
Neil masuk ke dalam kamar Emily sambil membawa nampan berisi sepiring makanan dan segelas susu. Neil meletakkan nampan itu di atas meja, dan menghampiri Emily yang berdiri di samping jendela. Neil melihat ke arah pandangan mata Emily, yaitu Aiden yang masih duduk di depan toko tanpa berpindah sedikitpun.
"Apa Kakak yakin akan membiarkannya berada di luar sampai pagi? Udara di luar dingin sekali," tanya Neil.
"Apa peduliku? Itu kemauannya sendiri," jawab Emily.
Emily berpindah, kemudian duduk menghadap meja dan melahap makanannya secara perlahan. Sebenarnya Emily enggan makan, tapi mengingat bayi dalam kandungannya dia memaksakan dirinya untuk makan.
"Kak. Dia belum makan sama sekali sejak tadi siang. Bagaimana kalau dia sampai mati kelaparan?" tanya Neil lagi.
Emily menghentikan aktivitas sendok dan garpunya, lalu menatap adiknya.
"Hello. Dia itu orang kaya dan bukan gelandangan atau pengemis. Kalau dia lapar kan, dia bisa beli makanan. Beli wanita saja sanggup, mustahilkan dia tidak sanggup membeli makanan," jawab Emily ketus.
"Kalau kau ingin terus membahas pria itu, sebaiknya kau keluar saja dan temani dia," ucap Emily lagi.
Neil membelalakkan matanya.
"Aku kembali ke kamar dulu, Kak. Ada tugas yang harus aku kerjakan," ucap Neil.
Neil segera keluar dari kamar Emily. Sedangkan Emily melanjutkan kegiatan makan malamnya. Emily mengunyah makanannya sambil menangis.
"Apa yang harus Mommy lakukan, sayang?" tanya Emily sambil mengusap perutnya.
Emily menyeka air matanya dan segera meminum susunya. Emily membawa piring dan gelas kotor ke dapur dan mencucinya. Kemudian Emily menyalakan kompor dan memanaskan air. Emily membuat minuman coklat panas.
"Kakak membuat coklat panas ya. Minum coklat panas di malam yang dingin seperti ini memang paling nikmat," ucap Neil yang datang ke dapur untuk mengambil air minum.
"Berikan satu gelas untuknya, lalu suruh dia segera pergi dari sini," seru Emily sambil menyodorkan dua gelas coklat panas kepada Neil.
Emily melangkahkan kakinya menuju kamarnya.
Neil membuka pintu toko sambil membawa dua gelas coklat panas. Aiden tersentak saat mendengar suara pintu yang dibuka.
"Ini minumlah, supaya tubuhmu sedikit hangat," ucap Neil sambil menyerahkan segelas coklat panas itu kepada Aiden.
"Terima kasih," ucap Aiden sambil tersenyum.
Aiden meletakkan gelas itu di sampingnya.
"Kalau kau tidak meminumnya, Kakakku akan semakin marah. Dia sengaja membuatkannya untukmu," ucap Neil.
Seketika Aiden langsung mengambil lagi gelas itu dan meneguk coklat panasnya.
"Aahhh.... panas!" teriak Aiden saat merasakan lidahnya terbakar.
Neil terkekeh.
"Kau kan bisa meminumnya pelan-pelan. Orang kalau sudah jatuh cinta, hilang kewarasan otaknya," ejek Neil.
Aiden mengabaikan ejekan Neil karena merasakan lidahnya yang sakit.
"Sebaiknya kakak pergi dan carilah penginapan atau hotel di dekat sini, dan kembalilah besok pagi," ucap Neil.
Aiden menggeleng.
"Aku tidak akan pergi dari sini," jawab Aiden.
Neil hanya bisa menghela napas.
Emily memperhatikan percakapan mereka dari balik jendela kamarnya.
"Dasar keras kepala!" gerutu Emily.
Emily mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada Neil.
"Suruh dia masuk dan tidur di toko. Hanya sampai toko tidak lebih," pesan Emily.
Neil membaca pesan dari kakaknya dan menunjukkannya pada Aiden. Aiden pun tersenyum bahagia. Neil mengajak Aiden masuk ke dalam toko.
"Kau bisa tidur di sofa. Aku akan mengambilkan selimut untukmu," ucap Neil.
"Terima kasih banyak, adik ipar," ucap Aiden.
