
Hari berlalu begitu cepat. Kandungan Jasmine saat ini sudah memasuki bulan ke sembilan. Tinggal menunggu hari di mana si kembar akan hadir ke dunia ini. Jasmine juga sudah mengurangi aktivitasnya. Sejak dua bulan yang lalu, Jasmine berhenti bekerja agar bisa lebih fokus dan menikmati proses kehamilannya.
"Selamat pagi, my sunshine," sapa Evan sambil mengelus pipi mulus istrinya yang semakin menggembung itu.
"Selamat pagi suamiku sayang, Papa hebatnya si kembar," balas Jasmine sambil mengulum senyum.
Evan merosotkan tubuhnya sehingga wajahnya berhadapan langsung dengan perut buncit Jasmine.
"Assalamualaikum, anak-anak hebat Papa dan Mama. Kalian sehat terus ya di dalam sana dan jangan menyusahkan Mama kalian. Papa sudah tidak sabar ingin berjumpa dengan kalian," bisik Evan, lalu mencium perut Jasmine.
Pada saat Evan mencium perut Jasmine, tendangan-tendangan yang tepat mengenai bibirnya.
"Auhh!" Evan sontak mengaduh karena tendangan kedua bayinya cukup keras.
"Apa kau baik-baik saja, sayang?" tanya Jasmine sambil terkekeh.
"Ya," jawab Evan sambil mengusap bibirnya.
"Semakin hari tendangan mereka semakin kuat saja. Jangan-jangan kedua bayi kita ini calon bintang lapangan hijau sayang," lanjutnya.
"Itu bisa saja terjadi jika mereka laki-laki. Tapi jika perempuan, bagaimana?"
Selama ini Evan dan Jasmine memang sengaja tidak pernah menanyakan jenis kelamin kedua bayi mereka saat melakukan pemeriksaan rutin. Bagi Evan dan Jasmine apapun jenis kelaminnya tidak akan menjadi masalah, yang terpenting adalah kedua bayi kembar mereka sehat dan berkembang dengan baik.
"Jika mereka perempuan, aku yakin mereka pasti mewarisi jiwa executor sejatimu. Mereka akan menjadi gadis yang tangguh sepertimu."
"Benarkah? Kebanyakan orang mengatakan jika anak perempuan itu akan lebih mirip ayahnya daripada ibunya, begitu juga sebaliknya. Tapi aku juga tidak terlalu percaya dengan anggapan seperti itu. Karena Kak Axel sendiri jauh lebih mirip Papa daripada Mama. Bisa dikatakan bahwa Kak Axel merupakan foto kopian dari Papa," ujar Jasmine.
Evan terkekeh sambil mengangguk. Axel memang duplikat dari Tuan Zayn, bukan hanya dari segi fisik bahkan penyakit mysophobia dan couvade syndrome pun menurun kepada Axel.
"Apapun jenis kelaminnya, mereka adalah hasil kolaborasi kita berdua. Sebaiknya kita segera bangun sayang karena aku punya kejutan untukmu," ucap Evan.
"Kejutan? Di pagi hari?"
Evan mengangguk. Jasmine memicingkan kedua matanya dan menaruh curiga.
"Mengapa kau menatap curiga seperti itu? Kau tidak perlu khawatir, aku tidak akan melakukan apa yang ada dipikiranmu itu. Dasar Mamanya si kembar. Pagi-pagi sudah punya mesum," ejek Evan membuat Jasmine tersipu malu.
Keduanya segera bangun dan membersihkan diri, kemudian melaksanakan ibadah bersama.
"Kau ingin sarapan apa hari ini?" tanya Jasmine.
"Aku akan memakan semua makanan yang tersaji di meja makan," jawab Evan.
"Memangnya sudah ada makanan di meja makan?" tanya Jasmine yang dijawab dengan anggukan oleh Evan.
"Siapa yang sudah memasak di pagi seperti ini? Apakah Vira?" Jasmine semakin penasaran.
"Sebaiknya kita segera turun. Nanti kau juga akan tahu sayang."
