnya tidak merosot ke bawah karena merasakan kakinya yang mulai lemas.


"Aku menginginkanmu sayang," bisik Evan yang sontak membuat bulu romanya berdiri.


Evan mengangkat wajah Jasmine, sehingga mata keduanya bertemu. Jasmine menelan salivanya kasar saat Evan menatapnya dengan intèns dan memohon. Jasmine mengalungkan kedua tangannya di leher Evan, lalu melompat dan melingkarkan kedua kakinya di pinggang kokoh Evan. Evan berjalan menuju ranjang sambil membopong tubuh Jasmine, dan pastinya dengan kedua bibir mereka yang saling bertautan dan saling menyesap dengan rakusnya.


Evan meletakkan tubuh Jasmine dengan perlahan di atas ranjang. Tak butuh lama, baju yang mereka kenakan sudah terlepas tak tersisa. Tanpa menahan lagi, Evan segera memberikan sentuhan-sentuhan memabukkannya dan berhasil membuat Jasmine mende sah dan meracau. Jasmine semakin tak kuasa menahan saat Evan memainkan dua bukit menantangnya.


"Evan, please," mohon Jasmine.


"As you wish, my sunshine," jawab Evan.


Kedua insan yang dimabuk asmara itu melenguh keras saat junior Evan kembali masuk ke dalam sarangnya. Keduanya saling berpacu dengan peluh yang terus mengalir demi mendapatkan puncak kenikmatan surga dunia. Udara yang awalnya terasa dingin seketika berubah menjadi panas sesuai ucapan Evan. Tubuh Evan akhirnya tumbang saat keduanya sudah bergumul selama hampir dua jam lamanya.


Mata Jasmine masih terpejam dengan napas terengah-engah menikmati sisa gelombang kenikmatan ketiganya yang telah dia raih. Evan tersenyum puas melihatnya. Evan mengusap wajah Jasmine yang penuh peluh dengan lembut.


"Apa kau menikmatinya, my sunshine?" lirih Evan.


Jasmine mengangguk dengan napas yang masih terengah.


"Apa kau mau mengulanginya lagi?"


Jasmine langsung membuka matanya dan melotot ke arah Evan. Evan tak bisa menahan tawanya.


"Aku hanya bercanda sayang," ucap Evan sambil mengecup bibir Jasmine sekilas.


"Hah, syukurlah. Aku tidak bisa membayangkan jika kau mengulanginya lagi. Pinggangku terasa pegal, dan milikku juga masih terasa perih," lirih Jasmine sambil menunduk malu.


"Kau sangat menggemaskan istriku. Rasanya aku ingin memakanmu terus menerus."


Jasmine mendengus kesal dan segera bangkit.


"Kau mau ke mana? Jangan marah seperti itu sayang," tanya Evan.


"Aku mau mandi. Aku tidak nyaman dengan tubuh lengket seperti ini," jawan Jasmine.


"Kita mandi bersama," sahut.


Jasmine langsung mendelikkan matanya.


"Hanya mandi sayang. Aku janji tidak akan macam-macam," ucap Evan.

__ADS_1


"Apa kau serius?" tanya Jasmine sambil menyipitkan matanya.


Evan mengangkat tubuh Jasmine dan berjalan menuju kamar mandi.


"Ya istriku tercinta. Aku janji tidak akan nakal saat ini. Nakalnya nanti malam lagi," ucap Evan dengan santainya dan sontak membuat Jasmine langsung mencubit pinggang kokoh dan tak ada lemak jenuh milik Evan.


"Evan. Kita akan tinggal di mana nanti?" tanya Jasmine.


Keduanya sedang duduk sambil berpelukan di atas sofa.


"Kita akan tinggal di mana pun yang kau inginkan, sayang. Katakan apa yang kau inginkan. Kita sudah menjadi suami istri dan berpartner sekarang, aku ingin kita saling terbuka," jawab Evan.


Jasmine diam dan menarik napasnya pelan, lalu menatap wajah suaminya lekat.


"Aku ingin melanjutkan pendidikan S3-ku," ucap Jasmine sedikit ragu.


Evan terkejut dan melebarkan matanya, membuat Jasmine sedikit tak enak hati.


"Apa kau serius?" tanya Evan dingin.


Jasmine menganggukkan kepalanya pelan. Evan menggenggam tangan Jasmine.


"Bagaimana kalau kita sekolah bersama?" usul Evan sambil tersenyum.


"Itu yang selalu aku harapkan," jawab Jasmine dengan senyum bahagia.


"Lalu kau ingin kita sekolah di mana?" tanya Evan.


"Harvard University. Bulan depan ujian seleksinya akan dilaksanakan," jawab Jasmine mantap.


"Jadi kau sudah mempersiapkan semuanya tanpa sepengetahuanku," ucap Evan sambil menyipitkan matanya.


"Tuhan sungguh Maha Besar karena telah memberikanku pendamping hidup yang luar biasa, yang akan selalu aku syukuri," ucap Evan lalu mencium kening istrinya.


"Tapi, sebaiknya kita bicarakan terlebih dahulu dengan keluarga besar kita. Bagaimanapun juga restu orang tua kita yang akan mengantarkan dan menunjukkan kita ke jalan yang diridhoi Tuhan."


"Tentu saja. Sepulang dari sini kita bicarakan dengan Papa, Mama, Daddy dan Mommy, serta para kakek dan nenek. Aku juga ingin mendengarkan pendapat mereka. Terima kasih suamiku karena kau telah memenuhi keinginanku. I love you," ucap Jasmine sambil memeluk erat tubuh suaminya.


"Terima kasih kembali. Apapun akan aku lakukan untuk membuatmu bahagia menjadi istriku, my sunshine. I love you, too," ucap Evan.