"Kau belum menjadi kakak iparku," sahut Neil.
"Tapi tak lama lagi aku akan menikahi kakakmu dan menjadi kakak iparmu," ucap Aiden.
Neil mengabaikan ucapan Aiden dan pergi ke kamarnya mengambil selimut untuk Aiden.
Emily merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sejak hamil, dia menjadi lebih cepat lelah dan mengantuk. Tak butuh waktu lama untuknya masuk ke alam mimpi.
...*****...
"Mommy," terdengar suara anak kecil memanggil.
"Mommy!" panggilnya lagi.
Emily mengerjapkan matanya. Dan tak lama kemudian dia membuka lebar kedua matanya.
"Aku di mana sekarang?" tanya Emily bingung.
Emily saat ini sedang duduk di taman yang penuh dengan bunga. Emily tersentak saat ada tangan mungil menyentuh tangannya.
"Mommy," panggil seorang gadis kecil berbaju putih.
"Oh, halo anak cantik. Sedang apa kau di sini sendirian? Dan kita berada di mana sekarang?" tanya Emily.
"Aku ke sini untuk menemuimu, Mommy. Aku adalah Angela, putrimu," jawab Angela.
"Angela?" sahut Emily.
"Ya Mommy. Angela adalah nama pemberian Daddy Aiden," ucap Angela sambil tersenyum manis.
Emily membulatkan matanya. Dia ingat Aiden pernah menyebutkan nama Angela.
"A-apa kau .... ?" tanya Emily tak percaya.
"Benar Mommy. Aku adalah putrimu, dan saudara kembarku masih tinggal di dalam perut Mommy," jawab Angela.
Mata Emily berkaca-kaca. Emily menakup wajah Angela yang mirip sekali dengan Aiden, hanya hidung dan bibirnya yang mirip dengannya.
"Apa kau benar-benar malaikat kecil Mommy?" tanya Emily.
__ADS_1
Angela mengangguk.
Emily langsung memeluk Angela dan memberikan ciuman di seluruh wajah mungil gadis cantik itu.
"Mommy merindukanmu, sayang. Momny sangat menyayangimu, juga saudaramu."
"Mengapa kau pergi meninggalkan Mommy dan saudaramu, sayang?" tanya Emily.
"Angela juga menyayangi Mommy, Daddy dan saudara kembarku. Tapi Tuhan terlalu menyayangi Angela, sehingga Tuhan mengambil Angela kembali untuk tinggal bersamanya di surga," jawab Angela.
"Maafkan Mommy yang tidak bisa menjagamu dengan baik," ucap Emily penuh sesal.
"Mommy tidak salah. Angela bahagia pernah menjadi bagian dari diri Mommy," jawab Angela.
"Angela mohon Mom, maafkan Daddy. Selama ini Daddy selalu mencari Mommy," mohon Angela.
"Angela sayang. Kau tidak mengerti sayang, masalah kami para orang dewasa," ucap Emily.
"Angela tahu Mommy. Daddy Aiden mencintai Mommy," jawab Angela.
Angela menyentuh dan mengusap perut Emily.
"Kami mohon, kami ingin melihat kalian hidup bersama. Kami mohon berikan kami keluarga yang utuh. Ijinkan kami merasakan kasih sayang Mommy dan Daddy," mohon Angela lagi dengan mata berkaca-kaca.
Emily tak sanggup melihat putrinya menangis.
"Mommy mohon jangan menangis sayang. Mommy minta maaf, jika Mommy terlalu egois."
"Apa kalian benar-benar akan bahagia jika Mommy dan Daddy bersama?" tanya Emily.
Angela mengangguk.
"Kami akan sangat bahagia, Mommy. Angela mohon terimalah Daddy," ucap Angela.
Emily mengangguk sambil tersenyum.
"Baiklah Angela sayang, Mommy akan menerima Daddy dan membuat kalian bahagia. Terima kasih, Angela. Mommy sangat menyayangimu," ucap Emily sambil mencium kening Angela.
"Angela juga sangat menyayangi, Mommy," Angela balas mencium pipi Emily dan memeluk tubuh Emily.
"Mommy. Temuilah Daddy sekarang juga. Jangan biarkan Daddy pergi. Kami sangat membutuhkan Daddy," ucap Angela.
"Ya sayang. Mommy akan melakukan apa pun yang kalian inginkan," ucap Emily.