Evan dan Jasmine turun ke lantai bawah menggunakan lift agar Jasmine tidak lelah naik turun tangga dengan perut buncitnya.
"Sayang, aku mencium bau masakan yang aromanya sangat menggoda. Ini bau rendang, kan? Huft..., membuatku semakin merindukan masakan Mama," celetuk Jasmine.
Evan hanya mengulum senyumnya tanpa menjawab. Keduanya segera melangkah menuju ruang makan begitu keluar dari lift. Samar-samar terdengar suara riuh dari arah ruang makan. Jasmine menyerngitkan dahinya dan mempercepat langkahnya.
"Siapa yang datang bertamu sepagi ini?" batinnya.
Begitu tiba di ruang makan, Jasmine mendapatkan kejutan yang luar biasa.
"Surprise!"
__ADS_1
Jasmine terbelalak dengan mulut terbuka. Keluarga besar Alvaro telah memenuhi ruang makan. Baru semalam Jasmine melakukan panggilan video dengan keluarganya karena dia sangat merindukan mereka. Dan pagi ini mereka sudah berada tepat di depan matanya.
"Apa aku sedang bermimpi Evan? Keluargaku ada di sini sekarang," ucap Jasmine yang masih belum percaya.
"Kau sudah bangun sepenuhnya sayang. Mereka memang berada di sini untukmu," jawab Evan dengan lembut.
Jasmine tersenyum sambil menitikkan air mata.
Nyonya Aline dan Tuan Zayn segera menghampirinya.
"Mama, Papa." Jasmine langsung memeluk kedua orang tuanya.
"Bagaimana kabarmu dan si kembar, sayang?" tanya Nyonya Aline.
"Alhamdulillah baik, Ma. Aku sangat merindukan Mama dan Papa, juga Opa dan Oma dan semuanya," jawab Jasmine sambil terisak.
"Hai, putri kesayangan Papa. Mengapa kau menangis? Apa kau tidak senang dengan keberadaan kami di sini?" goda Tuan Zayn.
"Aku menangis karena aku sangat bahagia melihat kalian semua ada di sini. Aku sangat merindukan kalian."
Tuan Zayn menghapus air mata putrinya dengan lembut lalu mengecup keningnya.
"Mengapa Papa, Mama, Opa, Oma, dan Kak Axel sekeluarga tidak memberitahuku jika kalian mau datang?" tanya Jasmine.
"Kami ingin memberikanmu kejutan. Kami juga merindukanmu sayang," jawab Nyonya Savira, Oma Jasmine.
Tuan Alex dan Nyonya Savira memeluk Jasmine secara bersamaan.
"Aku benar-benar merindukan kalian semua. Sejujurnya aku ingin pulang ke Indo, tapi kondisiku yang tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh. Dan Tuhan dengan baiknya telah mengirim kalian datang ke sini. Hatiku sangat bahagia," ungkap Jasmine.
"Kami tahu sayang. Evan sudah menceritakan semuanya kepada kami. Karena itulah kami segera berangkat ke sini untuk mengobati kerinduanmu," ucap Tuan Alex.
"Tentu saja tidak, adikku sayang. Kami sudah tiba di Amerika kemarin sore, dan singgah beberapa saat di apartemenku karena letaknya lebih dekat dengan bandara. Opa, Oma dan baby Triplets kelelahan setelah melakukan perjalanan yang cukup jauh. Setelah melepas lelah, kami langsung meluncur ke sini. Kamintiba tengah malam dan suamimu sendiri yang membukakan pintu untuk kami," jawab Axel.
Jasmine langsung berhambur ke dalam pelukan suaminya seraya berucap, "Terima kasih suamiku. Kau selalu membuat hatiku bahagia. Kau memang yang terbaik."
"Sama-sama. Apapun akan aku lakukan untuk membuatmu selalu tersenyum."
"Sebaiknya kita makan sekarang. Mama sudah membuatkan makanan kalian semua," ajak Nyonya Aline.