...***...


"Jadi kalian ingin tinggal di Amerika?" tanya Tuan Zayn dingin.


Saat ini Evan dan Jasmine sedang melakukan pertemuan penting dengan keluarga besar Alvaro dan Sahir, di mansion Alvaro.


"Lebih tepatnya, kami ingin melanjutkan pendidikan kami di sana, Pa," terang Jasmine dengan wajah tegang.


"Lalu, bagaimana dengan The Sahir Cooperation, Evan? Apa kau sudah memikirkannya dengan matang?" tanya Tuan Farhan.


"Evan sudah memikirkannya, Dad. Posisi pemimpin di perusahaan utama sudah berada di tangan Kak Cemal. Untuk cabang yang ada di sini, Evan kembalikan kepada Daddy. Lagipula Selma juga sudah mulai belajar memegang tanggung jawabnya di perusahaan kita. Evan yakin Selma akan membantu Daddy dan Kak Cemal membangun perusahaan keluarga kita dengan baik," jawab Evan.


"Dan kau akan menjadi pengangguran selama di sana?" tanya Tuan Zayn tajam.


"Tidak Pa. Evan dan Jasmine berencana membangun usaha kami sendiri. Selama setahun ini Evan membuka usaha di bidang jasa arsitektur secara online. Memang tidak besar, karena waktu Evan lebih banyak difokuskan untuk kemajuan perusahaan. Jadi selama kami berada di sana, kami ingin mengembangkan usaha itu. Evan tahu tugas dan tanggung jawab sebagai suami, Pa. Evan tidak akan membiarkan Jasmine kelaparan dan kekurangan suatu apapun, Pa," terang Evan.


"Kami tidak akan sepenuhnya lepas dari Alvaro Group atau The Sahir Cooperation. Jika perusahaan membutuhkan bantuan, kami siap untuk bergabung kembali," tambah Jasmine.

__ADS_1


"Bagaimana jika Tuhan memberikan rejeki dan kau hamil nanti? Apa kau bisa menjalani kehamilanmu sambil belajar dan bekerja, sayang?" tanya Nyonya Aline.


"Mama tenang saja. Jika Tuhan memberikan rejeki yang luar biasa itu, insyaAllah akan menambah semangat untuk Jasmine dan Evan. Dan pastinya Jasmine akan lebih berhati-hati dan Evan juga akan menjadi suami yang sangat siaga nantinya," jawab Jasmine meyakinkan.


Tuan Zayn menghela napas panjang. "Bagaimana menurutmu Axel?"


"Axel sudah memeriksanya dan ini hasilnya, Pa. Meskipun usaha Evan di bidang arsitektur belum cukup besar, tapi peminatnya cukup banyak dan sebagian besar dari perusahaan besar yang ada Indonesia dan luar negeri. Sayangnya, banyak dari permintaan mereka yang telah ditolak oleh Evan," terang Axel sambil menunjukkan laporan kepada Tuan Zayn dan semua anggota keluarga.


"Sebenarnya bukan menolak, Kak, hanya aku pending dulu. Dan rencananya aku akan melanjutkan kerja sama dengan mereka nantinya, sebagai awal dibangunnya perusahaan baru kami," jelas Evan.


Tuan Zayn dan Tuan Alex melihat beberapa hasil rancangan bangunan yang Evan buat, serta sebuah penthouse mewah yang Evan beli dari hasil usahanya itu. Tuan Zayn dan Tuan Alex dibuat terkesan.


"Ini rancangan yang luar biasa, Evan," puji Tuan Alex.


"Terima kasih, Opa," ucap Evan sambil tersenyum.


"Baiklah, Papa setuju dan akan memberikan modal untuk kalian. Dan Papa tidak menerima penolakan," tegas Tuan Zayn.


"Daddy juga akan melakukan hal yang sama, karena kami tidak ingin anak-anak kami mengalami kesulitan selama di sana," sahut Tuan Farhan.


Evan dan Jasmine saling berpandangan.


"Kami tidak bermaksud meremehkan kemampuan kalian berdua. Jadikan ini sebagai penyemangat kalian dan buktikan bahwa kalian mampu menggunakan dan mengembangkan modal yang kami berikan dengan keberhasilan yang akan kalian raih nantinya," ucap Tuan Zayn.


"Grandpa setuju. Setidaknya kami bisa merasa tenang melepas kalian untuk tinggal jauh dari kami," ujar Tuan Kareem.


"Baiklah kami setuju. Terima kasih Papa, Daddy dan semuanya," ucap Evan sambil menggenggam tangan Jasmine.


"Dan selama kalian tinggal di Amerika, Opa ingin kalian menempati rumah yang dulu pernah Opa tinggali selama belajar di sana. Opa sudah merenovasi rumah itu menjadi sebuah mansion, meskipun tak sebesar mansion keluarga kita yang lain," ujar Tuan Alex.


"Tapi tempat itu menyimpan banyak kenangan kami berdua. Oma berharap kalian juga bisa membuat kenangan kalian di sana," sahut Nyonya Savira.


Evan dan Jasmine mengangguk setuju. Keduanya tidak ingin mengecewakan hati orang-orang yang sangat menyayangi mereka.


"Kami janji akan merawat mansion itu dan semua kenangan yang ada di sana dengan baik, Opa, Oma," ucap Jasmine.


Evan dan Jasmine sangat bahagia karena keluarga besar mereka telah setuju dan merestui rencana kuliah dan usaha baru yang akan mereka bangun nantinya. Keduanya pun fokus dan mempersiapkan diri untuk ujian seleksi masuk Harvard University.


Bersambung ....


...🌹🌹🌹...


Baca juga novel author lainnya:


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. I'm The Unstoppable Queen


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖

__ADS_1


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰


__ADS_2