Emily tersentak dari tidurnya sambil menangis. Emily segera bangun dan memanggil nama Angela di dalam kamarnya.
"Angela! Angela!" panggil Emily.
Namun tidak ada sahutan atau jawaban. Emily sadar jika dia baru saja bermimpi.
"Angela. Terima kasih sudah mau datang untuk menemui Mommy sayang," ucap Emily sambil terisak.
"Aiden!" seru Emily.
Emily berdiri secara perlahan dan mengambil jaket bulunya karena cuaca terasa sangat dingin. Emily melangkahkan kakinya menuju toko bunga. Saat Emily berada di sana Aiden sudah tidak ada.
"Aiden! Aiden! Kau di mana?" panggil Emily.
"Kakak!" seru Neil.
"Kak Aiden tidak berada di sini. Ayo ikut aku, Kak sebelum terlambat," ucap Neil.
Neil langsung mengajak Emily ke gudang belakang rumah. Emily terkejut. Di sana sudah ada banyak orang yang berkumpul, ada kedua pasang orang tuanya dan ada satu lagi sepasang suami istri dan seorang pria yang seusia dengan kakeknya. Tak lupa juga ada Axel dan Helena.
Emily semakin dibuat terperanjat saat melihat kedua ayahnya sedang memukuli Aiden. Terlihat ada beberapa luka lebam di wajah Aiden.
"Hentikan! Aku mohon hentikan!" teriak Emily.
Semua orang yang berada di ruangan itu tersentak dan melihat ke arah Emily. Tuan Andrew dan Tuan Thomas pun menghentikan pukulan mereka.
"Emily!" seru Nyonya Lily dan Nyonya Anne.
Emily melangkahkan kakinya mendekati Aiden dan kedua Daddynya.
"Emily mohon hentikan Daddy," mohon Emily kepada kedua ayahnya.
"Mengapa kau hentikan kami sayang? Pria ini memang pantas diberi pelajaran karena telah menyakiti putri kesayangan Daddy," ucap Tuan Andrew.
"Benar Emily sayang. Pria b******k seperti dia tidak pantas menjadi suamimu. Daddy akan mencarikan pria yang jauh lebih baik darinya untuk menjadi suamimu dan ayah dari bayi dalam kandunganmu," sahut Tuan Thomas.
"Tidak Dad. Emily tidak mau," jawab Emily.
Emily berdiri di depan Aiden dan berusaha menghadang ayah kandung dan ayah tirinya memukuli Aiden lagi.
"Minggirlah, Em. Aku memang pantas mendapatkan pukulan dari mereka," ucap Aiden.
"Cukup Aiden. Ini sudah cukup," jawab Emily.
"Emily mohon jangan sakiti Aiden lagi, Daddy," mohon Emily kepada kedua ayahnya.
"Minggirlah sayang, tangan Daddy masih gatal dan belum puas membuatnya menderita," ucap Tuan Andrew.
"Sudah cukup Dad. Jangan sakiti lagi ayah dari bayiku. Aku mohon," Emily terus memohon.
"Apa alasanmu? Bukankah kau tidak mencintainya dan tidak bersedia menikah dengannya?" tanya Tuan Thomas.
"Itu tidak benar, Dad. Aku mencintainya. Aku mencintai Aiden, Daddy. Aku mau menikah dengannya dan menjadi orang tua yang lengkap untuk anakku," ungkap Emily.
Aiden tersenyum bahagia. Dia langsung memeluk Emily dari belakang.
"Terima kasih, my love. Aku sangat mencintaimu," ucap Aiden.
Emily sedikit terkejut.
Tuan Andrew dan Tuan Thomas yang awalnya menunjukkan ekspresi marah berubah menjadi senyum bahagia.
"Kita akan segera menjadi besan Tuan Arnord," ucap Tuan Andrew sambil tersenyum ke arah Tuan Arnold.
Tuan Arnold langsung mendekat dan memeluk kedua calon besannya itu.
"Tentu saja Tuan. Putri kalian akan menjadi Nyonya Muda di keluarga Morris," ucap Tuan Arnold.
Nyonya Daisy juga berpelukan dengan Nyonya Lily dan Nyonya Anne dengan raut wajah penuh kebahagiaan.
__ADS_1
"A-ada apa ini? Mengapa kalian tiba-tiba saling berpelukan?" tanya Emily tak mengerti.