Evan dan Jasmine segera duduk. Yudistira, Vira dan Mark juga sudah ikut bergabung bersama mereka. Mereka menikmati rendang buatan Nyonya Aline dengan sangat lahap.
"Mengapa Pipi, Mimi dan Deffan tidak ikut datang ke sini?" tanya Jasmine.
"Vero sedang sibuk melatih Darren untuk memimpin salah satu perusahaan cabang Alvaro Group yang ada di Indo. Karena Axel sudah mulai kewalahan," ucap Tuan Alex.
"Menurutku itu bagus, Opa. Bukan hanya Papa dan Kak Axel yang akan selalu menjadi pemimpin, tetapi semua anggota keluarga Alvaro bisa menjadi pemimpin. Cabang perusahaan keluarga kita kan banyak Opa," ujar Jasmine.
"Kami juga sependapat denganmu sayang. Karena itulah, setelah Darren menyelesaikan pendidikan masternya kami memberinya tanggung jawab untuk memimpin salah satu perusahaan cabang," sambung Tuan Zayn.
"Aargh!" Jasmine memegangi perutnya sambil meringis membuat semua orang menjadi panik.
"Apa kau mengalami kontraksi?" tanya Helena yang dijawab anggukan oleh Jasmine.
"Akhir-akhir ini aku sering mengalami kontraksi palsu, Kak. Dokter bilang tidak apa-apa, karena usia kandunganku kan sudah mendekati waktu melahirkan."
Jasmine sudah terlihat santai kembali.
"Kau harus terus berada di samping Jasmine, Evan. Karena Jasmine bisa melahirkan kapan saja," ultimatum Tuan Zayn.
"Ya, Pa. Sudah seminggu ini Evan tidak pergi ke kantor supaya bisa terus mendampingi Jasmine. Urusan kantor telah Evan serahkan kepada Yudi," jawab Evan.
__ADS_1
Tuan Zayn mengangguk.
"Sebaiknya kau istirahat saja, sayang. Ayo, Oma antarkan ke kamarmu," bujuk Nyonya Savira.
"Tidak Oma. Aku bosan di kamar terus. Aku ingin berjemur di taman," jawab Jasmine.
"Ayo aunty, kita ke taman. Aku juga ingin bermain dan mewarnai gambar di taman," ajak Arsyilla dengan penuh semangat sambil menggandengan tangan kedua kakak kembarnya.
Siang harinya, Axel tiba di mansion dengan wajah lesu dan sedikit pucat.
"Ada apa sayang? Apa kau sakit?" tanya Helena cemas.
"Wajah kakak sedikit pucat," sahut Jasmine.
"Entahlah, tiba-tiba kepalaku terasa pusing," jawab Axel sambil menyandarkan tubuhnya di atas sofa.
"Kau pasti kelelahan, karena banyak pekerjaan yang harus kau selesikan. Bahkan kau membawa pekerjaanmu pulang beberapa hari ini," ucap Helena.
Helena menyentuh dahi Axel dan bersyukur suaminya tidak mengalami demam.
"Maaf ya sayang, jika aku harus sering lembur akhir-akhir ini." Axel merasa sangat bersalah.
"Aku tidak permasalahkannya, sayang. Aku hanya mengkhawatirkan kesehatanmu," sahut Helena.
Axel tersenyum lalu mengandarkan kepalanya do bahu Helena.
"Aargh!" teriak Jasmine mengejutkan Axel dan Helena.
"Apa kau mengalami kontraksi palsu lagi?" tanya Helena.
"Ya, Kak. Tapi ini lebih sakit dari biasanya. Sepertinya aku akan melahirkan," rintih Jasmine.
"Kita harus segera membawa Jasmine ke rumah sakit, Xel," seru Helena sambil memegangi Jasmine yang kesakitan.
Sakit kepala Axel seketika menguap.
"Evan!" teriak Axel.
Bersambung ....
...🌹🌹🌹...
Baca juga novel author lainnya:
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. I'm The Unstoppable Queen
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰
__ADS_1