"Tentu saja mereka berpelukan karena bahagia, Nak. Kau akan menjadi bagian dari keluarga Morris," jawab Tuan Zibber.
"Aiden lepaskan pelukanmu! Kasian cucu menantuku dan calon cicit dalam perutnya. Mereka pasti merasa sesak karenamu. Minggir sana! Grandpa mau menyapa mereka," hardik Tuan Zibber.
Aiden terpaksa melepaskan pelukannya.
"Grandpa mengganggu saja," ucap Aiden kesal.
"Dasar cucu kurang asam!" umpat Tuan Zibber.
Tuan Zibber langsung memeluk calon cucu menantunya itu. Emily merasa sangat bahagia.
"Jadi, apa yang terjadi barusan hanya pura-pura?" tanya Emily.
Semuanya mengangguk dengan kompak.
Emily menatap Aiden dengan tajam. Lalu tangannya menyentuh wajah Aiden.
"Jadi ini hanya pura-pura," ucap Emily kesal sambil menekan luka lebam di wajah Aiden.
"Aarrgghh!!! Ini luka betulan. Sakit, my love," rengek Aiden.
Emily ikut meringis.
"Apa ini akibat pukulan kedua Daddyku?" tanya Emily.
Aiden menggeleng.
"Ini hasil kreasi kepalan tangan Daddy dan Grandpaku," jawab Aiden sambil tersenyum.
Emily membulatkan matanya.
"Itu tidak seberapa. Seharusnya Daddy hancurkan wajahnya yang mengesalkannya itu. Beraninya dia menyembunyikan calon cucu kami. Tapi Daddy juga tidak mau, Aiden menjadi pengantin dengan kondisi yang mengenaskan," ucap Tuan Arnold.
"Apa yang Daddy katakan benar, Emily sayang. Mommy juga geram sekali kepada anak Mommy ini," sahut Nyonya Daisy.
Aiden langsung berjongkok di depan Emily sambil mengeluarkan kotak kecil berwarna hitam yang berisi sebuah cincin bertabur berlian.
"Emily Michaela White. Bersediakah kau menikah denganku?" tanya Aiden.
Emily tersenyum.
"Apa aku boleh menjawab tidak?" ucap Emily.
"Tentu saja tidak," jawab Aiden dan semua yang ada di sana.
"Baiklah kalau begitu, aku bersedia," jawab Emily.
Aiden langsung memakaikan cincin itu di jari manis tangan kiri Emily.
"Terima kasih, my love," ucap Aiden sambil memeluk Emily.
Kemudian Nyonya Daisy juga memberikan pelukan kepada Emily.
"Terima kasih sudah bersedia menikah dengan Aiden, Emily," ucap Nyonya Daisy.
Emily hanya mengangguk sambil tersenyum.
"Emily, Kami juga merindukanmu, sayang," ucap Tuan Andrew.
Nyonya Daisy mengurai pelukan mereka, dan Emily langsung berlari ke dalam pelukan kedua ayahnya. Nyonya Lily dan Nyonya Anne mendekati mereka bertiga.
"Selamat ya sayang. Kami berbahagia untukmu dan calon cucu kami," ucap Nyonya Lily sambil mencium kening putrinya.
"Terima kasih, Mommy, kedua Daddyku dan Aunty," ucap Emily.
"Kalian mau menikah di mana? Daddy akan mempersiapkannya," tanya Tuan Arnold.
"Biarlah Emily yang memilih," sahut Aiden.
"Bolehkan kami menikah di sini saja? Maksudku di kota Madrid ini?" tanya Emily.
"As you wish, sweety," ucap Tuan Zibber.
Axel dan Helena juga memberikan selamat kepada Aiden dan Emily.
"Selamat Aiden," ucap Axel.
"Terima kasih saudaraku," jawab Aiden.
Keduanya saling berpelukan.
"Selamat ya sahabatku sayang. Akhirnya sold out juga," ucap Helena.
"Terima kasih, my bestie," ucap Emily sambil menangis haru.
Emily dan Aiden saling melempar senyum bahagia. Akhirnya mereka akan menikah dan tak akan terpisahkan lagi.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
Siap-siap Kondangan pemirsa...🤭🤭🤭
Baca juga novel pertama author :
"Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU"
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰
__ADS_1